
Beberapa bulan pun berlalu, saat ini sudah memasuki awal musim dingin, butiran butiran salju kecil mulai turun dan jatuh ke tanah.
Axel duduk termenung menikmati secangkir kopi dipagi hari yang dingin di teras rumahnya seorang diri, pikirannya kalut, harga dirinya terluka dengan kemunculan sebuah novel yang semakin populer dari hari ke hari, sakit hati patah hati kecewa dan putus asa, penulis novel itu sungguh tak memikirkan situasi dirinya, dampak dari tulisannya kepada seorang tunangan resmi Kaisar. Kini ia sendiri sedang menyelidiki diam diam siapa sebenarnya penulis yang sudah menjerumuskan hidupnya sampai ke tepian jurang itu, namun hasilnya nihil, orang itu bukan penulis biasa, dia bisa menyembunyikan dirinya dengan sangat rapi sampai tidak ada orang yang bisa melacaknya.
Ibu Axel berjalan menghampirinya yang tampak selalu murung semenjak kematian Ayahnya, lalu ia duduk dihadapannya, pandangan mata Axel segera teralihkan kepada Ibunya "Ibu, diluar dingin,bukankah ibu masih sakit?"
"Tidak, Ibu sudah baik baik saja, aku juga sudah memakai pakaian yang hangat, kau tak ke istana?"
"Mana mungkin, aku akan berangkat siangan karena tak ada agenda yang penting"
"Jadi begitu, bagaimana jadinya hubunganmu dengan Baginda Kaisar? Kapan kalian akan menikah?"
Axel tertegun, baru kali ini ia merasa rendah diri dihadapan Ibunya sendiri "Entahlah"
"Apa kau sedang memikirkan tentang Novel yang tersebar dikekaisaran?"
"Ibu sudah tahu rupanya"
"Tentu saja, jaringan informasi Ibu lebih hebat dari pada yang kau tahu"
"Iya aku tahu Ibu"
"Jangan memikirkan kehormatan keluarga, lakukan saja apa yang ingin kau lakukan dan bisa membuatmu bahagia, kau mengerti maksud Ibu kan?"
"Tapi Ibu, Ayah..."
"Rupanya kau bertahan dengan ketidakpastian karena Ayahmu yaa, memang benar ayahmu sangat berharap kau mendampingi Baginda, itu karena Baginda adalah murid kesayangannya yang paling ia kasihi, meskipun ayahmu tak menunjukkannya di hadapan siapapun, tapi ibu tahu, Ayahmu ingin kau menjaga Baginda, tapi semuanya kembali lagi padamu, Ayahmu pasti akan sangat marah jika kau melakukan hal yang tak sesuai dengan hatimu sendiri, ayahmu menginginkan itu juga bukan tanpa alasan, katanya kau terlihat sangat menyukai Baginda saat kau masih kecil"
"Apa aku terlihat sangat menyukai Baginda saat kecil Ibu?"
__ADS_1
"Benar, kau selalu menanyakan kabar Baginda kepada Ayahmu setelah ayahmu kembali dari istana"
"Itu memang benar, tapi rasanya sekarang berbeda, aku hanya ingin marah jika berhadapan dengan Baginda, itu karena Baginda tak pernah melihat ke arahku dan mengabaikan ketulusanku, tapi aku sangat marah jika melihat Baginda bahagia bersama orang itu, rasanya harga diriku terinjak injak"
"Setiap orang memiliki hal hal yang berharga baginya, begitupun Baginda, kau tak bisa memaksakan kehendakmu, kecuali kau hanya ingin kehormatan dengan berada disisi Baginda, tapi yang Ibu tahu Putra Ibu tidak gila kehormatan bukan? Jadi kenali dulu perasaanmu dan bicaralah baik baik dengan Baginda, gunakan kepala dingin, lalu putuskan, hanya itu yang bisa Ibu katakan, Ibu dan Ayah berharap kau bahagia dan memiliki pendamping hidup yang akan selalu mencintaimu"
"Aku mengerti Ibu"
.
Axel pun pergi ke istana setelah mendinginkan kepalanya, ia menemui Rubia di ruang kerjanya, sudah lama ia tak berhadapan dengan Rubia secara pribadi seperti ini, ia merasa sedikit gugup.
"Baginda, Tuan Perdana Menteri meminta menghadap" ucap seorang penjaga pintu ruang kerja Kaisar.
"Masuklah"
Axel membuka pintu, ia melihat Rubia yang sedang berjalan ke arahnya "Duduklah" ucap Rubia, ia terlihat tenang tak seperti Axel yang gugup. "Ada apa Axel?"
