Sahara In Love

Sahara In Love
S2 (17)


__ADS_3

Sudah lebih dari dua bulan Sahara menjalani kehidupan tanpa Arjuna disisinya, berat rasanya ketika Sahara terbiasa melihat wajah sang suami ketika bangun dari tidur dan akan tidur lagi. Namun, Sahara berusaha keras untuk kuat karena ada Airlangga juga bayi di kandungannya yang membutuhkan Sahara dan akhirnya dia terbiasa dengan semuanya.


Bohong kalau Sahara tidak merindukan Arjuna karena suaminya itu selalu memenuhi fikirannya dan setiap detik Sahara selalu merindukannya, sangat.


Seseorang yang selalu menggodanya setiap pagi, memberikan ciuman di bibirnya, memberikan perhatian, mengingatkan jam makan hingga tidurnya tidak ada bersama Sahara.


Bagaimana mungkin Sahara tidak merasa kehilangan?


Setiap malam Sahara sering menangis kalau melihat foto Arjuna dengan dirinya juga anak mereka, penuh kebahagiaan dan canda tawa.


Meskipun orang tua atau mertuanya sering datang Sahara tetap merasa sepi dan merindukan Arjuna bahkan di kehamilan ini Sahara merasa hampa karena tidak ada sang suami di sampingnya.


Sahara yang biasa meminta ini itu dan mengerjai Arjuna dengan banyak permintaan aneh kini tidak lagi bahkan Sahara cenderung tidak mau apapun.


Setiap kali ditanya Sahara akan menjawab satu kalimat yang membuat orang-orang menatapnya dengan sendu.


"Ara mau Mas Juna"


Saat ini Sahara sedang dalam perjalanan ke butik dengan di antar supir pribadinya dan Arjuna.


Ya, selama beberapa minggu belakangan Sahara selalu pergi ke butik dan menghabiskan waktu seharian di sana.


Dia enggan berdiam diri di rumah yang terus mengingatkan pada Arjuna dan membuat rasa rindunya semakin besar hingga membuatnya sesak bukan main.


Sahara sangat-sangat merindukan Arjuna.


Setelah sampai tanpa mengatakan apapun Sahara turun dari mobil dan menggendong Airlangga lalu membawanya masuk.


Sapaan yang biasa Sahara sambut dengan ramah kini hanya dia abaikan dan Diandra juga Gibran yang selalu menghampirinya setiap datang kini hanya diam dan menatapnya dengan sendu.


Sahara memang banyak berubah.


Memasuki ruang kerjanya Sahara mendudukkan diri di sofa lalu menatap wajah Airlangga yang selalu mengingatkannya pada Arjuna.


Sahara tersenyum sendu lalu mencium seluruh wajah anaknya.


"Baby kamu merindukan Papi? Sudah lama ya kita tidak ketemu sama Papi?" Kata Sahara


Dia menahan nafasnya ketika dadanya terasa sesak lalu kembali tersenyum ketika bibir Airlangga melengkung membentu sebuah senyuman.


"Papa"


"Kangen Papi hmm?" Tanya Sahara


Airlangga mengangguk membuat Sahara tersenyum dan memeluknya dengan erat.


Dia tidak tau akan seperti apa hidupnya kalau tidak ada Airlangga.


"Mama"


"Iya sayang?" Tanya Sahara


"Cucu"


Sahara tersenyum ketika mendengarnya, senang sekali ketika Airlangga mulai bisa mengatakan beberapa kata.


Seandainya Arjuna ada disini pasti dia akan sangat senang mendengarnya.


Sahara menurunkan Airlangga dan membiarkannya berjalan sedangkan dia mengambil tasnya di atas meja untuk mengambil susu yang selalu dia bawa.


Saat memberikannya pada Airlangga anak itu terlihat begitu senang dan langsung diam.


Beberapa saat setelahnya pintu ruang kerja Sahara dibuka dan Gibran masuk ke dalam sambil tersenyum kecil, dia benci melihat Sahara yang terlihat sedih.


"Hey bagaimana pipinya tidak tembam kalau minum susu terus?" Tanya Gibran ketika melihat keponakannya yang asik meminum susu sambil duduk tenang di sofa


Belakangan ini Airlangga memang tidak rewel dan pecicilan seperti biasanya.


