
Tangan yang biasa memberinya kehangatan kini terasa begitu dingin ketika digenggam.
Bibir yang biasa tersenyum dan memberikan ciuman manis kini memucat.
Wajah Arjuna dipenuhi luka terutama disekitar mata dan tubuhnya dipenuhi banyak alat yang membantunya untuk tetap bernafas. Melihat suaminya seperti ini membuat nafas Sahara tercekat, dia tak bisa mengatakan apapun dan sejak tadi yang mampu dia lakukan adalah menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan sambil mengusap sayang tangan suaminya yang begitu dingin.
Takut
Sahara semakin takut dengan segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi, dia takut jika suaminya akan benar-benar pergi.
Helaan nafas Sahara terdengat berat dia ingin berbicara sesuatu dan dengan terbata suara lirihnya terdengar.
"Mas Juna"
Sahara begitu sulit untuk bicara bahkan dia kembali terisak dan menangis, tapi secepat kilat dihapusnya air mata yang mengalir dipipinya.
"Mas... aku kangen... bangun... Ara mohon bangun..."
Isakannya semakin kuat karena Sahara benar-benar tidak tau harus bicara apa, dia hanya ingin suaminya bangun.
"Bangun Mas.. Ara tidak izinkan kamu untuk... pergi." Kata Sahara dengan begitu lirih
Sahara menempelkan dahinya di tangan dingin Arjuna dan kembali menangis dengan hebat hingga dadanya terasa begitu sesak.
'Aku bersumpah tidak akan membuat kamu menangis lagi sayang, mata ini tidak boleh berair karena sebuah tangisan penuh luka dan kalaupun harus menangis hanya tangisan kebahagiaan yang akan aku berikan untuk kamu'
Arjuna pernah mengatakan hal itu kepadanya sesaat setelah mereka menikah, tapi hari ini Arjuna melanggar sumpahnya.
Dia membuat Sahara menangis penuh luka.
"Ara takut... Ara harus apa kalau Mas Juna pergi?" Tanya Sahara disertai isak tangisnya
Sejak kemarin Sahara benar-benar kehilangan semangatnya bahkan dia hanya makan malam serta sarapan dengan porsi yang sangat sedikit hingga membuat orang tua dan mertuanya tidak bisa memaksa lagi.
Sahara bahkan kesulitan untuk menelan makanan atau minuman, dia hanya ingin melihat suaminya.
Sahara hanya ingin terus berada disisi Arjuna, apapun yang terjadi nantinya.
"Bangun Mas kalau Mas Juna tidak bangun... Ara akan ikut pergi... Ara tidak akan makan teratur... Ara akan makan pedas lagi... Ara..."
Tangisannya semakin keras, tapi Sahara berusaha sebisa mungkin untuk meredam isakannya agar dia tidak diusir dari ruangan ini.
Rasanya semua seperti mimpi baru kemarin Arjuna begitu memanjakannya dan memberikan dia kebahagiaan yang begitu besar.
Kemarin Arjuna masih memeluk dan menciumnya.
Kemarin Arjuna masih menggodanya.
Kemarin Arjuna dan dia masih bermain bersama si kecil Airlangga.
Tapi, kemarin juga Arjuna mengalami kecelakaan yang membuatnya terbaring lemah seperti sekarang.
'Saya tidak bisa menjamin apapun, tapi bukan tidak mungkin dia kembali membuka matanya hanya saja hal itu sangat jarang terjadi mungkin doa kalian yang bisa membuatnya kembali'
Bukan hanya mungkin, tapi Arjuna pasti membuka matanya lagi.
Arjuna tidak akan mungkin membiarkannya sendirian.
"Mas"
Sahara mendongak dan menghapus air matanya lalu tersenyum tipis.
"Kamu pasti bangun kan? Jangan pernah tinggalkan aku dan anak-anak kita." Kata Sahara pelan
Diusapnya tangan dingin itu dengan sayang lalu Sahara kembali berdiri dan mencium keningnya lama sebelum meninggalkan ruangan itu dengan berurai air mata.
Dia tidak bisa terus berada disana.
Saat keluar dari ruangan Sahara bersandar ditembok dan memejamkan matanya, berusaha menghilangkan sesak didadanya karena terlalu sering menangis.
Sentuhan dibahunya membuat Sahara membuka matanya dan melihat Anjani yang tengah menatapnya, Sahara tersenyum tipis sekali lalu ketika Anjani memeluknya dia kembali menangis.
__ADS_1
Sahara memeluk Anjani dengan begitu erat, sangat erat dan isakannya pun kembali terdengar.
"Kakakku akan bangun." Kata Anjani dengan yakin
Melihat tubuh Kakak iparnya yang sedikit lemas Anjani membantunya untuk duduk di salah satu bangku rumah sakit.
"Jani"
"Hmm aku disini Ra." Kata Anjani
"Dia pasti bangun kan?" Tanya Sahara
"Pasti Ra aku percaya tidak mungkin Kak Juna pergi begitu saja." Kata Anjani
Sahara tersenyum lebih lebar dan menatap lurus ke depan.
"Kamu sudah makan kan Ra?" Tanya Anjani
"Hm sudah"
"Angga sama Mami?" Tanya Anjani lagi
"Iya dia sama Mami, tadi malam dia menangis terus dan beberapa kali juga mengatakan Papa." Kata Sahara
Anjani hanya diam karena tidak tau harus mengatakan apa pada Kakak iparnya.
