Queen Sword

Queen Sword
Eps 52 Memasang Perisai sihir


__ADS_3

Merge menghampiri Rubia yang sedang berada di pangkuan Axel, ia mengecek kondisi tubuh Rubia, tangannya menyentuh telapak tangan Rubia.


"Sangat dingin, lebih baik kita segera bawa Yang Mulia ke tenda Tuan sebelum suhu tubuhnya semakin menurun"


"Iya kau benar"


Axel bergegas menggendong Rubia dan membawanya turun dari puncak gunung Evort, para pasukan ksatria pun mengikutinya. Merge dan Maria menghampiri Ferderick yang masih bersimpuh ditanah yang dingin itu.


"Tuan Ferderick anda baik baik saja?Bisakah anda berjalan sendiri?" Tanya Maria yang direspon dengan anggukan lesu oleh Ferderick.


.


Sampai di barak para ksatria segera menyalakan perapian disekitar tempat Rubia tertidur.Hari mulai gelap, malam terasa sangat sunyi, para ksatria berkumpul duduk di sekitar perapian tanpa bersuara, mereka lega karena akhirnya monster telah lenyap dan mereka bisa segera kembali dan berkumpul dengan keluarga mereka lagi.


Namun disisi lain mereka amat menghawatirkan kondisi Putri mereka yang sampai saat ini belum juga sadarkan diri,perjuangannya sungguh diluar dugaan, satu satunya keluarga kerajaan yang begitu gigih melindungi bawahannya, orang orang semakin khawatir karena tubuh Rubia menolak kekuatan suci dari pendeta penyembuh, itu karena saat ini ia adalah seorang penyihir.


Ferderick masuk ke tenda Rubia, disana Axel terus menggenggam tangannya, wajahnya sangat sedih melihat tunangannya yang masih belum sadarkan diri, bahkan suhu tubuhnya masih tetap dingin meskipun telah dikelilingi oleh perapian.


Axel menoleh ke arah Ferderick "Apa yang ingin kau lakukan?" tanyanya dengan raut wajah galak.


Ferderick berjalan mendekat "Yang Mulia pernah berkata bahwa saya adalah obat paling mujarab bagi beliau, Hanya dengan menggenggam tangannya beliau bilang merasa baikkan, ini terdengar alasan dan tak masuk akal tapi bisakah kali ini saya mencobanya lagi Ketua? Saya tidak memiliki maksud apapun, saya hanya berharap Yang Mulia lekas tersadar"


Axel cukup terperanjat mendengarnya,ia terdiam sejenak tangannya mengepal,ia terfikirkan dengan kata kata Rubia saat itu yang mengatakan bahwa Ferderick adalah penyempurna jiwanya, dalam fikirannya terbesit kekesalan mengapa bukan dirinya yang berperan sebagai penyempurna jiwanya? Mengapa harus lelaki lain yang menggenggam tangannya, ia sangat kesal dan frustasi karena tak ada yang bisa ia lakukan di situasi itu.Harga dirinya terluka karena ia merasa tersaingi dan tak tenang oleh seorang pengawal pribadi dengan status sosial yang jauh lebih rendah dari dirinya.


Axel melepaskan tangan Rubia, ia bangun dari duduknya "Jangan melewati batasmu" ucapnya dengan wajah kesal seraya berjalan melewati Ferderick, ia keluar dari tenda Itu.


Axel menghampiri para ksatrianya yang sedang berkumpul dalam diam, seseorang bangun dan menghampirinya.

__ADS_1


"Ketua, bagaimana keadaan Yang Mulia?" Axel hanya menggeleng


"Persiapkan semua barang barang, kita akan segera kembali keistana setelah Yang Mulia Putri bangun" lalu ia pergi keluar barak, ia ingin menenangkan diri sejenak, menata perasaannya yang sedang tak karuan.


.


Malam semakin larut,Ferderick mengelap keringat dingin di dahi Rubia dengan lembut sepanjang malam ia terjaga dan hanya melakukan hal itu.


Matahari telah kembali muncul, cuaca terasa semakin hangat, Perlahan suhu tubuh Rubia menghangat, ujung jari tangan yang digenggam olehnya bergerak, Rubia membuka matanya, ia menemukan Ferderick yang sedang memejamkan mata dengan posisi duduk seraya tangannya tetap menggenggam tangan Rubia dengan erat.


