
Didalam rumah kaca yang luas dipenuhi dengan bunga bunga cantik dengan berbagai macam warna dari seluruh penjuru benua, bunga yang amat disayangi dan ia rawat sendiri setiap hari melebihi Putrinya itu, kini Ratu Isabella sedang memetiknya setangkai demi setangkai dengan sangat hati hati, sedangkan para dayangnya menunggunya diluar, Ratu tampak tersenyum, suasana hatinya sedang bagus hari ini.
Setelah dikira cukup memetiknya ia berjalan ke tengah taman tempat yang biasa ia gunakan untuk tea party bersama para nyonya bangsawan dari kalangan atas itu, ia meletakkan keranjang bunga hasil petikannya diatas meja lalu ia duduk, perlahan satu persatu ia merakitnya di atas vas bunga putih dengan ukiran bunga berwarna merah muda sampai akhirnya ia memasukkan seluruh tangkai bunga di dalam vas.
Ratu berjalan keluar, tangannya membawa vas bunga, ia berjalan memasuki koridor istana dengan diikuti oleh dua dayangnya dan satu ksatria pengawal, tiba tiba langkahnya terhenti, perasaannya yang sedang baik tiba tiba memburuk karena melihat suami yang telah lama tak dilihatnya,pria yang dulu begitu dicintainya,namun kini ia telah amat muak bahkan sangat membencinya, Ratu memberikan salam seperlunya sebagai bentuk formalitas kemudian melanjutkan perjalanannya.
"Ratu" Raja memanggilnya sehingga membuat langkah Ratu kembali terhenti.Ia berbalik badan dan menatap wajah Raja.
"Ada apa Baginda?"
"Sudah lama kita tidak bertemu, maukah kau mengobrol santai denganku sembari menikmati teh di taman?"
Ratu tersenyum tipis "Maafkan saya Baginda, saya sedang menuju ke suatu tempat, dengan berat hati saya harus menolak undangan anda"
"Apa yang akan kau lakukan?" Raja melirik vas bunga di tangan Ratu.
"Saya baru saja memetik bunga dan hendak memberikannya kepada Putri tercinta saya"
"Hohoho..apa kau sudah mendengar sesuatu yang menarik tentang Putri kita? Itulah sebabnya tiba tiba kau menjadi mencintainya?" Raja tersenyum smirk seraya menyindir.
Wajah ratu mengernyit "Saya tidak mengerti dengan maksud anda Baginda, jika anda memang membutuhkan teman minum teh anda kan bisa meminta tolong dengan wanita ja**** yang biasa menghabiskan malam dengan anda" tak ingin kalah Ratu pun melancarkan serangan balasan yang menohok.
"Benar juga, terimakasih atas saranmu Ratuku, silahkan melanjutkan kembali perjalananmu, semoga kasih sayangmu itu belum terlambat" ucap Raja yang sama sama tak mau kalah, ia sangat mengerti sifat Ratu, ia bisa menebak apa yang akan dilakukan olehnya kepada putrinya. Ratu kembali melanjutkan perjalanannya dengan beberapa kali menggertakan giginya.
__ADS_1
"Aku benar benar ingin membunuh orang itu dengan tanganku sendiri" gumam Ratu pelan seraya terus berjalan,Raja benar benar berhasil menghancurkan suasana hati Ratu.
.
"Yang Mulia Putri ada surat yang datang dari kediaman Marquess Johnston" ucap Lydia di depan pintu kamar Rubia yang telah terbuka.
"Amelie?" Rubia segera beranjak dari tempat duduknya menghampiri Lydia dan mengambil surat itu dari tangannya. Saat Rubia hendak membuka amplop surat itu dayang lainnya memanggilnya dan memberitahukan kedatangan Ratu, seketika wajah Rubia berubah muram, ia meletakkan amplop surat ditangannya di atas meja.
Rubia keluar dari kamarnya, ia berjalan menghampiri Ratu yang telah duduk menunggunya di ruangan tamu seraya menyeruput teh yang telah dihidangkan oleh dayang Rubia, mata Ratu masih mengelilingi ruangan yang tak jauh lebih baik dari istana yang ditinggalinya.
