Sahara In Love

Sahara In Love
S2 (39)


__ADS_3

Memasuki bulan kesembilan Arjuna benar-benar menjadi suami yang siaga bahkan sekarang dia tidak lagi pergi ke kantor atau restoran dan hanya berdiam diri di rumah bersama istrinya. Semakin hari Sahara juga semakin manja apalagi belakangan ini dia memang mengalami kesulitan untuk tidur dan Arjuna harus menemaninya hingga benar-benar terlelap.


Setiap hari Arjuna yang memasak karena Sahara bilang dia hanya ingin memakan masakan suaminya saja dan Arjuna turuti itu semua. Selain itu kedua anaknya juga sangat senang karena Arjuna menghabiskan waktunya di rumah bersama mereka dan Sahara rasanya seperti sedang liburan.


"Kak Araaa"


Seruan Diandra membuat Sahara yang sedang menonton tv sambil memakan camilan menoleh lalu tersenyum dan melambaikan tangannya. Ikut tersenyum Diandra berlari kecil menghampiri atasannya dan ternyata di belakang wanita itu ada Gibran yang juga ikut menghampirinya.


"Haii Diandra"


Diandra tersenyum dan mendudukkan dirinya disamping Sahara lalu mengeluarkan beberapa berkas yang tadi dia bawa.


"Hai Kak"


"Manemuiku karena pekerjaan huh?" Tanya Sahara sedikit tidak suka


Diandra hanya menunjukkan cengirannya belakangan ini dia memang mondar mandir ke rumah atasanny untuk membahas masalah pekerjaan yang cukup membuatnya pusing karena sudah lama sekali Sahara tidak turun tangan langsung.


"Tidak juga aku rindu sama Kak Ara." Kata Diandra


"Ada apa?" Tanya Sahara sambil menoleh


Sebelum Diandra bicara dia lebih dulu memanggil Bi Yuni dan memintanya membawakan minuman untuk Diandra juga Gibran yang datang.


"Ada beberapa berkas yang perlu Kakak tanda tangani masalah kerja sama dengan beberapa wedding organizer dan juga aku mau memberikan laporan keuangan bulan ini." Kata Diandra


Dia mengeluarkan semuanya dan meletakkan di atas meja lalu Sahara mengambil salah satunya. Seperti biasa Sahara akan sangat teliti masalah kontrak dia harus membacanya betul-betul agar tidak ada kesalahan atau kelalaian yang bisa menyebabkan kerugian nantinya.


"Apa ini tidak terlalu banyak? Aku fikir kita sudah membicarakan masalah kontraknya, kenapa mereka menambah beberapa point disini?" Tanya Sahara sebal


"Aku tidak tau Kak mereka hanya mengirimkannya padaku dan meminta untuk memberikannya pada Kakak." Kata Diandra


Sahara mengangguk singkat lalu menaruh berkas itu di meja dan mengambil berkas lainnya.


Senyum tipis Sahara mengembang ketika dia membaca kontrak yang lainnya lalu Sahara meminta pena untuk menandatanganinya. Setelah itu Sahara mengambil laporan keungan yang tadi Diandra bawa lalu mengeceknya dan tidak ada kesalahan semuanya baik.


"Sudah, masih ada lagi?" Tanya Sahara sambil meletakkan berkas terakhir yang dia lihat ke atas meja


"Emm aku dalam beberapa bulan ini sepertinya harus..."


Sahara mengerutkan dahinya bingung ketika melihat Diandra yang terlihat gugup untuk mengatakannya apalagi mata Diandra terus menghindari tatapannya.


Wanita itu seperti gugup dan takut disaat yang bersamaan.


"Diandra akan mengambil cuti." Kata Gibran yang kini ikut bergabung duduk disamping Diandra


Mendengar hal itu raut wajah terkejut Sahara terlihat dengan jelas dan dia langsung menatap Diandra dengan penasaran, mendadak sekali.


"Kenapa? Kamu ingin pergi ke suatu tempat atau kamu sudah dapat pekerjaan baru?" Tanya Sahara


"Enggak Kak bukan gitu... Emm.. aku..."


Sekali lagi Diandra membuatnya bingung dengan berbicara terputus-putus hingga membuat Sahara merasa gemas sendiri.


