Queen Sword

Queen Sword
Eps 102 Kesempurnaan sebuah rasa


__ADS_3

Begitu banyak hal yang telah berubah selama Ferderick tertidur panjang, Kaisan dan Khatie sudah menikah 4 tahun yang lalu dan sekarang mereka memiliki seorang putri cantik yang sangat mirip dengan Ayahnya yang sudah berusia 3 tahun.


Begitu melihat Rubia gadis kecil itu segera menghampirinya "Baginda Kaisal..mengapa anda kelual dali cana kapan anda macuk? Dali tadi aku dicini tapi tidak melihat Anda macuk" ucap gadis kecil bernama Angela Stewart.


Rubia pun merentangkan kedua tangannya sembari menghampiri Angela, Rubia menggendongnya seakan sudah terbiasa, pemandangan yang sangat asing bagi Ferderick "Oww.. apa sekarang kau sedang menginterogasiku Nona kecil?"


"Benall,anda halus belkata jujul, Ayahku selalu belkata sepelti itu, kita tidak boleh belbohong"


"Baiklah, seperti biasa aku masuk lewat jendela hehe" Rubia terlihat sangat ramah dan bersahabat dengan Angela.


"Itu tidak benal Baginda, cudah caya bilang anda halus lewat pintu" tegasnya.


"Siap deh Nona kecil, maafkan aku sekali ini saja oke?"


"Baiklah, kali ini aku akan maafkan kalena cuacana hatiku sedang bagus kalena Pamanku cudah cembuh" Ferderick pun tersenyum mendengar tingkah lucu keponakannya yang sangat mirip dengan Kai waktu kecil, tapi sepertinya sifatnya sangat mirip dengan Ibunya.


"Terimakasih Nona Kecil" Rubia menciumi pipinya yang bulat, anak itu pun tertawa senang.


"Baginda Kenapa berpakaian sepelti penyihil jahat yang aku lihat di buku dongeng?"


"Hahaha, benarkah? Apa kau takut dengan penyihir jahat?"


"Aku takut, tapi aku yakin Baginda Penyihil baik"


"Gadis pintar" Rubia mengelus kepalanya dengan lembut.


Katie menghampirinya "Tolong maafkan kelancangan Putri saya Baginda, lagi lagi dia bersikap seperti itu, itu karena Putri saya sudah menganggap anda sebagai keluarga kami, maaf jika saya sudah lancang" ucapnya seraya tertunduk. Kini Katie pun telah banyak berubah, dia lebih dewasa dan keibuan.


"Tidak masalah, kau tak perlu terlalu kaku, aku suka sekali dimarahi oleh Angel dan suka sekali dianggap keluarga oleh Angel"


"Saya kawatir dia akan kebiasaan bersikap tidak sopan kepada anda Baginda"


"Tidak, aku yakin saat waktunya tiba dia akan menjadi gadis paling elegan di kekaisaran, percayalah padaku"


"Baiklah Baginda, sekarang saya merasa lebih tenang" Rubia pun memberikan Angela kepada Ibunya.


"Mari ke ruang makan Baginda" Rubia mengangguk.

__ADS_1


Ferderick tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Rubia,ia tersenyum tipis ia benar benar tak menyangka Rubia telah banyak sekali berubah, tutur kata yang semakin bijak, berperasaan dan lebih dewasa, serta kini terlihat sangat cantik dimatanya. Rubia pun kembali kepada Ferderick dan kembali mendorong kursi rodanya.


Makan malam bersama keluarga Count dan Bayangan hitam berjalan dengan lancar dan meriah, malam ini semuanya berkumpul untuk merayakan kesembuhan Ferderick, semua orang terlihat sangat lega dan bahagia, ini adalah momen yang sangat sempurna. Meskipun mereka semua berasal dari tempat berbeda dan memiliki kisah hidup berbeda beda pula namun kini semuanya telah menjadi Sebuah keluarga yang sesungguhnya, suka duka telah dilewati bersama sama, saling menguatkan, berbagi luka dan berbagi kebahagiaan. Inilah yang disebut keluarga.


.


Malam pun semakin larut orang orang sudah kembali ke tempatnya masing masing, kini Ferderick dan Rubia sudah berbaring di ranjang yang sama, saling berhadapan menatap satu sama lain dengan penuh kasih sayang, Rubia membelai wajah Ferderick "Aku benar benar tak menyaka hari ini akan tiba"


"Syukurlah sepertinya anda hidup dengan sangat baik, terimakasih Baginda"


"Tentu saja aku harus hidup dengan baik agar pengorbananmu tak menjadi sia sia, tapi apa kau tahu? Sebenarnya kaulah sumber kekuatanku, aku akan merasa baik baik saja jika sudah memeriksa kau masih hidup dan bernafas, aku hanya terlalu takut kau akan pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padaku"


"Apa anda sangat takut kehilangan saya?"