"Kakak kenapa kesini? Bukan lagi pemotretan?" Tanya Sahara


"Mau nengokin keponakan aku dulu." Kata Gibran membuat Sahara tersenyum kecil ketika mendengarnya


"Diandra mana?" Tanya Sahara


"Hmm disana lagi sama yang lainnya." Kata Gibran membuat Sahara mengangguk faham dan kembali diam


Dia tidak bisa lagi memulai percakapan dan bercanda dengan Gibran atau yang lainnya karena dirinya sendiri menolak untuk melakukannya.


Sahara lebih banyak diam dan hanya bicara kalau ada yang bertanya atau meminta dia untuk bicara bahkan beberapa kali Sahara meminta Diandra untuk menggantikannya menemui beberapa client.


"Ra"

__ADS_1


"Emm"


"Jangan kayak gini terus Ra, kamu buat aku khawatir." Kata Gibran membuat Sahara tersenyum tipis lalu berkata dengan suara yang begitu lembut


"Kenapa khawatir? Aku baik-baik aja Kak jangan cemas." Kata Sahara


Gibran menghela nafasnya pelan lalu memeluk Sahara dengan erat, dia sudah menganggap Sahara seperti adiknya dan sakit rasanya melihat Sahara yang terluka seperti ini.


"Kalau ada apa-apa cerita sama aku ya? Kamu punya Kakak dan Kakak kamu itu aku jadi cerita kalau ada masalah." Kata Gibran


Sahara bergumam pelan dan membalas pelukan hangat Gibran, dia baik-baik saja sungguh.


"Sudah periksa ke dokter lagi?" Tanya Gibran


"Hmm belum jadwalnya besok." Kata Sahara


"Aku temenin ya? Nanti Airlangga biar sama Aunty Hisa." Kata Gibran


"Iya"


"Makannya banyak kan?" Tanya Girbran yang tau kalau Sahara makan dengan porsi yang sedikit


"Emm lumayan"


Memang terlihat berbeda ketika mengandung Airlangga dulu Sahara terlihat begitu berisi.


"Jangan lewatin makan siang, Arjuna bakal sedih kalau kamu makannya sedikit." Kata Gibran


Sahara hanya mengangguk patuh, dia bukan tidak mau, tapi Sahara merasa tidak nafsu untuk makan bahkan terkadang ketika baru makan beberapa sendok saja dia sudah merasa mual.


"Mertua kamu gimana?" Tanya Gibran


"Sering datang ke rumah apalagi Mami dia sering bantuin Ara kalau ke rumah." Kata Sahara


Gibran tersenyum lalu mengusap sayang rambut hitam Sahara.


"Aku kerja lagi ya? Kalau butuh apa-apa panggil Kakak." Kata Gibran


Sahara hanya bergumam pelan dan memandang Gibran yang sekarang keluar dari ruang kerjanya.


Tatapan Sahara mengarah pada perutnya yang mulai membuncit lalu tangannya terulur untuk mengusap perutnya dan dia tersenyum.


"Mas anak kita sudah mau lima bulan disini, kamu pasti gak sabar kan mau lihat dia lahir ke dunia?"


"Angga mau tidur?" Tanya Sahara


"Ndak"


Sahara tertawa kecil lalu mencubit pipinya dengan gemas.


Arjuna kecilnya sangat menggemaskan.


¤¤¤


Jantung Sahara berdetak dengan begitu cepat ketika sore ini mendapat telpon dari mertuanya dan dengan segera dia meminta untuk di antar ke rumah keluarga Dirgantara. Selama perjalanan Sahara merasa begitu cemas dan tidak sabar hingga akhirnya ketika sampai dengan membawa Airlangga digendongannya dia berjalan dengan terburu-buru memasuki rumah keluarga Dirgantara.


Saat masuk dan mendapati ada beberapa keluarga mertuanya yang mengelilingi ruang tamu Sahara semakin cemas, tapi dia tetap berjalan dengan langkah yang melambat. Nafasnya tertahan ketika melihat seseorang yang sangat dia kenal duduk disana dengan tubuh yang sedikit lebih kurus juga beberapa perban yang masih melekat disana.


Saat sang mertua mengambil Airlangga dari gendongannya Sahara bergegas menghampirinya dan memeluk dengan hati-hati, tidak mau menyakitinya. Suara tangisan Sahara kembali terdengar, Sahara tidak menyangka kalau dia ada disini sekarang.


