
"Hei, apa kalian tahu sebenarnya Putri Rubia tak sehebat seperti apa yang para ksatria katakan,ada suatu alasan yang akan membuat kalian tercengang jika tahu apa yang putri Rubia lakukan dimedan perang" ucap Lady A.
"Apa maksudmu?Apa ada hal yang orang orang tidak tahu?" jawab lady B.
Mereka semakin mendekatkan diri satu sama lain "Putri Rubia seperti orang yang sedang dirasuki iblis jahat saat dimedan perang, itu kata kenalanku seorang ksatria wanita yang ikut berperang"
"Ya, aku pun mendengar sekilas bahwa putri meminum darah manusia"
"Apa?Kau serius?"
"Wah, apa semua itu benar? Apa jangan jangan itu karena kutukan keluarga kerajaan?"
"Wah, benarkah?Itu sangat mengerikan, bagaimana nasip Sir Axel Harington nanti yang akan menjadi suami Putri?"
"Haruskah kita memberitahu Sir Harington?"
"Benar, kita harus menyelamatkannya dari Putri Iblis itu"
Tuk tuk tuk "Hei, bukankah kalian sudah keterlaluan membicarakan Tuan Putri?" ucap seorang Lady yang baru saja membuka pintu ruangan itu yang tak sengaja mendengar ucapan mereka di ruang istirahat.
"Kenapa anda ikut campur Lady Amelie?"
"Apa kau bisa mempertanggung jawabkan perkataanmu?Apa buktinya Tuan putri dirasuki iblis?Dan apaa minum darah? kALIAN GILA?"
"Saya kan hanya mendengarnya dari seseorang yang melihatnya langsung, mana ada bukti seperti itu" ucapnya ciut.
"Makannya kan saya sudah bilang, jangan bicara sembarangan, apalagi membicarakan Tuan Putri, jika Beliau mendengar kalian bagaimana? Ruangan ini tidak kedap suara, aku saja sampai datang kemari dari ruang sebelah karena sudah tak tahan mendengar ucapan kalian"
"Ahhhh.. benarkah? Bagaimana ini" kemudian mereka merasa khawatir.
"Sudahlah, lebih baik aku pergi saja" ucap Amelie membuka pintu.
Saat membuka pintu Amelie melihat Rubia yang sedang berdiri di depan pintu itu "Yang Mulia" ucap Amelie, kemudian para Lady yang baru saja menggunjing Rubia langsung gemetar ketakutan.
"Nikmati pesta anda Lady, saya permisi" ucap Rubia kepada Amelie.
"Baik Yang Mulia" Amelie menatap punggung Rubia yang semakin menjauh.
"Hahhh.. dasar para nona bangsawan bodoh, bagaimana jika Putri Rubia mendengar ucapan mereka? Beliau pasti merasa sedih, minum darah katanya? omong kosong macam apa yang mereka bicarakan ck ck ck" gumam Amelie, sebelum pergi ia melirik para lady dengan tatapan tajam dan sinis.
"Apa menurutmu Putri Rubia mendengarnya?" ucap lady A.
"Sepertinya tidak, jika iya bukankah seharusnya Putri akan memarahi kita?" ucap lady C.
"Ya, pasti begitu"
"Dasar Lady Amelie mentang mentang putri dari bangsawan terkaya di kekaisaran dia bersikap seenaknya"
__ADS_1
"Benar, itulah mengapa dia tak memiliki teman"
"Benar benar"
.
.
Rubia berjalan masuk ke taman bunga istana, angin bertiup kencang menyapu rambutnya yang dibiarkan tergerai, ia duduk di kursi taman melihat bulan yang terlihat samar karena tertutup awan gelap.
Apa benar,suatu saat aku akan berubah menjadi iblis?Iblis wanita yang haus darah,bisakah aku menghindari perasaan yang telah hampa sejak aku mulai membuka mata ini.
"Ahhh..pesta seperti itu sungguh melelahkan" Rubia melihat cincin dijari manisnya, ia mengusap cincin itu beberapa kali sehingga cincin itu mengeluarkan cahaya.
Criiingggggg..Tiba tiba Ferderick berada tepat didepannya, Rubia tersenyum tipis melihat wajah Ferderick yang kebingungan dengan situasinya, Ferderick menatap wanita didepannya dengan wajah masam dan kebingungan.
"Apa yang anda lakukan kepada saya Yang Mulia Putri?" ucapnya dengan raut wajah masam dan bengis sekaligus bingung dan curiga.
"Apa aku belum memberitahumu?"
