Queen Sword

Queen Sword
Eps 18 Penghiburan Darinya


__ADS_3

Rubia terus berlari menjauh dari orang orang yang mengenalinya dan Ferderick mengikutinya tanpa berbicara sepatah katapun, karena kelelahan akhirnya langkah Rubia menjadi pelan sedikit demi sedikit, Rubia berjalan memasuki jalan pemukiman rakyat, setiap orang yang berpapasan dengannya menatapnya dengan tatapan ngeri karena penampilan Rubia yang berlumuran darah, bahkan beberapa anak kecil yang berpapasan dengannya menangis kencang hanya karena Rubia menatapnya, menyadari akan hal itu Ferderick menarik tangannya untuk menghentikan langkahnya, Ferderick membuka jubahnya dan memakaikan jubah hitam miliknya kepada Rubia agar ia tak dikenali dan menghentikan tatapan aneh setiap orang yang dijumpai oleh mereka.


"Saya tahu tempat untuk menenangkana diri, Anda mau ikut?" ucap Ferderick setelah memakaikan jubahnya di ditubuh Rubia. Dan Rubia mengangguk kemudian mengikuti Ferderick berjalan memasuki sebuah hutan, setelah berjalan cukup jauh mereka berhenti di hadapan sebuah sungai jernih di dalam hutan yang rindang itu.


Mereka berdua duduk berdampingan di atas rerumputan hijau dibawah sebuah pohon besar tepi sungai, Rubia memejamkan matanya berusaha fokus menenangkan pikiran dan perasaannya, ia hanya fokus mendengarkan suara gemercik air sungai mengalir, angin musim dingin yang sejuk benar benar mampu menenangkannya, tak ada kata kata yang terucap dari bibir keduanya.


Tiba tiba Rubia menyenderkan kepalanya di bahu Ferderick, ia tertidur setelah sekian lama memejamkan matanya, ferderick tak menyangka seorang Tuan Putri yang angkuh itu kini tertidur di atas rerumputan yang kotor,terlebih lagi ia melepaskan kewaspadaan kepada dirinya dan tidur di bahunya.


Memang suasana yang cocok untuk beristirahat, Ferderick pun menyenderkan punggungnya dengan pelan di batang pohon, kemudian ia ikut tertidur, mereka berdua tidur bersama di bawah pohon dan saling bersandar.


Setelah beberapa saat berlalu Rubia terbangun karena sengatan sinar matahari, ia membuka matanya perlahan dan menemukan dirinya yang bersandar kepada Ferderick yang masih memejamkan mata,ia merasa telah benar benar kehilangan kewaspadaannya hingga bisa tidur dengan nyaman disamping pria ini, ia menatap wajah Ferderick yang baru kali ini ia lihat dengan jelas, karena selama ini Ferderick selalu memakai Jubah hitam yang menutupi sebagian wajahnya,rambutnya yang hitam pekat dihinggapi oleh seekor kupu kupu berwarna jingga.


"Cantik" gumam Rubia, kemudian Ferderick membuka mata karena mendengar suara Rubia yang samar samar terdengar olehnya, begitu membuka mata ia melihat wajah Rubia di hadapan wajahnya.


"Ehemmmm" Rubia yang tersadar segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain, saat Rubia bergerak kupu kupu jingga itu terbang menjauh.


"Anda sudah baikan?" tanya Ferderick dengan raut wajah datarnya.


"Ya, berkatmu, terimakasih"


"Ehemmm.. orang terhormat seperti anda tidak perlu berterimakasih kepada orang seperti saya" ucapnya dengan raut wajah canggung.


"Ahh.. baiklah"


"Saya akan mengawal anda kembali keistana" Ferderick bangun dari duduknya.


"Mengapa kau tak menanyakan apapaun?" Rubia pun ikut bangun.


"Daripada bertanya saya lebih ingin mengatakan sesuatu"


"Katakanlah"

__ADS_1


"Dalam pertempuran kadang kita memang sulit membedakan mana lawan dan mana kawan, jadi anda tidak perlu merasa bersalah, apalagi anda adalah seorang yang akan menduduki takhta"


"Terimakasih kata kata penghiburanmu tapi ini bukan hal yang sesederhana itu"


Rubia mulai berjalan dan Ferderick mengikutinya.Meskipun tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh ucapan Rubia, tapi Ferderick tak ingin menanyakan lebih lanjut. Mereka berjalan dalam diam keluar dari hutan itu.


