
Ratu Isabella tertidur dengan tubuh yang meringkuk didalam sel tahanan bawah tanah, hari hari telah berlalu ia menjalani hidupnya di ruangan yang gelap dan dingin itu seorang diri,ia telah putus asa, hidupnya tak berarti lagi, terbesit pikiran bahwa lebih baik ia mati daripada hidup tanpa kehormatan sama sekali seperti saat ini.
Duk duk duk, terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, Ratu membuka matanya,ia melihat beberapa ksatria yang wajahnya tampak tak asing, mereka adalah orang orang yang saat itu menangkapnya dan memasukannya ke dalam penjara dingin itu dengan kasar, mereka memperlakukan Ratu kekaisaran ini selayaknya penjahat keji.
Ia pikir kini hidupnya telah benar benar akan berakhir, ia menerka nerka mereka datang untuk memenggal kepalanya.
Baiklah,lakukan saja, bunuh aku dihadapan rakyatku,permalukan aku sampai titik darah penghabisan.
Matanya bergerak waspada mengikuti pergerakan ksatria yang sedang membuka gembok selnya, para ksatria meraih tangannya dan membuat tubuhnya berdiri kemudian mengiringi langkahnya keluar dari ruangan lembab tempat berkumpulnya para penjahat itu.
Perlahan kakinya berjalan, matanya terperanjat begitu ia mengetahui jalan yang sedang mereka tapaki, jalan yang tak asing baginya, ia melihat rumah kacanya dari kejauhan namun perlahan semakin mendekat, Ratu merasa bingung namun enggan membuka mulutnya untuk bertanya mereka ingin membawanya kemana, sampai beberapa saat mereka memasuki kediamannya yang megah, tempatnya menghabiskan hari hari dengan kemewahan dan kenyamanan.
Setelah melewati pintu masuk kediamannya ia terhenti, karena para ksatria itu hendak meninggalkannya akhirnya ia tak bisa lagi menahan rasa penasarannya "Tunggu,kenapa kalian membawaku kesini dan bukan ke tempat hukuman penggal?" tanyanya dengan linglung.
Para ksatria berbalik badan "Hukuman anda sudah dicabut Yang Mulia, Baginda Kaisar memerintahkan kami untuk membawa anda ke tempat tinggal anda"
"Baginda Kaisar?"
"Benar, kami permisi"
Ia benar benar bersyukur ternyata Putrinya membebaskannya dari tuduhan palsu, ia yakin putrinya masih sangat memperdulikannya, kini wajahnya mulai tersenyum,ia merasa hidupnya kembali bersinar, namun ia masih saja tak mengerti,barang barang dan perabot disana masih tampak sama dengan saat terakhir ia melihatnya, namun ada yang aneh dengan suasana istananya saat ini, istana itu terasa sangat sunyi, tak ada satupun pelayan yang berlalu lalang melakukan pekerjaan mereka seperti biasanya, tiba tiba seseorang berlari menghampirinya yang sedang bingung.
"Yang Mulia, akhirnya anda kembali ke tempat ini, anda pasti telah sangat menderita didalam penjara" ucap dayang terlama yang melayani Ratu Isabella bernama Jessi, dia berusia sekitar tiga puluhan.
__ADS_1
"Jessi, mengapa disini sangat sepi dimana semua orang?" mereka berjalan dan duduk di ruangan tengah.
"Baginda Kaisar mengusir seluruh pelayan dan dayang yang bekerja disini, hanya saya saja yang diijinkan untuk melayani anda"
"Kenapa anak itu melakukan itu?"
"Saya juga tak mengerti Yang Mulia, Baginda Kaisar juga melarang anda meninggalkan kediaman anda tanpa izin beliau, Baginda bilang anda masih bisa mengunjungi rumah kaca melewati pintu yang menyambung dengan kediaman anda, pintu luar sudah diblokir"
"Apah? Apa sekarang dia bermaksud mengurung ibunya sendiri? Apa gunanya dia membebaskanku dari penjara, hanya tempat penjaranya yang berbeda" ia tampak sangat kesal dan terus menggigit bibirnya sendiri.
