
Malam setelah suasana di kediaman mulai sunyi Ferderick pergi tanpa sepengetahuan orang lain, ia mengendarai kudanya dengan cepat dan berhenti di depan istana, ia berjalan masuk menuju kediaman Kaisar, saat ia sampai di depan kamar Kaisar ia berpapasan dengan Axel yang baru saja keluar dari dalam sana, mata mereka berdua tertuju pada satu sama lain.
Axel melirik ke arah sekitarnya, beberapa penjaga dan dua orang penyihir masih berjaga di sana "Tuan Count, bisakah anda meluangkan waktu sebentar untuk berbincang dengan saya?"
"Maaf, tapi saya sedikit terburu buru jadi.."
Axel mendekat dan berbisik ditelinganya "Haruskan aku katakan disini?" Ferderick mulai melihat orang disekitarnya yang terus memperhatikan mereka. "Tolong ikuti saya" Ferderick pun mengikutinyaa, mereka duduk berhadapan di ruang tamu yang sepi.
"Katakan apa yang ingin anda katakan" ucap Ferderick.
"Apa pekerjaan sebagai Count sesibuk itu? Sampai anda terlihat sangat tergesa gesa? Aneh juga ya bicara formal dengan seseorang yang biasanya bekerja sebagai pengawal tunangan saya"
"Anda bisa berbicara dengan lebih santai"
"Baiklah jika kau meminta itu, apa yang terjadi mengapa Baginda masih belum juga membuka mata? Bukankah kau seharusnya tetap berada di samping Baginda? Kau bilang kau bisa mengobati Baginda tapi mengapa kau meninggalkannya hari ini? Apa karena kau sudah mendapatkan apa yang kau mau dari Baginda lalu kau berniat mengabaikan beliau?"
"Saya tidak memiliki pikiran tak tahu diri seperti itu Tuan kepala komandan pasukan ksatria, saya meninggalkan beliau karena saya sekarang adalah serang pemimpin wilayah lalu saya melakukan itu setelah berkonsultasi dengan Tuan Penyihir Agung, Beliau berkata Baginda akan segera bangun setelah memulihkan energinya yang terkuras habis"
"Ternyata kau juga dekat dengan Tuan Penyihir Agung ya, kadang aku tak mengerti aku harus bersikap seperti apa denganmu,kehadiranmu membuatku merasa sesak, kupikir setelah kau mencapai tujuanmu dan merebut kembali wilayahmu kau akan segera pergi dari hidup Baginda, tapi apa ini? Kau bahkan seakan lebih tahu apapun lebih dulu tentang Baginda dari pada aku yang adalah calon pasangannya"
"Apa sebenarnya yang ingin anda ketahui?" wajah Ferderick mengernyit.
"Kau menginginkan tempat di samping Baginda Kaisar?"
Ferderick menatapnya dengan dingin "Apa maksud anda? Apa anda menganggap Baginda Kaisar serendah itu sampai sampai anda berfikir seolah Baginda akan menyetujui dan menerima dengan senang hati hanya jika saya menginginkan tempat disampingnya?"
"Bukan Baginda, tapi kau, aku bertanya tentang kau"
"Benar, saya ingin berada disamping Baginda, terlepas dari keinginan saya tapi itu tak akan pernah terjadi, anda tak perlu khawatir karena saat waktunya tiba saya akan benar benar meninggalkan Baginda, tempat itu hanya milik anda,andalah pasangan terbaik untuk Baginda, tolong berhenti membebani pikiran anda dengan kehadiran saya, dan ingatlah satu hal, saat waktunya tiba saya akan benar benar meninggalkan Baginda, saat itu anda harus selalu berada disampingnya, mendukungnya dan memberikan kekuatan untuknya"
"Apa yang sekarang kau katakan? Kau seolah ingin mati saja, aku tak sekejam itu sampai menyuruhmu mati" ucapnya dengan wajah bingung dan merasa bersalah.
"Apa sudah selesai?"
"Apa maksud rumor yang mengatakan bahwa kutukan Baginda telah aktif dan gejalanya beliau berubah menjadi iblis pembunuh itu benar?" ucapnya ragu ragu.
__ADS_1
"Kenapa anda bertanya? Apa anda menjadi ragu untuk menjadi pendampingnya jika ternyata memang apa yang anda pikirkan itu benar?"
"Tidak sama sekali, apa kau meremehkanku?"
