Queen Sword

Queen Sword
Eps 76 Kemunculan mengejutkan setelah tidur panjang


__ADS_3

Para bangsawan sangat terkejut dengan kemunculan Rubia yang tiba tiba dengan penampilan sehabis latihan berpedang yang ala kadarnya, apalagi dengan cara membuat kegaduhan sampai menghancurkan sebuah pintu, mereka semua langsung bangun dari duduknya begitu melihat wajah Rubia yang tak terlihat selama seminggu ini.


Rubia berjalan mendekat ke tempat duduk Permaisuri, Permaisuri segera menyingkir "Yang Mulia Permaisuri sudah kubilang anda tak bisa meninggalkan kediaman anda kan? Mengapa anda keluar dan berada disisni?" Permaisuri hanya terdiam dengan tubuh yang masih gemetar. "Penjaga, antar permaisuri ke kediamannya, sepertinya Ibuku sedang tidak enak badan, beristirahatlah" Permaisuri pun pergi bersama dua orang penjaga yang berjaga di depan pintu tanpa perlawanan. Rubia duduk di kursinya dengan santai, ia melirik ke wajah Duke Verano dan Putranya yang terlihat sangat kesal, itu membuat Rubia ingin tertawa tapi ia harus menahannya.


"Kalian boleh duduk kembali, maafkan atas keributan yang kutimbulkan, aku akan memperbaiki pintu itu dengan anggaran dana pribadiku sendiri" Rubia tersenyum tipis. Sementara semua orang masih terlihat sangat terkejut, mereka terus terusan saling memandang satu sama lain.


"Baginda, bukankah itu tindakan tidak sopan dan bisa membahayakan orang orang yang berada didalam ruangan?" celetuk Duke Verano.


"Aku bisa mengendalikan kekuatan sihirku dengan sempurna jadi kalian tak perlu menghawatirkan hal seperti itu, lihatkan kalian sama sekali tak tergores, daripada itu apa yang sedang terjadi disini? Apa ada hal penting yang harus kalian rundingkan sampai Permaisuri berada disini?"


"Baginda, bagaimana kesehatan anda?" tanya salah satu bangsawan.


"Seperti yang kau lihat aku baik baik saja, mengapa?"


"Kami berada disini untuk merundingkan tentang pemegang takhta berikutnya jika anda tak segera bangun, lalu karena kami mendengar tentang kutukan di tubuh anda sangat membahayakan jadi kami ingin.." ucapnya terhenti.


"Melengserkanku?" seketika suasana berubah menjadi hening.


"Itu benar, kami tidak bisa mentolelir meskipun anda seorang Kaisar jika anda akan membahayakan orang orang disekitar anda maka kami meminta anda untuk menyerahkan takhta kepada orang yang sekiranya pantas" ucap Duke Verano.


"Ahhh, jadi karena masalah di aula istana saat itu, bukankah kalian melihat sendiri mengapa aku berubah menjadi seperti itu? Apa kalian tak ingat bahwa saat itu aku baru saja bertarung dengan seorang penyihir hitam yang tiba tiba menyerangku?" suasana kembali riuh, mereka benar benar melupakan kedatangan penyihir hitam dan hanya fokus dengan perubahan Kaisar yang berubah menjadi iblis pembunuh.


"Jadi maksud anda adalah?"


"Benar, aku terkena sihir hitam, apa sekarang kalian tidak salah paham lagi?"


Para bangsawan segera bangun dari duduknya dan menunduk "Maafkankan kami Baginda, kami telah ceroboh sampai sampai tak mengetahui situasi anda, tolong hukum kami Baginda" ucap mereka dengan serentak.


"Sudah sudah, duduklah lagi" Rubia melambaikan tangannya.


"Apa buktinya?" ucap Duke Verano lantang, seketika semua mata tertuju padanya.


"Bukti yaa.. apa Paman tidak mempercayaiku?"


Wajah Duke mengernyit, disaat saat seperti ini ia sengaja memanggilnya Paman "Benar Tuan Duke, bukti apa yang kau maksud?" jawab seseorang.


"Benar, bagaimana mungkin Baginda membuktikan sesuatu yang tidak nyata?" semua orang setuju dan menyerang permintaan bukti dari Duke.Suasana menjadi sangat riuh.

__ADS_1


Rubia bertatapan mata dengan Duke dan Jasson, Rubia tersenyum menyeringai menatap keduanya bergantian "Saya tidak akan mempermasalahkan rumor yang sudah terlanjur menyebar luas sampai ke telinga rakyat, tapi setelah ini jika ada seseorang yang dengan sengaja menyebarkan rumor yang belum terbukti kebenarannya aku sendiri yang akan menghukum orang itu, dan kalian jangan khawatir karena aku pasti bisa menangkap penyihir hitam itu hidup hidup"


"Benar Baginda penyihir keji itu harus ditangkap dan dibakar hidup hidup" ucap seseorang dengan mata berapi api.


