Queen Sword

Queen Sword
Eps 7 Awal Perselisihan dengannya


__ADS_3

Di sesi latihan memanah Putri Rubia tampak sangat fokus dengan anak panah yang akan ditembakannya, beberapa kali ia telah berhasil menembak tepat sasaran, tiba tiba pelayan pribadi Kaisar datang ke arena memanah dan dia memanggil Duke Harington untuk segera menemui Kaisar, Duke Harington segera mengikuti pelayan itu ke ruangan kerja Kaisar.


Seorang anak laki laki berusia dua belas tahun, berambut Perak dan mata berwarna violet yang sangat mirip dengan Duke Harington menghampiri Rubia.


"Selamat sore Yang Mulia Putri, saya Axel Harington putra kedua Duke Harington" sapa anak itu dengan ramah dengan wajah yang tersenyum cerah. ia menundukkan kepalanya sejenak.


Rubia menoleh ke belakangnya "ya" kemudian melanjutkan kembali memanahnya. begitu anak panah dilepaskan kedua mata anak anak itu fokus pada tumpuan tembakan, dan itu tepat sasaran lagi.


"Anda benar benar hebat yang mulia, bagaimana anda bisa menjadi sehebat ini dalam sekejap, saya dengar anda belum lama berlatih memanah dari Ayah saya bla bla bla.." celoteh Axel dengan antusias.


"Apa yang sedang kau lakukan disini? Kau mengganggu konsentrasiku" ucap dingin Rubia tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.


"Baginda Kaisar menyuruh saya datang dan mengakrabkan diri dengan anda"


"Mengapa kau harus akrab denganku?"


"Apakah anda belum dengar dari Baginda Raja dan Ratu bahwa saya adalah calon tunangan anda?" ia mengatakan dengan kepercayaan diri penuh.


"Apa? Kau?" tatapan mata Rubia seakan menilai kelayakan anak itu dari ujung kepala sampai ujung kaki sebagai calon tunangannya.


"Ya, saya yakin sayalah orang yang paling cocok untuk mendampingi anda dimasa depan"


"Ambil pedang itu" rubia menunjuk pedang kayu yang biasa ia gunakan untuk berlatih dengan gurunya.


Wajah Axel dipenuhi dengan tanda tanya "Apa maksud anda?"


"Aku akan menguji kelayakanmu sebagai calon pendamping Kaisar masa depan, ayo kita lakukan sparing, jika kau bisa mengalahkanku maka kau layak jika kau kalah menyerahnya karena aku menginginkan pendamping yang lebih kuat dariku"

__ADS_1


"Baiklah"


Kedua anak itu mulai mengangkat pedang, tak tak tak..salah satu menyerang secara bergantian, pertarungan terlihat sengit dengan dipenuhi keseriusan, sejauh ini keduanya terlihat seimbang.


Duke Harington kembali ke tempat latihan bersama dengan Kaisar disampingnya, mereka berdua begitu terpukau dengan duel keduanya, Kaisar baru saja menyadari bahwa Putrinya kini terlihat cukup tangguh, wajahnya sedikit tersenyum bangga.


Tak.. Rubia berhasil menjatuhkan pedang Axel, itu berarti dialah pemenangnya, Prok prok prok.. kaisar bertepuk tangan. "Duel yang menakjubkkan anak anak" ucapnya sembari berjalan menghampiri mereka. Kedua anak itu memberi salam kepada matahari kekaisaran dihadapan mereka.


"Apa kau kalah Axel?" tanya Duke Harington dengan sedikit nada bergurau.


"Apa yang ayah katakan? Saya lebih lama berlatih pedang dengan Ayah, manamungkin saya kalah melawan Tuan Putri? Karena saya laki laki dan calon tunangan Putri maka sudah seharusnya saya mengalah" ucapnya dengan raut wajah yang ceria.


Grrrrttt,Rubia menggigit bibir bawahnya mendengar jawaban tak terduga dari anak itu, yang berarti menggiring pemikiran Kaisar bahwa dirinya tak mungkin menang melawannya.


"Hoho.. ternyata kau benar benar laki laki sejati ya, kau telah berhasil mendidik putramu Duke Harington" Kaisar memuji anak yang berbohong itu, itulah yang dipikirkan oleh Rubia.


Beberapa jam berlalu, Duke Harington sampai dirumahnya yang tak kalah mewah dari istana Raja, ia mengajak Axel duduk berhadapan.


"Mengapa kau berbohong dihadapan Yang Mulia Raja Axel?" wajah duke terlihat kecewa dengan sikap tidak terpuji Putranya.


"Apa maksud anda Ayah?" ia menjawab dengan tenang namun keringat diwajahnya menetes.


