
Rubia bersama rombongan pasukan ksatria yang memakai baju zirah beserta penutup kepalanya dan menunggang kuda perang baru saja kembali setelah dua tahun lamanya bertahan dimedan perang, mereka kembali dengan membawa kehormatan kebanggaan kemenangan, mereka telah berhasil menghentikan penghianatan dan serangan dari negara yang telah lama bersekutu dan bekerja sama dengan Kekaisaran di perbatasan.
Para rakyat bersorak dan menyambut kedatangan mereka disepanjang jalan, mereka begitu bersuka cita karena Putri dan para ksatria telah berhasil melindungi kekaisaran dan menjadikan tanah yang mereka tinggali menjadi tanah yang aman dan nyaman.Itu adalah cara para rakyat mensyukuri dan berterimakasih pada para ksatria pejuang.
Siapa sangka seorang Putri yang dulunya selalu diremehkan dan dianggap lemah itu telah berhasil membuktikan nilainya dengan berdiri dipasukan terdepan saat pertempuran saat dirinya baru saja menginjak usia lima belas tahun, sungguh prestasi yang diluar dugaan.
Kehidupan para ksatria di medan perang bukanlah hal yang mudah, bahkan ksatria dari rakyat biasa pun banyak mengeluh saat mereka mengalami kesulitan atau terluka disana, namun Putri Rubia berbeda, dia sangat mandiri, ia mengobati luka luka kecil ditubuhnya sendiri dan melakukan hal hal yang tak biasanya dilakukan oleh seorang anggota keluarga kerajaan.
Hal itu menunjukkan betapa hebat dan layaknya seorang Putri Rubia menjadi Pemegang Kekuasaan tertinggi di kerajaan, para ksatria begitu mengelu elukan dan memuji bagaimana Tuan Putri bersikap dan bertindak saat mereka berada di medan peperangan. Putri yang bersikap adil dan penuh pertimbangan serta rencana yang bijak, bahkan Putri tak segan segan melindungi ksatrianya yang hampir ditebas oleh musuh meskipun tubuhnya harus terluka.
Namun tak sedikit pula yang mengatakan bahwa saat berada di tengah medan peperangan Putri Rubia terlihat sangat bahagia setelah ia melihat darah dari musuhnya yang ia tebas dengan tangannya sendiri, bibirnya akan tersenyum dengan penuh kepuasan, mereka semua tak akan pernah menjumpai ekspresi seperti itu saat putri telah kembali ke markas, orang orang tak akan percaya sebelum melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
__ADS_1
Setelah Putri Rubia mendengar beberapa orang mengatakan hal seperti itu tentang dirinya secara tidak sengaja, ia tak pernah lagi melepaskan penutup kepalanya saat bertarung di peperangan. Orang orang pun segera melupakan rumor yang tak berdasar itu.
Tiba tiba seorang Ibu berteriak karena anak laki lakinya yang berusia lima tahun menembus pasukan ksatria dan menghadang di hadapan kuda Tuan Putri, dengan sigap para prajurit menghadang anak itu dan melindungi Tuan Putri.
Ibu itu bersujud diatas tanah yang dingin dan meminta maaf atas apa yang telah dilakukan oleh putranya dihadapan kuda Tuan Putri Rubia, Putri Rubia menghentikan para prajuritnya, karena ia melihat anak laki laki itu tersenyum kepadanya dengan membawa setangkai bunga liar di tangannya.
Putri Rubia membuka penutup kepalanya dari atas kuda, semua orang terkejut dengan wajah rupawan Tuan Putri mereka, Rambut pirang bergelombang panjang yang bercahaya dibawah sinar matahari dan bola mata berwarna biru laut yang memancarkan keteduhan sekaligus ketegasan setiap orang yang menatapnya, dia benar benar bagaikan seorang Dewi pelindung seluruh rakyat kekaisaran.
