Sahara In Love

Sahara In Love
S2 (38)


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu perut Sahara semakin besar dan tanpa terasa kehamilannya sudah memasuki bulan ke enam. Setiap satu bulan Sahara selalu memeriksakan kandungannya dan sejauh ini bayinya sangat sehat di dalam sana, tapi ketika malam dia sangat lincah di dalam perutnya hingga membuat Sahara kesulitan untuk tidur.


Salah satu orang yang sangat-sangat antusias adalah Alana dia selalu bertanya masih berapa lama lagi dan apa jenis kelaminnya bahkan sepanjang waktu Alana terus mengikuti kemanapun Sahara pergi. Seperti sekarang ketika Sahara baru saja selesai makan siang karena tadi dia melewatkannya dengan alasan belum lapar dan sejak makan hingga selesai Alana terus ada disampingnya.


Hingga Sahara pergi ke ruang tengah dan duduk di atas karpet Alana masih mengikutinya lalu ikut duduk dihadapannya. Menahan tawanya Sahara meminta Alana untuk mendekat lalu mencubit pipi anak itu dengan gemas.


"Ana tidak main?" Tanya Sahara dengan lembut


Alana tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan.


"Mami kapan adik bayinya lahil? Ana ketemu." Kata Alana entah untuk yang keberapa kalinya


"Masih tiga bulan lagi sayang sabar ya?" Kata Sahara sambil mengusap lembut puncak kepala anaknya


"Mami adik bayinya pelempuan kan?" Tanya Alana


Sahara hanya tersenyum menanggapinya, jujur saja kali ini dia tidak menanyakan jenis kelamin anaknya pada dokter biar saja menjadi kejutan untuk mereka.


"Nanti kalau adik bayinya sudah lahir Ana baru tau." Kata Sahara membuat bibir Alana mengerucut sebal


"Mami Mami kata Lala nanti kalau ada adik bayi Mami gak sayang Ana lagi, memang benal ya?" Tanya Alana


"Enggak dong sayang." Kata Sahara


"Benel kan belalti Lala bohong cama Ana." Kata Alana


Tertawa kecil Sahara menatap wajah anaknya dengan lekat, mirip sekali Alana dengan dia ketika masih kecil pantas saja Daddy dan Mommy nya sangat memanjakan Alana.


Bentuk wajahnya benar-benar duplikat Sahara sekali hanya ada beberapa bagian yang mirip dengan Arjuna.


"Ana sayang sama Mami gak?" Tanya Sahara


Tersenyum manis Alana menganggukkan kepalanya dengan semangat lalu berdiri dan mencium kedua pipi Sahara.


"Cayang banget"


Ikut tersenyum Sahara memeluk anaknya dengan sayang.


"Mami juga sayang banget sama Ana." Kata Sahara


Tengah asik berpelukan suara Arjuna terdengar membuat Alana melepaskan pelukan dan langsung berlari ke arah Arjuna lalu melompat ke dalam pelukannya.


"Papiiii"


Tertawa kecil Arjuna mengangkat tubuh Alana lalu mencium pipi anaknya berkali-kali dan mendudukkan dirinya di samping Sahara.


"Angga mana sayang?" Tanya Arjuna


"Kakak mainn cama Kak Will." Kata Alana


Mengangguk faham Arjuna membawa kantung belanjaannya dan membuat Alana bersorak senang lalu mencari coklat yang tadi dia minta untuk dibelikan. Melihat anaknya yang terlihat begitu bersemangat membuat Sahara menggelengkan kepalanya pelan, tapi senyumnya mengembang dengan sempurna ketika Arjuna memberikan apa yang tadi dia inginkan.


Coklat


Sebelum Sahara sempat membukanya Arjuna sudah lebih dulu mengambil alih dan membukakan coklat untuknya.


"Makasihhh"


Arjuna hanya tersenyum lalu mengusap rambut hitam istrinya dengan lembut.


"Papi tadi Ana temenin Mami makan." Kata Alana dengan semangat


Sebelumnya Arjuna memang selalu mengatakan kepada anak-anaknya untuk selalu menemani Sahara dan mereka menurut apalagi Alana yang sangking menurutnya meskipun ada Arjuna selalu ingin berada di dekat Sahara.


"Pintar sekali anak Papi." Kata Arjuna membuat senyum Alana semakin mengembang dengan sempurna


"Papi Papi adiknya Ana pelempuan kan?" Tanya Alana lagi


Setiap hari Alana selalu menanyakan hal itu kepada Sahara dan Arjuna sambil menatap keduanya dengan penuh harap. Awalnya Arjuna ingin bertanya tentang jenis kelamin anaknya pada dokter, tapi Sahara mengatakan jangan karena dia ingin itu sebagai kejutan.


Arjuna hanya menurut saja.


