Queen Sword

Queen Sword
Eps 28 Surat lamaran untuk Amelie


__ADS_3

Di saat matahari baru saja menampakkan dirinya,kediaman Marquess Johnston di hebohkan dengan kedatangan  surat lamaran yang ditujukkan kepada Putri mereka yang berusia delapanbelas tahun, raut wajah bahagia dari pasangan suami istri dan juga para pelayan di kediaman itu terlihat jelas, itu karena mereka pikir putrinya yang tak memiliki teman sama sekali akhirnya akan segera mendapatkan teman seumur hidupnya, mereka begitu bersemangat sampai sampai suara riuh mereka terdengar sampai ke dalam kamar Amelie dan mengganggu tidur pulasnya.


Seorang dayang menerobos masuk ke kamarnya dan membangunkan Amelie yang masih berada di dalam selimut tebal berwarna putih itu.


"Nona,anda harus bangun!" seru wanita itu dengan antusias,namun Amelie sama sekali tak bergeming.


Dayang itu akhirnya membuka selimut dan terlihat wajah amelie yang masih tertidur pulas, ia menggoyang goyangkan tubuh nonanya itu,tapi ia masih juga tak mendapatkan respon, sampai akhirnya dayang itu membuka tirai jendela sehingga cahaya menyengat matahari pagi mulai menyorot ke wajahnya dan perlahan Amelie membuka matanya.


Dayang itu kembali berjalan dan berhenti disisi amelie "Akhirnya Nona bangun juga" ia tersenyum.


"Apa yang terjadi sampai sampai orang satu rumah ini begitu ribut, ini tidak seperti biasanya, tapi aku tak penasan" ia kembali menarik selimutnya menutupi wajahnya.


"Nona, ini karena anda baru saja mendapatkan surat lamaran pernikahan"


Amelie kaget dan seketika ia sudah duduk "Apa apaan? Siapa yang mengirimkan surat lamaran?" ia menatap wajah dayang pribadinya yang sedang tersenyum itu "Jangan bilang..putra Duke Verano? Ayo katakan bukan lili"


"Hehe anda menebaknya dengan sangat tepat Nona, selamatt"


Amelie mengernyitkan matanya dan berteriak "tidakkk mauuuu!!"


Disaat semua anggota keluarganya telah berkumpul dimeja makan, Amelie baru saja berjalan menghampiri mereka. "Kau sudah datang, duduklah" ucap Nyonya Clate, ibu dari Amelie yang sudah tersenyum sejak melihatnya.


Amelie duduk di sebelah tempat Adik laki lakinya, ia mulai mengangkat sendok makannya namun perhatiannya teralihkan karena semua anggota keluarganya menatapnya dengan senyuman asing yang membuatnya merasa geli.


"Hentikan" gumam Ameli, namun pandangan mereka tetap tak berhenti.


"Sejak kapan Putriku berhubungan dengan Putra Duke Verano yang tampan itu?" tanya Clate.


"Aku tahu ibu, pasti sejak pesta ulang tahunku belum lama ini" ujar Darius,adik laki laki amelie yang berusia limabelas tahun.


"Jadi bagaimana? Haruskah Ayah segera mengirim surat balasan dan menerima lamaran beliau?"ucap Marquess sembari menggoda putrinya.

__ADS_1


Amelie meletakkan kembali sendok yang dipegangnya dengan keras, hingga membuat keluarganya kaget "Aku tidak mau!"


Seketika senyuman diwajah keluarganya hilang setelah melihat ekspresi yang Amelie tunjukkan, ekspresi wajah yang begitu menentang pernikahannya itu membuat keluarganya bertanya tanya.


"Kirim surat balasan bahwa aku menolaknya Ayah" ia kembali mengambil sendoknya dan makan dengan santainya.


"Apa maksudmu?" Tanya Ayahnya tak mengerti apa yang membuat putrinya menolak lamaran dari keluarga Duke yang memiliki kekuasaan tertinggi setelah Kaisar di kekaisaran ini.


"Aku tak menyukainya, dia selalu menggodaku disetiap ada kesempatan, dan sebelum itu aku pernah melihatnya menggoda beberapa gadis di pesta para bangsawan, aku benar benar merasa muak dengan pria itu, dia bahkan lebih muda dariku,aku baru berusia delapan belas tahun ayah, apa anda ingin saya segera menikah dan meninggalkan kalian semua??" seketika wajahnya berubah memelas.


"Memang lamaran itu bertujuan untuk menikah, tapi karena kalian masih terlalu muda Duke mengusulkan pertunangan terlebih dahulu, tapi jika apa yang kau katakan itu benar maka kita harus menolak lamaran dari anak seperti itu" Marques adalah ayah yang bucin putinya.


