Queen Sword

Queen Sword
Eps 59 Misi Pertama Kaisar


__ADS_3

Banyak yang harus dilakukan oleh Rubia dihari pertamanya menjabat sebagai Kaisar, mulai dari menghadiri jamuan makan sebagai bentuk penghormatan kemudian mengantar kepergian para utusan negara tetangga yang akan kembali ke negara asalnya, lalu mengadakan rapat khusus dengan para bangsawan kelas atas dan pejabat yang menempati posisi penting di istana, mendengar keluhan keluhan dari berbagai pihak terkait kondisi kekaisaran dan juga memilah solusi dari berbagai macam pendapat, kemudian menerima laporan terkait berbagai bisnis yang dijalankan oleh istana dan lain sebagainya.


"Saya ingin memberikan hadiah kepada rakyat untuk memperingati kenaikan tahktaku menjadi Kaisar" ucap Rubia setelah menerima seluruh laporan.


"Hadiah apa yang anda maksud Baginda?"


"Penurunan pajak"


"Apa maksud anda Baginda? Anda tak bisa melakukan itu, hidup para rakyat yang malas malasan akan semakin malas jika anda menurunkan pajak dan itu akan membahayakan keuangan negara" ucap perdana menteri berambut putih berusia lima puluhan.


"Benar Baginda, benar" seru beberapa orang setuju dengan pendapat Perdana Menteri.


"Jika kalian sangat menghawatirkan keuangan istana kalian bisa mendonasikan sebagian kekayaan kalian" jawab Rubia santai.


"Apa maksud anda? Bagaimana mungkin anda memutuskan hal seperti ini secara sepihak, saya mengerti keinginan anda yang mulia itu, saya juga mengerti anda yang belum berpengalaman dan belum cukup dewasa, jadi tolong dengarkan pendapat kami juga Baginda" ucap perdana menteri lagi yang disahuti setuju oleh sebagian orang.


"Jadi maksudmu aku yang belum dewasa dan belum berpengalaman ini sudah melakukan hal yang ceroboh dan membahayakan negara? "


"Kami tidak berani Baginda"


"Bagaimana pendapat anda Tuan Penasehat?" tanya Rubia kepada orang yang selalu berbeda pendapat dengan Perdana Menteri. Pemuda berusia dua puluh lima tahun yang mendapat jabatan karena menggantikan ayahnya yang tiba tiba meninggal.


"Saya rasa apa yang anda lakukan sangat bijaksana Baginda, rakyat miskin sering mengeluh karena tingginya pajak yang ditetapkan oleh pemerintah, dan saya lihat tidak akan ada masalah jika kita mengurangi sedikit gaji tahunan para pejabat demi kehidupan rakyat yang lebih sejahtera" ucapan pemuda berkacamata itu membuat seisi ruangan menjadi riuh.


"Cukup kalian! Keputusanku sudah bulat dan aku meminta pengertian dari kalian semua, rapat ditutup" orang orang itu pergi dengan wajah yang kesal, Rubia sengaja melakukan itu untuk menilai reaksi mereka satu persatu.


Di hari pertamanya ia terlihat sangat luwes, bahkan ia mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh para menteri dan mampu memberikan penilaian yang objektif, itulah yang terlihat oleh orang orang yang mendukungnya, dilihat dari cara mereka berbicara dan menatap Rubia, Rubia bisa menilai mana orang orang yang masih menentangnya dan mendukung Pamannya.Entah apa yang terjadi selama beberapa hari Duke tak muncul di istana, Rubia hanya menerima laporan bahwa Duke sedang tak enak badan.


Rubia keluar dari ruang rapat, ia melihat ke luar, tahu tahu hari sudah sore "Aku harus menemui Guru" ucapnya kepada Ferderick sembari terus berjalan dengan cepat.


"Baik"


.


Rubia membuka pintu ruangan kerja Vallan, pria tua itu terlihat sangat sibuk dengan segunung dokumen di atas mejanya sampai tak mendengar pintu yang terbuka.


"Guru" ucap Rubia mendekat.

__ADS_1


Vallan melihat dari selah kacamatanya "Baginda? Kapan anda datang?"


"Baru saja, apa saya mengganggu anda?"


"Saya akan mendengar alasan anda kesini terlebih dahulu" ia meletakkan pekerjaannya di atas meja dan menatap Rubia yang duduk dihadapannya.


"Bagaimana caranya melepas kutukan keturunan Kaisar?"


"Apa anda bercanda Yang Mulia?"


"Tidak"


"Apa Nona Mayer belum memberitahukan kepada anda?"


