
Amelie berdiri di balkon, wajahnya tersenyum karena melihat taman bunga dari atas sana yang terlihat sangat indah meskipun dalam kegelapan, rambutnya berterbangan tertiup hembusan angin, bukannya menyukai kesendirian dan tak memiliki teman, ia hanya merasa setiap teman yang mendekat padanya memiliki maksud lain karena kekayaan keluarganya saja, tak ada yang benar benar tulus ingin berteman dengannya apalagi menyukainya. setelah semua yang ia lalui, kini ia merasa nyaman dengan kesendiriannya itu.
Seketika ia kehilangan senyumannya setelah berbalik badan karena mendengar suara langkah kaki mendekatinya, tiba tiba seseorang yang tak diundang masuk begitu saja mengikutinya.
"Nona Amelie apa yang sedang anda lakukan disini sendirian?" ucap Jasson mendekatinya.
"Saya sedang ingin sendirian Tuan Jasson, tolong tinggalkan saya" ucapnya dengan ketus.
"Yahh kupikir kita sudah cukup dekat karena anda mengundang saya ke pesta di kediaman anda" jawab Jasson murung.
"Maaf, tapi yang mengundang adalah Ayah saya, Saya tak ada hubungannya sama sekali dengan urusan orang tua saya"
"Ahh, jadi Tuan Marquees ya, saya menjadi amat sangat merasa terhormat" ia tersenyum.
"Ya, baiklah" raut wajah Amelie terlihat amat tak nyaman.
"Nona, saya menyukai anda sejak pertama saya melihat anda di pesta istana tahun lalu"
"Apahh??" Amelie kaget, bukan karena pengakuan cinta yang mendadak namun karena Pria muda didepannya sungguh tak bisa menilai situasi.
"Maukah anda menjadi kekasih saya? Jika anda mau saya bisa secepatnya melamar anda secara resmi"
"Tunggu tunggu Tuan Verano, maaf tapi saya belum memiliki keinginan untuk menikah, maaf saya menolak"
"Apa nona tidak bisa mencoba mengenal saya terlebih dahulu?"
"Maafkan saya"
Grrrttttt,Jasson mengernyitkan matanya, ia kembali melangkah dan mendekat "Nona, saya sungguh menyukai anda,tolong berikan saya kesempatan" ia meraih tangan Amelie, amelie menepisnya tapi pegangan tangan jasson semakin kuat.
"Saya bilang lepaskan!" teriak amelie.
"Mengapa anda menolak saya? Apa yang kurang dari diri saya?" Jasson mulai kesal.
"Itu karena anda tidak punya sopan santun! Lepas"
"Amelie.." ucapnya terhenti karena seseorang membuka pintu balkon.
"Yang Mulia" ucap Amelie yang menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
Klotak klotak.. Putri Rubia berjalan mendekat "Adik sepupuku, apa yang sedang kau lakukan kepada gadis itu" ucap Rubia sembari jarinya menunjuk Amelie.
"Tolong jangan ikut campur Yang Mulia Putri" jawab Jasson dengan raut wajah kesal, kemudian ia melepaskan tangan Amelie, Amelie mengusap lengannya yang kesakitan.
"Heyy bagaimana bisa aku tidak boleh ikut campur, kita kan keluarga,apa kau tak menyukaiku?"
"Bukan Yang Mulia, maaf kan saya"
"Minta maaflah kepada Nona itu jangan padaku"
Raut wajah Jasson mengeras, namun ia tak bisa menolak permintaan Putri "Maafkan saya Nona Amelie tanpa sadar saya menjadi begitu tak sabar"
"Ya, baiklah" jawab Amelie ragu ragu.
"Saya permisi Yang Mulia, Nona Amelie" ucap Jasson sebelum pergi dengan kesal.
Amelie mendekati Rubia "Yang Mulia Putri, terimakasih karena anda sudah menolong saya" ujarnya sembari tersenyum.
"Yah, itu bukan apa apa" jawab Rubia, rubia kembali berjalan keluar ruangan.
"Yang Mulia sangat keren" gumam Amelie setelah Rubia pergi.
"Bagaimana dengan Fer?" tanya rubia kepada Fiona.
"Ya, dia pulang dengan selamat"
"Baguslah"
"Yang Mulia, mengapa anda sangat peduli dengan anak itu?"
"Aku? Apa terlihat seperti itu?"
