
Ferderick berdiri di pojokkan ruangan kamar dengan cahaya yang samar samar sembari pandanganannya memperhatikan Rubia yang perlahan memejamkan matanya, setelah beberapa saat Ferderick merasa Rubia telah tertidur pulas, Ferderick mendekat perlahan berhati hati agar langkahnya tak menimbulkan suara saampailah ia di sisi Rubia, matanya menelisik memperhatikan memar kebiruan yang sedikit membengkak di pipi kiri Rubia, perlahan Ferderick mengulurkan tangannya dan mendarat di atas memarnya, diam diam ia menyembuhkan memar itu hingga bekasnya tak tersisa.
Awalnya ia kira Rubia sama saja dengan Kaisar yang telah banyak ia dengar dari Stev dan Joseph, tapi semakin lama ia berada disamping Rubia, Ferderick semakin tinggi menilai Rubia,Rubia berbeda dengan Kaisar yang amat sangat menjunjung tinggi kekuasaannya dan ingin mengendalikan orang orang di sekitarnya, sedangkan Rubia terlihat lebih tulus dan ingin melindungi rakyatnya dengan sedikit kekuatan yang dimilikinya kini, ia mulai merasa ingin melindungi Rubia dengan segenap jiwa dan raganya, ia mulai merasa lega jika Rubia merasa lega, ia ingin tersenyum ketika melihat Rubia tersenyum serta ia sangat marah jika melihat Rubia menerima perlakuan yang tak adil untuknya.Hal itu membuatnya tak mengerti dengan perasaan asing yang kini terus mengusik mengganggunya belakangan ini. Ia bertanya tanya kepada dirinya sendiri,apakah itu adalah perasaan loyal yang dimiliki oleh setiap ksatria kepada tuannya?
Setelah cukup lama memandangi wajahnya yang tertidur pulas, Ferderick perlahan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
*************
Sesuai dengan janji Axel kepada Rubia, ia mengabarkan bahwa ia telah mendapatkan izin dari Kaisar untuknya pergi menghadiri undangan pernikahan mantan ksatria pengawalnya.
Rubia duduk dihadapan cermin besar di meja riasnya, Lydia dan dua dayang lainnya tengah sibuk merias wajahnya dan memilihkan gaun maupun sepatu yang akan dikenakan oleh Rubia.
"Yang Mulia, hebat sekali luka memar di wajah anda hilang dalam semalam" ujar Lydia sembari mengaplikasikan makeup di wajah Rubia.
Rubia mendekatkan wajahnya ke depan cermin "Apa mungkin memar bisa hilang dalam semalam?" gumamnya memperhatikan wajahnya sendiri.
"Meskipun tak mungkin tapi kita tak ada pilihan lain selain mempercayainya Yang Mulia, karena kenyataannya memar itu kini memang sudah menghilang dari wajah anda" sahut Lydia dengan santai.
"Salep apa yang kau gunakan padaku semalam?"
"Salep luka yang biasanya anda gunakan"
"Ini aneh"
"Aneh tapi syukurlah karena penampilan anda akan sempurna jika tak memiliki memar di wajah"
"Kau benar,tapi..." meskipun merasa janggal tapi ia tak ingin memusingkannya.
"Ferderick dimana? Apa dia sudah siap?"
"Ada diluar, dia sudah menunggu anda, begitu juga dengan tunangan anda" jawab salah satu dayang yang sedang mencocokkan asesoris dengan gaun.
__ADS_1
"Bergegaslah, aku tak bisa membiarkan mereka berdua menunggu terlalu lama"
"Baik Yang Mulia" sahut kedua dayang yang lainnya.
Setelah beberapa saat berlalu Rubia keluar dan berjalan menghampiri ke dua pria yang telah lama menunggunya, entah ada angin apa tapi dimata Axel dan Ferderick, Rubia terlihat sangat bersinar hingga mereka berdua lupa mengedipkan mata. Dimata Rubia pun Axel dan Ferderick terlihat berbeda karena biasanya mereka menggunakan seragam ksatria tapi kini tidak. Axel dengan pakaian mewah layaknya seorang Putra Duke Harington dan Ferderick mengenakan pakaian yang lebih sederhana namun itu cukup membuatnya terlihat menonjol di antara ksatria lainnya.
