Queen Sword

Queen Sword
Eps 34 Sejarah Terulang Kembali


__ADS_3

Rubia menarik tangan Ferderick sampai ke kediamannya, ia benar benar tak memperdulikan mata yang memandang mereka dengan tatapan yang penuh dengan kecurigaan di sepanjang jalanya sampai ke istana Putri Mahkota.


"Ambilkan obat dan perban Luna" ucap Rubia ketika melihat dayangnya di hadapannya, ia membawa Ferderick duduk di ruang tamu.


"Yang Mulia saya tidak apa apa" ujar Ferderick seraya menatapi wajah Rubia yang memperlihatkan raut bersalah.


Tak lama Luna membawakan sekotak obat obatan dan diberikannya dihadapan Rubia "Biar saya yang membantu mengobati Sir Ferderick Yang Mulia" ucap Luna yang melihat Rubia telah duduk disamping Ferderick.


"Biar aku saja" jawab tegas Rubia.


"Anda tak perlu melakukan ini kepada bawahan anda Yang Mulia" ujar Ferderick seraya mengalihkan pandangannya dari wajah Rubia yang berada dihadapannya itu.


Rubia terdiam sejenak,mungkin Ferderick merasa tak nyaman,begitu pikirnya "Baiklah, Luna lakukanlah" Rubia bangun dan berpindah tempat duduk.


"Baik Yang Mulia" Luna membuka kotak obat dan mulai mengobati Ferderick.Sementara Rubia duduk dihadapannya dan fokus melihat wajah Ferderick, kira kira Rubia bisa tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Ferderick setelah diperlakukan dengan buruk oleh Ratu.


"Luna, apa kau pernah mendengar rumor tentang aku dan Ferderick?"


Luna tersentak,"Ru rumor apa maksud anda Yang Mulia" ucapnya dengan ragu ragu.


"Sepertinya kau sudah dengar yaa?Akan aneh jika kau belum mendengarnya sementara para nyonya bangsawan telah meributkan rumor itu"


"Haruskah saya berhenti menjadi pengawal anda saja Yang Mulia?" ucap Ferderick menatap Rubia, lukanya telah selesai diobati, luna pergi dengan membawa kotak obat itu.


"Tidak boleh! Aku tak pernah memperdulikan rumor, dan kau juga tak perlu memperdulikannya" tegasnya.


Ferderick mengangguk "Baiklah" sebenarnya ia pun tak ingin benar benar berhenti menjadi pengawal Rubia.

__ADS_1


"Kau bisa pergi, tak ada yang ingin kulakukan hari ini"


"Baik"


Ferderick melangkah keluar dari istana Rubia, ia berjalan melewati tempat latihan berpedang, para ksatria yang sedang beristirahat menatapnya dan berbisik bisik, Ferderick tak memperdulikan jika orang lain membicarakannya namun kali ini ia sedikit merasa terganggu karena rumor itu berhubungan dengan Putri Rubia dan merugikannya reputasinya.


Ferderick berjalan masuk ke dalam kamarnya melewati orang orang yang memandang dirinya dengan tatapan curiga di depan asrama ksatria, ia membuka baju seragamnya dan berganti kemeja hitam, ia berbaring di atas tempat tidur dan lengannya menutup matanya.


Tiba tiba saja ia telah berdiri diatas tanah merah yang berlumuran darah ditengah tengah para ksatria yang menjerit dan terluka karena cabikan monster, ia mulai melihat sekelilingnya banyak sekali bangkai monster di tanah yang tandus dan luas itu, kemudian ia melihat dirinya yang memegang sebuah pedang panjang yang telah berlumuran darah, perasaan ngeri itu terasa begitu nyata, bahkan tubuh yang telah terlalu lelah dan mulai timbul keputusasaan itu begitu terasa, jeritan orang orang dan para monster terus berdengung ditelinganya.Tiba tiba ada sosok bayangan monster hitam besar yang mendekat kepadanya "GRRRRRR..tunggu balasan..ggrrrrrrrrttt" ucap sosok misterius itu dengan nada suara yang mengerikan.


Ferderick terbangun dan duduk dengan nafas yang terengah engah, keringat bercucuran hingga membasahi bajunya.