"Salam Yang Mulia Ratu" sapa Rubia dihadapannya.
Ratu meletakkan cangkirnya lalu bangun dari duduknya "Kau sudah datang Putriku?" wajahnya sungguh cantik jika sedang tersenyum ramah seperti sekarang meskipun usianya sudah tak lagi mudah, keanggunannya memang tiada duanya.
"Apa yang membuat anda datang ke istana saya yang kumuh ini Yang Mulia Ratu?" tanya Rubia setelah mereka duduk berhadapan.Rubia merasa heran karena ini juga kunjungan pertamanya di kediaman putrinya.
"Aku memetik dan merangkainya sendiri dari rumah kaca, ku harap kau menyukainya" Rubia yang tak mengerti maksud dan sikap Ratu itu hanya terdiam tak bisa berkata kata.
"Kau menyukainya Putriku?" tanyanya dengan tatapan lembut, justru tatapan lembut dari ibunya yang seperti itu membuatnya risih dan tak nyaman.
"Saya lebih menyukai bunga liar yang tumbuh di hutan" celetuknya.
"Jadi begitu, sesuai dugaan kau memang tumbuh dengan sangat baik sampai sampai kau menyukai hal hal yang sangat sederhana"
__ADS_1
Rubia telah merasa tak tahan lagi "Tolong bersikaplah seperti anda yang biasanya Yang Mulia Ratu, atau ada sesuatu yang anda inginkan dari saya? Katakanlah" ucapnya dengan wajah datar.
Ratu merasa tertohok, namun ia harus tetap sabar "Tidak ada yang aku harapkan darimu,hanya saja aku ingin memperbaiki hubungan kita, aku ingin kita menjadi Ibu dan Putri yang saling menyayangi"
Rubia benar benar kaget dengan apa yang barusan didengarnya dari ibu yang selama ini mengabaikannya,bukankah wanita itu sangat tak tahu malu? "Saya lebih suka jika kita mengurusi urusan masing masing seperti biasanya"
Ratu kembali tertohok, namun ia berusaha mengabaikannya, Ratu bangun dari duduknya "Berkunjunglah sesekali ke istanaku Putri, aku akan menunggu kedatanganmu" setelah menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya Ratu segera pergi.
"Wahh.. benar benar luar biasa, dia sama sekali tak mendengarkanku" gumamnya seraya menatap punggung Ratu yang menjauh.
Rubia kembali kekamarnya lalu membuka surat yang ditulis oleh Amelie.
Untuk Yang Mulia Putri Rubia El Grosjean yang saya sayangi,
Udara musim dingin semakin dingin akhir akhir ini Yang Mulia,saya mendengar anda kembali dari tempat pembasmian monster di utara, apakah anda sehat sehat saja? apakah monster monster itu sangat mengerikan? ingin rasanya saya berkunjung kekediaman anda tapi seperti yang anda tahu bahwa situasi saya yang tidak memungkinkan, jika memungkinkan mari kita bertemu saat musim semi,mari kita mengunjungi taman kota yang dipenuhi oleh bunga bunga yang bermekaran dan menghabiskan waktu seharian bersama. Untuk saat ini pakailah pakaian yang hangat Yang Mulia.
Rubia tersenyum setelah membaca surat dari Amelie,tulisan dan kata katanya terlihat lembut meskipun sikap amelie berbanding terbalik dengan tulisannya, kemudian Rubia mengambil secarik kertas dan tinta, ia menulis surat balasan untuk temannya itu.
Teruntuk Lady Amelie Johnston,
Saya baik baik saja, monster monster memang ganas tapi pasukan ksatria bisa menanganinya, tolong jangan terlalu khawatir, mari berjanji untuk bertemu saat musim semi tiba, saya amat menantikannya, berjuanglah untuk situasi anda saat ini, anda pasti bisa, anda juga harus memakai pakaian yang lebih hangat, jika kau tak melakukan itu orang orang akan meragukan kesungguhan sakitmu hehehe.
.
__ADS_1
.
Bersambung.