Ada apa sebenarnya?


"Kamu kenapa sih Ra? Bilang aja aku gak bakal marah." Kata Sahara


Diandra menatapnya, tapi masih belum mengeluarkan suara dia terlihat gugup dan ragu disaat yang bersamaan.


"Aku sebentar lagi akan..."


Tak kunjung mengatakan tujuannya akhirnya Gibran gemas sendiri dan langsung angkat bicara.


Gibran mengatakan hal yang membuat mata Sahara membulat dengan sempurna lalu menatap keduanya bergantian, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


Apa mereka berdua bercanda?


"Kami akan menikah dan dia juga sedang mengandung anakku." Kata Gibran tanpa beban


Diandra menundukkan wajahnya tidak mau menatap Sahara yang dia yakin sangat terkejut sekarang apalagi wanita itu hanya diam tidak memberikan tanggapan apapun. Cukup lama Sahara diam hingga membuat Diandra sedikit mendongak dan menatap raut wajah tidak percaya atasannya.


Sudah dia duga beberapa hari ini dia selalu mendapatkan ekspresi wajah yang sama.


"Kalian apa? Kalian bilang apa? Nanti dulu aku..."


Diandra menggigit bibir bawahnya pelan, dia bingung harus mengatakan apapun.


"Apa yang sudah Kakak lakukan pada Diandra?!" Seru Sahara yang kini menatapnya dengan sengit


Baik Gibran atau Diandra cukup terkejut dengan suara Sahara yang meninggi apalagi tatapan matanya.


"Harusnya kalau Kakak mencintai Diandra nikahi dia, kenapa malah menghamilinya? Apa Kakak tidak ada otak?" Tanya Sahara marah


Dia sangat mengenal Diandra tidak mungkin asistennya itu melakukannya dengan suka rela pasti ada sesuatu hingga hal seperti itu bisa sampai terjadi dan Gibran pasti dalang dari semuanya.

__ADS_1


Bagaimana bisa pria itu sangat tidak bertanggung jawab?


"Kak Ara..."


"Kamu diam Diandra! Kak Gibran jelasin sama Ara apa yang sudah Kakak lakukan?!" Tanya Sahara lagi


Dia kesal sekali sekarang hingga ingin memukul wajah pria itu sangking kesalnya.


"Dengar aku akan menjelaskan semuanya, tapi tidak sekarang dan Ara untuk saat ini yang perlu kamu tau akan akan menikahi Diandra dan bertanggung jawab atas semuanya." Kata Gibran


Merasa sangat kesal Sahara meraih tangan Diandra dan mengajaknya untuk ke pergi ke kamar meninggalkan Gibran sendirian. Biarkan saja sebentar lagi suami dan anak-anaknya akan segera pulang dari super market.


Gibran sendiri hanya diam sambil menatap keduanya yang berjalan menjauh tanpa berniat mencegahnya, dia tau Sahara pasti merasa marah dan kecewa.


Marah karena dia telah melakukan hal itu pada Diandra dan kecewa karena dia yang selalu Sahara banggakan malah membuat kesalahan.


Kembali pada Sahara yang sekarang sudah berada di dalam kamar dan meminta Diandra untuk duduk. Asistennya itu masih diam tanpa banyak bicara membuat Sahara menghela nafasnya pelan.


"Maafin Kak Gibran." Kata Sahara pelan


Secara refleks Diandra mendongak lalu tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Semuanya bukan salah Kak Gibran." Kata Diandra


"Jadi kamu hilang gak ada kabar seminggu belakangan karena ini?" Tanya Sahara yang dijawab dengan anggukan singkat oleh asistennya


"Waktu tau aku kebingungan Kak dan akhirnya aku pergi lalu menginap di rumah salah satu temanku." Kata Diandra menjelaskan


"Tante Dara sudah tau?" Tanya Sahara


"Sudah orang tua Kak Gibran sudah tau." Kata Diandra


Helaan nafas Sahara terdengar, dia benar-benar ingin memukul Gibran sekarang juga.


"Kamu mencintai dia?" Tanya Sahara


"Kakak tau jawabannya." Kata Diandra


Ya, Sahara tau kalau Diandra mencintai Gibran dapat terlihat dari tatapan matanya.


