
Dalam sekejap pasukan ksatria istana khusus telah menyerbu kastel mewah Grand Duke Lewis, mereka mengobrak abrik seluruh ruangan didalam kastel itu untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa membuktiikan keterlibatan keluarganya dalam rencana penghianatan, Grand Duchess dan putra tunggal mereka terus berteriak dengan penuh amarah melihat seisi rumahnya digeledah disana sini,tapi tak ada yang memperdulikan teriakan mereka.
Seketika di seluruh penjuru kota dan desa tersebar rumor bahwa keluarga Grand Duke terlibat dalam upaya pemberontakan, seisi ibu kota gempar, mereka dipenuhi amarah yang meluap, para rakyat berbondong bondong datang ke kediaman Grand Duke, ketika Duchess dan Putranya berjalan keluar dari rumah dibawa oleh pasukan ksatria, para rakyat yang marah kepada mereka melempari mereka mulai dengan telur, tomat busuk dan buah buahan yang telah membusuk.
Setelah kejadian itu para rakyat yang telah menjadi korban ketidak adilan dari keluarga Grand Duke mulai angkat suara satu persatu untuk melapor kepada pihak yang berwenang, Duchess yang selalu bersikap semena mena kepada orang orang dengan status sosial yang lebih rendah darinya,dan selalu memamerkan kekayaan mereka , ia hanya menganggap rakyat biasa seperti serangga.
Sedangkan Putra tunggal mereka yang memiliki sifat serupa dengan ibunya sering kali terlibat perkelahian, judi ilegal, kekerasan bahkan peme******, sejumlah wanita muda yang menjadi korban telah melaporkan ketidak adilan yang telah mereka alami, rakyat terus menerus mengirim petisi kepada Kaisar melalui penguasa wilayah untuk memberikan hukuman penggal kepada seluruh anggota keluarga itu.
Semakin hari keadaan ibu kota semakin panas dan tegang karena sejumlah Bangsawan kelas atas terseret dalam kasus bersama dengan Drand Duke, sejumlah Bangsawan yang diliputi oleh kegelisahan seolah mereka hanya tinggal menunggu giliran untuk ditangkap, mereka terus menemui orang yang mereka percaya bisa menyelesaikan permasalahn mereka seperti yang sudah sudah.
Kastel Duke Verano menjadi begitu ramai didatangi oleh para Bangsawan yang selama ini menjadi pendukungnya, Duke yang baru saja tersadar dari pengaruh sihir hitam itu merasa sangat bingung dengan apa saja yang telah terjadi di kekaisaran sebelum Rubia naik takhta, ia pun tak mengerti mengapa beberapa hari ini pikirannya tak berada ditempatnya,pikuran dan perasaannya tak sinkron, ia terus melakukan hal hal yang diluar nalar, bahkan putranya sendiri merasa ketakutan berhadapan dengannya, tanpa sadar ia telah kehilangan momen emasnya untuk menguasai kekaisaran. Tak lama ia segera menyadari bahwa dirinya terkena sihir hitam dari si penyihir yang dipekerjakannya, tak bisa tinggal diam Duke akhirnya bisa menemukan cara agar keadaan berbalik dan ia bisa mengendalikan penyihir hitam itu.
"Tuan Duke bagaimana nasip kami selanjutnya? Tolong bantulah kami" ucap seorang yang duduk dihadapannya.
Duke terdiam sejenak berfikir, permasalahannya telah sangat membesar tanpa sepengetahuannya, ia tak bisa lagi melindungi para pengikutnya, ia hanya perlu mengamankan posisinya dan memulai semuanya dari awal "Bagaimanapun nama nama kalian telah masuk dalam daftar target kaisar, kali ini kalian tak bisa lagi menghindar, pergilah dari sini dan jangan datang lagi, aku tak bisa lagi melindungi kalian, pergilah" ucapnya dengan dingin.
"Bagaimana anda bisa melakukan ini pada kami Tuan Duke?"
"Apa kalian pikir aku tak tahu bahwa kalian bekerja sama dengan Grand Duke Lewis tanpa sepengetahuanku?" semua orang seketika terdiam. "Pergilah atau aku sendiri yang akan menebas kepala kalian!" teriaknya, kemudian orang orang itu pergi terburu buru.Duke masih tak menyangka bahwa di awal kekuasaannya anak yang masih belum dewasa itu akan mengacak acak seluruh istana dan rencananya.
Seperti perkiraan, setelah mereka kembali ke kediaman masing masing pasukan ksatria telah menunggu diam diam di sekitar rumah mereka, tak lama mereka semua telah berhasil diseret dan dijebloskan kedalam penjara.
