
Semua tamu undangan telah berkumpul di aula utama istana yang dihiasi oleh dekorasi mewah dan meriah, semua orang terlihat memakai pakaian terbaiknya masing masing sembari membawa sebuah bungkusan hadiah yang terlihat mewah di tangan mereka sendiri atau di tangan dayang dayangnya sembari berharap Kaisar mereka segera tiba, tak lama Ferderick Stewart datang bersama seorang Lady bernama Katie Wilson, wanita berusia dua tahun lebih muda darinya, ia terkenal di pergaulan kelas atas karena sikapnya yang ramah,ceria serta cerdas, ia juga berasal dari keluarga terpandang, ia adalah putri satu satunya Marquess Wilson Bangsawan kelas atas yang memiliki jabatan sebagai Menteri pertahanan di istana Kekaisaran.
"Baginda Kasar dan Tuan Perdana Menteri Axel Harington memasuki ruangan" ucap lantang seorang penjaga. Suasana seketika menjadi hening, semua orang menunduk memberi hormat padanya, Rubia tampak sangat cantik dengan gaun berwarna putih bercorak emas, wajah kuyunya berhasl disamarkan dengan make up, meskipun mata dan raut wajahnya tetap tak bisa disembunyikan namun itu terlihat jauh lebih baik, sedangkan Axel yang berdiri disampingnya tampak gagah, ia memakai pakaian yang senada dengan warna gaun Rubia.
"Bangunlah" ucap Rubia seraya berjalan ke tempat duduknya, di sana Permaisuri Isabella telah duduk di kursi samping Rubia, mata mereka bertemu pandang.
"Selamat ulang tahun Baginda" ucap Permaisuri, Rubia hanya mengangguk lalu beranjak duduk ke kursinya, Axel pun duduk di samping Rubia.
Satu persatu para tamu undangan menyapa dan mengucapkkan ucapan selamat ulang tahun kepadanya sembari menyerahkan bingkisan hadiah,saat itu tiba giliran Ferderick bersama dengan pasangannya maju ke hadapan Rubia, wajah Ferderick tampak datar seperti biasa namun Lady disampingnya terus tersenyum ke arah Rubia, merea berdua menyerahkan hadiah secara langsung, kotak dengan ukuran sedang dari Ferderick dan kotak besar dari Katie diserahkan pada pelayan disamping Rubia.
"Selamat ulang tahun Baginda, semoga anda sehat selalu" ucap Katie, Rubia mengangguk dan mengucapan terimakasih.
"Selamat ulang tahun Baginda" ucap Ferderick.
"Terimakasih Count Stewart" jawab Rubia.
"Rumornya mereka berdua akan segera menikah Baginda, bagaimana apa anda akan mendukung pernikahan mereka?" ucap Axel seraya menatap punggung mereka yang menjauh lalu melirik sekilas reaksi Rubia.
"Tentu saja kan" ucap Rubia dengan wajah datar seraya melirik mereka berdua,tak lama hadiah hadiah itu mulai menggunung, lalu pelayan memindahannya ke sebuah ruangan yang menyambung dengan aula pesta.
Rubia bangun dari kursinya "Terimakasih kalian sudah mau datang dan juga hadiahnya, aku sangat menghargai niat baik kalian, kalau begitu silahkan menikmati pesta hari ini, buatlah diri kalian merasa nyaman" ucapnya, setelah itu ia turun dari tempatnya bersama dengan Axel, lalu mereka berdua berdansa di tengah tengah lantai dansa.
Axel tersenyum menatap wajah Rubia "Selamat ulang tahun Baginda"
"Kau sudah mengucapkannya tiga kali"
"Benarkah? Tanpa sadar saya terus mengatakannya karena anda terlihat tak bahagia di hari ulang tahun anda sendiri"
"Aku bahagia Axel, kau sendiri?"
__ADS_1
Axel terdiam sejenak "Tentu saja saya bahagia saat anda di hadapan saya seperti ini"
"Baguslah, kuharap kau berbicara dari hatimu, setelah pesta berakhir temuilah aku, ada yang ingin aku katakan"
"Saya jadi penasaran, tidak bisakah anda langsung mengatakannya disini?"
"Tidak mau" Axel tersenyum lagi, musik pun berhenti, mereka telah menyelesaikan dansa pertama mereka, kemudian para pasangan berdansa bersama sama, tak terkecuali Ferderick dan Khatie, Rubia dan Axel menikmati minuman bersama.
