Sahara In Love

Sahara In Love
Spin Off


__ADS_3

Pergi bersama wanita yang dia cintai dan keponakan tersayangnya membuat senyum Gibran mengembang dengan sempurna kalau bukan karena Alana pasti sulit sekali membuat Diandra mau pergi berdua bersamanya. Sepanjang perjalanan Alana terus berceloteh dengan duduk dipangkuan Diandra dia menceritakan tentang sekolah dan juga kehamilan Sahara.


Seperti biasa Alana akan bercerita tentang pertengakarannya dengan Angga yang berdebat masalah jenis kelamin adik mereka membuat Diandra dan Gibran tersenyum mendengarnya. Kehadiran Alana membuat Diandra tidak merasa gugup dan malah senang bahkan dia sesekali tertawa ketika anak itu bercerita atau memasang wajah lucunya.


"Di cekolah Ana punya teman banyak." Kata Alana sambil menatap Diandra dengan senyuman


"Wah bagus sekali sayang, mereka baik sama Alana?" Tanya Diandra yang dijawab dengan anggukan olehnya


"Baik ante kami seling main telus makan baleng kalau di cekolah." Kata Alana senang


"Ana suka sekolah?" Tanya Gibran


"Cukaaa kalau di lumah Ana bocan kalna Kakak kan cekolah." Kata Alana dengan bibir mengerucut


"Tapi kan sebentar lagi Ana punya adik." Kata Gibran


"Macih lama kalau adiknya balu lahil Ana belum bica ajak main." Kata Alana sambil memasang wajah cemberutnya


Diandra tertawa dan memeluk anak itu lalu mencium pipinya lama.


"Tidak mau cium aku juga?" Tanya Gibran membuat Diandra menoleh dan melotot ke arahnya


Melihat wajah yang sama lucunya dengan Alana itu Gibran tertawa.


"Maaf sayang"


Lagi, Diandra kembali melotot dengan pipi yang mulai memerah.


"Ana nanti mau beli apa?" Tanya Diandra berusaha mengalihkan pandangannya dari Gibran


"Ana mau beli es klim cama belbi." Kata Alana dengan semangat


Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit mobil Gibran memasuki area parkiran mall dan ketika mobilnya sudah terparkir mereka langsung turun dari mobil. Senyum Alana mengembang dengan lebar dia bahkan melompat karena senang membuat Gibran tertawa melihatnya.


Kedua tangan Alana digenggam oleh Gibran dan Diandra ketika mereka melangkahkan kakinya ke dalam mall, menyenangkan sekali. Pertama mereka pergi untuk memakan ice cream sesuai permintaan Alana.


Saat ice cream nya datang senyum Alana langsung mengembang dengan lebar, menikmati salah satu minuman yang sangat dia suka. Seperti biasanya Alana akan meminta untuk dibelikan ice cream rasa coklat.


"Ana pelan-pelan dong makannya." Kata Diandra sambil mengusap sudut bibir Alana dengan tissue yang dia bawa


Alana hanya menunjukkan cengirannya lalu kembali memakan ice cream kesukaannya.


"Lucu banget sih." Gumam Diandra


"Kamu juga lucu." Bisik Gibran membuat Diandra menoleh dan langsung melotot karena wajah mereka sangat dekat


"Ihh sanaa!" Kata Diandra galak


Gibran tertawa melihatnya lalu mengambil tissue milik Diandra dan mengusap sudut bibirnya juga.


"Kamu juga makannya pelan-pelan." Kata Gibran sambil terkekeh dan membuat Diandra tersenyum malu


Menghela nafasnya pelan Gibran memperhatikan Diandra dalam diam, sampai kapan dia harus menunggu?


Rasanya terlalu sulit untuk mencari wanita lain dia sudah sangat nyaman bersama dengan Diandra dan mencari seseorang yang bisa membuat nyaman tidak semudah itu kan?


"Kamu tau gak Ra?" Tanya Gibran tiba-tiba


Diandra menoleh dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Tau apa?" Tanya Diandra


"Mungkin orang-orang melihat kita seperti keluarga yang bahagia apalagi ada Alana." Kata Gibran membuat Diandra terdiam karena merasa wajahnya mulai memanas


"Ngomong apasih Kak?" Tanya Diandra


"Kamu gak mau bangun keluarga sama aku?" Tanya Gibran sambil menatap mata Diandra dengan dalam


Enggan untuk menjawab Diandra hanya merasa tidak pantas untuk bersanding dengan Gibran, tapi Gibran juga tidak mau berhenti untuk membuatnya setuju.