"Ya, anda juga banyak berbicara dengannya, seperti bukan diri anda yang biasanya"
"Itu karena aku nyaman berbicara dengannya,dan anak itu akan cukup berguna untukku,mengapa kau menanyakan itu?"
"Tidak Yang Mulia, saya hanya senang jika anda semakin banyak bicara, selama ini anda hanya banyak bicara dengan saya dan Lydia saja kan, cobalah bergaul dengan para Lady yang seumuran dengan anda"
"Akan aku pikirkan"
__ADS_1
Setelah sampai di depan kamar Rubia terhenti dan berbalik badan.
"Kau bisa beristirahat Dame Fiona, karena besok pagi kita akan ke kuil" ucap Rubia.
"Baik Yang Mulia"
Rubia berbaring di tempat tidurnya setelah mengganti pakaiannya, ia menatap cincin bermata biru di jari manisnya, cincin yang luar biasa, ia bertanya tanya sendiri dalam pikirannya, mengapa ia mengikat Ferderick dengan cincin itu, ia mengingat ingat apa yang ia pikirkan sebelum memberikan benda berharga itu untuk orang yang baru dua kali ditemuinya itu.
Dua tahun yang lalu saat perjalanan menuju medan perang di pinggir hutan belantara, secara tak sengaja Rubia bertemu dengan seorang wanita tua yang hampir diserang oleh sekawanan serigala, Rubia yang mendengar lolongan serigala yang mencurigakan segera menghentikan pasukannya dan memeriksa masuk ke dalam hutan, Setelah sampai ditengah hutan Rubia melihat seorang wanita tua yang telah dikepung oleh segerombolan serigala, ia pun segera membantu wanita tua itu bersama beberapa pasukan ksatria melawan para serigala yang terlihat ganas.
Setelah serigala berhasil dimusnahkan wanita tua yang memakai jubah hitam itu menghampiri Rubia dan mengucapkan terimakasih karena sudah menolongnya, sebagai ucapan terimakasih wanita tua itu memberikan sebuah kantung kecil yang telah usang, meskipun enggan menerimanya tapi wanita tua itu bersikeras memberikan pada Rubia, wanita tua itu mengatakan bahwa barang yang berada dikantung itu akan sangat membantunya dan akan melepaskan belenggu yang telah sekian lama bergulir di kekaisaran, tentu saja rubia tak menganggap serius perkataan wanita itu dan tak memahami maksudnya pula.
Setelah keluar dari hutan Rubia kembali ke pasukannya bersama wanita tua itu, disana Rubia membuka kantung usang itu, dan rubia mendapati sepasang cincin bermata biru, setelah ia melihat isi kantung Rubia kembali menoleh ke arah wanita tua itu tapi dia sudah tak ada ditempatnya, Rubia mencari cari kesekitarnya pun tak juga menemukannya,Rubia menyimpan kantung itu di sakunya, tak lama Rubia kembali menaiki kudanya dan kembali melanjutkan perjalanan.
Saat itu hari sudah mulai gelap, Rubia dan pasukannya mendirikan tenda untuk mereka beristirahat, rubia berbaring di tempat tidurnya didalam tenda, wanita tua itu kembali muncul di mimpinya.
Wanita tua itu tersenyum "Kita bertemu lagi Yang Mulia Putri"
"Anda? Bagaimana anda bisa masuk ke dalam sini?"
"Apa yang anda bingungkan Yang Mulia, ini hanyalah sebuah mimpi"
"Benarkah?"
"Benar"
"Mengapa anda memberikan saya sepasang cincin yang terlihat berharga itu?"
"Hehehe anda bisa menggunakanannya untuk seseorang yang ingin anda ikat suatu saat nanti, cincin itu tak akan bisa lepas kecuali anda sendiri yang melepaskannya, anda harus memakainya bersamaan dengan orang tersebut, sepertinya penjelasan saya cukup, sudah lama saya menunggu kedatangan anda, saya menantikan kelahiran anda"
"Apa maksudnya? Siapa anda sebenarnya?"
"Saya hanya seorang penyihir tua yang sudah lama hidup di dunia ini demi memenuhi janji kepada seseorang, anda harus segera mengakhiri belenggu di Kerajaan ini"
"Apa maksud anda?"
"Suatu saat anda akan mengerti, saya akan menemui anda lagi suatu saat Yang Mulia" wanita tua itu menunduk memberikan hormat kepada Rubia, seakan Rubia adalah seseorang yang amat berharga dan ia hormati, setelah itu Rubia terbangun dari tidurnya.
Bersambung.................
__ADS_1