"Rahasia dong sayang." Kata Arjuna


"Lahacia telus." Keluh Alana membuat Arjuna dan Sahara tertawa melihatnya


Beberapa saat setelahnya Airlangga muncul, tapi ketika melihat cara berjalan anaknya mata Sahara membulat dan dengan panik dia lamgsung berdiri lalu menghampiri anaknya. Semakin dekat matanya semakin membulat ketika melihat darah yang terlihat jelas di dengkul anaknya.


"Angga kamu kenapa sayang?" Tanya Sahara panik


"Jatuh di comberan." Kata Airlangga membuat Sahara melotot ketika mendengarnya


"Kenapa bisa? Ada yang dorong kamu?" Tanya Sahara yang langsung dijawab dengan gelengan singkat oleh anaknya


"Tadi mau ambil bola yang masuk comberan terus pas mau naik jatuh." Kata Airlangga

__ADS_1


Menghela nafasnya pelan Sahara langsung meminta Arjuna untuk mengambil kotak P3K lalu Sahara membantu anaknya untuk duduk disamping Alana.


Si kecil Alana yang melihat kaki Kakaknya terluka bergidik ngeri, dia tidak suka melihat darah.


"Selalu kalau main bola pasti jatuh dan pulang pasti luka." Omel Sahara


"Tidak papa Mami nanti kan sembuh." Kata Airlangga sama sekali tidak mengerti Sahara yang merasa kesal


"Mami cemas Angga lihat dong Kaki kamu banyak banget lukanya." Kata Sahara


"Tapi, sudah sembuh Mami." Kata Airlangga


Menghela nafasnya pelan Sahara memilih diam lalu menerima kotak P3K yang suaminya bawa dan mulai membersihkan luka di kaki anaknya. Sebenarnya bukan luka parah, hanya luka biasa yang bisa diobati sendiri, tapi tetap saja Sahara merasa cemas.


Selalu begitu kalau Airlangga sudah izin main bola pasti ketika pulang ada yang luka atau lecet, tapi suaminya selalu bilang Airlangga laki-laki dan terluka adalah hal yang biasa.


'Jangan terlalu dilarang atau kamu marahi Ra cukup di kasih pengertian saja jangan sampai dia berfikir kalau kamu itu pemarah dan tidak sayang padanya'


Memperhatikan Mami nya yang sedang mengobati luka dengan telaten Airlangga tersenyum senang apalagi ketika sesekali luka di kakinya di tiup dengan pelan.


"Sudah"


"Makasih Mami." Kata Airlangga sambil mencium pipi Sahara dengan sayang


Tersenyum manis Sahara mengacak gemas rambut Airlangga yang setengah basah karena keringat.


Saat ingin berdiri Sahara meringis sambil memegang perutnya yang terasa sakit dan membuat Arjuna langsung sigap menghampirinya.


"Ada apa Ra?" Tanya Arjuna


Sahara tidak menjawab hanya mengeluarkan ringisan sambil memegang perutnya dan menarik nafasnya yang terasa berat.


"Ara"


Memejamkan matanya Sahara merasa perutnya sangat sakit.


"Mami kenapa?"


Suara kedua anaknya terdengar membuat Sahara langsung membuka matanya dan menarik nafasnya cukup panjang lalu menatap mereka berdua sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak papa"


"Ra kita ke kamar saja ya?" Kata Arjuna membuat fokus Sahara berpindah ke arahnya


Perlahan Sahara menganggukkan kepalanya dan dengan hati-hati Arjuna membantunya untuk berdiri, tapi Sahara kembali meringis.


"Sakit sekali?" Tanya Arjuna cemas


Sahara menggelengkan kepalanya pelan dan meminta untuk kembali duduk.


"Mami Mami kenapa?" Tanya Alana dan Airlangga


Tersenyum tipis Sahara mengusap puncak kepala mereka bergantian lalu menggelengkan kepalanya pelan.


Membawa tangan kecil Alana ke atas perutnya Sahara tersenyum tipis dan bersamaan dengan dia yang menahan ringisan Alana menarik tangannya karena kaget.


"Mami itu apa?" Tanya Alana takut


"Adiknya Ana." Kata Sahara pelan


Mendengar itu helaan nafas lega Arjuna terdengar, ternyata karena tendangan anak mereka di perut Sahara.


Senyum Alana mengembang dia kembali meletakkan tangannya di perut Sahara dan kali ini Airlangga ikut melakukan hal yang sama, tapi tidak ada pergerakan apa-apa.


"Adiknya gak mau cama Kakak." Kata Alana membuat Sahara tertawa mendengarnya


Tapi, sesaat setelahnya dia kembali meringis karena gerakan di dalam perutnya dan kedua anaknya langsung tersenyum lebar.


"Adiknya pasti laki-laki Mami dia menendang pasti mau ajak Angga main bola." Kata Airlangga dengan semangat


"Enggak!" Seru Alana dengan wajah galaknya


Airlangga baru ingin mengatakan sesuatu, tapi Arjuna langsung menengahi sebelum kedua anaknya kembali melanjutkan perdebatan.


