
Memasuki bulan ketiga kandungannya Sahara lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dan melakukan beberapa pekerjaannya didalam kamar. Sebelumnya sang suami menyiapkan laptop serta perlengkapan yang biasa dia gunakan untuk membuat sketsa.
Beberapa mimggu belakangan Sahara hanya sekali dua kali pergi ke butiknya untuk mengecek dan mengurus beberapa hal yang tidak bisa dia selesaikan di rumah. Selama tiga bulan itu juga Sahara sering kali mengalami mual yang cukup hebat hingga membuat nafsu makannya turun seketika, tapi beruntung seminggi belakangan dia tidak lagi merasa mual.
Bukan mual, tapi Sahara malah memiliki keinginan-keinginan yang begitu besar.
"Devanooo"
Seperti sekarang contohnya Sahara yang tiba-tiba saja sangat ingin bertemu dengan adik laki-lakinya kini dia berada dikediaman kedua orang tuanya. Tidak bersama Arjuna, tapi Sahara datang sendirian menggunakan taxi karena tidak sabar menunggu Arjuna pulang dari restoran.
Dia juga tidak izin terlebih dulu.
"Ehh Ara kamu sama siapa sayang?" Tanya Fahisa sedikit terkejut dengan kehadiran anaknya
"Mommyyy"
Tanpa permisi Sahara memeluk wanita paruh baya itu hingga membuatnya hampir terjungkal kebelakang, beruntung Fahisa dapat menyeimbangkan tubuhnya.
"Sama siapa kesini?" Tanya Fahisa lagi
"Sendirian soalnya Kak Juna masih di restoran dan Ara malas nunggu dia pulang jadi Ara naik taxi kesini." Kata Sahara dengan senyuman polosnya
Fahisa tertawa mendengarnya ternyata Sahara juga sama seperti dia dulu, pergi tanpa sepengetahuan suaminya.
"Ara mau sesuatu?" Tanya Fahisa yang langsung dijawab dengan anggukan oleh anaknya
"Mau ketemu Vano." Kata Sahara antusias
Saat Fahisa ingin berbicara Devano sudah lebih dulu muncul ditangga sambil menatap ke bawah dan menemukan Kakak perempuannya yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Vanoooo"
Dengan penuh semangat Sahara berlari menghampiri adiknya membuat Fahisa harus memberikan peringatan agar dia berhati-hati. Saat sudah berada dihadapan adiknya Sahara memeluknya dengan erat dan Devano yang sebelumnya hanya diam kini turut membalas pelukannya.
"Kakak sama siapa?" Tanya Devano setelah Sahara melepaskan pelukannya
"Sendirian"
"Kak Juna?" Tanya Devano dengan alis bertaut
"Di restoran Kakak juga gak bilang mau kesini." Kata Sahara
Devano hanya mengangguk faham dia hendak melanjutkan langkahnya dan pergi ke tempat tongkrongan bersama teman-temannya, tapi belum sempat turun Sahara menahannya.
"Ihhh mau kemanaa?" Tanya Sahara
"Mau ke rumah teman." Kata Devano
"Gak usah! Kamu disini saja sama Kakak." Kata Sahara dengan wajah galaknya
"Aku udah janji Kak." Kata Devano
"Gak boleh!" Kata Sahara lagi
Devano baru akan bicara sebelum akhirnya Fahisa datang dan berdiri didekat keduanya.
"Memang Ara ada perlu sama Vano?" Tanya Fahisa yang dijawab dengan gelengan kepala olehnya
Beberapa saat setelahnya ponsel disaku celana Devano berdering membuat pria itu langsung mengangkatnya, pasti dari temannya.
'No dimana?'
Devano baru akan menjawab, tapi ponselnya sudah lebih dulu diambil oleh Kakaknya.
"Vano gak boleh keluar rumah." Kata Sahara sambil mematikan panggilan itu begitu saja
Devano menghela nafasnya pelan dan sekali lagi mengatakan bahwa dia harus pergi karena sebelumnya mereka sudah berjanji untuk bertemu, tapi Sahara menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Sini aja! Mommy jangan bolehin Vano pergi." Rengek Sahara pada Fahisa
Sahara tidak tau kenapa, tapi sungguh dia sangat-sangat ingin menghabiskan waktunya dengan adik laki-lakinya yang tampan ini.
Sang adik menatap Fahisa dengan penuh permohonan meminta agar Mommy nya itu membujuk Kakaknya, tapi Fahisa malah menggelengkan kepalanya pelan. Pertanda bahwa dia tidak ingin membantu dan Devano harus menuruti permintaan Sahara.
"Ayolah Kak aku harus pergi temanku menunggu." Kata Devano lagi
Sahara menggelengkan kepalanya pelan lalu mengamit tangan adiknya dan membawanya ke dalam ruang keluarga sembari berkata.
"Kamu harus narut ini permintaan si baby.'' Kata Sahara
Fahisa tertawa melihatnya apalagi wajah Devano benar-benar terlihat kusut, tapi pria itu juga tidak bisa menolak permintaan Kakaknya.
Dia akan menghubungi Daffa dan mengatakan kalau anak mereka datang ke rumah, pasti pria itu akan pulang.
