
Tiga tahun pemerintahan Rubia sebagai Kaisar, dari hari ke hari Kekaisaran semakin maju, jalur perdagangan antar daerah bahkan antar negara berjalan dengan mulus,jalur laut pun semakin aman karena setahun yang lalu Rubia membereskan para bajak laut yang terus berkeliaran membuat kekacauan di perairan, lalu ia memperketat keamanan yang akan terus memantau perbatasan lautan, rakyat semakin di makmurkan dengan biaya pajak yang rendah, kebutuhan pangan pun melimpah, Keseimbangan jelas sekali terasa di kekaisaran ini, ini lah era baru yang telah ditunggu tunggu.
Meskipun Saintes yang memimpin kuil suci telah berpulang tak lama setelah kunjungan Rubia tiga tahun lalu, namun rencananya berhasil dilangsungkan tanpa hambatan yang berarti, kini formasi pendeta penyembuh telah lengkap,dan telah ditugaskan ke balai pengobatan antar wilayah, siapa sangka ternyata diantara rakyat biasa banyak ditemukan bakat bawaan dengan kekuatan suci, itu adalah berita bagus.
Sama halnya dengan kuil suci, pencapaian menara sihir di luar ekspektasi, meskipun dipenuhi hambatan di awal karena kurangnya bakat sihir bawaan lahir pada rakyat, namun setahun lalu rakyat negara lain mulai berdatangan setelah mendengar kabar Kekaisaran Grosjean mencari penyihir dan mereka menawarkan gaji dan fasilitas yang sangat menggiurkan, hidup para penyihir yang bertransmigrasi ke kekaisaran benar benar terjamin, tidak ada alasan bagi mereka meninggalkan tempat ini.
Semuanya terasa begitu lancar dan mulus, namun kondisi kesehatan Rubia semakin memburuk, tubuhnya semakin kurus, wajahnya kuyu dan lingkaran hitam dibawah mata semakin jelas, bahkan semua orang bisa tahu hanya dari melihat wajahnya sekilas bahwa ia menderita, meskipun menderita dan sakit sakitan kini Rubia merasa tak ada lagi penyesalan jika ia harus mati sekarang juga.
"Uhuukkk" Rubia yang baru saja sampai di depan kamaranya setelah seharian bekerja menghentikan langkahnya, lagi lagi ia batuk darah, ia menerima sapu tangan dari Dame Tarina lalu membasuh darah dari mulutnya.
"Anda baik baik saja Baginda?"
__ADS_1
"Ya,kau bisa beristirahat sekarang"
"Baik Baginda"
Klekkk, Rubia membuka pintu kamarnya lalu kedua dayangnya menyusulnya, membantunya melepas baju dan membersihkan diri di sebuah bak mandi dengan kelopak bunga mawar merah yang mengambang dipermukaan air aromanya membuatnya lebih rileks, ia hanya terdiam seraya menikmati perawatan mandi dari dayangnya, dalam pikirannya terbesit kata kata para bangsawan di rapat rutin kekaisaran tadi siang yang meminta Rubia menyegerakan pernikahannya dengan Axel Harington,kini usianya sudah cukup untuk sebuah pernikahan, lalu karena semua orang menyadari kondisi kesehatannya yang semakin memburuk ia tak bisa lagi mengelak untuk terus menundanya segera melangsungkan pernikahan.
Pernikahan adalah hal yang sudah ditentukan sedari ia kecil, ia pun menyetujuinya karena memang pernikahan sangat dibutuhkan oleh seorang Kaisar yang memiliki darah terkutuk, mengapa dalam hatinya masih ragu meskipun ia telah bertekad untuk tak memiliki seorang anak setelah menikah agar anaknya tak merasakan penderitaan yang ia rasakan, dengan menikah dengan Axel saat keadaannya mulai ambruk ia berniat menyerahkan takhta kepadanya, bahkan sekarang pun ia telah diam diam menulis surat wasiat tentang penyerahan takhta jika tiba tiba ia mendadak meninggal, sungguh hidup yang telah tertata dengan rapi.Hidup untuk mati.