"Kakk"


"Oke gak bakal bahas lagi." Kata Gibran sambil tersenyum tipis


"Paman Iban es klim Ana cudah abis." Kata Alana membuat keduanya menoleh


Diandra tersenyum dan kembali mengelap bibir Alana yang terlihat belepotan.

__ADS_1


"Sudah? Gak mau nambah lagi?" Tanya Gibran


Alana tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan.


"Ana mau main." Kata Alana dengan semangat


"Baiklah kita bayar dulu lalu pergi ke time zone oke?" Kata Gibran yang langsung dijawab dengan anggukan oleh keponakan kesayangannya


Selesai membayar Gibran mengajak Alana ke area time zone dan membiarkan keponakannya itu memilih ingin main apa. Senyum manis Alana semakin mengembang dia mengajak Gibran dan Diandra untuk memainkan banyak permainan disana.


"Paman Paman Ana mau boneka yang itu." Kata Alana sambil menarik-narik baju Gibran yang tengah fokus dengan benda dihadapannya


"Yang ini?" Tanya Gibran


"Bukan yang walna pink." Kata Alana


"Baiklah cantik berikan Paman ciuman kalau Paman berhasil, oke?" Kata Gibran


"Okeee"


Tangan Gibran bergerak dan membuat capitan yang di dalam box itu ikut bergerak setelah merasa yakin Gibran langsung memencet salah satu tombol, tapi ketika tinggal sedikit lagi bonekanya jatuh dan membuat Alana mengerucut sebal.


"Paman mau yang ituuu." Rengek Alana


"Tenang sayang kita masih bisa coba lagi." Kata Gibran sambil memasukkan koin


Setelah empat kali percobaan dan gagal kini Diandra yang mencoba meskipun dihadiahi tatapan meremehkan Gibran, tapi ternyata dia berhasil mengeluarkan boneka beruang kecil berwarna pink yang Alana inginkan.


Di tempatnya Gibran terdiam sedangkan Alana melompat senang lalu memeluk tubuh Diandra dengan erat.


"Makacih Ante Andla." Kata Alana senang


"Cium Tante?" Kata Diandra sambil mendekatkan wajahnya


Alana mengangguk lalu mencium kedua pipi Diandra dan meledek Gibran yang sekarang memasang wajah kesalnya.


"Paman Iban tidak bica ambil boneka tidak kayak Ante Andla." Kata Alana


Merasa gemas Gibran menggendong tubuh Alana lalu mencium pipinya dan bertanya apalagi yang anak itu inginkan.


"Ana mau beli belbiii." Kata Alana dengan antusias


Di salah satu rak yang dipenuhi barbie Alana tersenyum senang lalu menunjuk yang ada di atas dan meminta Diandra untuk mengambilkannya.


"Ante Andla aku mau yang itu." Kata Alana sambil melompat


"Ini sayang?" Tanya Diandra mengikuti arah jari Alana


Dengan semangat Alana mengangguk lalu Diandra mengambilkan dan memberikan padanya membuat senyum anak itu mengembang dengan sempurna.


"Paman boleh tidak Ana beli tiga?" Tanya Alana dengan wajah penuh harap


Tersenyum senang Gibran mengangguk sambil mencapit hidungnya dengan gemas.


"Boleh dong lima juga boleh." Kata Gibran


Alana menggelengkan kepala sambil tersenyum lalu mengatakan kalau dia hanya ingin tiga.


"Ana mau tiga"


Selagi Diandra menemani keponakannya memilih barbie Gibran beranjak mencari bola untuk dia berikan kepada Airlangga. Setelah sama-sama selesai Gibran pergi ke kasir untuk membayar bersama dengan Alana yang tersenyum senang.


"Itu untuk Kakak ya?" Tanya Alana yang dijawab dengan anggukan oleh Gibran


Setelah membayar dan kekuar dari toko Gibran mengajak keduanya untuk masuk ke toko sepatu. Saat bertanya dengan Alana keponakanannya itu menolak dan mengatakan kalau dia tidak mau sepatu jadi Gibran hanya membelikan untuk Airlangga saja.


