
Sebuah cahaya terang berwarna biru muncul di samping tempat tidur Rubia yang sedang terlelap, cahaya itu berubah menjadi sosok yang mengenakan jubah hitam yang menutupi kepalanya.
"Yang Mulia Putri?" suara seorang wanita tua membangunkan tidur lelap Rubia, perlahan Rubia membuka matanya dan terduduk, ia telah mengenali sosok wanita tua di hadapannya.
"Nona Mayer? Apa ini mimpi?" mata Rubia mengelilingi seisi ruangan kamarnya.
Wanita tua itu menggeleng "Saya sudah berjanji akan menemui anda, jadi ini bukanlah mimpi, tidak saya sangka anda sudah mengetahui nama saya ya?" Rubia mengangguk.
"Saya tahu dari Tuan Vallan"
Wanita itu tersenyum "Bocah itu sekarang sudah cukup tua kan?"
"Apa kalian saling mengenal?"
"Ya, saya yang menemukan bocah itu dulu sekali, saya melatihnya dan membuatnya berada di sini untuk membantu melindungi kekaisaran, sifatnya memang buruk tapi dia bukan orang yang jahat"
"Saya mengerti, setelah ini apa anda akan menemui saya lagi?
Wanita tua itu menggeleng "Saya harus pergi menemui Baginda Alexander yang amat saya rindukan, karena tugas saya sudah selesai disini saya bisa menemuinya dengan percaya diri"
"Apa anda tidak menyayangi nyawa anda sampai anda mengorbankannya dan memberikan kekuatan anda pada saya?" wajah Rubia terlihat muram.
"Apa yang anda katakan?Jangan bilang anda merasa bersalah? hehe, anda tidak perlu merasa begitu, bagi saya anda adalah penyelamat saya karena telah terlahir Yang Mulia,tolong jangan menyalahkan diri anda sendiri, telah sangat lama saya menantikan kelahiran anda"
"Baiklah"
"Saya merasa lega dan nyaman karena seseorang yang akan memimpin kekaisaran dimasa depan adalah orang seperti anda,jadilah semakin kuat Yang Mulia, kekuatan itu akan segera menyatu dengan tubuh dan jiwa anda, memang sulit tapi saya yakin anda bisa melakukannya, bocah Vallan itu akan membimbingmu meskipun dia tak akan banyak membantu" ia tersenyum setelah menyelesaikan ucapannya.
"Saya sudah berjanji akan mempertemukan anda dengan Tuan Vallan, tolong temuilah Tuan Nona Mayer"
"Baiklah, saya harus pergi sekarang Yang Mulia, berjuanglah" Rubia mengangguk seraya matanya berkaca kaca, perlahan wanita tua itu menghilang dengan senyuman di wajahnya, ini adalah pertemuan mereka berdua untuk yang terakhir kalinya.Sebuah pertemuan yang singkat namun sangat bermakna,karena bertemu dengan penyihir itu mengubah seluruh kehidupan Rubia,beruntungnya didetik detik terakhir rubia melihat penyihir tua itu terlihat bahagia,seolah ia tak lagi memiliki beban didunia yang ditinggalkannya.
Rubia menyentuh lehernya, tenggorokannya terasa kering, ia beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri tekoo air minum diatas mejanya, saat ia menuangkannya diatas cangkir ternyata airnya habis, Rubia keluar dari kamarnya mencari dayang yang mungkin masih ada dikediamannya, mata Rubia mengelilingi ruangan yang gelap itu, tidak ada siapapun, itu wajar karena memang sudah lewat tengah malam, akan aneh jika masih ada orang yang berkeliaran diluar kamar.
Dukk, mata Rubia terperanjat karena sepertinya ia menendang sesuatu di sekitar pintu.
"Yang Mulia" terdengar suara Ferderick mengagetkan Rubia.
"Kau kah Fer?" tanya Rubia sembari melihat Ferderick yang samar samar dikegelapan.
__ADS_1
"Benar, apa ada Yang anda butuhkan?"
"Tenggorokanku kering tapi aku kehabisan air, lupakan saja, kau kembalilah ke kamarmu dan beristirahat" Rubia melangkah kembali ke kamarnya, sedangkan Ferderick tak menjawab dan langsung melangkah pergi.
Rubia menyalakan lampu gantung dikamarnya, rasa kantuknya telah hilang karena ia telah cukup lama tidur, Rubia membuka jendela, seketika angin dingin masuk membuat rambutnya berterbangan, Rubia melangkah ke balkon kamarnya, meelihat sekelilingnya, diatas sana terlihat sinar bulan yang samar samar.
"Aku seperti dirinya,memiliki sinar namun hampir tak terlihat" gumamnya.
Ferderick membuka pintu kamar Rubia, terlihat Rubia yang sedang memandangi langit malam gelap di atas balkon, Ferderick menuangkan air minum yang ia bawa dari dapur ke dalam gelas, ia melangkah menghampiri Rubia.
