
Gruduuuukkkkkk...Suara monster terdengar keras semakin mendekat, Rubia berjalan dengan tergesa gesa ke tempat Ferderick semula berada, namun ia tak ada disana, tempat itu kosong hanya tersisa api yang masih menyala, semua pasukan ksatria telah kembali bersiap dan waspada, Rubia dan Axel berkeliling barak tapi tak menemukan keberadaan Ferderick.
Rubia berhenti di sekumpulan pasukan ksatria yang tengah bersiap siap,Rubia menyentuh bahu seorang ksatria dari belakang "Ada yang melihat Ferderick?" para ksatria menoleh ke arahnya.
"Saya tidak tahu" ucap ksatria itu.
"Yang Mulia, saya melihatnya keluar ke arah sana" ucap seorang ksatria seraya menunjuk ke arah Ferderick pergi.
"Apa yang mau dilakukan anak itu sih" gumam Rubia seraya meninggalkan para ksatria.
Axel menghentikannya "Apa anda tak menemukannya Yang Mulia?"
"Belum, aku akan mencarinya diluar sana" Rubia menunjuk ke satu arah.
"Itu berbahaya Yang Mulia"
Rubia mengikat pedangnya di pinggang "Axel, bersiaplah bersama pasukan ksatria yang lain dan segera susul aku" ucapnya sebelum tergesa gesa pergi.
"Tapi Yang Mulia---" Rubia tak menghiraukannya,dia sudah pergi menaiki kudanya.Axel hanya bisa segera bersiap secepat mungkin mengerahkan para bawahannya.
"Hiyaaaa" Rubia menghentikan kudanya karena melihat monster monster yang semakin menjauh seperti tengah mengejar mangsanya. "Ferderick" firasat Rubia mengatakan bahwa sekarang Ferderick sedang memancing para monster untuk menjauhi pemukiman rakyat, karena arah monster yang kembali ke tanah bersalju dan semakin menjauh dari barak.
__ADS_1
Rubia segera mengejar para monster dengan kudanya, kudanya berlari dengan sekuat tenaga,firasatnya tak salah sesampainya ia disana ia melihat Ferderick yang sedang dikepung oleh monster monster ganas yang menatapnya dengan kengerian.Rubia turun dari kudanya, ia berlari ke arah monster, kemudian menyerang Monster yang menghalangi jalannya menghampiri Ferderick.
Ggggrrrrrrrr! Suara monster semakin riuh menandakan mereka telah siap mencabik cabik mangsanya, Ferderick melihat ke arah Rubia yang mendekat padanya.
"Yang Mulia"
"Jangan banyak bicara dan mari kita habisi monster monster sialan itu!" Rubia telah bersiap siap, menatap sekaligus mengira ngira monster mana kira kira yang akan maju pertama, Ferderick mengangguk setuju.
Mereka berdua saling membelakangi mengangkat pedang masing masing dengan waspada,satu persatu monster menyerang dan satu persatu pula monster ambruk ke tanah, pertarungan semakin sengit, kini para monster menyerang secara bersamaan, saat Rubia menusuk mata salah satu monster, tiba tiba monster lain menyerangnya dari belakang sehingga Rubia terpental hingga lengannya sobek dan darahnya mulai menetes dan mengaliri pedangnya sendiri, tapi itu bukan apa apa baginya, ia langsung bangkit kembali.
Kini tatapan mata Rubia semakin sengit menatap monster yang telah melukainya yang berada tepat di hadapannya,bola matanya mulai memerah, Rubia mulai menggila dan ingin membunuh apapun dihadapannya dengan membabi buta, Crattt crattttt, darah monster menyiprat ke wajah dan tubuhnya, ia benar benar mencabik cabik para monster tanpa ampun,mati rasa, kini ia tak lagi merasakan luka luka ditubuhnya, tubuhnya terasa seringan bulu.
Segerombolan monster pun telah terkapar di tanah bersalju, salju putih itu kini dipenuhi oleh warna hitam kemerahan pekat yang adalah warna darah moster.Rubia berbalik badan dan menatap Ferderick dengan tatapan bengis, Ferderick mulai waspada dengan raut wajahnya itu, Rubia berlari menghampiri Ferderick dan mengarahkan pedangnya, ia menyerang Ferderick seperti ia menyerang para monster tadi.