.
__ADS_1
Duk duk duk, seseorang berjalan di lorong gelap yang terhubung dengan penjara bawah tanah, langkahnya terhenti ketika sampai di depan sel Grand Duke Lewis dan keluarganya. Grand Duke segera mendekat, kedua tangannya menggenggam sel besi yang mengurungnya, penampilan mereka sekarang lebih parah dari penampilan rakyat jelata yang sangat mereka rendahkan.
"Kau pengawal Baginda Kaisar? Cepat beritahu Baginda anak dan istriku tidak ikut dalam rencanaku, mintalah Kaisar membebaskan mereka secepat mungkin, pasti Kaisar mendengarkan ucapanmu, benar, kau adalah orang terdekat Kaisar saat ini, beritahukan padanya dan aku akan memberikan imbalan yang sangat besar untukmu" ucap Grand Duke. Sepertinya ia masih memiliki hati nurani untuk keluarganya sendiri, sedangkan istri dan anaknya hanya terdiam dengan penuh amarah, mereka berdua terlihat menyalahkan Grand Duke dari sorot matanya melihat ke arah Duke.
"Kenapa aku harus melakukan itu?" jawab Ferderick dengan dingin.
"Apa?? Mengapa bicaramu sangat tidak sopan! Dasar rakyat jelata rendahan!" ia malah memaki.
Ferderick tersenyum smirk membuat Grand Duke semakin kesal "Hehh, siapa yang kau panggil rakyat jelata?"
"Apa kau tak bisa berkaca?"
"Panggil aku Count muda Stewart"
"Benar, aku putra dari sepasang suami istri yang kau bunuh" tiba tiba tangan Ferderick meraih leher Grand Duke, ia mencengkeramnya dengan sorot mata ingin membunuh, Istri dan Putranya seketika menjadi ketakutan, mereka terus menjauhkan tubuh hingga menempel ujung dinding.
"Oouugghhh" Tangan Grand Duke meronta ronta memegang tangan Ferderick yang mencengkeram lehernya "Lepaskan breng*** ooogghhh"
Wajah Ferderick semakin mengeras, ia terus menggertakan giginya dan hampir mematahkan lehernya, ketika Grand Duke tak bisa lagi mengeluarkan suaranya ia melepaskan tangannya hingga pria tua itu jatuh tersungkur ke lantai. Ia terus menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Ferderick dengan tubuh gemetar.
"Aku sudah membunuhmu jika Baginda mengijinkan, untunglah aku sedikit bersabar, aku bersyukur karena menunggu waktu yang tepat untuk memenggal lehermu dihadapan seluruh rakyat, menjatuhkan harga dirimu sampai ke jurang kematian"
"Dasar gila" teriak putranya.
__ADS_1
Ferderick menoleh ke arahnya, tubuhnya terlihat ketakutan namun mulutnya masih sanggup memaki, membuat Ferderick menggeleng gelengkan kepalanya "Bukankah kau yang gila? Kau melakukan kekerasan kepada sembarang orang dan memperlakukan wanita seolah mainanmu, dasar keluarga sampah!"
"Pergi kau pergi!!"
"Nikmatilah sisa sisa hari kalian, inilah tempat yang sangat cocok untuk manusia manusia sampah seperti kalian" ia berjalan pergi menjauh dari tempat itu, sedangkan istri dari Grand Duke terus menangis sejadi jadinya, ia masih tak menerima kejatuhan hidupnya yang terjadi karena tingkah laku dirinya sendiri.
Grand Duke menutup telinganya, ia tak tahan mendengar tangisan dari istrinya terus menerus menyalahkan dirinya "Diam kau!" bentaknya yang semakin merasa frustasi.
"Kau yang diam! Dasar laki laki bodoh, lakukan sesuatu agar aku dan Putraku keluar dari tempat terkutuk ini" teriaknya lebih keras.
Seorang penjaga menghampiri mereka yang terus membuat kegaduhan "Diam atau kurobek mulut kalian!" teriaknya di depan sel tahanan.
"Kau yang diam rakyat rendahan!" jawab wanita itu.
"Dasar, tak tahu diri, sadarlah tidak ada lagi yang bisa kalian banggakan!" penjaga itu pun melangkah pergi karena percuma ia menggertak orang orang yang sudah tak memiliki kewarasan.
"Kau, berani beraninya mulutmu!!" wanita itu semakin menjadi jadi melampiaskan kemarahannya kepada setiap orang yang dilihatnya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1