"Disana ada tempat sewa kuda, saya akan menyewa dua kuda Yang Mulia silahkan tunggu disini" ucapnya sembari menunjuk ke satu arah.


"Satu saja"


"Apa maksud anda?"


"Kau akan kesulitan membawa kembali dua kuda secara bersamaan, karena itu tempat sewa dan saya tak membawa uang untuk membelinya karena kita harus kembali secara diam diam"


"Saya bisa membelinya jika anda ingin"


Rubia menatapnya dengan curiga, dari tatapannya seolah ia tak percaya orang dihadapannya mampu membeli dua kuda, karena harga kuda yang sangat mahal. "Lupakan saja, sewa satu saja"


Tak lama Ferderick kembali dengan menunggangi seekor kuda hitam bertubuh besar, setelah sampai dihadapan Rubia Ferderick mengulurkan tangannya agar Rubia lebih mudah naik ke atas kuda, Rubia pun menerima uluran tangannya dan berhasil naik dengan mudah,Ferderick pun mulai menjalankan kuda dengan cepat.


Entah apa yang telah terjadi kepadaku,tapi baru kali ini aku sedekat ini dengan seorang pria,setelah ini aku akan menjaga jarak dengannya, hari ini aku seperti bukan diriku dihadapan anak ini, dan mengapa anak ini selalu saja melihat sisi lemahku yang tak bisa kutunjukkan kepada siapapun, seharusnya aku tidak melarikan diri tadi, aku terlalu terbawa perasaan pribadi dan mengacaukan keadaan, tapi.. entah mengapa saat pria ini menggenggam tanganku aku langsung tersadar..apa mungkin?...ahh apa yang sedang kupikirkan, ini pasti hanya perasaanku saja,setelah melalui banyak pertarungan semakin aku tak bisa mengelak dengan kutukan yang telah mulai bekerja ditubuhku, apa baginda Kaisar juga mengalami hal seperti ini? ini sungguh perasaan yang tak mudah ditekan, aku harus menanyakannya secara langsung kepada Kaisar meskipun aku benci melihat wajahnya.


Setelah berjalan cukup jauh Ferderick menghentikan kudanya di belakang pagar istana Putri Mahkota, Ferderick turun terlebih dahulu dan membantu Rubia turun dari kuda.


"Yang Mulia, jika situasinya tak mendesak tolong jangan buat saya berteleportasi langsung, orang orang yang melihat akan kaget jika melihat saya tiba tiba menghilang, yaa meskipun saya bisa menghindar sebelum saya menghilang, tapi saya akan berterimakasih jika anda cukup mengusap cincin sekali dan saya akan cepat menghampiri anda"


"Baiklah, kau akan menghampiriku dimana?"


"Ahh benar juga"


"Baiklah, aku akan hati hati"

__ADS_1


Setelah itu Rubia naik melompati pagar dan masuk melewati jendela kamarnya, dan Ferderick pun bergegas menjalankan kembali kudanya.


Begitu Rubia masuk ke kamarnya, Fiona dan Lydia telah menunggu didalam sana.


"Yang Mulia, anda baik baik saja?" tanya Lydia dengan raut wajah yang sangat khawatir sembari matanya memeriksa tubuh Rubia dari kepala sampai kaki.


"Jangan khawatir Lydia, aku baik baik saja"


"Bagaimana keadaan yang lain?" tanya Rubia kepada Fiona.


"Mereka yang terluka sudah mendapatkan pengobatan, dan Yang Mulia Raja meminta anda menghadap, saya sudah mengulur waktu sebisa saya dengan membuat alasan bahwa anda terluka"


"Kau pasti kerepotan Dame Fiona, maafkan aku"


"Ini adalah tudas saya Yang Mulia"


"Saya akan membantu Yang Mulia membersihkan diri" ucap Lydia sembari membuka jubah Rubia.


"Baik saya akan tunggu diluar" ucap Fiona membuka pintu dan keluar.


"Yang Mulia, ini sepertinya jubah seorang pria, apa ini milik Sir Harington?" tanya Lydia mengamati Jubah di tangannya.


"Bukan"


"Apa jangan jangan anda memiliki seorang kekasih diluar sana tanpa sepengetahuan orang orang??"


"Jangan banyak berpikir, ayo cepat bantu aku melepas baju ini"


"Ya, baik baik"


Bersambung......................

__ADS_1


__ADS_2