
Rubia berdiri tegak,tangannya mulai bergerai dengan gemulai membentuk lingkaran sihir bermotif yang terlihat seperti ukiran secara samar samar, ia menahannya dengan sekuat tenaga sampai keringat membanjiri keningnya, saat garis dan warna kebiruan pada lingkaran sihir semakin terbentuk dan semakin jelas tiba tiba itu kembali menghilang dengan perlahan.
Rubia terus berlatih menyempurnakan Lingkaran sihirnya lagi dan lagi, terus mengulang dan mengulang lagi, sampai tahu tahu hari sudah mulai terang, matahari baru saja muncul ke permukaan membuat udara sedikit menghangat.Lagi lagi Rubia melewatkan waktu tidurnya.
Rubia membasuh keringat di dahinya dengan sapu tangan, ia berbalik badan menoleh ke arah Ferderick, ia tersenyum melihat Ferderick yang sedang tertidur menyandarkan tubuhnya dibawah pohon, padahal dia kelelahan tapi bersikeras mengikuti latihan Rubia.
Rubia berjalan mendekatinya, ia berjongkok di hadapan Ferderick,Rubia terdiam berfikir sejenak, haruskah membangunkannya? Tapi Rubia tak tega.
Seekor semut hitam kecil berjalan di wajah Ferderick, Rubia mengulurkan tangannya hendak mengambil semut itu agar tak mengganggu ketenangan Ferderick, namun ketika tangannya baru saja menyentuh kulit wajahnya, tangan Ferderick menggenggam tangan Rubia, perlahan ia membuka matanya melihat wajah yang sedang tersenyum manis dihadapannya.
"Apa yang hendak anda lakukan Yang Mulia?" ucapnya dengan suara rendah yang sedikit serak.
"Aku mau mengambil makhluk kecil yang sedang berjalan di wajahmu, apa kau terbangun karenaku?"
"Tidak, apa anda sudah menyelesaikan latihan?" tangannya mengusap semut yang bergerak diwajahnya.
"Ya, mari kita kembali, kau bisa melanjutkan tidurmu di tenda ksatria" Rubia bangun berdiri dan Ferderick pun sama.
"Saya tidak mengantuk"
"Aku melihatmu tidur nyenyak kok" jawabnya seraya meringis. Rubia menoleh ke tangannya ke bawah, Ferderick masih menggenggam pergelangan tangannya.Tangannya terasa amat dingin.Rubia menggenggam tangannya, dan mengambil satu lagi tangannya.
Mata Ferderick terperanjat "Apa yang sedang anda lakukan?" wajahnya terlihat bingung sekaligus malu, telinganya memerah.
"Tanganmu terlalu dingin, aku akan menggunakan kekuatan sihir untuk menghangatkan tubuhmu" seketika cahaya kebiruan muncul bersinar di tangan mereka berdua. "Sudah hangat bukan?"
"Ya, ini sudah hangat Yang Mulia" jawabnya seraya matanya fokus melihat wajah Rubia.
"Baguslah, ayo kita kembali" Rubia melepaskan tangannya dan berbalik badan lalu berjalan.Ferderick masih terus saja menatap tangannya merasa sayang karena sudah dilepaskan. "Apa seharusnya aku mengatakan aku masih kedinginan?" gumamnya lirih.
.
"Hei bukankah tidur kita malam tadi terlalu nyaman dan damai?" ucap salah seorang ksatria yang sedang berkumpul menikmati makan pagi.
"Iya, kau benar setelah beberapa bulan kita tak bisa tidur nyenyak akhirnya kita memiliki malam yang damai" jawab seseorang rekan.
"Benar, sampai sampai kedamaian ini membuatku takut" ucap yang lainnya lagi.
"Apa yang kau takutkan?Bukankah ini sesuatu yang baik"
__ADS_1
"Entahlah, hanya saja aku merasa seperti kedamaian sebelum puncak peperangan yang sebenarnya belum dimulai" Rubia yang sedang berjalan masuk tiba tiba menghentikan langkahnya ketika mendengarkan ucapan ini.
"Hei ucapanmu membuatku takut"
"Yaa, benar tubuhku rasanya baru saja merinding"
"Sudah sudah, kalian makan saja"
Rubia berjalan mendekat ke tempat berkumpulnya para ksatria, seseorang melihat Rubia yang sedang mendekat, orang itu segera berdiri.
"Yang Mulia Putri" ucapnya dengan wajah panik, kemudian orang disekitarnya ikut bangun.
"Lupakan saja salamnya, makan saja dengan nyaman" ucap Rubia yang tiba tiba merasa tidak enak karena mengganggu waktu santai para ksatria, ia pun kembali menjauh dan mengurungkan niatnya.
