
Tok tok tok, Ferderick mengetuk pintu kamar Kaisan, lalu Kaisan membukanya "Ada apa Kak? Masuklah"
"Kau sudah mau tidur?"
"Belum, ada apa"
"Sepertinya waktunya telah tiba, aku harus melakukan tugas yang pernah ku beritahukan itu padamu"
"Ahh, sudah waktunya yaa.. tak terasa sudah tiga tahun"
"Benar, aku harus pergi sekarang"
"Sekarang kak? Tengah malam begini?"
Ferderick mengangguk "Semakin lama ditunda perasaanku semakin tak enak"
"Ya, apa boleh buat memang sudah seharusnya tugas segera dilakukan"
"Jika kau mengalami kesulitan mintalah bantuan dari Serikat Bayangan hitam"
"Aku mengerti kak"
"Dan juga, perlakukanlah Nona Katie dengan lebih baik, aku tahu kau bukannya sama sekali tak memiliki perasaan kepadanya kan?" wajah Kaisan tertunduk malu. "Intinya jangan sampai kau menyesal karena terus terusan mengabaikannya dan perasaanmu sendiri, bukalah hatimu untuknya, lupakan semua masalalu yang membelenggu dalam pikiranmu, kini kau bisa hidup dengan lebih leluasa, apa kau mengerti?"
Kaisan mengangguk "Aku mengerti kak, dan kakak juga jangan pergi terlalu lama, kuharap kakak bisa kembali dengan sehat tanpa kekurangan apapun" Ferderick hanya mengangguk, ia merasa bersalah karena telah berbohong pada adiknya, namun inilah yang terbaik baginya.
Ferderick bangun dari duduknya, kaisan pun mengikuti "Kau tak perlu mengantarku, aku akan keluar diam diam karena ini adalah tugas rahasia"
"Baiklah, kak, cepatlah kembali" Ferderick mengangguk seraya keluar dari kamar Kai.
Ferderick kembali ke kamarnya, Ia terduduk di atas tempat tidur, matanya mengelilingi ruangan itu, kemudian ia bangun seraya mengepalkan kedua tangannya untuk mengukuhkan kembali tekadnya, ia memakai jubah hitam yang menutupi kepalanya, kemudian ia keluar melewati jendela kamarnya, lalu mengambil sesekor kuda yang telah disiapkan di belakang kandang, ia menunggangi kuda tersebut kemudian kuda berlari dengan cepat.
Sampailah ia di hadapan kamar Kaisar, seperti biasa Rubia tengah duduk di balkon, Ferderick naik ke atas sana menghampiri Rubia diam diam, terlihat Rubia yang sedang memejamkan matanya, bagaimana bisa Kaisar sekarang tak menyadari pergerakan seseorang yang mendekat padanya, apa instingnya mulai melemah seperti kesehatannya?
__ADS_1
Ferderick berjongkok seraya menatap wajah Rubia yang terlelap lekat lekat, disampingnya di atas meja terlihat sebotol wine yang sudah kosong dengan gelas yang menyisakan wine di permukaan bawahnya, lingkaran hitam dibawah matanya terlihat sangat jelas, tubuhnya yang semakin kurus dan raut wajahnya yang pucat, ia merasa bersalah karena selama ini ia tak berada disampingnya yang menjalani hari hari beratnya seiring memburuknya kesehatannya, ternyata hanya alkohol yang mampu membuatnya memejamkan mata.
Perlahan Rubia mulai merasakan kehadiran orang lain, ia bersikap waspada sebelum membuka matanya, Rubia mulai membuka matanya perlahan dan ia sangat kaget karena sosok misterius itu tengah berada tepat di hadapannya, Rubia berdiri lalu segera mencari pedangnya namun itu ada di kamar, kemudian tangannya mulai mengeluarkan kekuatan sihir dan bersiap menyerang orang dihadapannya.
Ferderick berdiri "Tunggu Baginda" ucapnya seraya membuka tudung kepalanya. Rubia pun segera mengenali suaranya dan menghentikan serangannya yang hampir saja ia lemparkan.
"Ahh Count, kau mengagetkanku saja, sejak kapan kau berada disini?" ucapnya seraya menarik kembali kekuatan sihirnya.
"Belum lama Baginda, maaf sudah mengagetkan anda" wajahnya tampak tersenyum dengan cerah, padahal sebentar lagi saja Rubia hendak melukainya.