Begitu keluar Gibran berniat untuk membelikan baju buat Alana dan mengajak mereka ke salah satu toko baju anak-anak. Sampai disana Diandra tersenyum dan mengatakan pada Gibran bahwa dia akan memilihkan baju untuk Alana.


"Lucu ya Ana? Kamu mau?" Tanya Diandra


Alana mengangguk dengan polosnya.


"Walna pink Ante?" Tanya Alana


"Ada sayang"


Alana tersenyum senang dan mereka memilih beberapa pakaian untuknya.

__ADS_1


Gibran hanya mengikuti saja, tapi tiba-tiba ketika ada seorang wanita paruh baya yang tengah membeli baju juga mengajaknya bicara dia tersenyum.


"Anaknya cantik banget." Kata wanita paruh baya itu


"Ehh"


Bukan Gibran, tapi Diandra yang menoleh ketika tanpa sengaja mendengarnya.


"Ternyata Ibu nya juga cantik." Katanya lagi


Diandra ingin bicara, tapi Gibran sudah lebih dulu membuka suara.


"Makasih Bu"


Wanita paruh baya itu mengangguk dan kembali bicara.


"Biasanya kalau anak segitu suka minta adek loh." Candanya


Diandra sudah akan bicara, tapi Gibran kembali mendahuluinya dan mengatakan hal yang membuat Diandra merona juga kesal.


"Memang ini lagi bujuk istri saya supaya mau." Kata Gibran


Baru akan protes Alana sudah menarik tangannya ke tempat yang lain.


Jantung Diandra berdetak dengan sangat cepat karena perkataan Gibran barusan.


Bagaimana mungkin mereka dikira sudah menikah?


¤¤¤


Saat hari sudah mulai gelap Gibran langsung mengajak keduanya untuk pulang dan mengingat kalau mereka melewati rumah Diandra akhirnya Gibran memilih untuk mengantar wanita pulang lebih dulu. Sepanjang perjalanan Alana tertidur dipangkuan Diandra karena telalu lelah dan hal itu membuat keduanya tersenyum.


Rasanya menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama dan ada Alana juga yang membuat keduanya tidak canggung seperti biasa kalau jalan berdua. Setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit mobil Gibran berhenti di rumah sederhana milik Diandra.


"Kamu bisa bawa Alana sendirian? Dia sedang tidur." Kata Diandra


Gibran mengangguk pasti.


"Bisa, kamu pulang saja istirahat jangan lupa balas chat aku kalau belum tidur." Kata Gibran


Mengangguk singkat Diandra hanya bisa diam ketika Gibran melepas sabuk pengamannya lalu mendekat ke arahnya.


"Kak mau ngapain?" Tanya Diandra


"kiss you"


"Ada Alana Kak jangan." Kata Diandra


Melirik Alana sebentar Gibran dapat melihat keponakannya itu tertidur dengan lelap.


"Sebentar saja"


Sebelum Diandra menjawab Gibran sudah lebih dulu mencium bibirnya dan bergerak pelan disana hingga Diandra hanya bisa mengepalkan tangannya dengan erat.


Kata sebentar itu hanya tipuan Gibran karena sungguh Diandra hampir kehabisan nafas, tapi pergerakan Alana membuat Gibran langsung menjauhkan dirinya dan mengusap bibir bawah Diandra dengan lembut.


"Kapan kamu bakal jawab aku Ra?" Tanya Gibran


"Kak aku kan sudah...."


"Oke tidak usah dijawab aku tidak mau dengar." Kata Gibran membuat Diandra menghela nafasnya pelan


"Kak..."


"Sudah, jangan bicara lagi aku hanya akan menerima jawaban iya dan kalau kamu belum menjawab dengan kata itu aku anggap kamu belum memberikan jawaban." Kata Gibran


"Kak...."


"Just yes or yes!"


Gibran mengatakannya dengan penuh penekanan.


"Tidak ada penolakan apalagi dengan alasan merasa tidak pantas atau banyak wanita yang lebih baik, aku tidak terima jawaban seperti itu!"


Gibran memang pemaksa kalian boleh menyebutnya begitu.


¤¤¤

__ADS_1


Hehe iseng aja bikin spin off nya😂


__ADS_2