
Acara yang berlangsung selama hampir dua jam sangat membosankan bagi Sahara yang memang sedang tidak bersemangat padahal biasanya dia selalu suka acara seperti ini, melihat peragaan busana dari designer ternama. Namun, sayang hari ini dia mengami hari yang panjang dan cukup buruk sehingga membuat Sahara benar-benar ingin pulang saja sekarang.
Dia jadi menyesal karena datang disaat suasana hatinya sedang buruk.
Disampingnya ada Wenda yang sesekali mengajaknya bicara atau berkomentar tentang beberapa pakaian yang ditampilkan, tapi Sahara hanya menanggapi seadanya. Sejak tadi Sahara terus melirik jam ditangannya, tapi waktu masih menunjukkan pukul setengah sembilan malam yang artinya acara ini masih akan berlangsung kurang lebih setengah jam.
"Ra"
Menolehkan kepalanya Sahara menatap Wenda dengan senyum terpaksa.
"Emm ada apa?" Tanya Sahara lesu
"Kamu kenapa sih Ra? Kamu gak kayak biasanya, lagi ada masalah ya?" Tanya Wenda penasaran yang hanya dijawab dengan gelengan pelan oleh Sahara
Sekarang Sahara bingung dengan dirinya sendiri, apa yang dia lakukan salah?
Bahkan untuk datang kesini dia harus memaksa Daffa agar memberi izin padahal ketika datang dia malah ingin pulang.
Apa Sahara egois?
"Aku mau ke kamar mandi dulu ya Da." Kata Sahara
"Mau aku temani?" Tawar Wenda yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Sahara
Sahara bangun dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan diikuti oleh dua orang dibelakangnya. Saat masuk kedua orang itu menjaga di depan pintu kamar mandi untuk memastikan anak dari tuannya tetap terjaga.
Memasuki kamar mandi entah kenapa mendadak Sahara jadi tidak tenang sepertinya dia harus pulang saja dan meninggalkan acara ini, tidak perduli meskipun akan ada yang mengatakan bahwa dia tidak sopan.
Menatap pantulan dirinya di cermin Sahara terdiam, perasaannya benar-benar tidak karuan hari ini.
Pesan dari Kevin.
Kekecewaan Arjuna.
Ketakutan Fahisa.
Amarah Daffa.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan Sahara?
Bahkan Sahara sendiri tidak mengerti biasanya dia selalu terbuka dan tidak pernah menyembunyikan apapun apalagi dikeadaan seperti ini. Dulu saja ketika dia menangis karena ulah seseorang Sahara mengadu dan mengatakannya kepada kedua orang tuanya.
Lalu kenapa sekarang dia malah menyembunyikan hal sepenting ini?
Bersamaan dengan Sahara yang sibuk dengan fikirannya lampu tiba-tiba mati dan gelap mulai menghampiri. Sahara benar-benar terkejut dan takut, dia benci kegelapan.
Tidak sampai disitu Sahara kembali dibuat terkejut dengan suara pintu yang dibuka lalu kunci yang diputar.
Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Dan ketika lampu kembali menyala seketika mata Sahara membulat dengan sempurna ketika seseorang berdiri tepat dibelakang pintu.
Satu persatu kakinya melangkah mundur bersamaan dengan orang itu yang malah mendekat.
"Ada apa dengan wajah kamu Ra?"
Suara itu membuat Sahara merinding dia terus mundur hingga akhirnya berhenti karena terhalang tembok, tapi orang itu masih terus mendekat membuat tubuh Sahara bergetar karena takut.
"Kamu terlihat kaget, ahh ya dua orang suruhan Daddy kamu itu sepertinya sudah mati sekarang"
Sahara semakin takut ketika pria itu sudah semakin dekat.
Sahara ingin lari, tapi belum sempat dia melakukannya tangannya ditarik dengan kasar agar mendekat.
Mata Sahara mulai berkaca-kaca karena rasa sakit dan takut yang dia rasakan.
"Jangan menangis Ra"
Tapi, air mata Sahara malah terjatuh.
Kenapa pria itu bisa ada disini?
Acara masih berlangsung, apa dia tidak takut?
"Jangan perdulikan acaranya Ra, tidak akan ada yang tau apa yang terjadi sama kamu, kamu tau kenapa?" Tanya Kevin dengan seringaiannya
Wajah Kevin mulai mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat Sahara semakin takut.
__ADS_1
"Karena aku sudah mengatur semuanya." Bisik Kevin
"Lepaskan aku.... kumohon." Pinta Sahara membuat tawa Kevin terdengar
Beberapa saat kemudian raut wajah Kevin berubah lalu dia mencengkram kuat rahang Sahara hingga membuatnya meringis kesakitan.