Trang trang trang, Ferderick hanya berusaha menghindar dan menghalanginya melukai tubuhnya, semakin lama Rubia semakin menggila dan tak mengenali orang dihadapannya, Ferderick terjatuh dan terperosok di salju, saat ia sedang menghindari serangan rubia yang semakin gesit, seketika Rubia telah berada dihadapannya, di atas tubuhnya sembari menodongkan pedang ditangannya dengan tatapan kosong, tatapan yang hanya ingin menghabisi lawannya.Rubia mulai mengarahkan pedang runcing itu di atas mata Ferderick.
Tangan Ferderick menyentuh mata pedang dihadapannya untuk menahan pedang itu melukai matanya,hingga tangannya mengeluarkan banyak darah karena merobek sarung tangan hitam yang dikenakannya,sedangkan tangan satunya menggenggam pergelangan tangan Rubia yang memegang pedang. "Yang Mulia" ucapnya dengan suara tercekat.Tiba tiba warna kemerahan bola mata Rubia berubah kembali menjadi Biru laut yang jernih seperti semula.
Rubia mengedipkan matanya dan tersadar apa yang sedang dilakukannya kini, ia segera menyingkir dari tubuh Ferderick, wajah yang memucat,Rubia segera membelakangi Ferderick karena merasa bersalah dan tak bisa berkata kata, Ferderick bangun lalu ia mulai melihat tubuh Rubia yang mulai terhuyung, Rubia memegangi kepalanya sebelum akhirnya terjatuh, untunglah Ferderick menangkapnya sebelum tubuhnya menyentuh hamparan salju yang dingin.
Axel dan para pasukan ksatria yang lain melihat dari jauh hal menakjubkan dihadapan mereka,segerombolan monster telah dikalahkan hanya oleh kedua orang itu, mereka datang terlambat karena kewalahan mencari lokasi jejak para monster yang letaknya telah sangat jauh dari barak.
__ADS_1
Axel berlari karena melihat dari kejauhan Rubia yang tergeletak di pangkuan Ferderick di tengah tengah banyaknya bangkai monster, wajahnya memucat memikirkan kemungkinan terburuk dari situasi itu.
Brukkk! Axel bersimpuh dihadapan tubuh Rubia, wajahnya benar benar pucat ketika melihat tubuh Rubia yang dipenuhi luka, bahkan matanya berkaca kaca berusaha keras membendung air mata yang ingin menyeruak keluar, "Yang Mulia,maaf saya datang terlambat dan tak mampu melindungi anda" ucapnya seraya terisak.
Tak lama para pasukan ksatria mengerubungi mereka,melihat raut wajah Ketuanya yang teramat sedih hingga meneteskan air mata, membuat para pasukan ikut bersedih dan hampir menangis.
Ferderick menatap mereka satu persatu secara bergantian kemudian menatap Axel yang berada dihadapannya, bibirnya berdesis "Apa yang sedang anda pikirkan? Yang Mulia hanya kelelahan dan bukan meninggal" celetuknya dengan raut wajah datar, wajahnya kusut karena sangat kelelahan.
Axel tertegun "Apa, kau serius? luka luka di tubuhnya?" ia melihat luka luka akibat goresan monster.
"Saya sudah memeriksa, dan ini bukan luka yang akan membahayakan nyawanya" Seketika Axel tersenyum, ia membasuh air matanya dan menggendong Rubia membawanya naik kekudanya, Ferderick melihat mereka berdua, untunglah ia telah mengobati luka fatal di punggung Rubia terlebih dahulu sebelum para ksatria mendekat.
"Kau hebat" ucap salah satu ksatria kepada ferderick seraya menepuk bahunya.
"Benar, kau hebat Ferderick" ucap yang lainnya, Ferderick hanya mengangguk tanpa mengatakan sepatah katapun.Ia kembali berjalan ke tempat kuda dan kembali bersama pasukan ksatria yang lainnya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1