Queen Sword

Queen Sword
Eps 81 Mengunjungi Kuil suci


__ADS_3

Rubia bersama Axel dan rombongan ksatria telah berada di perjalanan dengan menunggangi kuda masing masing, mereka melewati  sepanjang jalan festival yang masih ramai dari kerumunan orang, Rubia pun tersenyum dan melambaikan tangan kepada rakyatnya yang memberikan jalan rombongannya untuknya lewat tanpa perlu diarahkan. Rubia dan rombongan memakai pakaian serba putih, karena mereka sedang menuju ke kuil suci.


Ini adalah kunjungan pertamanya setelah ia naik takhta, mereka berhenti di halaman kuil dengan bangunan yang megah dengan gedung bernuansa putih yang dihiasi oleh kolam air mancur besar di tengah tengah halamannya. Ketika Rubia sampai pihak kuil telah menyambut kedatangannya di depan sana.


"Salam Baginda Kaisar, suatu kehormatan mendapat kunjungan langsung dari matahari kekaisaran" ucap seorang saintes yang sudah lanjut usia.


Rubia mendekatinya "Ya, bagaimana kabar anda Nyonya saintes?"


"Berkat karunia dewi saya baik baik saja"


"Syukurlah"


Saintes itu melirik ke wajah Axel yang berada dibelakang Rubia, ia tersenyum tipis "Selamat siang Tuan Axel Harington"


"Ya, selamat siang Nyonya saintes" jawab Axel ramah. Ia merasa sedikit aneh dengan tatapan saintes itu kepadanya, namun ia tak ingin berfikir berlebihan.


"Mari masuk kedalam Baginda, suasana siang hari ini sangat terik, anda pasti lelah"


"Baiklah"Rubia dan saintes berjalan berdampingan, sementara Axel dan Dame Tarina berada dibelakangnya.


.


Mereka duduk berhadapan diruang tamu "Saya dengar anda kekurangan pendeta penyembuh Nyonya?"


"Itu memang benar Baginda, apalagi sekarang usia saya yang tak memungkinkan"


"Saya ingin menawarkan tentang perekrutan anggota demi kepentingan rakyat, bukankah anda tidak keberatan?"


"Tentu saja saya akan sangat berterimakasih dan bersyukur jika anda memperdulikan situasi kami, tapi bagaimana caranya kita menemukan bakat alami seseorang yang memiliki kekuatan suci?"


"Buatlah papan pengumuman, tulislah lowongan pekerjaan bagi orang orang yang memilki kekuatan suci, setelah ada pendaftar bukankah seorang saintes bisa mengukur kekuatan suci seseorang, berikan besar kecilnya gaji menurut besarnya kekuatan yang mereka miliki, dengan begitu mereka akan termotivasi untuk terus mengembangkan kekuatan suci mereka, laporkanlah jika anda kekurangan fasilitas untuk para pendeta dan saintes?"


"Benar Baginda, kami akan melakukan itu, meskipun saya merasa pesimis akan ada seseorang yang mendaftarkan diri, karena semakin bertambahnya jaman bakat seperti kami semakin langka"


"Mari coba terlebih dahulu Nyonya saintes,aku yakin diluar sana banyak orang bahkan tak menyadari bakatnya sendiri, tugas kita hanya menemukan itu,rencananya setelah kalian mendapatkan pendeta penyembuh yang cukup, aku berencana menaruh beberapa pendeta penyembuh di setiap balai pengobatan di seluruh kekaisaran"

__ADS_1


"Apa anda serius Baginda?Sebelumnya kami hanya menerima panggilan dari para bangsawan, apa aturannya telah berubah?"


"Benar, aku merubahnya"


Saintes itu tersenyum "Saya dengar anda merekrut para penyihir untuk ditempatkan di menara sihir, saya pikir anda melupakan keberadaan kami, tapi ternyata saya salah"


"Tidak, aku sedang mengusahakan situasi di kekaisaran berjalan dengan keseimbangan"


"Saat setelah anda naik takhta saya mendapatkan penglihatan tentang masa depan kepemimpinan anda yang akan makmur dan sejahtera,Era baru yang dinanti nantikan semua orang akhirnya akan segera tiba, sepertinya penglihatan saya itu tidak salah meskipun samar samar karena kekuatan saya yang terus menurun"


"Ahhh, apa anda yakin itu ramalan masa depan?"


