Queen Sword

Queen Sword
Eps 71 Rencana para penjahat


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu, Rubia masih terbaring di atas tempat tidurnya dan belum juga membuka matanya, keamanan istana semakin diperketat, karena itulah rumor yang beredar semakin melebar menjadi jadi, ada seseorang yang sengaja menyebarkan rumor yang mengatakan bahwa kutukan Kaisar muda telah aktif dan sangat berbahaya karena saat kambuh Kaisar akan berubah menjadi iblis pembunuh.


Rumor itu terus beredar dan dibesar besarkan dari mulut kemulut sampai ke telinga rakyat biasa yang sebelumnya sangat menyanjung tinggi Kaisar mereka, dalam sekejap reputasi yang sudah dicapainya menjadi tercemar hanya karena peristiwa di aula istana hari itu.Karena terlalu banyak pasang mata yang melihat kejadian itu, rumor itu sulit sekali dikendalikan karena itu adalah tujuan dari orang yang mengirim penyihir hitam di hari itu.


Para Bangsawan dari setiap daerah mulai mencemaskan keadaan kekaisaran mereka dan secara serentak meminta istana memilih seorang Penerus takhta karena menghawatirkan masa depan kekaisaran jika Kaisar tak lagi bangun, serta kepercayaan yang semakin menipis rakyat kepada Kaisar yang menderita kutukan kegilaan.


Duke Verano bersama dengan Putranya dan penyihir Atala tengah duduk santai menikmati makanan siang mewah mereka, wajah ketiganya terlihat amat puas dengan pencapaian mereka, apalagi raut wajah Jesson yang terlihat cerah bukan main, ia merasa bangga karena ia sendiri yang menemukan penyihir Atala yang hebat itu.


"Ayah bukankah seharusnya kita bertindak sekarang sebelum Rubia bangun?" ucapnya setelah menyeka mulutnya.


Duke meneguk minumannya "Apa yang ingin kau lakukan? Kita harus hati hati karena sekarang sangat sulit menempatkan mata mata di sisi anak itu, entah apa kebenarannya yang terjadi dengannya informasinya hanya dia masih terus berada di kamarnya dan sekretarisnya yang mengurus semua dokumen istana yang mendesak"


"Apa Ayah tidak bisa memastikan keadaannya? Bukankah sekarang orang terdekat Rubia seharusnya Ayah?"


"Apa kau lupa Kakaku masih hidup disana? Bahkan tempat tinggalnya tak bisa dimasuki oleh sembarang orang, Rubia anak itu ternyata sangat licik, orang orang tahunya Permaisuri sedang dalam masa hukuman karena terlibat dengan insiden kematian Raja Ailen meskipun pada akhirnya ia dinyatakan tak bersalah, padahal anak itu sedang melindungi nyawa Ibunya dariku"


"Apa Bibi akan menjadi penghalang kita Ayah?"


"Tentu saja tidak, dia hanya wanita lemah yang serakah, kita bisa memanfaatkan situasinya jika memungkinkan, saat Rubia dinyatakan tak bisa lagi bangun maka Permaisuri yang akan mendapatkan wewenang untuk penunjuk ahli waris takhta, disaat itu dia akan keluar dari perisai pengaman, kita bisa memanfaatkannya atau membunuhnya saat dia tak mau berpihak kepada kita"


Atala meletakkan sendok garpunya lalu menyeka mulutnya "Haruskah aku membunuhnya saja? Bukankah lebih baik jika pengganggu segera dimusnahkan agar tak akan menambah masalah?"


Kedua orang pria itu menatap wajah Atala lekat lekat "Apa kau bisa menembus perisainya?"


Atala mengangguk "Aku yakin bisa karena keahlianku lebih tinggi daripada situa Penyihir Agung itu, pikirkanlah terlebih dahulu lebih menguntungkan dia dibiarkan hidup atau mati"

__ADS_1


Duke dan Putranya terdiam "Jika kau bisa menembus perisai tempat Permaisuri berarti kau juga bisa menembus Perisai yang dipasang dikediaman Rubia?" tanya Jasson antusias.


"Itu bukan hal sulit tapi identitasku bisa ketahuan karena tempat itu dijaga langsung oleh penyihir, aku tak bisa menanggung resiko, jika tempat Permaisuri aku masih bisa mengendalikan si penyihir hitam itu untuk masuk kesana tapi dia tak bisa masuk ke tempat tinggal Kaisar muda itu"


"Kau tak mau mengambil resiko untuk kami?" mata Jasson membelot.


