Queen Sword

Queen Sword
Eps 51 Kedamaian Sebelum Badai


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, kedamaian masih menyelimuti pasukan ksatria,monster seakan telah benar benar menghilang dari permukaan bumi, mereka tak pernah lagi menampakan diri selama lebih dari satu minggu, Rubia memulai persiapannya pergi ke gunung Evort, gunung dengan puncak paling tinggi di tanah kekaisaran yang terletak di bagian ujung wilayah utara,puncak dengan cuaca terdingin di seluruh tanah kekaisaran, beruntungnya musim bersalju telah lewat dan sebentar lagi akan musim panas meskipun diutara tetap dingin namun salju telah menghilang, sehingga akan mempermudah perjalanan mereka.


Rubia telah merasa yakin bahwa setelah ia sampai di puncak gunung ia akan memasang segel dan melenyapkan keberadaan monster yang mengancam peradaban manusia di tanahnya.Waktunya telah tiba, Rubia menaiki kudanya bersama dengan Ferderick dan dua penyihir, awalnya Axel ingin ikut serta dalam melindungi Rubia namun Rubia bersikeras menahannya dibarak karena memperhitungkan kemungkinan monster akan kembali muncul di sana dan keselamatan para ksatria akan terancam, mau tidak mau Axel harus menerima alasan yang memang masuk akal itu meskipun dengan hati yang berat, dengan syarat Rubia membawa satu benda pemberiannya.


Hiyaaa.. kuda berlari dengan cepat menembus jarak, tak lama mereka telah tiba di hutan kaki gunung, mereka turun dari kuda dan meninggalkan kuda di sana karena tak mungkin membawa kuda mendaki ke tempat yang tinggi, mereka berjalan bersama semakin masuk ke dalam hutan yang dipenuhi oleh pepohonan tinggi berdaun hijau yang terus bergoyang karena tertiup oleh angin, semakin mereka naik udaranya semakin dingin meskipun mereka semua memakai jubah tebal namun tubuh yang semakin dingin tetap terasa.


Rubia yang berada di barisan terdepan tiba tiba berhenti dan berbalik badan. "Bukankah disini sangat dingin?"semua orang mengangguk.


"Ulurkan tangan kalian, aku akan menghangatkan tubuh kalian dengan kekuatan sihir penghangat" kedua penyihir saling memandang, mereka tak bisa melakukan sihir penghangat karena kelas mereka masih rendah.


Ferderick mengulurkan kedua tangannya terlebih dahulu, dan Rubia menggapainya, setelah itu kedua penyihir bergantian melakukan hal yang sama.


"Terimakasih Yang Mulia" ucap para penyihir, Rubia mengangguk.


Ketika mereka hendak melanjutkan perjalanan kembali tiba tiba terdengar suara riuhan monster yang terdengar sangat jelas, Kuuurrrrrrr!!! Druuduuuukkkkk!! Mereka telah bersikap waspada, mata mereka mengelilingi sekitar, segerombolan demi segerombolan monster mulai muncul,tak butuh waktu lama sampai monster mengepung mereka berempat yang saling memunggungi seraya mengangkat pedang.


"Rupanya mereka berkumpul disini selama ini karena tahu aku akan membuat segel disini? Bagaiman mungkin monster yang tahunya menyerang melakukan hal itu? ucap Rubia ditengah kewaspadaannya.


"Lihatlah mata mereka Yang Mulia, mata mereka semua berubah menjadi hitam, itu berarti seseorang dengan kekuatan sihir hitam yang amat kuat yang mengendalikan mereka" jawab salah satu penyihir.


"Bukankah itu sihir terlarang?"


"Benar Yang Mulia, kita harus segera menghabisi mereka sesegera mungkin karena sepertinya jumlah mereka akan terus bertambah seiring berjalannya waktu, sudah jelas bahwa seseorang ingin menghalangi anda"


"Baik, mulai"

__ADS_1


Pertarungan dimulai, para monster bergerak bersamaan namun anehnya mereka semua mengarah ke sisi Rubia, tujuan mereka hanyalah menyerang Rubia, ini aneh, tak lama mereka semua menyadari bahwa rupanya seseorang ingin membunuh Rubia dengan memanfaatkan monster monster itu, suasana semakin genting karena ratusan monster telah berkumpul di tempat itu, meskipun mereka telah banyak menumbangkan monster tapi jumlah mereka seperti tidak berkurang.


