
Setelah meninggalkan Kastel Menara Sihir Ferderick kembali menunggangi kudanya, langkah kaki kuda terus melaju dengan pelan seraya pikirannya masih berada di kastel penyihir,terngiang ngiang dengan ucapan Penyihir Agung tentang sisa waktu yang dimiliki oleh Rubia, ia hanya bisa terus menyalahkan dirinya dengan situasi yang terjadi kepada Rubia, seharusnya ia menyembuhkannya lebih awal sehingga hal hal seperti itu takkan terjadi, seharusnya ia tak perlu mendengarkan perkataan Rubia yang melarangnya, seharusnya ia tak merasa takut dan khawatir jika Rubia membencinya setelah ia membuat keputusannya sendiri, pikiran pikiran penyesalan itu terus terngiang ngiang di kepalanya.
Ia berjalan melewati pasar di wilayah kekuasannya,ini adalah kali pertamanya melewati pemukiman pasar dan penduduk setelah gelarnya disahkan, karena selama ini ia terus fokus berada disamping Rubia, matanya tertegun ketika ia mulai memperhatikan banyak sekali anak anak dan wanita tua yang mengemis disepanjang jalan pasar yang ramai disela sela para pedagang yang berjejer, pemandangan yang tak pernah dilihatnya saat Ayahnya menjadi penguasa wilayah Belua.
Ia mulai mengalihkan pikirannya ke pemandangan yang dilihatnya selama ini, apa yang telah ia lakukan setelah ia mendapatkan kembali gelarnya sebagai Count? Ia mulai lagi menyalahkan dirinya sendiri, gelar yang ia dapatkan dengan susah payah, harapan Rubia memberikan gelar itu kepadanya, ia merasa telah gagal melakukan apapun dalam hidupnya.
Semakin Ferderick masuk ke pemukiman penduduk wilayah yang sebelumnya terbengkalai tanpa pemimpin itu terlihat begitu kacau, banyak sekali orang miskin yang kelaparan di pinggiran jalan, lahan pertanian yang seharusnya subur itu sebagian hanya di tumbuhi oleh rerumputan liar, bagaimana penduduk Belua bertahan hidup selama ini? Ini hanya sebagian wilayah yang bisa ia jumpai diperjalanannya, ia yakin bahwa diwilayah di luar sana memiliki keadaan yang jauh lebih buruk dari pada yang dilihatnya saat ini.
Ferderick sampai di depan kediamannya, seorang ksatria penjaga pagar kediaman menghampirinya dan membawakan kudanya ke kandang,lalu ia berjalan masuk ke kediaman, Tomy dan beberapa pelayan menyambutnya.
"Tuan Count bagaimana bisa anda baru pulang setelah anda melakukan pengesahan gelar?Apa ada sesuatu yang terjadi? Anda bahkan tak mengirim surat, apakah anda tahu bagaimana kawatirnya saya dan juga Tuan muda Kaisan?" ucapnya dengan wajah yang khawatir.
"Maafkan aku Tomy, ada sesuatu yang terjadi diistana, jadi aku berada disisi Baginda Kaisar, dimana Kaisan? Apa dia makan dengan baik?"
"Tuan Muda sedang belajar bersama dengan gurunya, beliau makan dengan baik"
"Baguslah" Mereka berjalan bersama dan berhenti di depan ruang kerja yang biasa digunakan oleh Ayah Ferderick.
"Tuan Count, setelah acara pengesahan gelar anda diistana orang orang mengirimkan surat, dan saya sudah mengumpulkan keseluruhan laporan wilayah Belua dari kepala desa masing masing di meja kerja anda, saya sudah menyusun seluruh rinciannya, anda tinggal memeriksanya"
"Baiklah, terimakasih Tomy berkatmu aku tak akan kesulitan"
"Ini bukan apa apa Tuan Count, saya selalu merasa puas jika bisa membantu pekerjaan anda dan mendiang ayah anda, saya yakin kedepannya anda akan menjadi pemimpin yang lebih hebat dari Ayah anda, karena anda sangat mirip dengan beliau"
Ferderick terdiam, harapan Tomy sangat berlebih untuknya yang berniat menyerahkan nyawa untuk Kaisar, "Terimakasih untuk semuanya Tomy aku akan berusaha sebaik mungkin melakukan tugasku selama waktu yang tersisa" ucapnya dengan tatapan mata yang pilu.
__ADS_1
Tiba tiba Tomy terdiam sejenak "Apa maksud anda selama waktu yang tersisa?"
"Hahh?" Ferderick tak menyadari apa yang dikatakannya, ia tak sengaja mengatakan hal yang ada dipikirannya.
"Apa anda berencana pergi ke suatu tempat?"
"Tidak, aku hanya berfikir apapun bisa terjadi dalam hidup kan, sisa waktu bukan berarti tinggal sedikit kan? Hahaha kau ini" Ferderick tertawa dengan hambar, sementara Tomy tetap merasa curiga sekeras apapun Ferderick menyangkal tapi Tomy memilih berfikir secara positif karena ini adalah awal dari kebangkitan keluarga Count, dan ia percaya kepada Tuannya.