"Sst jangan berantem nanti adiknya marah." Kata Arjuna


Wajah Alana terlihat cemberut, tapi dia tetap menganggukkan kepalanya dan memeluk Sahara dari samping.


"Ana maunya adik pelempuan." Kata Alana pelan


Tertawa kecil Sahara mengusap puncak kepala anaknya dengan sayang, tapi tidak mengatakan apapun.


"Masih sakit?" Tanya Arjuna lagi


Sahara menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Ke kamar?" Tanya Arjuna


Sahara menganggukkan kepalanya.


"Ana lepas dulu Mami nya ya? Kita ke kamar Mami lelah mau tiduran." Kata Arjuna


Alana mengangguk faham lalu melepaskan pelukannya dan mengikuti langkah kaki kedua orang tuanya.


Sampai di kamar Sahara langsung duduk di tepian ranjang dan dengan dibantu Arjuna merebahkan dirinya di ranjang. Ada kedua anaknya di depan pintu kamar yang sedang menatap ke arahnya sambil tersenyum.


Ahh Sahara sayang sekali dengan mereka semua.


¤¤¤


Semalaman Sahara kesulitan untuk tidur dan terus bergerak gelisah karena merasa posisi tidurnya tidak nyaman bahkan Arjuna sampai rela membuka matanya, menemani Sahara sampai istrinya itu bisa tertidur. Entah kenapa dikehamilan yang ketiga ini Sahara sering kali sulit untuk tidur dan begitu mudah lelah terkadang untuk turun tangga saja dia sangat malas.


Beruntung suaminya sangat pengertian dan mau menemani Sahara selama dia kesulitan tidur atau ketika dia merasa begitu mual. Terkadang kalau sudah kesulitan untuk tidur Sahara baru bisa tertidur dengan nyenyak ketika menjelang pagi hingha belakangan waktu ini dia jarang sekali ikut sarapan.


"Kenapa hmm?" Tanya Arjuna dengan lembut


"Gak tau Mas gak bisa tidur." Keluh Sahara seperti ingin menangis


"Sini peluk." Kata Arjuna


Mendekatkan tubuhnya Sahara memeluk Arjuna hanya sebentar karena setelahnya dia merasa perutnya sedikit nyeri lalu kembali melepaskan pelukannya.


"Kenapa?" Tanya Arjuna sambil mengusap rambut hitam Sahara dengan sayang


"Mau tidur, tapi gak bisa tidur." Kata Sahara


Tidak tau harus melakukan apa Arjuna hanya bisa mengusap puncak kepala Sahara dengan sayang lalu tangannya yang lain mengusap perut buncit Sahara dan mendekatkan wajahnya kesana, memberikan ciuman.


"Anak Papi belum mengantuk ya? Masih mau main sama Mami? Tapi, Mami sudah mengantuk sayang besok lagi mainnya ya?" Kata Arjuna di depan perut istrinya


Sahara mengerutkan dahinya ketika rasa nyeri itu kembali datang kalau sudah begini rasanya ingin menangis.


"Aku harus apa Ra?" Tanya Arjuna


Sahara menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban bahwa dia juga tidak tau.


Menghela nafasnya pelan tangan Arjuna terus mengusap perut buncit Sahara dengan sayang hingga Sahara mulai merasa tenang.


"Mau minum"


"Minum? Aku ambilkan." Kata Arjuna


"Air hangat"


"Iya sayang." Kata Arjuna


Tak butuh waktu lama bagi Arjuna untuk mengambilkan air minum dan senyumnya terbentuk ketika Sahara menghabiskan minumnya.


"Ada lagi yang kamu butuhin?" Tanya Arjuna


Sahara menggelengkan kepalanya pelan.


"Masih sakit?" Tanya Arjuna lagi


"Sudah tidak terlalu." Kata Sahara


Menghela nafasnya lega Arjuna mencium kening Sahara cukup lama membuat wanita itu memejamkan matanya karena merasa tenang.


"Mau peluk"


Tertawa kecil Arjuna membawa Sahara ke dalam pelukannya dengan hati-hati.


"Mas Juna ngantuk ya?" Tanya Sahara


"Tidak sayang"


"Maaf ya? Ara nyusahin ya? Mas Juma jadi gak bisa tidur." Kata Sahara


Tersenyum manis Arjuna mencium puncak kepala Sahara berkali-kali, tidak suka dengan perkataan istrinya.


"Jangan katakan hal seperti itu lagi Ra"


Sahara istrinya dan sekarang sedang mengandung anaknya, dia harus selalu ada untuk Sahara kan?


Tidak mungkin dia bisa tidur nyenyak sedangkan istrinya kesulitan untuk tidur bahkan menahan sakit.


¤¤¤


Gemes bangettt sama Ana dan Angga😂


Aku kasih fotonya nih (Btw ini dari pinterest)

__ADS_1



Kayaknya ini bakal selesai review malam banget deh😂


__ADS_2