
Sebulanpun berlalu, Rubia semakin dekat dengan Pangeran Altez, dia Pria yang baik, jujur serta sangat menyenangkan, Rubia telah salah menilainya pada saat kesan pertama, namun meskipun keduanya semakin hari semakin dekat ternyata tak cukup membuat Rubia mengubah keputusannya, jujur saja dalam hati terdalam Rubia akhir akhir ini mulai goyah, namun goyah dalam artian lain dari cinta, Rubia hanya menyukainya sebagai seorang teman dan partner yang baik untuk bekerja sama dan bertukan pikiran, ia goyah karena merasa simpati padanya, Rubia pun berkata jujur padanya, meskipun tak mendapatkan apa yang diinginkannya, Pangeran Altez menerimanya dengan hati yang lapang, ia berterima kasih karena meski bagaimanapun Rubia sudah memberikan kesempatan padanya dan mereka saling mengenal satu sama lain lebih dalam dari pada orang lain.
Kini tiba saatnya Rubia mengantarkan kepergian Pangeran Altez, sayang rasanya membiarkan Pria berbakat sepertinya meninggalkan Kekaisaran namun Rubia tak bisa menahannya karena tak ada yang bisa ia janjikan kepada Altez yang menginginkan pernikahan dengan dirinya, andaikan dia meminta jabatan pemerintahan atau harta benda pasti Rubia akan memberikannya dengan senang hati tapi semua itu sudah dimilikinya di negaranya sendiri.
"Berhati hatilah Pangeran Altez, saya akan merasa sangat kehilangan kehadiran anda diistana"
"Wah, itu yang saya harapkan Baginda"
"Kapan kapan datanglah lagi dengan Istri anda kelak"
"Tentu saja saya akan datang lagi, kalau begitu saya akan segera mencari Istri"
"Ya, begitu lebih bagus"
"Tapi Baginda anda harus datang ke pernikahan saya sendiri loh" Rubia tersenyum dan mengangguk "jika anda merindukan saya dan berubah pikiran segeralah kabari saya, saya akan segera menghampiri anda" ucapnya dengan sungguh sungguh.
"Maaf tapi itu tak akan terjadi"
"Wah, sampai akhirpun anda tetap bersikap jahat kepada saya"
"Ya, aku memang orang jahat jadi anda jangan berharap lebih kepada orang jahat ini"
"Anda sudah mengatakan itu ratusan kali Baginda, anda memberikan batasan dengan terlalu kentara"
"Aku akan terus mengatakannya jika kau terus berkata demikian juga"
__ADS_1
"Hehe, sayang sekali padahal jika anda menikah dengan saya saya akan selalu setia disisi anda, anda akan menyesal karena sudah menolak pria seperti saya"
"Iya, aku akan menyesal, apa kau puas?"
"Ya, ya Puas hehe"
Tiba tiba raut wajah Rubia menjadi lebih serius "Maafkan aku dan terimakasih Pangeran Altez"
"Eyyy anda tak perlu merasa bersalah, kedepannya jika saya berkunjung lagi anda harus tunjukkan bahwa anda menyesal sudah menyia nyiakan orang keren seperti saya, apa anda mengerti?"
"Baiklah, aku mengerti, selamat jalan"
Pangeran Pun pergi setelah melambaikan tangan dengan penuh semangat kepada Rubia, "Hahhh.. aku lelah berpura pura bahagia dan baik baik saja" gumam Altez di dalam kereta kuda. "Kuharap anda selalu sehat dan bahagia Baginda, semoga kekasih anda segera bangun, aku berdoa dengan tulus meskipun sejujurnya aku masih tidak rela pergi dengan tangan kosong seperti ini, sialan aku sangat iri dengan si Ferderick itu"
Awalnya Altez hanya ingin menghabiskan waktu di kekaisaran dengan bersenang senang, ia merasa harus menakhlukan hati Rubia karena wanita itu dengan angkuhnya menolak seluruh lamaran pernikahan dari kerajaan kerajaan berpengaruh di benua, ia ingin tahu seberapa hebatnya Rubia karena terus mendengar rumor rumor tentangnya sampai di kerajaannya, bahkan sampai beredar novel romansa yang menceritakan kehidupan dan percintaannya, Altez menjadi sangat penasaran dibuatnya lalu mencoba mengirimkan surat lamaran kepadanya meski berakhir ditolak juga.