"Tidak tuh, saya hanya bertanya karena penasaran"
"Ck ck, sudahlah kau bisa pergi, lalu tepati janjimu soal kau akan pergi saat waktunya telah tiba"
"Bolehkah saya berbangga diri karena anda sudah menganggap saya sebagai saingan yang kuat" lalu Ferderick bangun dari duduknya kemudian pergi meninggalkannya.
"Dasar..." gumamnya seraya menatap pungguh Ferderick.Ia menyesal karena tanpa sadar ia sudah merendahkan harga dirinya sendiri.
.
Ferderick membuka pintu kamar Rubia, ia melihat Rubia yang masih saja menutup mata, namun kini rona wajahnya terlihat lebih baik dari saat ia meninggalkannya pagi ini. Ia duduk disamping Rubia lalu meraih dan menggenggam tangannya erat erat.
"Apa yang harus saya lakukan agar anda segera bangun Baginda? Saya merindukan anda, saya belum berterimakasih atas apa yang anda lakukan kepada saya dan adik saya" gumamnya.
Sepanjang malam Ferderick terus terjaga disampingnya, ia sama sekali tak melepaskan tangan darinya maupun menutup matanya, sampai pagi pun akhirnya tiba, barulah ia melepaskan tangan itu, ia pergi untuk melakukan pekerjaannya kembali. Ferderick berjalan keluar dari istana ke tempat kudanya berada, ia menunggangi kudanya kembali, kuda melaju dengan kecepatan penuh, suasana di sepanjang jalan yang masih sepi membuat kudanya berlari tanpa hambatan, lalu ia berhenti di depan Guild Bayangan Hitam.
"Tok tok tok" Ferderick mengetuk meja kaca tempat Joseph tidur, Joseph segera bangun seraya mengusap bibirnya.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" ucapnya seraya berdiri. Lalu ia melihat wajah Ferderick dihadapannya. "Kau mengagetkanku bocah, tapi dilihat lihat penampilanmu sekarang sangat cocok untuk dirimu Tuan Count" ia tersenyum seraya menatap ujung kepala sampai ujung kaki Ferderick.Kini Ferderick selalu mengenakan pakaian berkelas yang biasa dipakai oleh para bangsawan, sangat berbeda dengan penampilannya dulu sebagai prajurit bayaran.
"Berperilakulah seperti anda biasanya Tuan ehemmm" Ia merasa sedikit malu,lalu ia melihat sekitarnya "Mengapa sangat sepi kemana yang lain?"
"Orang orang masih tidur, aku baru saja datang tapi ketiduran hehe, duduklah kau mau minum apa?"
"Tak usah, daripada itu bagaimana keadaan anda?Anda benar benar tak terkena sihir hitam kan?"
"Aku baik baik saja, aku langsung pergi setelah membaca surat yang kau tulis sebelum aku sampai di tempat penyihir hitam, aku mendengar kabar yang tak baik tentang Baginda, bagaimana keadaan beliau?"
Ferderick menggeleng "Masih belum membaik"
"Malang sekali nasipnya, usianya masih sangat muda tapi ia telah melalui banyak hal" gumamnya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Tuan Stev?"
"Dia sudah sehat, tapi ingatannya masih bermasalah"
"Bilanglah kepadanya Tuan, tak perlu memaksakan diri untuk mengingat hal yang tak ia ingat, karena sekarang kastel menara sihir yang mengambil alih penyelidikan, Tuan Penyihir Agung yang langsung memimpin penyelidikan"
"Syukurlah, memang penyihir harus berhadapan dengan penyihir juga"
"Benar"
"Apa kau kesini hanya untuk mampir?"
"Ahhh, sebenarnya saya ingin minta tolong kepada anda"
"Apa itu? katakanlah"
"Kastel Count sedang membutuhkan pasukan ksatria, apa diantara mantan prajurit bayaran ada yang berminat bekerja sebagai ksatria resmi di kediaman saya?"
"Wah, itu adalah kesempatan yang sangat bagus, aku akan memberitahukan kepada mereka"
"Baiklah"
"Kau membutuhkan berapa orang?"
"Sekitar tiga puluh orang"
"Tentu aku bisa mengumpulkan mereka secepatnyaa, Wah sekarang kau benar benar terlihat seperti bos"
"Anda bisa saja, baiklah saya harus pergi sekarang, saya menantikan kedatangan teman teman"
"Baiklah" Joseph mengantarkan kepergian Ferderick sampai ke depan gedung.
.
.
__ADS_1
Bersambung.