Rubia pun telah mengirim Lydia pensiun lebih awal untuk menjalani kehidupan di hari tuanya dengan nyaman lima bulan yang lalu, sedangkan Ferderick, dia terlihat beberapa kali di acara resmi yang di gelar di istana dan kediaman bangsawan kelas atas, penampilannya semakin menarik perhatian,mulai dari bentuk tubuh yang berubah semakin dewasa dan gaya berpakaiannya yang berkelas, bahkan semua usahanya pun berjalan dengan lancar dengan mengikuti jejak mendiang orang tuanya, lalu kabarnya ia akan segera menikah dengan seorang Lady yang cukup terkenal di pergaulan kelas atas, karena kemanapun acara yang didatanginya wanita itu selalu menempel di samping Ferderick, Rubia tak perlu menghawatirkannya yang seperti itu, karena setelah hari itu mereka berdua bertingkah seperti layaknya orang asing.
Sedangkan Duke Verano selama ini tampak diam dikediamannya, ia sama sekali tak berulah,hanya terdengar kabar bahwa Putranya yang telah berangkat belajar ke luar Kekaisaran, Rubia berpikir bahwa kini Duke tak bisa lagi berkutik karena tak ada lagi yang mau menjadi pengikutnya,ia hanya meminta Guild informasi untuk terus mengawasi gerak geriknya, lalu Penyihir kegelapan yang selama ini di cari telah tertangkap setahun yang lalu dan kini sedang di kurung di penjara wilayah menara sihir, anehnya Penyihir itu menyerahkan dirinya sendiri, keadannya saat itu sangat memprihatinkan karena ia telah kehilangan kemampuan berbicara dan ditubuhnya tertinggal bekas bekas penyiksaan seseorang,sesuatu yang janggal namun tak bisa diselidiki lebih lanjut karena kurang cukupnya bukti.
__ADS_1
Rubia duduk di sebuah kursi di balkon kamarnya seraya menatapi langit yang sedang menangis, begitulah ia menghabiskan malamnya setiap kesulitan tidur, kini ia lebih nyaman menghabiskan waktu luangnya dengan ketenangan seraya menikmati wine yang menghangatkan tubuhnya dan membantunya terlelap dengan tenang.
Inilah kenyamanannya, tempat favoritnya yang menyimpan memori di sudut hati terdalamnya yang terus berusaha ia kubur.
"Aku harus memutuskan hari pernikahanku setelah ulang tahunku yang ke dua puluh satu, hahh merepotkan saja" gumamnya seraya menuangkan sebotol wine ke dalam gelasnya. selama setahun belakangan ini ia telah cukup sering menghindari hal hal yang mengarah ke pernikahannya, bahkan sampai Axel bertingkah seolah ia tak lagi mengharapkan pernikahannya terjadi, Rubia pun menyadarinya hanya dari melihat ekspresinya saat seseorang membahas tentang pernikahan di depannya, ia merasa harus bertanggung jawab atas hidup Axel karena telah terlalu lama menggantungkan hubungan mereka, meskipun Axel masih sama dengan Axel yang dulu saat berhadapan dengan Rubia, namun itu semua terlihat palsu, kini isi hatinya semakin tak bisa ditebak.
Suasana istana saat ini tengah ramai karena besok malam akan diselenggarakan pesta dansa besar besaran di aula utama istana untuk memperingati hari ulang tahun Rubia, karena selama Tiga tahun belakang ia tak pernah merayakan ulang tahunnya, bahkan ia melupakannya dan tak menganggap penting hari kelahirannya meskipun semua orang mengirimkan surat sebagai ucapan,saat bawahannya mengusulkan pesta ia hanya terus berdalih untuk menghemat pengeluaran anggaran istana untuk kepentingan yang lebih mendesak, kini para pekerja terlihat sangat antusias karena sudah lama mereka tidak disibukkan dengan hal hal seperti pesta besar. Kali ini ia ingin merayakan untuk terakhir kalinya, karena ia yakin ditahun depan ia tak akan bisa lagi berdiri dengan kaki tegap karena kondisi tubuhnya yang semakin melemah dari hari ke hari.
.
.
__ADS_1
Bersambung.