"Bermimpilah untuk yang satu itu Ra." Tegas Kevin
Sahara memberontak dan berusaha mendorong tubuh Kevin dengan sekuat tenaga, tapi semua benar-benar percuma karena sekarang pria itu malah membuka paksa tasnya untuk mengambil ponsel miliknya.
"Kamu tidak akan membutuhkan ini lagi Ra." Kata Kevin membuat Sahara menggelengkan kepalanya pelan dengan tatapan wajah memohon
Tidak lama setelahnya ponsel itu berdering hingga berkali-kali membuat Kevin kembali menyeringai lalu menunjukkan layar ponsel yang kini menampilkan nama Arjuna disana.
"Kamu fikir dia akan berhasil menyelamatkan kamu atau justru mati ditanganku Ra?" Tanya Kevin
"Jangan... jangan sakiti... Kak Juna..."
Kevin mengangkat panggilan telpon itu dan membiarkan Sahara ikut mendengar perkataan Arjuna.
'Halo Ra? Kamu dimana Ra? Aku mohon jangan jauh-jauh dari dua orang suruhan Daddy kamu, jangan sendirian Ra'
Mendengar suara penuh kecemasan itu membuat Sahara menangis dan menatap Kevin dengan penuh permohonan, tapi pria itu hanya diam.
'Ra, kamu dengar aku kan Ra?'
Belum sempat Sahara menjawab Kevin kini menempelkan ponsel itu ditelinganya dan berbicara pada Arjuna.
"Khawatir sekali"
Saat melihat Sahara yang ingin membuka suaranya Kevin langsung mematikan panggilannya dan menjatuhkan ponsel Sahara begitu saja.
"Berhentilah mengadu wanita manja." Kata Kevin yang kini menginjak ponsel Sahara dengan kakinya
"Kamu jahat! Kenapa kamu lakuin ini ke aku?! Aku ada salah apa sama kamu?!" Kata Sahara dengan air mata yang terus mengalir
Sahara yang memang masih berada dicengkaram Kevin memudahkan pria itu untuk menariknya lebih dekat. Bukan menjawab, tapi Kevin malah mendekatkan wajahnya membuat Sahara memberontak hebat.
Tidak tau lagi apa yang harus dia lakukan Sahara menendang ******** pria itu hingga membuatnya melepaskan Sahara dan meringis kesakitan.
Sahara berlari menuju pintu kamar mandi, tapi terkunci berkali-kali dia berusaha membukanya tetap saja pintu itu menutup dengan sempurna.
Kaki itu melangkah mendekat dan dengan sekali sentakan Kevin menarik kasar tangan Sahara lalu mendorongnya keras ke tembok.
"Akhh"
Dicengkramnya kedua bahu Sahara kuat membuat wanita itu meringis kesakitan dan menatapnya takut.
"Aku akan membawa kamu pergi Ra"
Sahara kembali memberontak, tapi semuanya sia-sia.
Sahara menyesal, sekarang dia tidak tau apa yang akan terjadi padanya.
¤¤¤¤
Setelah menjalankan mobilnya seperti orang kesetanan kini Arjuna telah sampai dan dengan segera pria itu turun lalu berlari memasuki gedung tempat dimana acara ini berlangsung. Keringat membasahi tubuhnya dan baru saja akan memasuki tempat acara Arjuna melihat Wenda yang terlihat sedang mencari seseorang.
Arjuna kembali berlari menghampiri wanita itu dengan nafas terengah.
"Dimana Sahara?" Tanya Arjuna tanpa basa-basi
"Justru aku sedang mencarinya tadi dia ke kamar mandi, tapi sampai sekarang belum kembali aku juga sudah menelponnya hanya saja tidak aktif." Kata Wenda membuat jantung Arjuna berdetak dengan begitu cepat
Dia kembali berlari menuju kamar mandi.
Arjuna benar-benar takut kalau sesuatu sampai terjadi dengan Sahara, dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sampai wanita itu terluka.
Di satu pintu kamar mandi terdapat tulisan toilet rusak, tapi Arjuna tetap menerobos masuk lalu membuka satu persatu bilik toilet dan dia tidak menemukan apapun. Menjambak rambutnya frustasi ponsel Arjuna berdering dan menampilkan nama Daffa disana.
Menghela nafasnya pelan Arjuna mengangkat panggilan itu dan dia langsung disambut dengan suara cemas Daffa.
'Arjuna kamu dimana?'
"Aku di dalam gedung Om mencari Sahara kata temannya dia pergi ke kamar mandi, tapi sampai sekarang belum kembali." Kata Arjuna membuat Daffa mengumpat
'Arjuna temui saya di parkiran'
__ADS_1
Panggilan itu dimatikan Arjuna bergegas keluar, tapi dia berhenti sebentar ketika melihat benda yang sangat ia kenali berada di pojok lantai kamar mandi dekat tempat sampah.
Itu ponsel Sahara.
