
Beberapa hari kemudian.
Di siang hari dengan langit yang sedikit gelap disertai angin yang bertiup semilir dingin kedua orang berdiri berhadapan di bawah bukit bebatuan yang sepi, keringat dingin mengalir dari dahi Rubia,berkali kali tangannya membasuh dahinya tapi keringat itu tetap mengalir deras, ia sedang berusaha keras mempelajari dan mengendalikan kekuatan sihir yang telah diterimanya.
Sedangkan dihadapannya terlihat Tuan Penyihir Agung yang sedang melatihnya dengan tegas, sorot matanya benar benar mengintimidasi dan menekan Rubia, semakin lama sorot wajahnya semakin tidak sabar dan semakin suram, Vallan memang mengakui bahwa Rubia adalah murid yang gigih dari pada siapapun yang ditemuinya, namun menurutnya mengendalikan sihir bukan hanya tentang kegigihan, ia mulai merasa ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama sampai Rubia bisa berhasil membuat segel.
Wajah yang suram itu terus menerus menggeleng dalam diam seraya memperhatikan muridnya, jangankan mengeluarkan kekuatan sihir dari tubuhnya, Rubia sama sekali belum merasakan aliran kekuatan itu di dalam tubuhnya setelah beberapa hari terus berlatih.Sorot wajah Pria tua itu seakan sudah kehilangan ketertarikannya melatih Rubia.
Vallan menyilangkan kedua tangannya diatas dada "Jika terus seperti ini kau akan bisa membuat segel sepuluh tahun lagi dan para monster akan segera sampai di ibu kota" ucapnya dingin.
Rubia terhenti dari gerakannya, ia berfikir sejenak, apa mungkin dirinya tak memiliki bakat sihir sama sekali? Wajah Rubia tampak gusar.
"Seseorang memang harus memiliki kekuatan sihir sejak lahir agar bisa dipanggil sebagai penyihir,akan sulit jika tiba tiba manusia biasa diberikan kekuatan dan harus menguasainya dengan cepat,ini tak akan berhasil, apa yang dipikirkan oleh Nona Mayer dengan memberikan kekuatannya padamu? aku sungguh tak bisa memikirkannya" ucapnya lagi.
Rubia semakin tak percaya diri setelah mendengar ucapannya, tapi satu hal yang bisa ia lakukan yaitu yakin dengan kemampuan dirinya sendiri, jangan goyah, dan jangan putus asa, karena seperti itulah dirinya berhasil melalui hari hari terberatnya diistana sebagai seorang Putri Mahkota.
"Saya akan berusaha lebih keras Guru"
"Tentu saja kau harus melakukan itu, apa kau tahu betapa tersiksanya ketiga muridku dan para pasukan ksatria yang sedang bertarung melawan monster tanpa istirahat sedikitpun? Kau harus mengingat mereka karena mereka semua adalah rakyatmu yang harus kau lindungi" raut wajah Vallan semakin tidak enak.
"Saya mengerti Guru"
"Aku akan memberikan contoh sekali lagi cara merasakan aliran kekuatan dalam tubuh, kau perhatikanlah baik baik"
Rubia mengangguk "Baik"
Vallan mulai memejamkan matanya kemudian merentangkan kedua tangannya seraya merasakan energi dari alam dan aliran kekuatan yang mengalir dalam tubuhnya, tak lama kedua tangannya mengeluarkan cahaya kekuningan yang menyilaukan,setelah itu ia membuka matanya.
"Hanya begini saja, apa sangat sulit?Mulailah coba lagi, jangan berhenti sampai kau merasakan aliran kekuatan di dalam dirimu"
"Baik"
Rubia mulai melakukan apa yang telah dicontohkan oleh Gurunya dengan wajah yang penuh tekad,berkali kali ia gagal dan terus mencobanya kembali dari awal, hingga akhirnya perlahan ia mulai merasakan getaran asing yang mengalir dalam darahnya, Vallan mulai memperhatikannya dengan seksama setelah merasa putus asa, itu karena tubuh Rubia mulai memancarkan sinar berwarna biru yang semakin lama semakin bersinar, namun seketika kembali meredup dan padam.
__ADS_1
"Arggh" Rubia tertunduk,kakinya lemas,tubuhnya terasa lelah dan gemetar, ia kembali memegangi jantungnya yang berdebar sangat cepat, keringat dinginnya telah membasahi sekujur tubuhnya, ia telah berusaha semaksimal yang ia bisa.
Vallan menghampirinya,wajahnya terlihat lebih baik "Bagus Putri, jika kau bisa melatih fisikmu seimbang dengan kekuatan yang mengalir dalam tubuhmu itu akan mempermudahmu mengendalikannya"
Rubia melirik Gurunya dengan nafas yang terengah engah "Baik" jawabnya lirih.