.
Tiga bulan pun berlalu setelah kepergian Pangeran Altez, malam ini Rubia mendapat kabar baik, para penyihir telah berhasil menemukan keberadaan Atala dan Duke Verano di sebuah gua di dalam hutan di wilayah kekuasaan Duke Verano, Pangeran Robero membawa Atala ke kekaisaran Vlair, dia akan menghukum dosa dosa yang telah atala lakukan dengan tangannya sendiri, sementara Duke Verano menyusul putranya yang berada di dalam penjara bawah tanah.
Mendengar kabar bahwa Adiknya yang telah melakukan pemberontakan kini berada di penjara tempatnya dikurung dulu, Permaisuri Isabella berniat mengunjunginya setelah mendapatkan ijin dari Kaisar.
Tuk tuk tuk, perlahan langkah kaki Permaisuri Isabella semakin melemah semakin dekatnya ia dengan penjara yang dingin dan lembab itu, terauma, Permaisuri masih merasa ngeri berada di tempat itu namun sepertinya ia tak akan bisa menemui adiknya untuk terakhir kalinya jika bukan hari ini, entah apa yang akan dilakukan Kaisar setelah hari ini untuk mereka berdua.
Perlahan permaisuri sampai di hadapan Duke Verano dan Jasson, diluar perkiraannya ternyata Duke terlihat sangat tenang begitu juga dengan Jasson, Duke menoleh ke arah Permaisuri, Duke sudah mengira Kakaknya itu akan datang dan menertawakannya karena kondisinya yang menyedihkan, tapi apa yang sekarang dilihatnya, Permaisuri meneteskan air mata dihadapannya tanpa berbicara sepatah katapun.
__ADS_1
"Seharusnya anda senang sekarang saya berada ditempat seperti ini" Gumam Duke seraya menatap ke arah kakaknya.
"Hill, kenapa kau bertindak sejauh ini? Kenapa kau tak pernah merasa cukup dengan kehidupanmu yang sudah bergelimang harta sebagai seorang Duke bahkan kau menyeret putramu sendiri ke dalam keserakahanmu"
"Ini semua karena anda, jika dulu anda tak meminta tolong kepadaku saya tidak akan terlibat dengan orang rang istana dan bertindak sejauh ini"
Air mata Permaisuri mengalir semakin deras "Maafkan aku Hill, tidak apa apa kau boleh menyalahkanku memang semuanya salahku"
"Bibi, bisakah anda bilang kepada Kaisar untuk meringankan hukuman kami?" ucap Jasson dengan suara lirih, sepertinya anak itu tak makan cukup baik selama terkurung di dalam penjara, suaranya terdengar lemah.
"Akan Bibi usahakan, bibi janji asal kau mau berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi"
"Anda tidak perlu repot repot meminta keringanan untuk kami, saya lebih memilih mati dari pada hidup di pengasingan dan menjadi seorang rakyat biasa yang tak memiliki apapun, karena itu satu satunya keringanan untuk pelaku pemberntakan" sahut Duke, sepertinya dia benar benar sudah menyerah dengan hidupnya.
"Apa yang ayah katakan"
"Kau boleh hidup sesukamu Jasson, kau masih muda dan masih bisa memperbaiki dirimu, sedangkan aku, aku sudah tua dan lelah, aku akan memilih mati apapun hukuman yang diberikannya"
"Hilll..."
"Sudahlah, jangan menemuiku lagi, aku masih membencimu"
"Maafkan aku Hill" Permaisuri pun segera meninggalkan tempat itu dengan terburu buru, rasanya perasaannya hancur melihat nasip adiknya yang hancur karena ulahnya sendiri, ia sangat sedih jika mengingat kehidupan mereka berdua dulu sewaktu masih sangat muda dan tumbuh bersama.
.
__ADS_1
.
Bersambung.