"Kakakku juga mencintai kamu." Kata Sahara yang hanya ditanggapi dengan senyuman tipis oleh Diandra


Menghela nafasnya pelan Sahara membawa Diandra ke dalam pelukannya dan mengusap punggung wanita itu dengan lembut. Rasa kesal bercampur senang menguasi diri Sahara secara bersamaan.


"Makasih Kak"


Sahara hanya begumam pelan sebagai tanggapan, dia masih ingat sekali pertama kali butiknya di buka lalu seorang gadis dengan wajah penuh permintaan menemuinya. Gadis itu Diandra dan dia menemani Sahara hingga sekarang mungkin karena itu mereka begitu dekat bahkan Sahara sudah menganggapnya seperti adik sendiri.


Mengetahui kalau Kakak sepupunya yang sejak dulu sangat ia percaya melakukan hal seperti ini pada Diandra membuatnya marah dan kesal meskipun dia akui kalau dia juga merasa senang.


"Apa orang tua Kak Gibran marah ketika mereka tau?" Tanya Sahara ketika pelukan mereka terlepas


Diandra terdiam sebentar lalu mengangguk singkat.


"Awalnya hanya diam, tapi kemudian mereka marah terutama sama Kak Gibran." Kata Diandra


Sahara bisa mengerti itu semua Tante dan Pamannya memang cukup keras dalam mendidik anak-anaknya.


"Tapi, setelahnya Tante Dara memeluk aku dia sangat baik Kak." Kata Diandra sambil tersenyum ketika mengingatnya


"Kalau ada apa-apa bilang aku ya? Kamu tau kan kalau aku sudah menganggap kamu seperti adik sendiri?" Kata Sahara uang dijawab dengan anggukan oleh Diandra


Sesaat setelah perbincangan mereka selesai suara Alana menggema membuat mereka berdua tersenyum lalu keluar dari kamar. Saat sampai di ruang tamu ada Gibran dengan Airlangga dipangkuannya serta Arjuna disampingnya dan Alana yang tengah sibuk membuka kantung plastik di meja.


"Alanaa"


Merasa namanya terpanggil anak itu mendongak dan tersenyum senang ketika melihat Diandra.


"Ante Andlaa"


Berlari kecil Alana langsung memeluk Diandra dia rindu sekali dengan Diandra karena belangan ini wanita itu jarang ke rumah padahal kalau Diandra datang mereka selalu bermain.


"Antee cini Ana beli esklim banyak." Kata Alana sambil menarik tangan Diandra


Dengan penuh semangat Alana mencari keberadaan ice cream nya dia beberapa kantung plastik yang ada di meja.


"Papii mana esklim Anaa?"


Menggelengkan kepalanya pelan Arjuna beranjak dari tempat duduknya dan mengambil ice cream yang anaknya minta.


Benar ternyata ada banyak sekali yang Alana beli.


"Mami cinii"


Sahara juga langsung menghampiri anaknya dan mengambil satu, dia sudah lama tidak makan ice cream.

__ADS_1


Saat yang lain sibuk dengan aktifitasnya Diandra menatap Alana dalam diam, anak itu menggemaskan sekali pasti membuat Sahara dan Arjuna selalu betah kalau di rumah.


Dia berharap anaknya juga perempuan dan sama lucunya dengan Alana.


¤¤¤


"Aku benar-benar kecewa dengan Kakak!"


Kalimat itu Sahara ucapkan dengan penuh penekanan pada Gibran ketika dia kembali ke rumahnya setelah mengantar Diandra. Sebenarnya Gibran mengerti kenapa Sahara begitu marah, tapi dia benar-benar akan bertanggung jawab dan dia tau kalau semua yang dia lakukan itu salah makanya dia ingin memperbaiki itu semua.


Dia mencintai Diandra!


Menikah dengan gadis itu benar-benar murni keinginannya dan bukan hanya dengan dalih anak yang wanita itu kandung adalah anaknya juga. Seperti yang kalian tau Gibran sudah berkali-kali melamar Diandra, tapi wanita itu tidak kunjung memberikan jawaban.


