Queen Sword

Queen Sword
Eps 87 Pengorbanan


__ADS_3

Sementara semua orang berlari mengejar para pemberontak keluar istana, Ferderick menghampiri Rubia untuk memastikan keadaan pastinya, ia berlari kearahnya "Bagaimana keadaan anda Baginda?" ucap Ferderick kepada Rubia yang masih setengah sadar.


"Fer, pengawalku menghianatiku" ucapnya lirih.


"Tidak apa apa Baginda, orang seperti itu tidak layak berada disisi anda"


"Tuan Count sebaiknya kita bawa Baginda ke kamarnya terlebih dahulu" ucap Merge yang memegangi tubuh Rubia.Kemudian Ferderick mengangguk setuju lalu ia sendiri menggendong Rubia dan berjalan dengan cepat menuju kediaman Kaisar.


"Saya akan mencari dayang untuk mengganti pakaian Baginda" ucap Merge saat berada di depan Pintu kamar Kaisar, Ferderick mengangguk lalu ia melangkah masuk dan membaringkan Rubia di tempat tidurnya.


Tak lama seorang dayang datang mengetuk pintu, lalu Ferderick membukanya dan menyuruh dayang itu lekas menggantikan baju Kaisar sementara ia menunggunya di depan pintu.


Setelah dayang menyelesaikan tugasnya dayang itu keluar "Tuan Count, saya akan mengambil perban dan obat untuk mengobati luka Baginda"


"Baiklah" Ferderick kembali masuk lalu duduk di samping Rubia.


Rubia membuka matanya dan menemukan Ferderick sedang menggenggam tangannya dengan raut wajah tak tenang, sudah tiga tahun Rubia kira ia tak mungkin lagi melihat raut wajah Ferderick yang benar benar menghawatirkannya.


"Count, ada apa dengan wajahmu itu?"


"Anda bangun Baginda, bagaimana keadaan anda sekarang? Bagian mana yang sakit"


"Semuanya sakit, apa yang kau lakukan disini? Kau tidak kembali?"


"Bagaimana bisa saya kembali sementara keadaan anda seperti ini"


"Aku baik baik saja, bagaimana dengan Duke Verano dan penyihir tadi?"


"Para penyihir sedang mengejar mereka, maaf saya datang terlambat Baginda"


"Tidak apa apa, terimakasih sudah datang Count"


"Apa yang sedang Tuan Axel Harington lakukan? Mengapa dia tak berada disisi anda disaat saat seperti ini?"


"Kau sudah dengar Ayahnya baru saja meninggal kan?Dia masih merasa terpukul, itu wajar jika dia tak ada disini sekarang"


"Tetap saja, dia adalah tunangan anda yang harus selalu berada disisi anda Baginda"

__ADS_1


"Aku tak bisa memaksakan seseorang untuk berada disisiku jika tak ingin"


Tiba tiba Ferderick terdiam, ia merasa malu dengan ucapannya sendiri, padahal dirinya pun telah meninggalkan Rubia selama tiga tahun, meskipun ia memiliki alasan untuk melakukan hal itu.


Sejujurnya selama tiga tahun ini ia terus memperhatikan Rubia dari kejauhan, tak seharipun ia lewati tanpa mencari tahu kabar Rubia, entah itu dari surat kabar atau dari rumor yang beredar di kalangan masyarakat.


Tok tok tok, seseorang mengetuk pintu lalu Ferderick membukanya, dayang yang tadi kembali dengan membawa kotak obat.


"Berikan kepada saya, saya yang akan mengobati Baginda, anda pasti sibuk membereskan kekacauan diluar"


"Benar Tuan, kalau begitu mohon bantuannya"


Ferderick kembali duduk di samping Rubia, ia mulai mengobati luka di lengannya dan mengikatkan perban "Lukanya dalam Baginda, jangan sampai terkena air"


"Aku mengerti" Rubia menatap wajah Ferderick yang sedang fokus melilitkan perban dengan perlahan, rasa sakit di lengannya bukanlah apa apa baginya "penampilanmu banyak berubah tapi sepertinya aku masih bisa melihat sikap yang familier dalam dirimu"


"Saya masih sama seperti saya yang dulu Baginda, tidak ada yang berubah hanya penampilan saya saja yang sedikit berubah"


"Benarkah?"


"Ya, dan saya minta maaf atas perkataan saya terakhir kali tiga tahun yang lalu"


"Syukurlah, sudah selesai" Ferderick membereskan kotak obat lalu menaruhnya di atas meja.


"Bagaimana keadaan diluar?"


"Jangan kawatir Baginda, semuanya sedang dibereskan, orang orang yang terluka pun sudah mendapatkan pertolongan, anda hanya perlu memulihkan diri terlebih dahulu"


"Baiklah, kau bisa kembali Count, bukankah kau tidak bisa berlama lama disini, jika timbul rumor antara kau dan aku pernikahanmu dengan Nona Katie akan terganggu"


Ferderick terdiam sejenak "Baiklah, saya permisi Baginda" Rubia mengangguk lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela, sementara Ferderick keluar dari kamar.


