
Menghiasi wajahnya dengan balutan make up tipis Sahara sejak tadi nampak sibuk bersiap-siap untuk berangkat ke acara reuni sekolahnya dan sebentar lagi Anjani juga akan datang bersama Arjuna untuk menjemputnya padahal dia sudah bilang bisa berangkat sendirian. Saat ini Sahara sudah hampir siap dengan dress selutut berwarna pink dan rambut yang dikucir dengan sebuah jepit rambut yang menghiasi kepalanya serta tas dan juga sepatu yang berwarna senada dengan pakaiannya.
Setelah memoleskan lipstik kesukaannya Sahara menatap pantulan dirinya dicermin sambil tersenyum puas, sempurna sekarang dia sudah siap untuk berangkat. Beberapa saat setelah dia siap Fahisa masuk ke dalam kamarnya dan memberitau bahwa Anjani sudah menunggu dibawah.
"Mommy sudah cantik belum?" Tanya Sahara sambil menghampiri Fahisa dengan senyuman lebarnya
Tersenyum penuh arti Fahisa mengusap lembut rambut hitam anaknya merasa begitu bahagia melihat Sahara yang sudah dewasa.
"Anak Mommy selalu cantik." Kata Fahisa membuat senyuman Sahara semakin mengembang
"Yasudah Ara mau berangkat ya?" Kata Sahara
"Hm hati-hati nanti minta jemput saja ya?" Kata Fahisa yang merasa tidak enak karena Arjuna terus datang untuk mengantar atau menjemput Sahara
Mengangguk faham Sahara melangkahkan kakinya keluar untuk menghampiri Anjani yang tidak keluar dari mobilnya dan ketika dia masuk kedalam temannya itu langsung tersenyum senang.
"Araa"
Saling berpelukan keduanya terlihat begitu bahagia karena bisa bertemu setelah beberapa minggu terakhir ini mereka sama-sama sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Di depan Arjuna tersenyum senang ketika melihat Sahara yang terlihat begitu cantik malam ini membuat jantungnya jadi berdebar dengan cepat.
"Sudah? Kita berangkat sekarang ya?" Kata Arjuna membuat keduanya melepaskan pelukan lalu mengangguk singkat
Saat mengalihkan pandangannya ke arah Arjuna yang sedang menyetir Sahara baru sadar kalau pria itu mengenakan setelan jas yang begith rapih.
"Malam ini Kakak rapih sekali, apa Kakak ingin pergi juga?" Tanya Sahara penasaran
Terdiam sesaat Arjuna nampak ragu ingin mengatakan bahwa dia akan pergi menemui rekan kerja Papi nya, jadi yang Arjuna lakukan hanyalah mengangguk singkat dan memberikan jawaban yang menurutnya paling masuk akal.
"Biasalah Ra masalah kerjaan." Kata Arjuna membuat Sahara mengangguk faham lalu kembali mengajak Anjani berbicara
Sepanjang perjalanan kedua mengobrol sambil sesekali tertawa karena membicarakan masa putih abu-abu mereka. Setelah menempuh perjalanan selama hampir dua puluh menit akhirnya mereka sampai di salah satu restoran mewah tempat diadakannya acara.
Tapi, sebelum sempat pergi Anjani yang mengerti keluar lebih dulu dan membiarkan Kakaknya berbicara dengan Sahara di dalam mobil.
"Ra"
"Iya?"
"Jangan dekat-dekat sama Kevin ya?" Kata Arjuna sambil menatap mata Sahara dengan begitu dalam
Setelah terdiam untuk beberapa waktu Sahara mengangguk patuh lalu mengatakan bahwa dia akan pergi sekarang.
"Aku ke sana ya Kak? Kakak hati-hati di jalan." Kata Sahara
Menghampiri Anjani yang sedang menunggunya mereka masuk kedalam sambil sesekali berbicara. Saat masuk ke dalam keduanya disambut dengan heboh oleh teman-teman mereka karena semasa SMA dulu Sahara dan Anjani termasuk siswi yang cukup populer.
Masih ada beberapa orang yang belum datang, tapi acara sudah dimulai dan banyak orang yang saling mengobrol satu sama lain juga. Rasanya seperti kembali ke masa-masa dulu meskipum saat ini mereka tidak memakai seragam sekolah dan wajah pun sudah sedikit berubah, tapi berkumpul seperti ini membuat Sahara senang.
Hanya saja dibalik itu semua dia merasa takut akan satu hal.
Bagaimana kalau dia bertemu dengan Kevin?
"Sahara"
Panggilan dari suara yang sangat dia kenali terdengar di telinganya, Sahara tau dari mana suara ini datang karena dulu suara ini pernah menjadi suara yang paling dia suka dan dia rindukan.