"Beliau hanya bilang bahwa tugas saya adalah membebaskan kutukan yang telah turun termurun di keluarga Kaisar, beliau bilang saya adalah jiwa murni yang belum sempurna, kekuatan Ferderick adalah penyempurna jiwa saya, hanya itu saja"


"Apa dia tak memberitahukan cara kususnya?" Rubia menggeleng "Wah, wanita tua itu masih sama saja, dia selalu melupakan bagian terpentingnya"


"Apa ada yang anda ketahui Guru?"


Vallan menatap Rubia dan Ferderick secara bergantian "Penyatuan jiwa?"


Vallan menatap ke arah Ferderick "dia harus menyalurkan kekuatan mana nya kepada anda sehingga permata sihir yang telah tertanam dalam jantung anda akan bersinar dan itulah kekuatan penyembuh yang sebenarnya, itu memerlukan energi yang sangat besar"


"Saya akan melakukannya, itu tidak sulit" ucap lantang Ferderick.


Vallan menatap tajam Ferderick " Apa kau siap kehilangan nyawamu? Setelah proses penyempurnaan permata sihir selesai ada kemungkinan nyawamu tak tertolong"


Ferderick dan Rubia tertegun mendengarnya "Apa anda serius Guru?" ucap Rubia kaget.


"Seperti Nona Mayer yang kehilangan energi dan nyawanya setelah memberikan kekuatan kepada anda, Ferderick pun akan mengalami hal seperti itu, ini adalah kemungkinan terburuknya Yang Mulia, tapi jika fisiknya jauh lebih kuat dari dugaan ia hanya akan mengalami efek samping karena dia masih muda dan bugar, kemungkinan itu pun harus diperhitungkan, hanya itu yang bisa saya sampaikan, selebihnya kalian berdua yang harus memutuskan"


Rubia berdiri "Terimakasih atas penjelasannya Guru, saya harus pergi sekarang" wajahnya tampak sangat gusar.


"Baik Yang Mulia"


Rubia keluar dari ruangan dan Ferderick mengikutinya, Rubia terus berjalan dalam diam, pikirannya kalut ternyata satu satunya cara untuk terbebas dari kutukan adalah dengan cara mengorbankan satu lagi nyawa seseorang, terlebih Ferderick adalah salah satu dari sedikit orang yang berarti baginya. Kaki mereka berjalan dengan cepat tahu tahu mereka telah sampai di istana tempat tinggal Kaisar.

__ADS_1


"Saya akan melakukannya Baginda" ucap Ferderick yang seketika membuat langkah Rubia terhenti.


Rubia menoleh "Tidak boleh!"


"Tidak ada cara lain Baginda tolong mengertilah"


"Apa maksudmu tidak ada cara lain? Aku bisa terus hidup seperti sekarang ini, ini bukanlah masalah"


"Apa anda tak memikirkan keturunan anda nanti? Nona Mayer yang telah mengorbankan seumur hidupnya untuk mencari solusi ini? Bukan hal yang sulit bagi saya untuk mengorbankan nyawa demi anda yang terpenting saya tak suka melihat anda menderita karena gejala yang semakin hari semakin mengganggu mental dan kesehatan anda"


"Bagaimana dengan adik dan keluargamu yang berada di Bayangan Hitam? mereka akan sangat menderita karena Kaisar yang mereka percayai sebagai pelindung mereka ternyata merenggut nyawamu demi kepentinganku sendiri?"


"Apa maksud anda? Ini adalah kepentingan kekaisaran, mereka akan mengerti"


"Sudah cukup, hentikan omong kosong ini,lupakan apa yang baru saja kau dengar dari Guru, aku akan segera mengurus tanah kekuasaan Count dan memulihkan statusmu, setelah itu kau hanya perlu pergi dari sini, pergilah, aku lelah" Brakkk!! Rubia masuk kekamarnya.


Tok tok tok, tak lama terdengar suara ketukan pintu dikamar Rubia, Rubia kembali membuka pintu dan bersiap siap memarahi Ferderick yang tak mematuhi perintahnya untuk meninggalkan istananya.


"Sudah ku bilang aku lelah?" teriak Rubia sembari membuka pintunya.


"Selamat malam Yang Mulia, saya Jessi dari istana Permaisuri, maaf mengganggu waktu anda" ucapnya dengan hati hati, tubuhnya terlihat gemetar.


"Apa yang kau inginkan?"


"Yang Mulia Permaisuri terus meminta anda menemuinya Baginda, seharian beliau merasa tertekan dan tak tenang, jadi..."


"Bukankah aku sudah bilang akan menemuinya saat memiliki waktu luang? Apa kau tak bisa lihat sekarang waktunya aku beristirahat?"


"Mohon maaf Baginda"


Rubia terdiam melihat dayang Permaisuri yang semakin gemetar, ia mulai menurunkan nada bicaranya "Bilanglah padanya, aku akan menemuinya besok"


"Baik Baginda, terimakasih saya mohon undur diri"


"Ya"


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2