"Mengapa anda sesantai ini? dan dimana ini?" Ferderick melihat sekelilingnya yang terlihat banyak bunga.
"Ini taman istana, dan kebetulan aku merasa muak dengan pesta jadi aku mencoba mengetes kualitas cincin ini, setelah dicoba ini benar benar benda yang luar biasa" ia memandangi cincin dijarinya terus menerus sembari mengaguminya.
"Saya tidak bisa begini Yang Mulia, Anda tak mengatakannya terlebih dahulu bahwa saya akan langsung berteleportasi apabila anda memanggil saya, anda tak bisa seenaknya begini" ucap Ferderick dengan kesal.
Ferderick mencoba melepaskan cincin itu dari jarinya tapi cincin itu seakan mengakar ditulangnya sehingga seberapa keras Ferderick berusaha itu tak bisa lepas.
"Kau tak bisa melepasnya Fer"
"Apa maksud anda?"
"Itu adalah cincin sihir yang mengikat kesepakatan,hanya ada satu pasang didunia, tapi sepertinya aku bisa memintanya membuatkan ini lagi selama penyihir itu belum mati"
"Apa anda ingin memperlakukan saya sebagai budak anda?" ucapnya dingin.
"Tak perlu berfikir dengan rumit, itu hanya alat untuk mengikat kepercayaan,apa kau sudah mengerti"
"Tetap saja, anda tak boleh melakukan ini"
"Hahhhh... baiklah maafkan aku lain kali aku akan lebih berhati hati"
"Bagaimana jika anda memanggil saya saat saya sedang mandi atau hal hal yang bersifat pribadi lainnya?"
"Ahhh, jadi itu permasalahannya, baiklah aku berjanji hanya akan memanggilmu pada malam hari, setelah cincinmu menyala satu kali berarti kau harus bersiap siap, aku akan mengusap sampai lima kali dan kau baru bisa berteleportasi, bagaimana?"
"Tetap saja itu merugikan saya"
__ADS_1
"Yasudah, jika kau tetap tak setuju dan mau membatalkan perjanjian kau hanya perlu memotong jarimu saja maka semuanya selesai"
"Anda bercanda?"
"Tidak tuh, untuk apa bercanda dengan orang sepertimu"
"Apa anda memanggil saya hanya untuk ini?"
"Ya tentu saja"
"Hahhh.. menyebalkan"
"Apa kau bilang?"
"Tidak, saya akan pergi sekarang"
"Tunggu, Dame Fiona"
"Anda memanggil saya Yang Mulia?" ucap Fiona yang muncul dari belakang dan membuat Ferderick kaget.
"Dia mau pulang, berilah seekor kuda untuknya" Rubia menunjuk ke arah Ferderick dengan jarinya.
"Baik Yang Mulia, kau ikuti aku" ucap Fiona kepada Ferderick.
Setelah Ferderick dan Fiona pergi Axel Harington menghampiri Rubia "Apa yang sedang anda lakukan disini Yang Mulia? Apa anda tahu saya mencari anda kemana mana?" ucapnya yang telah berdiri dihadapan Rubia.Rubia menoleh kearahnya, rambut peraknya terlihat bersinar di kegelapan.
"Mencari udara segar"
"Udara sedang sangat dingin Yang Mulia" ia melepas jubah mewahnya itu dan memakaikan di pundak Rubia.
"Apa kau sedang menggodaku?" tatapannya curiga.
"Apah?? Hahaha, hari ini anda banyak membuat saya tertawa yah"
"Jadi apa kau senang?" ucapnya sembari melihat kearah lain.
"Ya, sangat senang"
Sir Harington menatapnya dan duduk disampingnya "menjauhlah dariku" ucap Rubia menggeser duduknya.
"Yang Mulia, tidak bisakah anda melihat saya sekali saja?"
Rubia bangun dari duduknya "Jika kau mengira aku begini karena masalah sewaktu kecil kau salah,aku tak membencimu lagi, jadi jangan mencoba menggangguku lagi, apa kau mengerti?"
Ia membuka jubah dipundaknya dan melemparkannya kepada pemiliknya, lalu Rubia berjalan dengan cepat kembali ke istana meninggalkannya sendirian,sementara Axel hanya menatapnya dari kejauhan.
"Dengan dia mengatakan tak membenciku lagi itu sudah cukup bagiku, tapi..agaimana ini,aku malah jadi semakin menyukainya" gumamnya pelan dengan bibir tersenyum.
__ADS_1
BERSAMBUNG