"Sudah sudah, untuk menenangkan rakyat yang gelisah aku berencana mengadakan festival selama sepekan di sepanjang jalan ibu kota sampai alun alun, anggarannya akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak istana, mohon bantuannya untuk menyebarkan kebenarannya kepada rakyat dan juga persiapan untuk festival, apa ada yang keberatan?"


"Tidak ada Baginda, kami setuju" Semua orang tersenyum sumringah selain pasangan Ayah dan anak Verano.


"Baiklah, kalian bisa kembali ke tempat kalian masing masing" Rubia bangun lalu keluar dari ruangan yang sedang berantakan karena ulahnya itu.


.


Sampai di depan pintu kediamannya Penjaga pintu memberitahukan bahwa seseorang tengah menunggunya, siapa kira kira seseorang yang bisa keluar masuk dengan leluasa di kediaman Kaisar? Rubia berjalan masuk menghampiri seseorang yang sedang duduk dengan tenang seorang diri di ruang tamunya.


"Salam Baginda" ucap Ferderick bangun begitu Rubia tiba di hadapannya.


"Ya, duduklah Tuan Count"


"Bagaimana keadaan anda Baginda?"


"Seperti yang kau lihat aku baik baik saja, apa kau datang setelah mendengar aku sudah bangun?"


"Kau pasti sibuk, bagaimana keadaan wilayah Belua yang sudah lama kau tinggalkan?"


"Saya sedang berusaha sebisa saya untuk membuat wilayah saya dan penduduknya kembali makmur"


"Benar, kau memang harus melakukan itu, harus, kau tak perlu memikirkan hal yang lainnya, apa kau mengerti?"


Ferderick mengangguk, ia pun memahami maksud dari memikirkan hal lain itu "Saya mengerti Baginda, jadi anda harus tetap sehat"


"Baiklah, sepakat, dua hari lagi akan diadakan festival besar besaran kau mau berkeliling denganku sebagai rakyat biasa dimalam hari?"


"Dengan senang hati Baginda" Ferderick tersenyum sipu.


.


Waktu terus berlalu, tak butuh waktu lama sampai rumor yang baru mulai tersebar dan semakin meluas, para rakyat yang berfikir telah menyalahpahami Kaisar, mereka merasa sangat bersalah, untuk menebusnya mereka membantu pihak pihak yang bekerja untuk persiapan festival, para rakyat sangat antusias dan bersemangat menghiasi setiap jalan dengan aneka warna lentera, persiapan pun selesai lebih cepat dari perkiraan.

__ADS_1


Para wanita maupun pria, orang tua dan anak anak semuanya berkumpul di sepanjang jalan festival bernyanyi dengan riang, wajah mereka terlihat sangat bahagia, seolah baru saja terlepas dari sebuah beban berat, tak sedikit pula rakyat yang berbondong bondong datang di luar gedung istana dengan harapan dapat melihat wajah Kaisar muda yang bijaksana itu walau hanya sekilas.


Sementara orang orang menunggunya Rubia malah sangat sibuk dengan setumpuk dokumen diatas meja kerjanya tanpa mengetahui bahwa banyak orang yang ingin melihat wajahnya.


"Tok tok" Irena bangun dari duduknya lalu membukakan pintu.


"Tuan Axel Harington, selamat malam"


"Saya ingin menemui Baginda"


"Silahkan masuk"


Rubia bahkan masih menunduk membaca dokumen diatas mejanya, ia tak menyadari kedatangan seseorang, Axel menghampirinya "Salam Baginda"


Rubia melirik ke wajahnya "Kau disini, ada apa?"


"Para rakyat diluar istana menunggu kehadiran anda, sebagai pembukaan acara Festival  bukankah anda harus menampakkan wajah anda terlebih dahulu Baginda, apa anda akan terus menyibukkan diri?"


"Benarkah? Aku benar benar melupakan itu" Rubia melirik ke wajah Irena "Iren, kau boleh melanjutkan pekerjaanmu nanti, nikmatilah festival, bukankah ini kali pertamamu melihat festival ibu kota?"


Wajah Iren tersipu malu "Bolehkah Baginda?"


"Tentu" Iren segera membereskan meja kerjanya lalu keluar dengan semangat.


"Apa kau akan menampakkan wajah bersamaku?" ia menatap Axel yang sudah dengan penampilan terbaiknya.


"Jika anda tak keberatan Baginda"


"Aku akan berganti baju terlebih dahulu"


"Anda sudah menawan dengan pakaian saat ini Baginda"


Rubia melihat bajunya yang lusuh "Tidak mungkin kan aku muncul dengan kemeja lusuh ini? Bagaimana jika Rakyatku sedih karena aku terlihat miskin?"


"Pfftttt, silahkan berganti baju Baginda, saya akan menunggu" ia menahan tawanya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2