Benar, ketika membalikkan tubuhnya Sahara dapat melihat orang itu dengan begitu jelas padahal baru beberapa detik yang lalu dia berfikir tentangnya dan sekarang orang itu sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya sambil melambaikan tangan.
Kevin
Pria itu terlihat tampan dengan stelan jas ditubuhnya, tapi Sahara tidak merasakan getaran apapun dan ketika pria itu berjalan mendekat Sahara merasa aneh dia ingin pergi.
__ADS_1
Dia tidak ingin menemui Kevin.
Tapi, terlambat karena pria itu sudah lebih dulu berdiri dihadapannya dan menarik Sahara kedalam sebuah pelukan hangat yang membuat orang -orang disana bersorak ketika melihatnya.
"Ra aku kangen banget sama kamu." Kata Kevin sambil memeluk Sahara dengan erat
Menahan nafasnya Sahara merasa jantungnya berdebar dengan cepat, tapi dia tidak suka berada di dalam pelukan Kevin dan sejak tadi tangannya pun hanya diam tidak ingin membalas pelukan itu sama sekali.
"Kamu apa kabar? Maaf karena gak pernah kasih kabar ke kamu selama aku di Belanda." Kata Kevin
Masih belum memberikan respon Sahara malah mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan mendapati teman-temannya yang menatap mereka, tapi ketika matanya bertemu dengan milik Anjani dia jadi takut.
Bagaimana kalau Anjani mengatakan kepada Arjuna?
Bagaimana kalau nanti Arjuna salah faham dan menjauhinya?
"Aku baik." Kata Sahara sambil menjauhkan dirinya membuat Kevin sedikit tersentak
"Masih marah itu Kevin lo sih ninggalinnya kelamaan gak ngasih kabar lagi." Celetuk Farrel teman baiknya
Tertawa kecil pria itu kembali mengatakan hal yang membuat orang-orang berseru heboh, tapi sebaliknya malah membuat Sahara jadi tidak nyaman.
"Tapi kan hati gue tetep buat dia." Kata Kevin sambil menatap ke arah Sahara
Tatapan matanya masih sama seperti dulu itu yang dapat Sahara rasakan dan ketika Kevin berjalan mendekat lalu menggenggam tangannya Sahara hanya diam sambil menatap ke arah tangan mereka.
"Kita bicara sebentar yuk Ra? Kamu marah kan sama aku?" Kata Kevin membuat Sahara hanya diam
"Nanti aja ini masih acara masa mau ditinggal-tinggal." Kata Sahara sambil melepaskan genggaman tangannya
"Oke kalau gitu habis acara ya? Nanti aku antar kamu pulang sekalian." Kata Kevin yang entah kenapa dijawab dengan anggukan olehnya
Saat akan pergi menghampiri Anjani sekali lagi pria itu menahannya membuat Sahara menatapnya dengan malas.
Menggelengkan kepalanya pelan Sahara kembali melepaskan tangan yang menggenggamnya.
"Aku mau sama Jani." Kata Sahara
Setelah mengatakan hal itu Sahara langsung meninggalkan Kevin dan bergegas menghampiri Anjani yang sedang mengobrol dengan salah satu teman mereka.
Melihat hal itu Kevin tersenyum sinis, dia sangat tau kalau sampai sekarang Arjuna masih menjadi musuhnya dalam hal memiliki Sahara.
"Cie habis ketemu mantan ya Ra?" Ledek Frida teman sekelasnya dulu
Berdecak kesal Sahara menatap wanita itu dengan malas, mantan apanya mereka saja tidak memiliki hubungan apapun.
"Apasih ihh!" Kata Sahara kesal
"Dia sukanya sama Kakak gue Da." Kata Anjani sambil tertawa kecil
Secara refleks Frida menatap Sahara dengan tidak percaya padahal dia kira teman baiknya itu akan terus menyukai Kevin sampai sekarang, tapi ternyata perkiraannya salah besar.
"Serius Ra? Sama Kak Juna? Wah gila dia ganteng banget sih emang." Kata Frida membuat Sahara menatapnya tidak suka
Melihat hal itu Anjani menghela nafasnya lega setidaknya dia tau kalau Sahara mencintai Kakaknya dan itu artinya keputusan Arjuna yang sampai menolak perjodohan tidak akan sia-sia karena perasaannya terbalas. Namun, dilain sisi Anjani juga takut kalau teman baiknya itu kembali jatuh cinta dengan Kevin karena dia pernah dengar kalau cinta pertama itu sulit untuk dilupakan.
Selain itu Anjani juga sangat tau bahwa Kevin adalah orang yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia mau.