"Tentu saja, jika kau sampai mati aku pasti akan langsung menyusulmu tanpa perlu berpikir dua kali, aku tak mau hidup sendiri setelah mengambil nyawamu"


"Jangan berkata seperti itu Baginda, anda membuat saya sedih"


"Baiklah,semuanya sudah berlalu, mari kita lupakan semua kenangan buruk dan membuka lembaran baru, segala kepedihan telah kita lewati dengan sangat baik, sekarang hanya akan ada hal menyenangkan untuk kedepannya"


"Saya setuju Baginda, tapi apa anda serius ingin bermalam disini? Ehemmm" ucapnya malu malu.


"Tentu saja tidak"


"Apa menurutmu aku sudah banyak berubah?"


"Benar Baginda, anda semakin menawan" gumamnya.


"Memang benar, semua orang mengatakan seperti itu"


"Siapa itu? Apa ada orang lain selain Pangeran Altez?"


"Pangeran Altez? Hahah, kau masih memikirkannya? Dia sudah menikah dua tahun yang lalu apa aku tak memberitahumu?"


"Entahlah, memangnya apa jaminannya orang yang sudah menikah berhenti memikirkan wanita lain, apalagi wanitanya seperti anda, saya yakin jika sekarang anda memintanya meninggalkan istrinya dan memintanya menjadi suami anda pasti dia tak akan ragu ragu membuang Istrinya itu" raut wajahnya berubah kesal.


"Hehehe,mana mungkin aku melakukan itu, apa kau sedang cemburu?"

__ADS_1


Ferderick menggeleng "Tidak tuh"


"Tapi aku akui, kehadiran Pangeran Altez membawa dampak yang cukup besar untuk kehidupanku, dia teman yang baik dan juga menyenangkan, kau tak perlu menghawatirkan tentangnya"


"Tetap saja, sepertinya anda menganggapnya sangat spesial tuh"


"Pfftttt" Rubia tertawa melihat Ferderick yang seolah sedang merajuk.


"Mengapa anda tertawa? Apa saya lucu?"


"Aku senang, aku bahagia, terimakasih banyak atas semua yang kau lakukan untukku, bukankah kau pun tahu tidak ada yang bisa menandingimu di hatiku? Pokoknya terimakasih kau sudah kembali padaku" ucapnya seraya menatap Ferderick dalam dalam.


Perlahan wajah mereka berdua semakin mendekat, bibir mereka perlahan bersentuhan dan saling bertaut dengan pelan dan dipenuhi kelembutan yang amat manis dengan mata yang tertutup, tangan mereka saling membelai satu sama lain, menikmati momen mendebarkan yang telah sekian lama dinantikan, tak lama mereka menyudahi ciuman mereka karena Rubia mendorong dada Ferderick dengan tangannya "Hari ini cukup sampai disini" ucapnya dengan wajah memerah.


"Mengapa? Apa anda tak menginginkan saya Baginda?"


"Jangan mengada ada, mana mungkin aku tak menginginkanmu, bahkan aku sangat ingin melakukan hal yang lebih dari ini, tapi tubuhmu masih belum sanggup, ehemmm, apa aku terlalu blak blakan?" ia mengalihkan pandangannya karena malu.


Ferderick pun tersenyum dengan wajah memerah "Saya akan segera sembuh dan jika saat itu tiba anda bisa melakukan apapun"


"PPfffttt, hahaha, sungguh menggelikan, kau berkata seolah olah aku sangat mes**"


"Hahaha, mana mungkin, kita berdua sudah dewasa anda bisa lebih bebas sekarang, sikap anda bahkan terlihat jauh lebih dewasa dibanding usia anda"


"Begitukah?" Ferderick mengangguk "Hari ini kau pasti kelelahan, ayo kita tidur kalau kau tak bisa tidur karena ada aku aku akan kembali ke Istana sekarang juga"


Ferderick memeluk lengan Rubia erat erat "Saya bisa tidur disamping anda dengan nyaman"


Rubia pun tersenyum "Baiklah, hari ini aku akan membiarkanmu bersikap seperti bayi"


"Bayi? Mana ada bayi sebesar saya?"


"Hehehe"


Rubia menatap wajah Ferderick yang perlahan menutup mata disaat tangannya masih membelai wajahnya "Tidurlah yang nyenyak, tapi kau harus bangun setelah pagi tiba, jangan pernah lagi meninggalkanku" bisiknya pelan..


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2