Rubia masuk ke tendanya, ia duduk dan berfikir dalam diam, Ferderick yang sedang berdiri didepannya begitu memperhatikannya. "Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran anda Yang Mulia?" tanyanya setelah memperhatikan Rubia cukup lama.
"Ya, ucapan ksatria tadi menggangguku"
"Apa yang anda maksud kedamaian sebelum peperangan yang sebenarnya?'
"Benar, rupanya kau juga dengar"
"Tentu, jadi apa yang membenani anda? Jika monster menyerang kita hanya tinggal menghabisi kembali seperti biasanya, apa yang anda pikirkan?"
"Semua akan baik baik saja Yang Mulia"
"Ya, kuharap seperti itu.. Pergilah kau bisa bergabung dengan ksatria lainnya, aku tak perlu dikawal di dalam tenda"
"Apa anda merasa terganggu dengan kehadiran saya?"
Rubia menoleh ke wajah Ferderick yang menjadi muram "Apa kau sedang merajuk?"
"Tidak tuh" ia mengalihkan pandangannya.
***
Tiga hari berlalu, selama itu juga monster tak menampakan dirinya, para ksatria menjalani hari dengan santai seolah olah mereka sedang ber piknik.
Keadaan Axel semakin hari semakin membaik karena Ferderick diam diam menggunakan kemampuan penyembuhnya yang luar biasa kepadanya, dengan alasan dia telah merasa tak tahan dengan sikap Axel yang terkesan memanfaatkan lukanya untuk menarik perhatian Rubia, dan itu membuatnya sangat terganggu.
__ADS_1
Saat pagi hari ia menemukan lukanya yang telah sembuh total, ia meminta pendeta penyembuh memeriksanya, seperti sebuah keajaiban rupanya lukanya benar benar menghilang, disana hanya meninggalkan bekas dari cakaran monster yang telah sembuh total.
Axel merasa bersyukur namun disisi lain ia juga merasa sayang karena ia tak bisa lagi memanfaatkan lukanya untuk menarik perhatian Rubia, namun satu hal yang pasti ia merasa lega karena akhirnya ia bisa menjalani kembali perannya sebagai Ketua pasukan ksatria.
Axel keluar dari tendanya setelah memakai pakaian, ia berjalan mencari cari keberadaan Rubia yang tak terlihat disekitar barak, kemudian seseorang memberitahukan keberadaan tempat berlatih Rubia yang tak jauh dari lokasi Barak.
Axel tersenyum melihat Rubia dari kejauhan, namun seketika senyumnya memudar dan langkahnya menjadi ragu ragu saat melihat seseorang disisi Rubia, mereka berpegangan tangan dengan sangat serius dan fokus, dihadapan mereka terlihat lingkaran sihir yang amat memukau.
Axel takut mengganggu latihannya, namun ia terganggu dengan tangan mereka berdua yang sedang menempel, ia melanjutkan kembali langkahnya menghampiri mereka berdua.
"Yang Mulia" panggilnya yang seketika membuat Rubia mengakhiri sesi latihannya dan melepas tangan Ferderick.
"Axel, ada apa?" tanyanya seraya mendekat.
"Saya hanya ingin melihat anda berlatih karena tubuh saya telah pulih" tiba tiba Ferderick menyeringai, axel melihatnya namun ia tak mengerti mengapa orang itu bereaksi seperti itu, ia hanya merasa kesal dengan wajahnya.
"Jadi begitu, kau bisa melihatnya" Rubia mengangguk.
"Tapi mengapa kalian berpegangan tangan di sesi latihan?" tanyanya ragu ragu.
"Ahhh, ternyata selama ini aku melupakan sesuatu yang terpenting, Nona Mayer memberitahuku bahwa kekuatan dari mana Ferderick adalah penyempurna jiwaku, setelah aku mencobanya memang benar, sepertinya aku bisa membuat segel sesegera mungkin" wajah Rubia terlihat bersemangat.
"Penyempurna jiwa?" gumamnya seraya wajahnya terlihat tak senang.Ia memiliki firasat buruk tentang arti lain dari kata tersebut.
"Apa?"
"Syukurlah, syukurlah jika pada akhirnya kami akan segera terbebas dari serangan monster"
"Iya kau benar, bertahanlah sebentar lagi"
"Kalau begitu..saya permisi kembali ke barak Yang Mulia, ada yang harus saya lakukan"
"Kau bilang mau melihat latihanku?"
"Saya akan melihatnya lain kali" ia segera berbalik badan dan pergi dengan langkah kaki super cepat.
"Apa yang membuatnya terburu buru begitu?" gumam Rubia tak mengerti.
.
__ADS_1
.
Bersambung.