Queen Sword

Queen Sword
Eps 23 Cincin Pertunangan


__ADS_3

Awalnya Ferderick merasa enggan untuk mengatakan tentang masalalunya, namun pada akhirnya ia berubah fikiran karena mungkin saja dengan dirinya menceritakan bagaimana ia dan adiknya terkurung disana dan hampir diperjual belikan layaknya binatang oleh seseorang, itu akan mempermudah Putri yang seorang penguasa untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.Dan yang terpenting karena Ferderick ingin sekali lagi mencoba untuk mempercayai seseorang.


Rubia dan Fiona mendengarkan ceritanya dengan seksama, mata merah kekuningan yang biasanya terlihat tangguh itu kini terlihat sedikit bergetar saat menceritakan masa masa kelam di hidupnya.


Mendengar cerita pengalamin pahit seseorang dengan mulutnya sendiri membuat Rubia seakan ikut merasakan penderitaannya, itu membuat perasaannya kacau, antara perasaan simpati atau kasihan atau bahkan rasa berasalah karena keluarga raja yang tidak becus melindungi rakyatnya sehingga Rakyat yang dikurung disana mengalami hal yang buruk, bahkan dari suara Ferderick yang bergetar Rubia merasakan sebuah trauma yang telah terukir teramat dalam di lubuk hati dan fikirannya.


Ferderick menatap wajah Rubia yang terdiam sejenak sembari menatapnya lekat lekat "Jangan tatap saya seperti itu Yang Mulia" ucap Ferderick yang telah merasa tak nyaman oleh tatapan iba yang ditujukan pada dirinya itu.


Rubia segera mengalihkan pandangannya "Jika terlalu berat untukmu ikut campur dalam penyelidikanku ini aku akan meminta Baginda Kaisar untuk menyelidiki masalah ini secara resmi"


"Apa Kaisar akan menyelidikinya jika anda mengatakan?" tanya Fiona.


"Entahlah, tapi ini cukup berbahaya, aku takut jika sampai masalah ini tersebar pemilik penjara perdagangan budak akan menutupi dengan membunuh semua budak, atau bisa jadi yang lebih parah dari itu, aku tak bisa ceroboh" ujar Rubia sembari berfikir.


"Itu sangat mungkin terjadi Yang Mulia" jawab Fiona setuju.


"Saya tidak keberatan membantu anda secara langsung Yang Mulia" ucap Ferderick dengan wajah penuh keyakinan.


"Kau yakin Fer?"


"Tentu, saya tidak selemah yang anda kira"


"Aku tidak menganggapmu lemah tuh,tapi baiklah mari kita pikirkan strateginya terlebih dahulu agar pelaku dan orang orang yang terlibat bisa tertangkap dan tak bisa mengelak"


Tuk tuk tuk.. Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.


"Salam Yang Mulia Putri, ada yang ingin saya bicarakan berdua saja dengan anda" ucap Axel begitu sampai dihadapan Rubia dengan melirik ke arah Ferderick.


"Kami permisi dulu Yang Mulia" ucap Fiona yang menarik lengan baju Ferderick dan membawanya pergi.


"Duduklah Sir Harington"


Axel pun duduk dihadapan Rubia dan dayang mengantarkan teh dan camilannya di atas meja.


"Katakanlah"


"Saya datang karena Baginda Kaisar meminta saya menyampaikannya kepada Anda, Ini tentang insiden penyerangan hari itu, ksatria penyelidik tak bisa menemukan apapun dan hanya bisa menemukan bahwa mereka adalah sekelompok prajurit bayaran yang merencanakan penghianatan"


"Siapa yang melakukan penyelidikan?" tanyanya sembari sesekali menyeruput tehnya.


"Penyelidikan dipimpin oleh Yang Mulia Duke Verano"


"Hmmmm pantas saja,mana mungkin dia menangkap dirinya sendiri" gumam pelan Rubia sembari menggeleng gelengkan kepalanya, ia benar benar merasa tak habis fikir mengapa Kaisar sama sekali tak mencurigai pria bermuka dua itu.


"Apa anda mengatakan sesuatu Yang Mulia?" mata Axel terfokuskan oleh cincin bermata biru di jari Rubia.

__ADS_1


"Tidak,apa tidak bisa penyelidikannya dipimpin oleh orang lain?"