"Salam Yang Mulia" mereka berdua sama sama memberikan salam namun caranya berbeda, Ferderick menunduk sembari meletakkan tangan kanannya didada seperti yang biasa dilakukan seorang ksatria kepada orang yang memiliki status sosial lebih tinggi, sedangkan Axel mencium punggung tangannya yang biasa dilakukan seorang pria bangsawan kepada seorang Lady atau Putri Bangsawan.
"Mari berangkat" ucap Rubia.
"Silahkan gandenga lengan saya Yang Mulia selayaknya partner anda" tangannya telah siap menerima tangan rubia.
"Baiklah" Rubia dan Axel berjalan bersama sedangkan Ferderick mengikuti di belakang Rubia seperti biasa.
.
"Yang Mulia Putri Rubia El Grosjean dan Sir Axel Harington memasuki Ruangan" seru penjaga pintu.
Pesta pernikahan di gelar di kediaman Viscount, maka dari itu banyak pula para tamu undangan yang berasal dari kalangan Bangsawan kelas menengah hingga kebawah yang terlihat di pesta itu.
Setelah cukup berinteraksi dengan orang orang yang menyapanya,kedua mempelai menghampiri Rubia dan Axel untuk mengucapkan terimakasih karena seorang Putri Mahkota menerima undangan pesta sederhana dari ksatrianya itu dan berkat kehadirannya pesta terasa menjadi semakin meriah. Rubia pun mengucapkan selamat atas pernikahan mereka dengan tulus dan penuh kebahagiaan.
Axel mengajak Rubia menikmati minuman, mereka minum dengan perlahan, Rubia mendengar sekumpulan gadis di sebelahnya tengah berbisik bisik sembari memandang ke satu arah, karena mereka begitu hebohnya sampai tak menyadari kehadiran Putri Mahkota di sebelah mereka, Rubia menjadi penasaran dengan apa yang sedang mereka bisikkan. Rubia mulai melihat kemana arah mereka memandang, ternyata mereka tengah menatap ksatria pengawalnyaa.
Memang Ferderick terlihat sangat menonjol diantara ksatria lainnya itu berkat wajahnya yang tampan, bahkan Rubia pun berfikir hari ini Ferderick memang terlihat sangat tampan, wajar jika gadis gadis muda ditempat itu begitu memujinya.
Saat itu Tatapan mata Ferderick dan Rubia bertemu, Ferderick segera berjalan mendekat ke arah Rubia berada, gadis gadis itu semakin heboh karena Ferderick semakin terlihat mendekat.
"Yang Mulia, apa anda memanggil saya" ucap Ferderick begitu sampai di hadapan Rubia.
"Tidak"
__ADS_1
"Ahh.. tapi saya melihat anda terus melihat kearah saya, saya pikir anda memanggil saya"
"Tidak, nikmatilah pestanya Fer pergilah dan bergabung bersama orang orang yang kau inginkan"
"Yang Mulia izinkanlah sir Ferderick kembali ke istana lebih lama" ujar Axel sembari tersenyum smirk kepada Ferderick.
"Tentu saja" jawab Rubia setuju.
"Tidak Yang Mulia, saya harus memenuhi tugas saya sebagai pengawal anda, dan yang terpenting saya tidak menyukai tempat seperti ini" ia kembali tersenyum smirk kepada Axel yang sedang melihat kearahnya untuk membalasnya,karena ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu.
"Ya, lakukan apapun yang kau inginkan" jawab Rubia.
Sejujurnya Ferderick sangat tak nyaman dengan lirikan maupun tatapan dari para gadis yang tertuju kepada dirinya, tatapan yang dipenuhi nafsu dan keinginan memiliki seperti itu mengingatkannya pada seorang wanita dengan tatapan yang sama saat ia hampir diperjual belikan di penjara budak yang baru baru ini kembali ditemuinya di jalan.
Beberapa saat berlalu, setelah berpamitan dengan kedua mempelai, RubiA,Axel dan juga Ferderick meninggalkan tempat pesta, Rubia dan Axel masuk ke kereta kuda sedangkan Ferderick menunggangi kuda mengawal jalannya kereta.
"Anda tampak senang Yang Mulia" ucap Axel setelah memperhatikan raut wajah Rubia.
"Begitukah?" ia menempelkan tangan dipipinya sendiri.
"Ya"
"Terimakasih karena kau aku bisa mengucapkan selamat dengan mulutku sendiri kepada Dame Fiona, dia terlihat bahagia"
"Itu bukan apa apa Yang Mulia" jawab Axel tersenyum bangga kepada dirinya sendiri.
.
.
Bersambung.
__ADS_1