"Yang Mulia, bukankah disini jauh lebih baik? Tolong terima saja kebaikan hati Kaisar"
Ia bangun dari duduknya "Apa ini yang kau maksud dengan kebaikan hati? Aku akan menemuinya dan memintanya membebaskan kehidupanku seperti sedia kala, apa dia pikir aku serang kriminal atau apa? aku akan memintanya menjelaskan situasi ini" teriaknya dengan gusar.
"Tolong jangan begini Yang Mulia, para penjaga tak akan membiarkan anda keluar dari tempat ini"
"Tenanglah Yang Mulia, ini sudah sangat larut, saat pagi nanti saya akan menyampaikan pada penjaga agar Baginda mau datang menemui anda" Ratu mengangguk pasrah, mereka berjalan masuk ke dalam kamar.
.
Malam hari yang sunyi, mata Rubia tertutup namun wajahnya tampak sangat gelisah, bisikan bisikan dan gambaran peperangan dengan monster yang terasa asing terus terngiang ngiang dikepalanya, baru saja ia menempati istana khusus Kaisar namun ia mulai merasakan penderitaannya sebagai keturunan darah terkutuk, ia membuka matanya, keringatnya membanjiri tubuhnya, kepalanya sangat sakit dan perasaannya terasa hampa, jantungnya yang berdebar debar sangat kencang itu membuatnya semakin tersiksa, ia harus melakukan sesuatu untuk mengalihkan pikiran dan perasaannya yang dipenuhi oleh kegelisahan.
Rubia mengganti bajunya, ia memakai jubah hitam dan memegang pedangnya, ia keluar melewati jendela, kemudian berlari masuk ke dalam hutan yang sangat gelap, ia terus masuk semakin dalam, matanya berkeliling mencari mangsa yang harus ia bunuh dengan pedangnya, sampai ia dikepung oleh segerombolan serigala, bibirnya menyeringai melihat mangsanya kemudian ia mulai menebas satu persatu serigala ganas yang mengepungnya meskipun ia mengalami luka luka, keinginannya untuk melihat pedangnya dilumuri oleh darah tak bisa dibendung lagi.
__ADS_1
Setelah berhasil menghabisi segerombolan serigala ia berjalan dengan tubuh terhuyung, tak terasa ketika ia keluar dari hutan telah terdengar suara ayam berkokok, ia harus cepat sampai di istananya sebelum seseorang menyadari kepergiannya, ia kembali menaiki kudanya dan masuk melewati jendela, kini ia tak bisa keluar diam diam secara leluasa seperti saat ia tinggal di kediamannya dulu, untunglah penjaga yang berjaga di samping istananya masih tertidur sehingga ia bisa masuk dengan mudah,saat ia memasuki kamarnya, tangannya yang terkena cakaran serigala mulai meneteskan darah ke lantai kamar, kepala terasa semakin berat, tubuhnya terasa tak tahan lagi sampai akhirnya ia terjatuh dilantai dan tak sadarkan diri.
Setelah cahaya matahari mulai bersinar terang, seseorang mengetuk pintunya dan terdengar suara Ferderick yang memanggilnya, ia membuka matanya lalu bangun dan membuka sedikit pintu, ia menyuruh Ferderick masuk karena kondisinya yang tak memungkinkan untuk dilihat oleh orang lain.
Mata Ferderick terperanjat melihat kondisi tubuh Rubia yang penuh dengan darah, ia melihat lantai dan pedang yang masih berlumuran darah didekat jendela "Apa yang terjadi Baginda?" Ferderick memegangi lengan Rubia yang masih terhuyung.
"Ini karena kutukan sialan itu" gumamnya.
"Seharusnya anda memanggil saya sebelum pergi, dan Kita harus cepat melepaskan kutukan itu Baginda"
"Ya, kau benar, jika begini terus aku akan mati sebelum sebulan menjadi Kaisar"
"Tolong jangan bicara seperti itu" ucapnya sembari membersihkan pedang dan bekas darah yang menempel dilantai setelah mengobati luka Rubia.Mereka berhasil menyamarkan kejadian itu, dan untunglah luka Rubia berada di tempat yang tertutupi oleh pakaian.
"Aku harus menemui Guru"
"Tapi Baginda, pengawal Ratu menyampaikan bahwa Ratu meminta anda menemuinya"
"Apa lagi yang diinginkannya? Sampaikan bahwa aku terlalu sibuk, aku akan menemuinya saat ada waktu nanti"
"Baiklah"
.
__ADS_1
.
Bersambung