"Saya mengerti"
"Ah Tomy, kau pasti sibuk jika terus menerus membantu pekerjaanku, mengurus keperluan Kai dan urusan rumah tangga, jika kau tak keberatan carilah seseorang yang bisa menjadi asistenku, karena sepertinya aku masih harus sering mengunjungi Baginda Kaisar"
"Saya merasa baik baik saja dengan pekerjaan saya Tuan, tapi jika itu membuat anda lebih tenang saya akan berusaha mencari orang yang kompeten dibidangnya"
"Ya, itu akan lebih baik buatmu, dan bukalah lowongan pekerjaan untuk posisi ksatria kediaman Count"
"Tunggu dulu Tom" tiba tiba Ferderick teringat sesuatu "Aku memiliki beberapa kenalan, sepertinya aku sendiri yang akan mengumpulkan pasukan ksatria"
"Baik, apa ada lagi yang anda butuhkan?"
"Tidak, kau bisa pergi"
"Baik" Tomy pergi setelah memberi hormat kepadanya, lalu Ferderick masuk ke dalam ruang kerjanya.
Ruangan bernuansa coklat yang dipenuhi oleh kenangan kenangan bersama ayahnya, jejak jejak yang ditinggalkan oleh Ayahnya yang sehari harinya menghabiskan lebih banyak waktu ditempat itu masih terlihat sama, ia menyentuh sebuah lukisan besar yang dipajang disamping meja kerja, lukisan Ayah,ibu, dirinya dan Kaisan saat masih sangat muda, dari lukisan itu terlihat ia sangat mirip dengan ayahnya yang sama sama berambut hitam dan Kaisan sangat mirip dengan Ibunya yang memiliki rambut perak.
__ADS_1
Ia melangkah mendekati tempat duduk, lalu ia mulai memejamkan matanya berfikir langkah langkah yang seharusnya ia lakukan sebelum ia menghilangkan kutukan Rubia, kepalanya mengangguk angguk setelah mendapatkan keputusannya sendiri. Ia berencana untuk mempersiapkan Kaisan sebagai kepala keluarga berikutnya dengan membuatnya belajar lebih banyak tentang pekerjaan sebagai pemimpin keluarga dan wilayah, lalu ia berencana membereskan dan mengatasi permasalahan permasalahan yang terjadi di tanah kekuasaannya, ia akan membuat wilayah itu kembali menjadi wilayah yang makmur dan mempermudah pekerjaan adiknya kelak setelah kepergiannya, setidaknya saat ini ia harus melakukan hal itu agar Rubia dan Orang tuanya yang berada disurga tidak akan terlalu kecewa dengan keputusan yang akan diambilnya kelak.Benar, ia harus melakukan itu demi semua orang.
Ferderick mulai membaca berkas laporan yang telah tertumpuk di mejanya satu persatu, wajahnya mulai mengernyit karena kebanyakan laporan yang diterimanya dari setiap bagian wilayah tak sesuai dengan apa yang telah dilihatnya dipemukiman miskin penduduk, mulai dari hasil pertanian, perdagangan dan anggaran setiap wilayah, semua itu terlihat baik baik saja tanpa masalah dan sangat rapi, hanya ada satu halĀ mengapa mereka memberikan laporan palsu kepada penguasa wilayah yang masih muda dan baru saja kembali setelah sekian lama.
'Tok tok' Seseorang mengetuk pintu ruangannya.
"Masuklah" ucapnya setelah menghentikan pekerjaannya.
Kaisan membuka pintu dan berjalan ke hadapannya "Kai, ada apa? Kau sudah menyelesaikan belajarmu?"
"Sudah selesai dari sore tadi, apa kakak tidak lihat dari jendela kalau hari sudah gelap" Ia menunjuk jendela besar yang terletak di tepat belakang tempatnya duduk, lalu Ferderick menoleh ke arah jendela, tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat ketika ia sibuk. Ia kembali menoleh ke arah Kaisan.
"Apa kau sudah makan malam?"
Kaisan menggeleng "Aku menunggu kakak untuk makan bersama, apa kakak masih sibuk setelah tiga hari tidak pulang dan malah tinggal di istana? Apa kakak begitu peduli dengan Baginda Kaisar sampai tak memperdulikan adik kakak sendiri? Apa jangan jangan kakak lebih suka tinggal diistana? Pdahal kita baru saja kembali ke rumah setelah sekian lama" gerutunya melampiaskan kekesalannya selama tiga hari ini.
"Apa yang kau katakan? Kau kan bukan anak kecil lagi, kau harus mandiri dan terbiasa hidup tanpa aku"
"Tunggulah sampai aku dewasa kak, sekarang aku belum dewasa jadi aku tak perlu melakukan itu"
"Hei kau tidak boleh bertingkah kekanak kanakan, aku serius loh sebentar lagi kau akan dewasa"
"Iya iya iya, ayo kita makan malam dulu, kau banyak sekali bicara kak hahaha" Kaisan mendekatinya dan menyeret kakaknya keluar dari ruangannya.
.
__ADS_1
.
Bersambung.