Ferderick berpapasan dengan Vallan di depan pintu "Wah, lama tidak bertemu ya bocah yang sudah sukses menjadi Count"


"Selamat malam Tuan Penyihir Agung, bagaimana kabar anda?"


"Wah, sekarang nada bicaramu juga sangat berkelas ya, kau sudah benar benar menemukan hidupmu rupanya, itu wajar jika kau mengurungkan niat untuk menyerahkan nyawamu kepada Baginda Kaisar, tapi aku sedikit heran mengapa kau muncul lagi di hidup Baginda, Baginda hebat juga, perkiraanku ternyata salah, sekarang Baginda telah melewati usia dua puluh dengan selamat, namun seperti yang kau lihat kondisinya sekarang sangat menghawatirkan, apalagi Beliau baru saja mengalami kejadian berat dan juga penghianatan dari pengawal pribadi yang sudah berada di sampingnya selama tiga tahun"

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang ingin anda katakan ?"


"Tidak ada, tanpa sadar aku terlalu banyak bicara ya dengan orang yang sudah lama sekali tak kutemui" ia tersenyum smirk lalu melewati Ferderick, kemudian Vallan masuk ke kamar Rubia.


Ferderick pun heran dengan dirinya sendiri, padahal selama tiga tahun terakhir ia sengaja bersikap seolah menjauhi Rubia dengan alasan agar Rubia tak terlalu terluka jika ia mengorbankan nyawa untuknya kelak, namun kini ia telah menyelesaikan tugasnya agar ia bisa melakukan tugas selanjutnya dengan nyaman, tapi begitu semua sudah selesai ia malah semakin ragu dan serakah, ia tak ingin meninggalkan Rubia sendirian di situasi yang berat saat ini, meskipun ia tak benar benar sendirian, selama ini pun tanpa dirinya ia bisa hidup dengan cukup baik, bahkan sangat baik, ini hanyalah keserakahan dirinya sendiri yang ingin tetap berada disampingnya, seharusnya ia tak mendekat lagi agar perasaannya tak kembali goyah.


Ferderick memahami mengapa Vallan mengatakan hal seperti itu, itu karena dirinya yang terlihat bimbang untuk sesaat,Pak tua itu bisa membaca pikiran seseorang dari raut wajahnya dengan tepat rupanya, Ferderick kembali menguatkan tekadnya, demi kebaikan semua orang yang bergantung kepada kepemimpinan bijak Kaisar ia harus mengikhlaskan nyawanya, toh semua usahanya memang disiapkan semata mata untuk itu, ia tak bisa lagi menunda nunda waktu yang semakin memberatkan Rubia.Setelah berdiam diri sesaat Ferderick segera melanjutan langkahnya keluar dari istana Kaisar.


.


"Bagaimana kondisi anda Baginda" ucap Vallan yang duduk disamping Kaisar.


"Saya sudah merasa baikkan Guru"


"Maafkan saya Baginda, kami kehilangan Duke Verano dan penyihir itu, penyihir itu adalah penyihir kelas atas, dia mampu menyembunyikan jejaknya dengan sempurna,tapi kami akan terus melakukan penyelidikan, maaf sudah gagal Baginda"


"Sudahlah Guru, jangan minta maaf, itu bukanlah kesalahan anda terimakasih karena tiba tepat waktu, jika anda tak datang saat itu juga mungkin kepala saya sudah tak berada ditempatnya sekarang"


"Anda mengatakan hal yang mengerikan Baginda, tadi saya bertemu dengan Tuan Count yang sudah lama tak kutemui, dia terlihat menjalani kehidupan yang baik"


"Benar guru, sebentar lagi dia akan menikah"


"Benarkah? Apa anda yakin?"


"Ya, dia tak mengelak tak juga mengakuinya, tapi kuharap dia bisa hidup dengan baik seperti orang lain pada umumnya, membina keluarga yang bahagia"


"Apa anda yakin itu yang anda inginkan?"


"Ten tentu saja kan?"


"Apa anda sudah benar benar merelakan kesembuhan anda dari kutukan yang anda derita itu? Anda benar benar tak apa apa jika anak itu hidup bahagia dengan mengabaikan fakta tentang anda seumur hidup?"


"Tentu saja Guru" untuk sesaat Rubia merasa ragu, namun tetap saja ia tak mengharapkan Ferderick mengorbankan nyawa untuknya, tapi dengan memikirkan bahwa nantinya Ferderick akan membangun keluarga bahagia bersama perempuan itu dengan mengabaikannya, itu membuat dadanya terasa sesak.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2