"Ayah tahu Putri Rubia mengalahkanmu"


Axel tertunduk "Maafkan saya Ayah, saya merasa malu jika sampai Yang Mulia Raja sampai mengira saya lebih lemah dari Putri dan mengurungkan niat menjadikan saya sebagai tunangan Tuan Putri"


"Seharusnya kau lebih malu mengatakan kebohongan dari pada terlihat lemah, kau harus meminta maaf kepada Tuan Putri, kau yang akan menjadi pasangannnya dimasa depan, Putri akan kecewa denganmu yang seperti itu"

__ADS_1


Axel tertunduk membisu, kemudian ia berfikir apa yang dikatakan Ayahnya memang benar "Baik, saya akan meminta maaf kepada Tuan Putri Ayah"


"Bagus, lebih giatlah berlatih agar kau semakin percaya dengan kemampuanmu sendiri, apa kau tahu betapa kerasnya Tuan Putri berlatih? Beliau hanya Tidur selama tiga jam sehari, sisanya ia gunakan untuk belajar dan berlatih, kau harus mengerti perbedaanmu dengan Tuan Putri mengapa dia yang seorang wanita bisa mengalahkanmu"


"Saya mengerti Ayah"


Setelah mendengar hal itu dari Ayahnya sendiri Axel menjadi sangat malu, apa yang sekarang dipikirkan oleh Tuan Putri tentang dirinya yang melakukan kebohongan demi terlihat lebih hebat dari dirinya yang belajar mati matian seperti itu.


Setelah hari itu Putri Rubia sama sekali tak membalas surat yang telah dikirimkan oleh Axel berulang kali, bahkan Putri Rubia selalu mengabaikannya saat anak itu menemuinya di istana atau disela sela latihan. Saat itu Axel bertekad akan terus berlatih keras untuk kelayakannya sebagai pasangan Putri Rubia seperti yang diinginkan Oleh Putri.


******************************


Sesuai keinginan Joseph, dengan persetujuan Stev ia mulai melatih Ferderick dengan keras dan disiplin, setiap hari selama Stev tak menjalankan misi, Ferderick sama sekali tak pernah mengeluhkan cara pengajaran gurunya itu, ia begitu menghormati gurunya, ia akan menuruti semua keinginan gurunya asal itu bisa membuatnya terus berkembang dan lebih baik lagi, karena saat ini dan untuk kedepannya ia harus menjadi lebih kuat untuk melindungi dirinya dan adiknya satu satunya, hanya itulah caranya agar ia bisa bertahan dikehidupan yang keras ini.


Sampai satu hari setelah tujuh tahun di tempat berlatih, tubuhnya kini telah bertambah tinggi dan kekar ideal, kini ia telah menjadi seorang pria tangguh tak terkalahkan, ia melakukan sparing dengan orang orang terkuat di anggota prajurit bayaran termasuk Stev dan Joseph,diusianya yang paling muda ia telah berhasil mengalahkan rekannya satu persatu, sesuatu yang tak di sangka sangka pedangnya mengeluarkan aura merah kekuningan seperti warna bola matanya,saat ia tengah berhadapan dengan gurunya hingga membuat pedang yang dipegang Joseph patah menjadi dua, benar,dia baru saja berhasil menjadi seorang sword master diusia tujuh belas tahun, semua mata yang berada disana sangat terpukau melihat tepat dihadapan mereka bakat langka didunia ini, terlebih lagi orang itu adalah rekan mereka sendiri.Joseph merasa sangat bangga atas pencapaian Ferderick yang ia latih secara gigih sejak tujuh tahun lalu.Waktu dan keringat yang mengucur selama ini terbayarkan sudah berkat kerja keras semua orang,tugasnya telah usai, ia telah berhasil mengasah sebuah pedang tajam sesuai keinginannya.


"Bagus ferderick" puji Joseph menepuk bahunya sembari memegang gagang pedang yang patah. rekan rekan yang lain pun ikut senang dan memuji kemampuan ferderick, namun raut wajahnya sama sekali tak berubah, ia tetap menjadi dirinya sendiri.


"Hei nak, seharusnya kau bisa sedikit tersenyum kan atas pencapaianmu itu hoho" ucap Stev mendekatinya. mendengar ucapan Stev, Ferderick langsung menurutinya, bibirnya melebar tersenyum begitu juga dengan matanya yang melebar.


Stev dan Joseph kehilangan senyumannya seketika "jangan pernah tersenyum lagi deh, kau lebih bagus diam saja seperti biasanya sudah cukup tampan, itu ekspresi terbaikmu" ucap joseph.


"Baiklah" Ferderick mengangguk patuh.


Meskipun Ferderick telah berhasil menjadi yang terkuat di antara rekannya yang lain, kehidupannya terbilang biasa biasa saja, namun sejak hari itu ia terus mendapatkan permintaan pekerjaan dari para petinggi petingi yang mampu membayarnya lebih banyak dari biasanya.


Ferderick telah memulai pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran selama dua tahun terakhir, selama itu pula dia telah berhasil mengirim adiknya untuk belajar di akademi, ia membiayai sendiri dengan uang yang ia hasilkan.cukup dirinya yang menjadi seorang pembunuh, ia ingin adiknya hidup dengan lebih baik dan bisa hidup kembali sesuai identitas aslinya yaitu meneruskan keluarga Count dan mengambil kembali wilayah yang kini disita oleh istana.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2