"Mimpi mengerikan itu lagi,sialan"gumamnya sembari menyeka keringat di dahinya. Ferderick melihat ke jendela kecil di ruangan itu dan membuka tirai,terlihat langit ternyata sudah gelap.


Sejak ia datang ke istana ia kerap bermimpi hal hal yang terasa diluar nalar namun terasa sangat nyata dan rasanya seolah ia pernah mengalami kejadian itu, ia kira mimpi seperti itu hanyalah sebuah bunga tidur dan ia tak begitu memperdulikannya, namun lama kelamaan gambaran gambaran dalam mimpinya itu seperti sebuah potongan potongan puzel yang masih berantakan.Seperti sebuah dejavu yang lama kelamaan membangkitkan rasa penasarannya.


"Kau belum tahu? Lekas berganti pakaian zirah, Ketua mengumpulkan seluruh pasukan dan para pengawal" ucap pria itu dengan tergesa gesa.Meskipun tak mengerti apa yang sedang terjadi tapi Ferderick segera berganti pakaian dan berjalan ke pusat pelatihan militer, tempat berkumpulnya pasukan ksatria.


Sesampainya disana para pasukan telah berbaris dan tak lama Raja,Ratu,Axel dan Rubia yang telah memakai baju zirahnya datang dan berdiri di hadapan para barisan ksatria.


Raja yang terlihat sakit dan memaksakan dirinya untuk hadir disana mengundang rasa penasaran dari para ksatrianya, mungkinkah perbatasan kembali diserang? Apakah mereka akan berangkat ke medan perang kembali? pertanyaan seperti itulah yang ada di benak para ksatrianya.


Raja maju kedepan mendekati ksatrianya "Monster telah kembali berdatangan diwilayah utara, kita harus segera menghentikan sebelum mereka mengganggu kehidupan para rakyat" ucapan raja seketika membuat riuh


para ksatria yang tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar.


Deg. Jantung Ferderick berdebar hebat, apa tak salah yang barusan didengarnya? "Monster?" gumamnya.Ia berfikir apa selama ini mimpinya adalah sebuah petunjuk tentang masalah ini?.

__ADS_1


"Jaga diri kalian dan kembalilah dengan selamat, Putri Rubia dan Sir Axel Harington akan memimpin pasukan menuju ke wilayah utara, aku akan mengerahkan beberapa penyihir kekaisaran yang akan membantu" ucap Raja dengan sorot mata yang bergetar. Ia sendiri pun tak menyangka setelah tiga ratus tiga puluh tahun monster kembali sehingga membuat semua orang kaget bukan main.


Raja menghampiri Axel "Apa persiapannya sudah selesai?"


"Sudah Yang Mulia" jawab Axel menunduk.


Rubia dan Axel berada dipasukan terdepan memimpin jalannya pasukan ksatria.Sedangkan Ferderick berada dibelakang Rubia, Mereka mulai berjalan menunggangi kuda kuda perang.Axel melirik ke arah Rubia yang terlihat tenang.


"Apa anda tidak merasa takut Yang Mulia?" tanya Axel.


"Aku memilikimu dan Ferderick disampingku,para ksatria dan penyihir yang kompeten, jadi tidak ada yang perlu aku khawatirkan"jawabnya tegas.


Axel merlirik ke arah Ferdick yang berada dibelakangnya, tatapan mereka bertemu "Kau lindungi Yang Mulia, jangan sampai beliau terluka" ucapnya dengan wajah yang sinis. Ferderick hanya mengangguk kemudian mengalihkan wajahnya ke arah lain.


"Kita harus percepat jalannya Axel" ucap Rubia tanpa menoleh diatas kudanya.


"Baik" kudapun terus berlari dengan cepat, sesekali mereka mengistirahatkan dan memberi makan kuda kemudian kembali melanjutkan perjalanan.


Perjalanan yang panjang masih belum berakhir hingga terlihat matahari yang telah terbit, angin sepoi yang dingin telah berhembus dan dihadapan Rubia telah terlihat hamparan salju putih yang terlihat bekas bekas tapak kaki besar para monster dengan jelas, setelah melihat itu kini mereka benar benar yakin akan adanya monster yang telah kembali, sejarah telah berulang kembali.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2