
Keesokan harinya di meja makan di kastel Duke, meja yang luas itu hanya diduduki oleh dua orang pria, yaitu Duke Verano dan Putranya Jasson Verano yang sedang menikmati sarapan mereka. Duke menatap wajah Putranya yang muram.
"Ada apa denganmu?" ucapnya seraya memotong steak dan menyuapi mulutnya.
"Aku kesal dengan Rubia, dia menggangguku yang sedang berusaha mendekati Putri Marquees" gerutunya sembari memotong makaanannya dengan kasar.
"Memang anak itu dilahirkan untuk mengganggu rencana besar kita" ucapnya dingin.
"Bagaimana dengan Bibi?"
"Wanita itu sudah menghianati kita, sungguh wanita yang tak berguna,bahkan dia tak bisa memegang kata katanya sendiri"
"Ayah benar, Ibu dan anak itu sangat tidak berguna, bagaimana caranya kita menghabisi keduanya secara bersamaan?"
"Tidak perlu bertindak dengan terburu buru, Ayah sudah memiliki rencana, tak lama lagi kita akan mendengar kabar baik" duke tersenyum licik.
"Hihihi, benarkah?"
****
Putri Rubia yang telah bersiap dengan baju putih ksatrianya yang elegan duduk bersama Raja dan Ratu diruang makan untuk menikmati sarapan bersama, suasana yang canggung dan sunyi, karena itu adalah makan bersama satu keluarga setelah tujuh tahun lamanya karena hari ini adalah acara makan bersama yang seharusnya dihadiri oleh calon menantu Raja,itu adalah hal yang memang seharusnya dilakukan sebagai tanda bahwa tunangan Putri Mahkota telah secara resmi masuk menjadi bagian keluarga Raja, entah apa yang terjadi tapi Axel Harington terlambat.
Tak lama, laki laki berusia sembilan belas tahun itu datang dengan raut wajah yang khawatir "Salam untuk Matahari dan Bulan kekaisaran, maaf saya terlambat Yang Mulia" ucapnya begitu masuk ke ruangan dan menunduk.Berkat kedatangannya, suasana kembali hidup.
"Tidak apa apa Sir Harington,apa ada sesuatu yang terjadi?" ucap Raja dengan santai.
"Bukan hal yang penting Yang Mulia, anda tidak perlu Khawatir"
"Hoho, baiklah.. silahkan dinikmati makanannya, semoga cocok dengan seleramu"
"Tentu Yang Mulia"
Mereka memulai sarapan dengan tenang, sesekali Raja dan Axel berbincang ringan, dalam waktu singkat Axel terlihat bisa menyesuaikan diri dengan Raja, itu karena memang pada dasarnya Axel memiliki sifat yang supel dan ramah, Axel melirik kearah Putri Rubia yang duduk di sampingnya, seperti biasa Putri tampak acuh tak acuh, bahkan Putri terlihat tak nyaman meskipun ia tak menunjukannya secara langsung, sedangkan Ratu yang makan dengan anggun dan elegan sesekali tersenyum kepadanya tanpa banyak bicara, Axel mulai merasa situasi ketiga orang itu sungguh tak biasa, karena Axel sendiri dibesarkan dalam keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang, suasananya sungguh berbanding terbalik dengan situasinya saat ini.Ia hanya berfikir positif,ia menduga begitulah cara keluarga seorang Raja yang menjaga martabatnya
Setelah menyelesaikan sarapan, Axel dan Rubia berangkat menuju ke kuil, selain hendak memeriksakan kesehatan rutin Putri, mereka berdua yang baru saja bertunangan harus mengunjungi kuil secara resmi untuk meminta berkat Dewi agar hubungan mereka dapat membawa keberuntungan bagi Kekaisaran.
__ADS_1
Rubia dan Axel masuk ke dalam satu kereta kuda yang sama, mereka duduk berhadapan.
"Yang Mulia, cincin apa yang anda pakai? Itu terlihat seperti barang peninggalan kuno" ucap Axel sembari tersenyum.
Rubia membolak balikkan tangannya menatap cincin itu "Apa kau sebenarnya ingin bertanya mengapa aku tak memakai cincin pertunangan kita?" Rubia melirik ke cincin di jari Axel yang terlihat lebih bersinar.
"Ah hehe.. ternyata anda menyadarinya, jadi apa alasannya?"
"Aku lupa" ucapnya dengan wajah yang seperti mengatakan itu bukanlah apa apa.
"Apa dayang anda tidak mengingatkan?"
"Sudahlah, ini hanya kesalahanku saja"
"Baiklah, maafkan saya karena sudah banyak menuntut anda" ia menyilangkan kakinya lalu menghadap ke jendela kereta kuda.
Rubia melirik kearahnya, ia merasa bersalah karena tiba tiba pria itu malah meminta maaf meskipun dia tak bersalah.