¤¤¤¤
Menghadiri acara makan malam dengan rekan kerja Abian ternyata adalah keputusan yang salah karena disana mereka hanya membicarakan masalah saham dan saham lalu sekalinya berubah malah membahas masalah perjodohan. Dihadapan Arjuna ada Vania wanita yang seumuran dengannya dia cantik, tapi Arjuna sama sekali tidak tertarik bahkan sampai sekarang fikirannya hanya dipenuhi oleh Sahara.
__ADS_1
Berbeda dengan Vania yang terlihat antusias Arjuna sama sekali tidak menikmati acara makan malam ini dan ingin segera pergi. Sejak tadi dia sama sekali tidak bicara kecuali sedang ditanya dan makanan yang ada di hadapannya juga hanya dia makan seadanya.
"Juna kamu terlihat tidak bersemangat, kenapa?" Tanya Devandra rekan kerja Papi nya
Tersenyum kecil Arjuna hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu meminta izin untuk pergi ke kamar mandi.
"Aku ke kamar mandi dulu." Kata Arjuna sambil melangkahkan kakinya pergi
Memandangi Arjuna yang melangkah pergi Vania tersenyum kecil, sepertinya dia perlu bicara dengan pria itu karena benar kata Papa nya Arjuna terlihat tidak bersemangat.
"Maaf ya Juna memang gitu mungkin dia lagi banyak kerjaan." Kata Abian
"Tidak papa Yan aku mengerti." Kata Devandra
Sekitar lima menit Arjuna sudah kembali dari kamar mandi dan mendudukkan dirinya masih dengan ekspresi yang sama, dia ingin pergi.
"Mungkin kamu dan Vania bisa mengobrol." Kata Devandra
Mengangguk singkat Arjuna mengikuti langkah kaki Vania yang berjalan keluar dan mendudukkan dirinya disalah satu bangku yang ada. Keheningan menyelimuti keduanya untuk waktu yang cukup lama sampai akhirnya Arjuna mulai bicara.
"Kamu setuju dengan perjodongan itu? Aku tidak." Kata Arjuna tanpa basa-basi membuat wanita dihadapannya itu cukup terkejut ketika mendengarnya
"Kenapa?" Tanya Vania
"Aku mencintai seseorang dan aku tidak mau membuat orang lain terluka dengan menerima perjodohan ini." Kata Arjuna tanpa ada keraguan sedikitpun
"Tapi Om Abian mau kamu menikah sama aku." Kata Vania sambil menatap Arjuna yang tetap memandang lurus kedepan
"Aku akan bicara sama Papi dan kamu hanya perlu bicara sama Om Devandra bahwa perjodohan ini tidak bisa dilanjutkan." Kata Arjuna
"Kenapa aku harus melakukannya?" Tanya Vania
"Sudah kubilang aku tidak mau menyakiti orang lain karena bahkan meskipun kita menikah nanti aku tidak akan bisa mencintai kamu dan pernikahan itu malah akan menyakiti banyak orang." Kata Arjuna sambil menoleh dan menatap Vania tanpa ekspresi
"Kalau aku tidak mau?" Kata Vania membuat Arjuna menghela nafasnya pelan
"Maka hanya aku yang akan bicara sama Papi dan menghentikan perjodohan ini." Kata Arjuna dengan tegas
"Perkataan kamu sekarang juga sudah menyakiti aku." Kata Vania
Menghela nafasnya panjang Arjuna menatap Vania dengan dalam lalu mengatakan hal yang membuatnya tertegun.
"Perjodohan itu akan semakin menyakiti kamu"
"Kenapa tidak mau mencoba dulu? Mungkin nanti kamu bisa suka sama aku." Kata Vania setelah cukup lama terdiam
Tersenyum tipis Arjuna benci kata itu karena baginya tidak ada kata mencoba.
"Tidak seharusnya seorang pria melakukan itu Vania mungkin orang lain bisa, tapi kalau aku tidak karena ketika aku mencintai seseorang maka aku akan terus mencintai dia." Kata Arjuna membuat wanita dihadapannya menatap dengan penuh kekaguman
"Tapi, perasaan bisa berubah seiring berjalanannya waktu." Kata Vania lagi
"Tidak akan pernah berubah kalau kamu tidak menginginkannya berubah"
"Wanita itu sangat beruntung karena disukai pria seperti kamu." Kata Vania
Tersenyum manis Arjuna langsung membayangkan wajah Sahara sekarang dan mendadak dia jadi merindukannya.
Bukan Sahara, tapi Arjuna yang merasa beruntung bisa mencintai wanita sepertinya.
"Nanti aku akan bicara sama Papa"
__ADS_1
¤¤¤¤