"Terimakasih.. kuharap kau terus tumbuh sehat dan menjadi orang hebat" ucap Rubia mengelus kepala anak itu, para ksatria ternganga karena baru kali ini mereka mendengar tuan putri berbicara panjang lebar dengan orang yang baru saja ditemuinya, yah mungkin itu adalah kekuatan anak laki laki yang lucu, para rakyat semakin dibuat jatuh cinta dengan sikap lembut Tuan putri kepada seorang anak kecil dari kalangan rakyat biasa itu, Para rombongan segera meneruskan perjalanan mereka menuju istana yang sudah berada di depan mata.
Mereka telah melewati dan memasuki gerbang istana, disana Rubia melihat orang tuanya yang sudah lama tak dilihatnya,mereka semakin terlihat menua setelah dua tahun tak melihatnya, Rubia turun dan memberi hormat kepada Raja dan Ratu seperti ksatria lainnya, untuk pertama kalinya mereka berdua tersenyum kepadanya, senyum yang terlihat berwibawa namun sayangnya itu bukanlah senyum kasih sayang untuk anak yang sudah lama tak dilihatnya.Itu sudah biasa dan bagi Rubia hal seperti itu bukanlah apa apa baginya, akan aneh jika ia melihat orangtuanya tersenyum hangat penuh kasih di depannya secara tiba tiba.
__ADS_1
Rubia mendekat kehadapan Kaisar "Aku sudah mendengar banyak tentang jasamu dimedan perang, ayah sangat bangga kepadamu" ucap Kaisar tersenyum namun sorot matanya mengatakan hal sebaliknya, itu karena ia telah sering mendengar bahwa Putrinya memiliki kemampuan yang lebih hebat dari dirinya. Kaisar terlihat lebih kurus dan menua, Rubia sudah mendengar bahwa gejala kegilaannya semakin parah, dan sepertinya Kaisar sudah sering sakit sakitan, namun hebatnya Kaisar mampu bertahan hingga berusia tiga puluh tujuh tahun, usia yang jarang ada di keturunan raja sebelumnya.
Rubia beralih ke hadapan Ratu yang wajahnya telah banyak berubah "Bagus Putriku, kau akan menjadi Kaisar yang lebih hebat" bisik Ratu Isabela dengan tatapan yang terlihat penuh dengan ambisi.Itu karena Ratu Isabela ingin segera menyingkirkan Raja yang telah melakukan hal hal yang menghina dirinya sebagai seorang istri dengan terus bermain dengan wanita terang terangan dihadapannya.
Hanya menilai dari sorot mata keduanya pun Rubia bisa mengerti isi hati kedua orangtuanya, Rubia kembali ke istananya tanpa menyapa calon tunangannya yang berdiri tepat dibelakang Kaisar, sedangkan Axel Harington sendiri kehilangan kesempatan untuk menyapa Rubia yang selau mengabaikan dirinya, selain Rubia Axel juga menanti kedatangan Ayah dan kakak laki lakinya yang ikut ke medan perang bersama dengan putri Rubia.
Rubia masuk kekamarnya yang telah lama tak dilihatnya, kamarnya masih sama dan tak ada sedikitpun yang berubah selama dua tahun belakangan, Rubia berbaring di tempat tidur setelah pelayan membantunya melepas baju zirah dan membantunya membersihkan tubuhnya, tubuh yang dipenuhi dengan jejak kerasnya kehidupan di medan perang yang bisa para dayang lihat, kenyamanan yang telah lama tak ia dapatkan, berendam di bak mandi yang luas denga air hangat yang dipenuhi aroma wangi bunga.
Rubia melihat keluar jendela, salju pertama yang baru saja turun di tahun ini, ia teringat betapa kesusahannya para ksatria di medan perang saat salju mulai menampakkan dirinya di tahun lalu, karena keterbatasan di markas semua orang menggigil, kini ia telah berbaring di tempat yang empuk,hangat, dan nyaman. Ia harus menggunakan kesempatan itu untuk beristirahat karena hari esok dan kedepannya mungkin tidak akan jauh berbeda dengan kehidupannya di medan perang.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Mohon dukungannya dengan like, komen, favorit dan vote Terimakasih.