"Apa sangat melelahkan?"
"Ya, rasanya energiku terserap habis"
"Teruslah berlatih seperti itu, sampai kau bisa mengeluarkan sihir dari tanganmu, dengan begitu kau akan bisa menghabisi monster dengan sekali serang, setelah kau bisa melakukan itu aku yakin tidak akan sulit membuat segel" ia mengangguk angguk seraya tersenyum puas, ia benar benar tak memperdulikan kondisi tubuh Rubia, ia hanya fokus dengan hasilnya.
"Baik"
"Hari ini sampai disini dulu, temuilah aku lagi setelah kau bisa membangkitkan dan mengeluarkan kekuatan ditubuhmu,sampai kau bisa menghancurkan sebuah batu besar menjadi berkeping keping, selama itu berlatihlah,aku yakin kau sudah mengerti dengan dasar dasar yang telah kuberitahukan selama beberapa hari ini, apa kau mengerti?"
"Baik"
Mereka kembali dengan berteleportasi, sekejap Rubia telah berada di depan kastel penyihir dan Ferderick telah menunggunya disana. Begitu Ferderick melihat kemunculan mereka dia segera menghampiri Rubia yang terlihat tak sehat dan tak bisa berdiri dengan tegak.
"Apa yang anda lakukan kepada Yang Mulia?"
"Hohoho, bawalah Tuan Putrimu beristirahat jika kau menghawatirkannya" berbanding terbalik dengan kondisi Rubia saat ini, pria tua itu terlihat cukup senang.
"Sudah Fer, bantu saja aku berjalan"
"Baik" Ferderick segera menggendong Rubia dengan tangannya tanpa ragu.
"Kubilang bantu aku berjalan mengapa kau menggendongku?"
"Ini akan lebih baik, tolong tahanlah sebentar Yang Mulia"
Vallan tersenyum melihat kedua orang itu "Kalian tidak akan masuk ke istana dengan seperti itu kan? Hahaha" penyihir tua itu masih sempat menggoda mereka.
__ADS_1
Ferderick terhenti dan kembali meliriknya, Vallan mengaktifkan lingkaran sihir teleportasi di atas tanah yang Ferderick injak. "Anggap ini belas kasihanku,berterimakasihlah kau bocah" ucapnya sebelum kedua orang itu menghilang.
Seketika mereka telah berada didepan kamar Rubia, Lydia menghampiri mereka terburu buru dengan wajah panik "Apa yang terjadi dengan Yang Mulia?" Ferderick menggeleng tak mengerti. ia berjalan masuk ke dalam kamar dan meletakkan Rubia di atas tempat tidur, perlahan Rubia membuka mata karena mendengar suara lydia yang panik.
"Aku hanya kelelahan Lydia" ucapnya lirih.
"Apa sebenarnya yang dilakukan oleh Pak tua itu kepada anda?" tanya Ferderick dengan kesal.
"Dia tidak melakukan apa apa, ini karena perkembangan sihirku memiliki kemajuan"
"Benarkah?"
"Iya, lama kelamaan aku akan terbiasa"
"Baiklah, saya mempercayai anda, saya akan tunggu diluar, anda bisa beristirahat dengan nyaman" Rubia mengangguk.
"Saya akan membersihkan tubuh anda terlebih dahulu Yang Mulia" ucap Lydia seraya melepaskan pakaian Rubia satu persatu.
"Terimakasih Lydia"
"Eiii apa yang anda katakan,tidak perlu berterimakasih, ini adalah tugas saya, jika anda benar benar berterimakasih maka jagalah tubuh dan kesehatan anda sendiri, saya benar benar merasa puas dan cukup jika bisa melihat anda sehat dan bugar seperti biasanya, saya benar benar sedih melihat keadaan anda setelah kembali dari perburuan monster" ucapnya dengan mata yang berkaca kaca.
"Aku mengerti Lydia, jangan bersedih, tak lama lagi aku akan menjadi seorang penyihir terkuat hingga tak akan ada yang bisa mengalahkanku, untuk saat ini bersabarlah terlebih dahulu, mungkin kedepannya keadaanku bisa saja memburuk, tapi aku berjanji aku tidak akan mati dalam proses ini"
"Tolong jangan mengatakan mati dengan mudah Yang Mulia, anda menghancurkan hati saya" ucapnya seraya terisak.
"Baiklah, sudah sudah, aku hanya bercanda, berhenti menangis"
"Jangan bercanda tentang hidup dan mati"
"Iya iya baiklah"
.
__ADS_1
.
Bersambung.