Satu tangan Rubia menggenggam punggung tangan Ferderick membuatnya terbangun.


Ferderick segera menegakkan punggungnya yang bersandar dikursi kayu "Yang Mulia, anda sudah sadar? Bagaimana kondisi tubuh anda?"


"Aku sudah jauh lebih baik, ini berkatmu terimakasih Fer" Rubia bangun dan duduk di tempat tidurnya.


"Syukurlah Yang Mulia"


"Mereka semua baik baik saja, yang terluka juga sudah diobati"


"Baguslah" Rubia turun dari tempat tidurnya.


"Anda mau kemana dengan tubuh yang masih lemah?" Ferderick ikut bangun.


"Aku baik baik saja, aku akan memeriksa keadaan para ksatria" Rubia berjalan keluar dari tenda.


Ketika Rubia keluar para ksatria serentak menghampiri Rubia "Yang Mulia, bagaimana keadaan anda?" mereka mulai mengerubungi Rubia, raut wajah mereka terlihat haru bercampur sedih sekaligus bahagia.

__ADS_1


"Aku baik baik saja, apa kalian terluka?"


"Kami baik baik saja Yang Mulia, bahkan saya sangat kuat, saya juga saya juga" Seketika suara riuhan yang ceria terdengar, Rubia tak menyangka ternyata dirinya begitu dipedulikan oleh banyak orang, ia merasa sangat terharu.


Axel yang mendengar suara Rubia segera berlari menghampirinya, ia memegang kedua tangan Rubia "Yang Mulia, saya pikir anda akan meninggalkan saya" ucapnya dengan mata berkaca kaca. Rubia tersenyum menepuk pundaknya lembut.


"Aku baik baik saja, jangan khawatir" Rubia melihat ke sekitarnya "Mari kita kembali ke istana" ucapnya yang direspon sorakan kegembiraan dari para ksatria.


***


Seorang wanita memakai jubah hitam yang menutupi sebagian wajah atasnya, bibirnya terlihat kehitaman dan tubuh yang kurus tinggi sedang berdiri dengan getir di dalam gubuk kayu bernuansa coklat yang terletak di tengah hutan dihadapan Duke Verano yang memasang wajah amat suram.


"Aku sudah memberimu yang kau inginkan tapi kau tak becus menghabisi satu orang saja, apa gunanya kemampuanmu itu" Serunya dengan nada suara dingin.


Wanita itu mulai menggertakan giginya "Tuan Duke, aku pun sudah menuruti kemaunmu dengan mengerahkan monster kepada anak itu, anak itu telah menjadi penyihir yang amat kuat, bukan salahku jika rencana anda gagal"


"Apa kau bilang?" teriak Duke marah.


Wanita itu mendongakkan wajahnya menatap Pria dihadapannya, ia melangkah perlahan mendekati Duke dengan mata merah darah menyala yang terlihat jelas, bibirnya tersenyum smirk, Duke merasakan kengerian dari sorot matanya, duke pun melangkah mundur ketakutan "Aku memang menurutimu, tapi aku tak pernah bilang ingin menjadi pesuruhmu, dasar tamak,sudah lama aku tak bermain main dengan manusia serakah sepertimu, lihatlah mataku, mulai sekarang kau akan menuruti perintahku, apa kau mengerti Duke?" gumamnya lirih.


Tatapan mata Duke seketika menjadi kosong, ia hanya mengangguk menuruti kata kata dari penyihir hitam itu. "Aku akan membuatmu dan Putramu menjadi, penguasa tertinggi di kekaisaran tapi Jiwamu harus menjadi milikku, sebagai gantinya saat nanti kau semakin berkuasa kau harus menuruti semua keinginanku, dan akulah yang akan menjadi Raja sebenarnya hihihi, setelah cukup bermain main aku akan menghancurkan kekaisaran dan memusnahkan semua orang hahahaha, akhirnya tiba saatnya aku membalaskan dendam dengan orang orang yang pernah meremehkanku"


Lagi lagi Duke verano hanya mengangguk setuju dengan sorot mata sayu, penyihir itu menghipnotis nya dan memanipulasi pikirannya, penyihir itu malah memanfaatkan Duke dengan mengendalikan dirinya dengan sihir hitam.


Awalnya ia tak berniat melakukan itu tapi pada akhirnya Duke mulai meremehkannya seperti yang orang orang istana lakukan padanya dulu sehingga api dendamnya kembali berkobar.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2