"Tidak bisa begini Yang Mulia, anda harus naik terlebih dahulu dan membuat segel" ucap salah satu penyihir.


"Itu mustahil, bagaimana aku dan Ferderick meninggalkan kalian berdua melawan ratusan monster ini?" Rubia bersikeras menolak saran penyihir bernama Merge itu.


"Tidak ada cara lain Yang Mulia"


"Tidak, Axel memberiku tembakan asap merah sebagai tanda aku membutuhkan bala bantuan, kita harus menunggu mereka datang terlebih dahulu" Mereka semua mengangguk setuju.


Dor! Rubia menembak ke atas, Axel segera menyadari dan mengerahkan seluruh pasukannya menuju ke tempat asal tembakan asap.


"Awas Yang Mulia!" Ferderick melindungi Rubia yang sedikit lengah dari cakaran monster sehingga lengannya terluka.


"Fer!" Mereka kembali fokus mengalahkan para monster yang menyerang dengan semakin ganas dan menggila.


"Yang Mulia, sekarang!" ucap Merge memberikan aba aba.Rubia dan Ferderick mengangguk.


Rubia dan Ferderick berlari ke arah puncak gunung, para monster mengikuti mereka dengan terus menyerang dan mencoba menghalangi mereka, mereka berlari sembari terus melayangkan serangan balasan sehingga memperlambat pergerakan mereka menuju puncak. Axel da para penyihir berlari menghampiri mereka, mereka bertiga menghadang dan menghalangi monster mendekati Rubia dan Ferderick.


Semakin naik ke puncak para monster semakin menggila, nafas Rubia terengah engah hingga rasanya ia telah kehabisan nafas, namun perjuangan mereka akhirnya membuahkan hasil karena kerjasama semua orang, Rubia dan Ferderick telah sampai di puncak tertinggi gunung Evort, angin disana sangat kuat sampai sampai bisa membawa tubuh seseorang.


"Hati hati Yang Mulia" Ferderick memegangi tubuh Rubia yang terhuyung terkena angin.


"Hosh hosh hosh, ini benar benar melelahkan" Rubia tertunduk, kakinya terasa lemas.

__ADS_1


"Anda baik baik saja Yang Mulia?" Ferderick terus memeriksa ke bawah sana, monster semakin mendekat.


"Ya, aku harus bergegas" ucapnya dengan nafas terengah engah. "Lekas genggam tanganku dan salurkan mana dalam tubuhmu"


"Baik"


Rubia dan Ferderick mulai memfokuskan diri, menghela dan menghembuskan nafas perlahan, setelah beberapa saat berlalu lingkaran sihir berhasil tercipta semakin Rubia mengerahkan seluruh energinya semakin terlihat jelas pula lingkaran sihir berwarna kebiruan itu, lingkaran sihir bersinar semakin terang melebihi sinar matahari, Rubia menghempaskan lingkaran dihadapannya itu ke langit, semakin membesar dan semakin bersinar, perlahan lingkaran sihir itu mulai menyebar menutupi seluruh tanah Kekaisaran.


"Haahhhhh!!!" Rubia terjatuh setelah melepaskan lingkaran sihir terakhir dari tangannya,segel telah berhasil terpasang, perlahan para monster tersedot ke bawah dan menghilang seolah mereka kembali terkubur ke dalam neraka.


Energi Rubia benar benar terkuras habis tak tersisa, ia tergeletak di pangkuan Ferderick, matanya berkedip sayu "Apa aku berhasil?" tanyanya dengan suara lirih.


"Anda berhasil Yang Mulia, semuanya telah usai, monster telah lenyap"


Rubia tersenyum tipis "Syukurlah" perlahan matanya tertutup, tubuhnya dingin dan bibirnya membiru.


"Tolong sadarlah Yang Mulia" teriak Ferderick dengan gusar.


Tak lama para penyihir dan pasukan ksatria telah sampai di puncak tempat Rubia berada, mereka melihat Ferderick yang sedang memeluk tubuh Rubia erat erat, Axel berlari menghampirinya "Yang Mulia" ia menyingkirkan Ferderick dengan mendorngnya hingga terjatuh, tubuh Ferderick pun lemas tak berdaya.


"Apa yang terjadi Yang Mulia, mengapa tubuh anda sangat pucat dan dingin" Axel sangat panik.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2