Sedangkan Rubia tampak terdiam, memang sudah seharusnya pernikahan mereka dilaksanakan, mengingat sekarang tidak ada lagi yang ia perlu kawatirkan karena kutukan sudah menghilang dari dirinya, tapi entah mengapa rasanya ia ingin menghindari pernikahannya dengan Axel.
Rasanya Axel sudah mendapatkan jawaban yang ia inginkan hanya dari melihat raut wajah Rubia saat ini "Baginda, mari batalkan pertunangan dan rencana pernikahan kita, saya datang untuk mengajukan permohonan pembatalan pertunangan" ucapnya lantang tanpa keraguan sedikitpun.
Rubia sangat terkejut dengan ucapan tiba tiba Axel "Kenapa kau ingin membatalkannya?" tanyanya dengan ragu ragu.
"Saya menyadari bahwa ternyata saya tidak begitu menyukai anda sebagai seorang wanita, dan yang terpenting saya ingin menikahi seseorang yang bisa mencintai saya seutuhnya, memang itu terdengar menggelikan jika diucapkan oleh seorang Bangsawan yang kebanyakan memilih pernikahan sebagai aliansi politik, tapi keluarga saya memang seperti itu, dan yang terpenting lagi saya ingin mempertahankan harga diri saya yang telah terinjak injak oleh penulis novel itu"
Rubia merasa bersalah, karena terlalu fokus memikirkan Ferderick dan pekerjaannya ia mengabaikan perasaan Axel yang adalah seorang tunangan resmi Kaisar "Maafkan aku Axel, haruskah aku menangkap penulis itu?"
"Sudah tidak ada gunanya Baginda, saya sudah menyerah, dan anda tak perlu memasang ekspresi mengasihani saya seperti itu"
__ADS_1
"Aku tak bisa berdalih apapun, tapi aku minta maaf karena membuatmu kecewa dan menyerah dengan hubungan kita, sepertinya memang aku tak bisa menikah selain dengannya"
Meskipun Axel telah menyerah tetapi kata kata Rubia masih melukai perasaannya, namun ia tak ingin terlihat lebih menyedihkan lagi, ia mengepalkan tangannya di bawah meja "Saya akan segera memberi kabar bahagia kepada anda Baginda, tolong nantikanlah"
"Baiklah, aku menantikannya Axel"
"Mulai sekarang tolong panggil saya Perdana Menteri Baginda"
"Baiklah"
Axel keluar ruangan dengan wajah yang sangat buruk, ia marah sangat marah, merasa sangat menyedihkan, apa yang harus dilakukannya agar kabar bahagia yang dijanjikannya barusan segera terlaksana, ia mengatakan itu hanya agar tak terlihat sangat menyedihkan namun sekarang ia malah merasa sangat menyedihkan.
Axel keluar dari istana lalu pergi dengan kereta kudanya, ia membuka jendela kereta kuda agar perasaannya lebih baik jika menghirup udara dingin diluar, saat itu ia berada di alun alun, namun seketika matanya terfokus pada satu arah, ia menghentikan kusir kemudian segera turun dari kereta kuda, ia menghampiri seorang wanita yang sedang di kepung oleh orang orang yang terlihat seperti preman itu.
"Wahh, sepertinya saya harus bilang kepada Baginda Kaisar bahwa di tanah kekuasaannya masih ada preman yang harus di basmi" ucap Axel begitu sampai di sana.
"Kau, siapa kau, beraninya ikut campur" ucap seorang preman seraya menodongkan pisau di tangannya, kemudian Axel mengeluarkan pedang panjangnya.
"Aku Axel Harington, Perdana Menteri kekaisaran ini, kau mau melawanku? Kebetulan aku sedang ingin menghabisi seseorang saat ini karena perasaanku sedang buruk" Wajah Axel terlihat sangat menyeramkan, segerombolan preman itu langsung kena mental lalu kabur begitu saja.
"Terimakasih Tuan Axel Harington, lagi lagi anda menolong saya" ucap Amelie.
"Berapa kali saya bilang, pergilah dengan seorang ksatria pengawal" ucapnya galak.
"Rasanya anda sekarang memang sedang ingin menghabisi seseorang yaa, tapi saya menolak dijadikan pelampiasan!" ucapnya tegas seraya beranjak pergi dari hadapannya.
Axel menatapnya "Tunggu, Nona bisakah kau meluangkan waktu sebagai ucapan terimakasih karena saya sudah menolong anda?"
.
__ADS_1
.
Bersambung.