"Yang Mulia, saya membawa air anda" Rubia menoleh kebelakang.
"Fer, aku menyuruhmu istirahat" Ferderick memberikan gelas itu kepada Rubia.
"Saya sudah istirahat tadi saat anda tidur, maaf saya masuk begitu saja, saya mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban jadi.."
"Tidak apa apa, terimakasih" Rubia meminum air di gelas sampai habis"
"Berikan pada saya Yang Mulia gelasnya" ia mengulurkan tangannya.
"Baiklah"
Ferderick kembali berjalan dan menaruh gelas di atas meja, kemudian ia mengambil selimut diatas tempat tidur Rubia, dan membawanya kembali menghampiri Rubia, Ferderick memakaikan selimut yang ia bawa di tubuh Rubia dari belakang karena ia memakai pakaian tidur tipis. "Udaranya sangat dingin Yang Mulia" ucapnya seraya memasangkan selimut.
"Apa keadaan anda sudah membaik?"
"Tentu, lihatlah bulan itu Fer, bukankah dia terlihat seperti diriku?"
Ferderick melihat keatas mencari cari bentuk bulan yang Rubia bicarakan "Itu terlihat tidak jelas, karena sinarnya tertutupi kabut hitam, anda lebih baik seribu kali lipat dari pada bulan itu"
"PPffttttt, kau berlebihan sekali"
"Tidak, percaya dirilah Yang Mulia, anda memang telah bersinar jauh sebelum anda memiliki kekuatan sihir"
"Benarkah?"
"Benar"
"Kau pandai menggoda rupanya"
__ADS_1
"Apa maksud anda?"
"Tidak"
.
Diruangan kerja Tuan Penyihir Agung, tiba tiba seseorang muncul tepat dihadapannya, seseorang yang mampu melewati perisai sihir yang sengaja ditanam untuk melindungi kastel dimasuki oleh sembarang orang tanpa persetujuan pemilik kastel.
Vallan segera bangkit dari duduknya dan menghampiri wanita tua yang memakai jubah hitam yang memiliki aura orang yang dirindukannya.
"Nona Mayer, akhirnya anda menemui saya" wajahnya tersenyum.
Wanita tua itu memukul pundak Vallan, Plaakkkk! "Dasar bocah, apa kau mendidik Tuan Putri dengan keras?"
Vallan memegangi pundaknya yang sakit "Wah, anda benar benar tak berubah, selalu saja memukulku seperti saat aku masih kecil, bukankah anda sudah liat sekarang saya sudah tua? Apa Putri mengadu pada anda?"
"Dia tak mungkin melakukan itu, aku melihat semuanya, aku terus mengamati kalian"
"Anda benar benar jahat, anda mengamati kami tapi tak menampakkan diri dan malah menyembunyikan keberadaan anda, bukankah anda tahu saya sangat merindukan anda?"
"Dasar tua bangka!"
"Anda lebih tua"
Nona Mayer mengangkat tangannya seperti hendak memungkul Vallan hingga vallan mengernyit bersiap siap menepis pukulan, namun wanita itu menepuk bahunya dengan lembut "Kerja bagus bocah, aku percaya kau sudah diam diam menjaga Tuan Putri dan kekaisaran ini seperti yang aku inginkan" ucapnya dengan lembut.
Vallan menatap curiga "Kenapa suara anda sangat lembut? Saya lebih suka anda yang biasanya, jadilah diri anda sendiri"
"Kau sendiri sudah tahu, tugas hidupku sudah usai, aku titip Tuan Putri kepadamu, didiklah dia dengan lembut, apa kau tahu sejak kecil Beliau tak pernah merasakan kasih sayang dari orang tuanya? meskipun begitu dia tetap tumbuh sangat baik, jiwa murni yang akan menyelamatkan tanah ini dari kehancuran,Kau jangan bersikap kasar padanya, apa kau mengerti?" Mata Vallan berkaca kaca, ia menunduk seraya mengangguk.
"Hei tua bangka, jangan menangis!"
"Tidak tuh"
"Aku harus pergi sekarang, kekuatanku benar benar tak tersisa lagi, ingatlah kata kataku dan jaga dirimu Vallan, muridku yang paling kusayangi" ucapnya seraya menghilang sedikit demi sedikit.
"Nona Mayer, anda bilang sayalah murid yang paling anda sayangi tapi murid anda cuma saya huwaaaa...." gumamnya seraya terisak seperti anak kecil.Meski berat ia tak memiliki hak untuk menolak keinginan Gurunya,keinginan diseumur hidupnya, Vallan lebih tahu dari siapapun tentang itu. Baginya Nona Mayer adalah seorang ibu, teman dan penyelamatnya yang mengangkatnya dari kegelapan hidupnya.
.
__ADS_1
.
Bersambung.