"Kenapa Kakak melakukan itu semua? Apa Kakak tau betapa susahnya hidup Diandra? Bagaimana dia menjalani hidupnya setelah kematian mendadak orang tuanya?" Tanya Sahara dengan penuh emosi


Sebelumnya Arjuna sudah mengingatkan untuk tidak terlalu terbawa emosi karena dia sedang mengandung dan di tambah lagi kehamilan Sahara sudah cukup besar.


"Aku tau kalau aku salah Ra! Aku sudah minta maaf pada Diandra dan mengunjuingi makan orang tuanya bersama dia juga, aku ingin bertanggung jawab untuk semuanya." Kata Gibran


"Jangan pernah menyakiti Diandra dia sudah seperti adikku sendiri." Kata Sahara pelan


Dia menatap Gibran dengan penuh permohonan membuat Gibran tersenyum tipis dan membawa Sahara ke dalam pelukannya.


"Tidak akan pernah Ra, kamu tau kalau aku mencintai dia kan?" Kata Gibran yang dijawab dengan anggukan olehnya


"Maka kamu juga tau kalau aku tidak pernah menyakiti orang yang aku sayang kan?" Kata Gibran lagi


Sahara kembali mengangguk dalam pelukannya membuat Gibran tersenyum lalu melepaskan pelukan mereka.


"Jangan khawatir aku sudah mendapat pukulan dari Papa dan tamparan dari Mama." Kata Gibran sambil tertawa


Terdiam sebentar Sahara tersenyum dan mengatakan hal yang membuat mereka tertawa bersama.


"Kakak memang pantas mendapatkannya"


Ya, Sahara memang benar dia pantas mendapatkannya bahkan seharusnya lebih dari sebuah pukulan dan tamparan.


Dia terlalu brengsek.


¤¤¤


Berbaring sambil memeluk suaminya Sahara menceritakan semuanya pada Arjuna meskipun pria itu sudah tau karena Gibran telah mengatakan semuanya, tapi Arjuna tetap mendengarkan semua perkataan istrinya. Sambil mengusap rambut istrinya dengan sayang Arjuna tersenyum mendengarkan kata demi kata yang Sahara keluarkan.


Terkadang dia bicara dengan penuh emosi dan kekesalan, tapi terkadang dia bicara dengan begitu lembut.


"Kamu mau tau Ra?" Tanya Arjuna ketika Sahara selesai bicara


"Tau apa?" Tanya Sahara sambil mendongak dan menatap suaminya


Arjuna tersenyum lalu mencium keningnya sebentar dan mengatakan sesuatu yang tidak wanita itu ketahui.


"Saat Diandra menghilang Gibran sangat cemas dan berkali-kali menghubungiku untuk meminta bantuan lalu dia mengatakan sesuatu padaku, mau tau apa?" Tanya Arjuna


Dengan cepat Sahara menganggukkan kepalanya.


"Dia bilang dia takut kalau Diandra pergi dan dia juga bilang kalau mungkin saja Diandra sedang hamil, Gibran sangat ketakutan dan aku mencoba untuk membantu sebisa mungkin." Kata Arjuna membuat Sahara tersenyum mendengarnya


"Lalu?"


"Lalu kami berhasil menemukan keberadaan Diandra di rumah salah satu temannya dan Gibran langsung membawanya lalu semua ini terjadi." Kata Arjuna


"Dia mencintai Diandra kan?" Kata Sahara


"Iya kamu bisa lihat dari tatapan matanya." Kata Arjuna


"Kalau gitu aku lega." Kata Sahara sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya


Arjuna tersenyum lalu mencium puncak kepala istrinya dengan sayang dan satu tangannya menuju perut buncit Sahara lalu mengusapnya dengan lembut.


"Sebentar lagi dia akan menyapa kita." Kata Sahara dengan penuh kebahagiaan


Arjuna tersenyum dan mengangguk setuju dia sangat tidak sabar ingin melihat bayi mungil lagi.


"Tidur Ra sudah semakin malam"


Sahara hanya bergumam pelan dan semakin mengeratkan pelukannya lalu memejamkan matanya.


Ada banyak hal mengejutkan hari ini.


¤¤¤


Yeyyy updateee😶


Makasih banyak yang selalu setia nungguin cerita ini❤

__ADS_1


__ADS_2