"Apa maksudmu? Apa kau benar benar menganggapku bawahanmu?" Sorot mata Atala menajam.


Duke mulai panik "Sudah sudah, Jasson kau tak boleh memaksakan kehendakmu kepada Atala, kita sudah berjanji bahwa kita akan saling melindungi satu sama lain" ia menendang kaki Jasson, mereka saling memandang dan Duke menggeleng memberikan isyarat kepadanya.


Duke sangat mengerti seberbahaya apa Atala, ia tak bisa meremehkan kekuatan seorang penyihir karena ia sendiri telah merasakan akibatnya saat ia membuat seorang penyihir hitam murka yang kekuatannya lebih rendah dari Atala.


Duke berusaha mencairkan suasana yang telah terlanjur menegang itu "Ah, untuk sekarang jangan bunuh Permaisuri Isabella, aku yakin dia akan berguna nantinya, abaikan saja dia untuk saat ini, dia mudah dihabisi jadi kau tak perlu memikirkannya, dan juga kau tak perlu menunjukkan dirimu di istana"


"Baiklah, kalian harus menepati janji jika tak mau nyawa kalian tiba tiba melayang karena kita sudah membuat kesepakatan dengan sihir"


Setelah keduanya melihat Atala yang telah menjauh Jasson memasang wajah yang muram "Ini seperti kitalah yang menjadi bawahan si penyihir itu" gumamnya kesal.


"Berhati hatilah Jasson, jangan sampai apa yang telah terjadi kepadaku terjadi juga kepadamu bahkan Atala lebih kuat daripada si penyihir hitam itu" Jasson mengangguk dengan kesal.


"Bukankah seharusnya kita bisa mulai menyerang istana selagi Rubia masih belum sadarkan diri? Mengapa kita harus mengulur ulur waktu hanya karena Atala tak bisa menampakkan keberadaannya, ini membuatku kesal"


"Sudahlah, kau hanya perlu percaya kepada Ayah, tidak lama lagi kau akan duduk disinggasana yang megah itu"


"Hahhhh, Baiklah"

__ADS_1


.


Ferderick berjalan memasuki kastel menara sihir dan berhenti tepat di hadapan ruang kerja Vallan. "Tok tok" pintu langsung terbuka dengan sendirinya, Ferderick melihat Vallan yang masih duduk di meja kerjanya.


"Katakan apa keperluanmu seperti yang kau lihat aku sangat sibuk" ucap Vallan seraya menatapnya dengan tajam dibalik kacamatanya itu.


Ferderick melangkah mendekat "Tuan, apa yang harus dilakukan untuk membuat Baginda membuka matanya?" Vallan melirik wajah Ferderick yang tampak lesu dan putus asa.


Vallan merasa baru kali ini anak dihadapannya itu berbicara dengan sopan kepadanya, ia mengira pasti karena ia sangat menghawatirkan Rubia yang belum kunjung sadar meskipun Ferderick terus berada disampingnya.


"Ada dua hal yang ingin aku sampaikan, kau ingin mendengar hal yang melegakan terlebih dahulu atau hal yang buruk?"


"Kabar baik" Vallan mengangguk.


"Jangan terlalu kawatir karena sebentar lagi Baginda akan bangun, tubuhnya butuh waktu setelah energinya terkuras habis karena penyihir hitam dan kutukan yang dideritanya muncul secara bersamaan"


Ferderick mulai bernafas lega "Saya ingin mendengar kabar buruknya"


Vallan mengepalkan tangannya, tiba tiba ekspresi wajahnya menjadi sangat serius "Jika kejadian seperti ini terus terulang kembali tubuh Baginda tidak akan bertahan sampai ia menginjak usia dua puluh tahun, bukankah sebentar lagi Baginda berulang tahun yang ke delapan belas?"


Deg, bagaikan petir disiang bolong, rasanya jantung Ferderick seakan tertusuk tusuk oleh sesuatu yang amat tajam, Vallan menatap wajahnya yang tampak resah sekaligus sedih.


"Buatlah keputusan begitu Baginda bangun, hanya kau yang bisa menyembuhkannya, tapi aku tak memaksamu untuk menyerahkan nyawamu jika kau tak ingin, pikirkanlah baik baik sampai Baginda membuka matanya, pikirkan dirimu saja, apa yang lebih penting untuk dirimu, maka kau akan menemukan jawabannya, kau harus segera membuat keputusan, dan aku sedang menyelidiki identitas penyihir hitam yang mengancam nyawa Baginda, sebentar lagi aku akan menangkapnya dengan tanganku sendiri" tangan Vallan mengepal.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2