Merasa jika keduanya membutuhkan waktu yang lainnya segera pergi dan membiarkan Sahara bersama dengan suaminya.


Iya, bersama Arjuna.


Sahara terisak dengan keras dan hal itu membuat Arjuna merasa sesak, dia membuat istrinya menangis penuh luka.


"Ara"


Sahara semakin menangis ketika mendengar suara yang sangat ia rindukan selama dua bulan belakangan.


"Awhh"


Saat mendengar suara ringisan Sahara segera melepaskan pelukannya dan menatap cemas suaminya.


"Kenapa? Sakit ya? Maaf." Kata Sahara lirih


Arjuna tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan lalu berkata dengan suara yang hampir tak terdengar.


"Jangan nangis"


Bukan berhenti Sahara malah semakin menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

__ADS_1


Melihat hal itu Arjuna semakin merasa bersalah apalagi ketika dia menyadari jika istrinya terlihat lebih kurus padahal dia sedang mengandung.


"Maaf Ra"


Sahara menghapus air matanya lalu menggelengkan kepalanya pelan dan memberikan sebuah senyuman.


"Jangan minta maaf, kenapa enggak bilang kalau mau pulang?" Tanya Sahara


"Kejutan"


Sahara tertawa ditengah tangisnya lalu menatap wajah Arjuna dengan begitu lekat, sosok yang sangat ia rindukan sekarang ada dihadapannya.


"Kamu kurus"


Tersenyum tipis Sahara enggan untuk mengatakan jika dia memang jarang makan atau makan dengan porsi yang sangat sedikit.


"Pipinya gak tembem lagi"


"Masih kok, masih bisa dicubit." Kata Sahara sambil mencubit kedua pipinya sendiri


Arjuna tersenyum melihatnya, dia sangat merindukan Sahara dan selama proses pengobatan juga pemulihan fikirannya selalu dipenuhi dengan Sahara, istri tercintanya.


"Kangen"


Memasang wajah sedihnya Sahara mengangguk pelan lalu tangannya terulur untuk menjelajahi wajah Arjuna yang masih terdapat beberapa goresan disana.


"Jadi jelek ya?"


Sahara menggeleng tidak setuju.


"Anak kita?"


"Baik dan dia sangat baik." Kata Sahara sambil mengusap perutnya yang sedikit buncit


"Maaf"


"Jangan minta maaf!"


"Maaf"


"Jangan minta maaf Mas!"


"Maaf Ra"


Sahara menghela nafasnya pelan dan mengusap sayang tangan suaminya yang tidak lagi terasa dingin seperti sebelumnya.


"Mas Juna sudah sembuh kan?" Tanya Sahara takut


"Hm hanya sedikit sakit dan nyeri"


"Jangan sakit lagi ya?"


"Maaf"


"Jangan sakit lagi!"


"Maaf karena membuat kamu menangis"


Sahara hanya mengangguk singkat dan kembali memeluknya dengan sangat hati-hati.


Arjunanya sudah kembali.


¤¤¤


"Ara"


Mata Sahara membelak dan dia langsung menangis ketika melihat mata suaminya yang terbuka dan pergerakan di jari tangannya.


"Ara"


Sahara kembali menangis lalu ketika dia ingin pergi tangan lemah Arjuna menyentuhnya dan membuatnya menoleh.


Tapi, setelahnya Arjuna terlihat menahan sakit dan membuat Sahra berlari keluar untuk memanggil dokter.


Setelah diperiksa cukup lama dan dokter itu kembali menjelaskan semuanya Abian memutuskan untuk memindahkan Arjuna ke rumah sakut di singapur.


Semua orang setuju, tapi Sahara yang sebelumnya mengatakan akan ikut segera dilarang karena dia tengah hamil dan Sahara juga orang yang terlalu mudah cemas.


Akhirnya semua memutuskan untuk membawa Arjuna ke singapur dan hanya Abian juga Daffa yang bergantian menjaganya.


Saat itulah Sahara terus menunggu dan berharap akan melihat Arjuna dengan keadaan yang semakin baik.

__ADS_1


Sahara terus menunggu dengan penuh harap sambil memandangi foto sang suami setiap malam.


Harapannya satu, Arjunanya kembali.


__ADS_2