"Benar Baginda"


Rubia melirik ke wajah Axel dan tarina bergantian "Apa kalian bisa keluar terlebih dahulu? Ada yang ingin kubicarakan dengan Nyonya saintes berdua saja"


"Baiklah, saya akan menunggu anda di luar Baginda" Ucap Axel bangun, Rubia mengangguk.


"Apa yang ingin anda tanyakan Baginda? Sepertinya ini sesuatu yang harus dirahasiakan"


Saintes merasa sedikit bingung dengan pertanyaannya "Tentu saja anda hidup,anda sangat sehat karena andalah yang mewujudkan semua itu bersama dengan pasangan anda"


"Apa??Pasangan?"


"Benar, namun saya tak bisa mengatakannya dengan rinci,karena itu akan mengganggu hukum alam, intinya ketakutan dan keraguan anda akan berlalu, namun sebelum semua itu anda akan merasa sangat menderita,sampai anda tak memiliki keinginan untuk melanjutkan hidup, jika saat itu tiba maka bertahanlah Baginda, kekuasaan dan kekuatan yang anda miliki anda menggunakannya untuk kepentingan rakyat anda, semua doa dan aura positif dari perbuatan anda itu akan memberikan pengaruh untuk hal yang paling anda butuhkan kelak, maaf jika saya sudah lancang Baginda"


"Tidak, aku berterimakasih karena anda sudah memperingatkan saya tentang ini" Namun sebenarnya Rubia tak mengerti  makna dengan semua kata kata yang Saintes ucapkan padanya.Masa depan yang diperkirakan olehnya sendiri bukanlah masa depan yang panjang, namun ia harus berfikir secara positif, ia akan mewujudkan masa depan itu selama sisa hidupnya yang mungkin tak tersisa lama lagi.


.


Setelah perbincangan yang cukup lama para saintes mengantar kepergian Rubia meninggalkan kuil suci, tanpa sadar diperjalanan Rubia terus memikirkan ucapan ucapan Saintes "pasangan?" gumamnya, lalu ia melirik ke wajah Axel yang berada di samping kanannya, Axel pun menatapnya balik lalu tersenyum.


Kuda berjalan dengan pelan "Terimakasih sudah menemaniku, kau pasti sibuk"


"Anda tak perlu berterimakasih Baginda, sudah tugas saya sebagai tunangan anda untuk mendampingi anda" ucapnya dengan percaya diri.

__ADS_1


"Benar juga"


"Apa ada yang mengganggu pikiran anda Baginda?"


"Tidak, bukan apa apa, aku hanya merasa sedikit lelah"


"Mari percepat jalannya Baginda"


Rubia mengangguk "Baiklah, hiyaaa.."  kuda kuda mulai berlari menapaki jalan dengan cepat.


***


Diruangan bawah tanah yang gelap di kediaman Duke Verano, seorang penyihir kegelapan yang dikendalikan oleh Atala tengah mengerang kesakitan, lehernya tercekat, kini ia tengah mendapatkan hukuman karena hampir saja ia tertangkap oleh seseorang yang akan membahayakan situasinya juga, atala tak segan segan membuatnya kesakitan bahkan tanpa menyentuhnya.


"Dasar bodoh, kau harus dihukum karena tak ada sesuatu yang kau bisa lakukan dengan benar" Atala mulai mengangkat tangannya mengendalikan tubuh May sesuai gerakannya, beberapa kali ia membantingnya ke lantai hingga terdengar suara yang cukup keras.Dalam situasi itu bahkan May tak bisa mengeluarkan suaranya untuk sekedar memintanya menghentikan perbuatannya itu, May tak berdaya dihadapan Atala.


Atala berjalan keluar ruangan gelap itu setelah merasa cukup puas melampiaskan kekesalannya, ia berjalan menghampiri Duke yang sedang berada di ruang kerjanya, ia membuka pintu lalu berjalan masuk dan duduk di hadapan Duke.


"Apa yang membawamu kemari?" tanya Duke setelah meliriknya.


"Apa rencanamu?"


"Atala, bukankah seharusnya kau akan hidup tanpa pelarian dan bebas melakukan apapun keinginanmu jika aku akhirnya berhasil menguasai kekaisaran?"


"Itu benar, jadi apa yang kau inginkan dariku?"


"Tunjukkanlah keberadaanmu, bunuhlah Rubia dengan tanganmu sendiri, kau hanya perlu membunuh bocah kecil itu dan semuanya selesai"


Atala hanya terdiam seraya berfikir..membuat Duke Verano menjadi semakin meradang.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2