"Yaa, kau harus menolaknya sesegera mungkin suamiku, status Duke atau apalah itu tak akan sebanding dengan kebahagiaan masa depan Putri kita yang manis ini" reaksi mereka langsung berbanding terbalik mengiku keinginan Amelie.


"Tentu saja, aku akan segera menulisnya setelah kita menyelesaikan sarapan" mata duke langsung berapi apai.


Amelie memalingkan wajahnya kemudian tersenyum menyeringai dengan keputusan akhir ayah dan ibunya.


Duke Verano sangat murka karena seorang Marquess berani menolak lamaran pernikahannya, tak bisa tinggal diam Duke segera bertindak mencari cara agar mau tidak mau Marquess harus menerima pinangan putranya. Karena ia telah menerka nerka jika begitu putri dan putranya beranjak dewasa akan semakin banyak surat lamaran yang datang kepada keluarga kaya raya itu, ia tak bisa membuang buang waktu lagi demi rencana besarnya.


Duke mendatangi Kaisar dan meminta kaisar menurunkan surat perintah agar keluarga Marquess mengikat hubungan dengan keluarga Duke Verano melalui pernikahan demi kepentingan kekaisaran, Awalnya Kaisar menolak keinginan Duke yang tak berdasar kepada kepentingan kekaisaran, tapi dengan mudahnya Duke memberikan peringatan kepada Kaisar sehingga kaisar tak bisa menolak keinginannya itu.


Beberapa hari kemudian, Kaisar mengundang Kepala keluarga Marquess dan putrinya ke istana raja, tak mengerti dengan situasinya yang sebenarnya, marquess mendatangi Kaisar begitu dipanggil.


"Yang Mulia, Tuan Marquess Johnston dan Putrinya Lady Amelie Johnston sudah tiba" ucap penjaga pintu.


Kaisar menyambut kedatangan mereka dengan senyuman ramah tamah setelah tamu mereka memberikan salam "Selamat datang Tuan Marquess dan Lady, duduklah" tak lama pelayan kaisar membawakan teh dan beberapa camilan pendampingnya.


"Terimakasih Yang Mulia" jawab Marquess.


"Bagaimana perkembangan bisnis permatamu akhir akhir ini Marquess?" ucapnya berbasa basi.

__ADS_1


"Semuanya lancar berkat kemurahan hati Yang Mulia Raja"


"Hohoho, kau bisa saja, apa kau tahu mengapa aku mengundangmu kesini?"


"Kalau boleh tahu, apa ada yang bisa saya bantu Yang Mulia?"


"Hoho..kau cepat tanggap rupanya, nikahkanlah putri sulungmu dengan keponakanku Jasson Verano"


Degg, tiba tiba jantung Amelie berdebar hebat, ia sudah menduga perasaannya sudah tak enak ketika mendengar Kaisar memanggilnya bersama dengan Ayahnya, ia melirik ke wajah Ayahnya yang tampak bingung memberikan jawaban, disatu sisi ia telah mengetahui putrinya menolak tegas, disisi lain jika ia menolak perintah kaisar maka ia akan dianggap memberontak, karena perintah seorang kaisar adalah hal yang mutlak dan harus dijalankan.


"Jadi apa jawabanmu Marquess?" Kaisar menatap wajah Marquess dan putrinya secara bergantian, menilai reaksi keduanya dan kaisar mengerti mengapa duke begitu memaksakan kehendaknya kali ini.


"Yang Mulia, bisakah anda memberikan kami waktu untuk mendiskusikannya terlebih dahulu, karena ini menyangkut masa depan putri saya jadi saya tidak bisa tergesa gesa dalam mengambil keputusan" ujarnya dengan hati hati.


"Ya, baiklah" meskipun tak merasa puas dengan jawaban yang diberikan oleh Marquess, tapi Sebagai kaisar yang harus menujukkan kebijaksanaannya ia hanya bisa menerima jawaban Marquess yang terkesan sengaja mengulur waktu itu.


Kaisar melirik ke arah Amelie "Kau bisa berjalan jalan di istana lady, masih banyak hal yang ingin aku bincangkan dengan Marquess, kudengar bunga bunga musim dingin ditaman sudah bermekaran, kau bisa berjalan jalan disana"


Marquess melirik ke arah putrinya dan berbisik "Pergilah melihat lihat taman istana"


"Anu Yang Mulia, dari pada berjalan jalan bisakah saya mengunjungi Yang Mulia Putri Mahkota?" jawaban Amelie yang tak terduga sehingga membuat ayahnya tegang.


"Apa kau mengenal Putri mahkota nona?"


"Saya hanya ingin mengenal Yang Mulia Putri lebih dekat jika anda mengijinkan"


"Ya, tentu saja, Putri ada di istananya,kau bisa mengunjunginya, pengawalku akan mengantarmu"


"Terimakasih Yang Mulia Raja"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2