"Maaf Yang Mulia, sudah lama sejak dua tahun lalu Yang Mulia Duke yang selalu menangani kasus kasus dalam kekaisaran dan itu diluar wewenang saya,apa ada masalah Yang Mulia?"


"Tidak tidak, kau bisa pergi Sir Harington"


"Emmm..maaf, apa saya boleh bertanya tentang sesuatu Yang Mulia?" ucapnya dengan ragu ragu.


"Katakanlah"


"Cincin.."


"Cincin?? Aku memakainya kok" Rubia mengangkat tangan kanannya memperlihatkan cincin pertunangan.


"Ahhh iya.." ia merasa canggung untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan.


Rubia menatapnya dengan bingung "apa ada lagi yang ingin kau katakan?"


Axel menguatkan keberaniannya untuk bertanya "Cincin bermata biru itu mengapa saya melihat sir Ferderick memakai cincin yang sama dengan anda?" ia mengepalkan tangannya untuk bersiap mendapatkan jawaban yang telah ia duga duga.


Rubia mengangkat tangan kirinya menatapi cincin itu, Rubia tak ingin menjawab tapi melihat reaksi Axel yang telah mengumpulkan keberanian membuatnya merasa tak enak hati, bagaimanapun juga ia tak boleh terus menyinggung tunangannya itu.


"Ini adalah benda yang mengikat kesepakatan, apa jawaban itu cukup Sir Harington?"


"Ahhh,kau membuatku seperti orang yang jahat, kau boleh bertanya apapun yang ingin kau tahu karena kita memang telah bertunangan"


Axel tersenyum cerah "Benarkah Yang Mulia?"


"Ya, tapi tetap saja jangan sampai melewati batas"


"Saya mengerti Yang Mulia" ia terus tersenyum, seakan senyumannya kemarin sampai barusan sedang tersumbat.


"Kau boleh pergi"


"Anu Yang Mulia, boleh saya bertanya satu lagi?"


"Apa itu?" Rubia baru saja menyesali apa yang ia katakan barusan.


"Karena kita bertunangan, bisakah anda memanggil saya dengan panggilan yang lebih akrab?"


"Kenapa?"


"Tidak masalah jika tak bisa" wajahnya kembali murung.


"Baiklah, haruskah kupanggil Axel? Ax?"

__ADS_1


"Saya lebih suka Axel"


"Baiklah, apa ada lagi? Ahh..jika kau mau kau boleh memanggilku Rubia"


Wajah Axel memerah "Saya tidak berani Yang Mulia" dalam hati ia sangat ingin.


"Baiklah"


"Saya permisi Yang Mulia" Rubia mengangguk.


"Axel Harington hari ini terlihat seperti anak anji** yang penurut, aku tak menyangka aku begitu membencinya selama beberapa tahun ini"Gumam Rubia.


.


"Mau sampai kapan anda menarik lengan baju saya?Ini sudah cukup jauh" gumam Ferderick kepada Fiona. Mereka berhenti di depan asrama ksatria pria.


"Hahh..benar juga, aku sekalian ingin menunjukkan tempat tinggalmu selama menjadi ksatria pengawal Yang Mulia.


"Harusnya anda bilang agar saya tidak seperti orang bodoh, jadi kemana saya harus perg?" ucapnya kesal karena orang orang yang berpapasan dengan mereka melihat dengan tatapan geli.


"Masuk dan carilah kamar yang kosong, apa kau mengerti?"


"Baiklah"


"Dame Fiona, apa saya bisa bertanya?"


"Katakanlah"


"Ketua, apa dia memang memiliki sifat yang menyebalkan?"


"Apa kau bilang?"


"Apa anda tak dengar?"


"Bukan, tapi darimana bagian beliau yang membuatmu berfikir dia menyebalkan?"


"Dia selalu menatapku dengan sinis"


"Mungkin itu karena suasana hatinya sedang buruk, Beliau itu adalah laki laki yang paling sempurna bla bla bla bla" Fiona terus menyebutkan tentang kelebihan dan kebaikan dari Axel Harington yang selama ini ia ketahui.


"Ahh iya sudah cukup, saya permisi" Ferderick meninggalkan begitu saja Fiona yang belum menyelesaikan pujiannya untuk Axel Harington.


"Ahh dasar anak tidak sopan itu" gerutunya sembari memaki maki Ferderick meskipun orangnya sudah tak terlihat lagi.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2