Ponselnya retak bahkan layarnya bisa dikatakan sudah hancur, tapi case phone itu Arjuna sangat mengenalinya mereka membeli itu bersama.
"Brengsek"
Arjuna membawa ponsel itu bersamanya lalu berlari menuju parkiran dan menghampiri Daffa yang sedang sibuk dengan ponselnya. Pria itu sedang menelpon sambil berteriak kepada orang yang ditelponnya.
Wajah pria itu dipenuhi kecemasan dan ketika dia melihat Arjuna panggilan itu langsung dimatikan.
"Aku menemukan ini Om." Kata Arjuna sambil mengusap kasar wajahnya
Daffa memundurkan langkahnya, dia mengenali ponsel anaknya.
Sekarang dia sangat menyesal sudah membiarkan Sahara pergi.
Pria brengsek itu Daffa akan membunuhnya kalau sesuatu sampai terjadi pada anaknya.
¤¤¤¤
Di rumah Fahisa tidak bisa berhenti menangis karena memikirkan Sahara disampingnya ada Devina yang berusaha membuatnya tenang, sedangkan Devano pria itu pergi dengan membawa motornya. Rasa khawatir telah benar-benar menguasai diri Fahisa, dia takut kalau sampai terjadi sesuatu dengan anaknya.
Bagaimana kalau pria itu menyakiti anaknya?
Dia tidak bisa membayangkan kalau Sahara sampai terluka.
Sebelum Daffa pergi Fahisa memarahinya habis-habisan dengan tangisan karena pria itu membiarkan anaknya pergi. Dia tidak bisa begini membayangkan kalau Kevin melukai Sahara telah membuat hatinya sakit bukan main.
"Mommy sudah Daddy pasti akan menemukan Kak Ara." Kata Devina yang sama cemasnya dengan Fahisa
Tapi, dia harus menguatkan Fahisa dan membuatnya berhenti menangis.
"Mommy... sudah bilang.... pada Daddy kamu.... jangan biarkan Sahara pergi, tapi lihat... sekarang Sahara tidak tau ada dimana." Isak Fahisa
Devina tidak lagi bisa berkata jadi dia memutuskan untuk diam dan memeluk Fahisa, mengusap punggungnya dengan lembut berusaha menguatkan Fahisa yang terlihat begitu cemas dan takut.
"Devina bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu dengan Ara?" Tanya Fahisa cemas
"Daddy sama Kak Juna pasti akan menyelematkan Kak Ara." Kata Devina pelan
Fahisa akan mendiamkan Daffa kalau sampai Sahara terluka.
¤¤¤¤
Motor Devano melaju dengan kencang ketika mendengar bahwa Kakaknya menghilang dia langsung pergi dengan motornya. Beberapa minggu belakangan Devano yang sempat mendengar pembicaraan Daffa dengan Arjuna ikut mencari tau tentang pria bernama Kevin secara diam-diam.
Ada beberapa hal yang Devano berhasil dapatkan seperti rumah, apartemen, dan club yang sering pria itu kunjungi. Semua berhasil di dapatkan melalui bantuan ayah temannya yang memang memang cukup mengenal keluarga Kevin.
Hal lain yang dia tau Kevin tinggal sendirian di rumah besar keluarganya karena anggota keluarga yang lain tinggal di Belanda. Sebelumnya Devano ingin mengatakan hal ini kepada Daffa atau Arjuna, tapi dia sangat sulit untuk bertemu keduanya.
Sampai akhirnya malam ini dia kembali mendapat kabar bahwa Kakaknya menghilang ketika menghadiri acara fashion dan hal itu membuat Devano marah. Apalagi ketika di melihat Fahisa dan Devima yang menangis tadi oleh karena itu dia memutuskan untuk pergi sendiri.
Paling tidak Devano akan memastikan apa Kevin membawa Kakaknya ke rumah atau apartemennya.
Motornya melaju dengan begitu cepat melewati beberapa kendaraan lainnya dan sekali menerobos lampu merah untuk mempersingkat waktu.
Dia tidak ingin terlambat menyelamatkan Kakaknya.
Devano juga tau kalau keluarga Kevin sering terlibat permasalahan dan ayah dari temannya juga merupakan salah satu korban dari keluarga Kevin.
Dia mungkin cuek dan terlihat tidak perduli, tapi dia tidak akan pernah membiarkan seseorang sampai melukai keluarganya termasuk Sahara.
'Kak tunggu Vano'
Setelah memastikan keberadaan Sahara dia baru akan memberitau Daffa dan Arjuna.
Ada dua tujuan, tapi saat ini Devano akan menuju rumah Kevin karena pria itu tidak mungkin membawa Kakaknya ke apartemen.
Semoga dugaannya tidak salah.
¤¤¤¤
Ayo semangat Devanoo😙
Maaf baru updateee :"
__ADS_1
Terima kasih yang masih menunggu cerita ini update❤