"Ya sudahlah, kau bisa duduk" Rubia pun duduk kembali.
"Bagaimana kondisi kesehatan anda Baginda" Ferderick hanya kembali berjongkok dihadapan Rubia duduk.
"Aku baik baik saja, seperti yang kau lihat, ada perlu apa kau datang kesini selarut ini?"
"Hanya ingin menemui anda, maaf jika saya sudah lancang"
"Tidak apa, aku senang kau disini"
"Tentu" Rubia pun mengulurkan tangan kanannya, kemudian ia terkaget karena tiba tiba Ferderick mencium punggung tangannya "Apa yang sedang kau lakukan Count?" ia menarik kembali tangannya.
"Maaf Baginda anda pasti terkejut, tapi sudah lama saya ingin melakukan ini"
"Mengapa kau tiba tiba sangat aneh seperti ini?"
"Karena sudah lama saya ingin melakukan hal hal seperti ini dengan anda"
"Wah, sekarang kau berbicara seperti itu tanpa rasa malu yaa, apa kau sudah terbiasa mengatakan hal ini kepada Nona Katie?"
"Tidak, satu satunya orang yang berada di hati saya hanyalah anda Baginda, apa anda tak juga mengetahuinya sampai detik ini?"
Rubia terdiam sejenak menatap Ferderick yang bersikap aneh "Kau! Apa kau sedang mabuk?"
__ADS_1
"Anda yang baru saja minum alkohol" ia melirik botol wine di atas meja.
"Benar, tapi mengapa kau tiba tiba menjadi seperti ini?"
"Baginda, maaf tidak seharusnya saya bersikap seperti ini setelah apa yang saya lakukan, tapi hari ini saya benar benar tak bisa menahan kata kata yang telah lama terpenggal di tenggorokan saya, saya tahu ini tindakan yang egois dan serakah, tapi tolong ijinkan saya melakukan apapun keinginan saya hari ini Baginda"
"Apa maksudnya aku adalah satu satunya dihatimu?"
"Apa anda sungguh tak mengerti? Artinya sama persis dengan kata katanya, saya menyukai anda Baginda, Tidak saya mencintai anda sebagai seorang wanita, maafkan kelancangan saya ini"
Rubia sangat terkejut dengan pengakuan tiba tiba yang keluar dari mulut Ferderick, seketika wajahnya menjadi memerah "jika seperti itu kenapa selama ini kau menjauhiku?"
"Saya memiliki alasan Baginda, tolong jangan menanyakan alasan saya"
"Baiklah, tapi.." Rubia tampak ragu ragu.
"Baginda, apa anda memiliki perasaan yang sama dengan saya?"
"Entahlah, aku hanya merasa sangat sesak setiap kau bersama dengan wanita lain, aku sangat melihatmu setiap hari setelah kau pergi meninggalkanku"
Ferderick menatap wajah Rubia lekat lekat.
Ahh seharusnya aku tak boleh mengatakan isi hatiku kepadanya dan menanyakan isi hatinya tentangku, bagaimana aku bisa sangat egois seperti ini.Andaikan waktu berhenti saat ini.....
"Ada apa Fer?" tangan Rubia membelai pipi Ferderick.
"Saya sangat mencintai anda sampai saya tak bisa hidup tanpa anda Baginda" Ferderick tak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi, ia hanya ingin menikmati waktu terakhirnya saat ini, ia bangun lalu memeluk Rubia dengan segenap hati "Tapi saya harap anda bisa terus hidup tanpa saya"
"Apa maksudmu" Rubia pun menyandarkan tubuhnya di dalam pelukan Ferderick yang hangat. Kemudian mereka berdua bertatapan dengan penuh haru, mata Ferderick sedikit berkaca kaca, ia tersenyum dengan pilu.
Wajah Ferderick semakin mendekat ke wajah Rubia, rubia pun bangun dari duduknya, perlahan Ferderick mengecup bibir Rubia, Rubia yang awalnya canggung lama kelamaan berbalik menciumnya, ia tak bisa lagi menahan perasaannya saat ini, tak perduli lagi dengan semua hal, mereka hanya fokus dengan perasaan satu sama lain yang menggebu gebu, mereka berdua berciuman dengan lembut sekaligus emosional, saling mengisi kekosongan yang telah dilalui satu sama lain, mereka berciuman di bawah sinar bulan yang perlahan meredup karena tertutup kabut hitam.
.
__ADS_1
.
Bersambung.