"Aku yang seharusnya minta maaf, maafkan aku Sir Harington aku akan memakainya lain kali"
"Yang Mulia.."
"Diam" ucap tegas Rubia dan ia mulai bersikap waspada, Axel pun ikut bersikap waspada.
Srak srak.. swiiiingggggg, seseorang menembakkan panahnya ke arah kereta kuda.Kusir pun menghentikan kereta dengan mendadak karena kuda yang terkejut hingga membuat Rubia dan Axel hampir terjatuh.
"Hati hati Yang Mulia" Axel memegangi tangan rubia yang hampir terjatuh.
Dame Fiona berteriak "Tetap didalam Yang Mulia, ini penyerangan"
Axel tampak bingung sekaligus cemas "Apa yang sedang terjadi? Anda tunggu didalam Yang Mulia saya akan membantu para ksatria" ucapnya lalu bergegas keluar dari kereta kuda. Rubia membuka tirai kereta, orang orang berbaju serba hitam yang jumlahnya lebih dari 70 orang telah mengepung kereta kuda dan pasukan istana, para ksatria yang hanya berjumlah lima orang terlihat kewalahan menghadapi prajurit bayaran.
"Dasar Paman sialan" gumam Rubia, ia mengusap cincinnya dan seketika Ferderick muncul di hadapannya.
"Apa apaan ini Yang Mulia, anda bilang hanya akan memanggil saya malam hari" gerutunya kesal begitu melihat Rubia.
__ADS_1
"Aku akan jelaskan nanti, bantulah aku menghabisi orang orang itu"
Ferderick benar benar kaget dengan situasi itu, namun ia tak bisa banyak berfikir, ia keluar dari kereta kuda dan menebas para prajurit bayaran dengan sekali serangannya yang bisa mengenai lebih dari lima orang. Rubia pun turun dari kereta kuda dan mengangkat pedangnya. Saat Rubia keluar beberapa anak panah sigap menyerangnya dari kejauhan, Ferderick yang menyadari itu langsung maju kedepan Rubia dan melindunginya, anak anak panah tak bisa menembus aura kemerahan yang berasal dari pedang Ferderick.
Karena telah merasa aman Rubia mengayunkan pedangnya dengannya bebas sementara Ferderick menghalangi anak panah yang terus berdatangan.
"Awas Yang Mulia" Teriak Axel disampingnya ketika ada seorang yang hendak menyerangnya dari belakang, Axel menghadang orang itu hingga tangannya tergores pedang prajurit bayaran.
Rubia semakin marah dan ia mulai kehilangan akalnya,amarahnya memuncak, ia membunuh orang orang itu dengan membabi buta, mata birunya berbinar binar berubah menjadi kemerahan setelah melihat banyaknya darah yang membasahi pedangnya. Ferderick menyadari Rubia yang terlihat aneh karena para ksatria menatapnya dengan tatapan ngeri.
Ferderick memegang tangan Rubia "Sadarkan diri anda Yang Mulia" ucapnya ditelinga Rubia.
Rubia segera mengendalikan dirinya, begitu ia sadar ia melihat sekelilingnya, Pakaian yang berwarna putih yang dikenakannya telah dipenuhi cipratan darah yang tak sedikit, semua orang menatapnya dengan tatapan ngeri, Rubia melihat ke hadapannya, ternyata ia menyerang ksatrianya sendiri, Rubia menjatuhkan pedangnya karena terlalu kaget dengan apa yang baru saja ia lakukan tanpa sadar. Rubia berlari menjauh dari orang orang, Axel memanggilnya karena menghawatirkan reaksinya yang baru sekali ia lihat, ia terlihat amat terpukul, tapi Rubia tak menghiraukannya dan tetap menjauh.
Dame Fiona menatap Ferderick dan mengisyaratkan dengan matanya untuk menyusul Rubia.Fiona mengecek ksatrianya yang terkapar setelah diserang oleh Rubia, untunglah pria itu masih bernafas dan masih bisa membuka matanya.
"Sudah sudah, mari kita kembali ke istana untuk mengobati yang terluka, ingatlah..jangan bicara sembarangan" ucap tegas Fiona sembari memperingatkan.
Fiona menghampiri Axel "Anda baik baik saja Tuan Harington?"
"Ya, saya baik baik saja hanya luka ringan, tapi Tuan Putri?"
"Yang Mulia akan baik baik saja, mari kita kembali ke istana terlebih dahulu" ia menoleh kearah yang lain "bantu yang terluka"
"Baik"
"Hei, siapa Swordmaster itu?" bisik seseorang.
"Entahlah, apa kau lihat dia sangat hebat"
"Benar benar"
Berkat kemunculan Ferderick yang tak terduga, para ksatria hanya membicarakan sosok misterius yang telah membantu mereka itu dan melupakan Rubia yang bersikap aneh.
Bersambung.......................
__ADS_1