"Baginda, anda tak boleh minum alkohol banyak banyak"
"Mengapa kau mengaturku?" Rubia tetap meneguk minumannya seraya matanya terus melirik ke satu arah.
"Wah, apa anda akan bersikap tak peduli dengan kesehatan anda sendiri?"
"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan"
Rubia menatap ke ujung ruangan "Axel, datangilah Amelie dan ajaklah dia berdansa dan temanilah dia mengobrol, berapa kali kubilang dia harus memperbaiki sikapnya agar dia memiliki teman kususnya untuk acara seperti ini kan, tapi dia tak mau mendengarku"
Wajah Axel mengernyit, Rubia melirik ke Axel yang masih belum menjawab "Kau tak perlu melakukannya jika kau tak mau" Axel bangun dari duduknya lalu menghampiri Amelie yang berdiri sendirian di pojok ruangan, kemudian mereka berdua berdansa secara alami dan terlihat sangat serasi.
Tuk tuk tuk, seseorang menghampiri Rubia yang sedang menatap ke arah Axel dan Amelie "Baginda, maukah anda memberikan saya kehormatan dengan berdansa dengan saya?" ucap Ferderick menduduk dan mengulurkan tangan dihadapan Rubia, Rubia merasa kaget dan tak menyangka, padahal selama ini dia terus bertingkah seperti orang asing, namun kenapa sekarang dia begini dihadapan banyak orang? Orang orang mulai memperhatikan Ferderick dan respon Kaisar saat ini, mereka mulai berbisik bisik mengingat hubungan keduanya dimasalalu.
Rubia melihat sekitarnya, lalu melihat tangan Ferderick yang sedikit bergetar "Baiklah" ia bangun dan meraih tangan Ferderick.
Ketika mereka mulai berhadapan seketika mereka menjadi pusat perhatian,Deg deg deg rasanya suara jantung Ferderick bisa terdengar oleh Rubia yang semakin dekat dengannya,mata mereka bertatapan mereka mulai berdansa dengan musik pelan, namun Rubia salah fokus dengan gerakan Ferderick yang sangat kaku, bagaimana bisa seseorang berdansa dengan tubuh seperti itu, sedangkan Ferderick fokus agar kakinya tak menginjak kaki Rubia.
"Bagaimana kabar anda selama ini Tuan Count?Rasanya tinggi anda telah bertambah banyak"
"Seperti yang sudah anda dengar, saya baik, tentu saja saya juga semakin tinggi, anda juga semakin cantik Baginda"
__ADS_1
"Aku tahu aku tak secantik dulu, Ku dengar kau akan segera menikah, apa pasanganmu tak keberatan kau mengajak wanita lain berdansa hari ini?"
"Menikah? Saya tak menyangka rumornya akan menjadi seperti itu, bukankah anda yang sebentar lagi akan menikah dengan Tuan Harington?"
"Ya, tentu saja aku harus menikah"
"Anda terlihat tak baik Baginda, apa anda merasa baik baik saja?"
"Kau menghawatirkanku setelah tiga tahun bersikap seperti orang asing ya?Lucu sekali Tuan Count ini"
"Maafkan saya Baginda, bisakah saya memperbaikinya sekarang?"
"Tidak ada yang perlu diperbaiki, justru kau segeralah menikah dan miliki kehidupan yang lebih baik, itu akan membuatku merasa cukup lega, orang yang pernah menjadi orang terdekatku akhirnya bisa menjalani kehidupannya dengan normal"
"Ahh, saya mengerti Baginda, tapi bisakah saya meminta waktu anda untuk terakhir kalinya besok malam?"
"Baiklah, lakukan apapun yang kau mau"
"Terimakasih Baginda, saya akan melakukan apapun yang saya mau, tolong jangan tarik kembali ucapan anda"
"Baiklah" akhirnya musik pun berganti.
"Ahh Tuan Count, ngomong ngomong kau sangat payah dalam berdansa Pffftttt,apa kau tak tahu kau lebih cocok mengayunkan pedang" ucap Rubia tersenyum sebelum mereka mengakhiri sesi dansa. Ferderick terlihat malu dan canggung, bukannya ia tak tahu kemampuan berdansanya, meskipun begitu ia tetap memberanikan diri menemui Rubia meskipun kini seseorang tengah memelototinya dari kejauhan, yaitu Axel Harington yang tampak tak senang dengan tindakannya kepada Rubia saat itu.
.
.
Bersambung.
__ADS_1