Dia ingin menguatkan Sahara, tapi dia tau tidak semudah itu karena jujur Anjani sendiri merasa takut.
"Mas Juna pernah bilang kalau dia tidak akan pergi kalau aku tidak minta dia untuk pergi, berarti dia akan bangun kan?" Kata Sahara lagi
"Iya Ra"
Lagi, Sahara kembali tersenyum tipis lalu Anjani menggenggam erat tangannya berusaha memberikan kekutan untuknya.
"Kamu harus kuat ya Ra? Ingat anak-anak kamu dan yakinlah kalau Kak Juna akan sadar juga kembali pada kita semua." Kata Anjani
Dengan lemah Sahara mengangguk lalu ketika ponselnya berdering dia segera mengangkatnya.
'Ara masih di rumah sakit?'
"Emm ini lagi sama Anjani juga." Kata Sahara pelan
'Sudah makan?'
"Sudah"
'Nanti malam Mommy kesana lagi ya?'
"Emm terserah Mommy saja." Kata Sahara
'Jangan menangis'
"Emm tidak"
'Harus mau makan'
"Iya Mommy"
Setelah itu panggilan telpon dimatikan dan ketika Sahara menatap layar ponselnya yang menampilkan foto keluarga kecilnya dia tersenyum lalu mengusapnya pelan.
Baru satu hari dan Sahara sudah sangat merindukan Arjuna.
Dia rindu suaranya, pelukannya, dan wajahnya yang selalu menatap dengan lembut.
"Anjani menurut kamu Mas Juna itu orang yang seperti apa?" Tanya Sahara
Anjani terdiam sebentar lalu tersenyum dan mulai bicara.
"Dia orang yang luar biasa, Kak Juna selalu mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri, Kak Juna tidak pernah sekalipun membentak atau marah pada kami, dan dia selalu menghargai setiap waktu yang dilewatinya." Kata Anjani membuat Sahara tersenyum tipis ketika mendengarnya
Arjuna memang sangat menghargai setiap detik yang dilewati bersama orang-orang terkasihnya.
__ADS_1
Arjuna memang pria baik, entah sebagai anak, kakak, menantu, suami ataupun ayah.
"Mas Juna selalu berusaha untuk membuat orang lain tersenyum kan? Sepertinya baru kali ini dia membuat orang-orang menangis." Kata Sahara
Anjani mengangguk setuju, kakaknya memang selalu melakukan hal itu, membuat orang lain tersenyum bahagia.
Baru kali ini Arjuna membuat orang-orang menangis.
¤¤¤
Satu minggu sudah berlalu dan sampai saat ini mata Arjuna masih belum terbuka, dia masih setia dengan istirhat panjangnya. Semakin lama Sahara semakin takut jika mata indah suaminya tidak lagi terbuka, tapi dia terus berdoa untuk kesembuhan suaminya.
Tapi, hari ini Sahara dibuat menangis hebat ketika tubuh Arjuna kejang dan dia hanya diam dipelukan mertuanya dengan air mata yang terus mengalir.
Sudah hampir satu jam dokter bersama beberapa orang suster masuk ke dalam ruangan dan masih belum keluar membuat Sahara juga yang lainnya menunggu dengan cemas. Kemudian ketika pintu terbuka Sahara langsung berlari menghampiri dokter tersebut, tapi kata-kata yang keluar setelahnya membuat tangisan Sahara semakin hebat.
Sahara menggelengkan kepalanya cepat lalu memaksa untuk masuk ke dalam.
"Kami tidak bisa memberikan harapan apapun, keadannya sama sekali tidak menunjukkan perkembangan dan hanya keajaiban yang bisa membuatnya kembali membuka mata"
Menatap suaminya dengan sendu Sahara menggenggam tangan yang semakin dingin itu dan menciumnya lama.
Air mata Sahara mengalir dan jatuh ke telapak tangan Arjuna isakannya pun terdengar begitu pilu.
Ketakutannya semakin dapat dia rasakan.
"Mas Juna gak boleh pergi.... jangan pergi kemanapun Ara tidak pernah izinkan... bangun..."
Sahara terisak hebat karena tidak ada sedikitpun respon yang suaminya berikan.
"Bangun Mas... jangan tinggalin Ara sendirian..."
Suara Sahara begitu lirih dia berkata dengan penuh permohonan dan berharap suaranya bisa didengar oleh suaminya.
"Ara mohon jangan tinggalin Ara sendirian"
Sahara kembali terisak dan wajahnya membelak seketika ketika sebuah suara terdengar.
Sahara menggelengkan kepalanya pelan dengan air mata yang turun semakin deras.
Arjunanya
¤¤¤
"Ara dengar ya? Aku cinta banget sama kamu, jadi jangan dekat-dekat sama pria selain aku"
"Berarti Mas Juna juga gak boleh ya?"
"Hmm dari dulu juga memang enggak, kamu mau mau punya anak berapa Ra?"
"Mas Juna maunya berapa?"
"Banyak, aku mau rumah kita ramai"
"Kita bakal sama-sama terus kan Mas?"
"Tentu saja sayang, kita akan sama-sama sampai rambut kita tua"
"Janji ya?"
"Lebih dari janji aku rela bersumpah Ra"
"Lebay"
"Aku serius, jangan takut aku tidak akan pernah pergi kalau kamu tidak meminta aku untuk pergi"
"Terima kasih Mas"
"Kembali kasih sayang"
¤¤¤
__ADS_1
Pendek aja yaa shayy😂