__ADS_1
Di sisi lain Devano benar-benar tidak mengerti kenapa Kakaknya melarang dia pergi dan malah membawanya keruang keluarga. Sahara hanya diam sambil memandang wajahnya membuat Devano bertanya-tanya, ada apa dengan Kakaknya?
"Vina mana?" Tanya Sahara
"Hmm ke rumah temannya." Kata Devano
"Kamu kangen Kakak gak? Kakak kangen terus keponakan kamu juga kangen." Kata Sahara dengan semangat
"Kakak butuh sesuatu?" Tanya Devano
Kembali menggelengkan kepalanya Sahara membuat adik laki-lakinya itu menghela nafasnya pelan, dia harus sabar menghadapi Kakaknya.
Sesaat kemudian pintu dibuk dan Fahisa masuk ke dalam membawa makanan serta minum untuk keduanya.
"Mommy bawa apa?" Tanya Sahara antusias
"Ada brownis tadi pagi Mommy baru buat dan beberapa makanan ringan yang Momny beli kemarin." Kata Fahisa
Diletakkannya nampan itu dimeja dan Fahisa ikut bergabung bersama kedua anak kesayangannya, dia jadi rindu dengan Sahara.
"Daddy mana?" Tanya Sahara sembari memakan cemilan yang Fahisa bawa
"Kerja, tapi Mommy sudah bilang kalau kamu datang mungkin sebentar lagi pulang." Kata Fahisa membuat senyum anaknya semakin mengembang dengan lebar
Sahara juga merindukan Daddy nya.
"Kak ini Kak Juna telpon." Kata Devano sambil menyerahkan ponselnya kepada Sahara
Sahara mengambil ponsel itu dan mengangkat telpon dari sang suami yang pastinya cemas karena dia tak bisa dihubungi.
'Halo Devano apa Ara ada disana? Dia tidak ada di rumah aku sudah mencoba menghubunginya, tapi ponselnya ada di rumah'
Ada nada penuh kecemasan yang Sahara dengar hingga membuatnya tersenyum dan menyapa suaminya dengan riang, tanpa tau jika Arjuna sudah hampir jantungan karena tidak mendapati dia dirumah.
"Kak Junaaa"
Tentu saja Sahara seorang Ibu hamil dan Arjuna harus memakluminya.
¤¤¤
Siang ini Arjuna benar-benar jantungan karena mendapati sang istri yang tidak ada dirumah dengan ponsel yang tergeletak di ranjang, dia sangat cemas. Namun dia dibuat kesal bukan main ketika menelpon Devano dan suara istrinya terdengar begitu riang menyapanya, mengatakan bahwa dia berkunjung ke rumah orang tuanya.
Arjuna hanya kesal karena Sahara sama sekali tidak memberinya kabar atau paling tidak biarkan dia mengantarnya kesana.
Sekarang Arjuna sedang dalam perjalanan ke rumah mertuanya untuk menjemput Sahara mengingat ini sudah sore, tapi semisal istrinya ingin disana sampai malam dia juga tidak keberatan.
"Devanooo pokoknya buatinn!"
Sang istri mengikuti langkah kaki adiknya, tapi ketika melihat dia yang berdiri didekat ruang tamu Sahara berseru senang.
"Kak Junaa"
Arjuna tersenyum sembari membalas pelukan hangat itu semua rasa kesalnya hilang begitu saja ketika melihat wajah bahagia istrinya.
"Kamu mau apa hmm?" Tanya Arjuna
"Mau mie instan, tapi Vano yang masakin." Kata Sahara sambil mengajak Arjuna untuk duduk di ruang tamu
Saat akan duduk ada Daffa yang baru saja turun dan Arjuna segera menghampiri pria paruh baya itu lalu menyapanya dan tak lupa mencium punggung tangannya dengan sopan.
"Vanoo buatinn"
Seruan Sahara kembali terdengar kala Devano muncul dan lewat dihadapannya, wajah adiknya terlihat kusut.
"Kak aku gak bisa buatnya minta buatin Bi Santi aja." Kata Devano membuat Sahara mengerucutkan bibirnya kesal
"Ihh maunya kamu yang buatinnn." Rengek Sahara
Daffa terkekeh melihatnya, sejak dia datang Sahara terus merecoki Devano mulai dari melarangnya pergi, minta dibuatkan teh, minta dibelikan ayam bakar, dan sekarang minta dimasakin mie instan.
Sebenarnya Devano sejak tadi menurut, tapi untuk yang terakhir dia tidak bisa karena pria itu benar-benar tidak bisa memasak.
"Istri kamu terus mengganggu Devano sejak tadi dan bilang kalau semua itu keinginan anak dikandungannya." Jelas Daffa
Arjuna tersenyum lalu menghampiri keduanya.
"Aku saja yang buatkan ya Ra?" Bujuk Arjuna
Sahara menggelengkan kepalanya dengan wajah sedih.
"Maunya Vano yang masakin." Kata Sahara
"Kalau gitu biar aku bantu Devano oke?" Kata Arjuna
__ADS_1
Senyum Sahara mengembang lalu dia menganggukkan kepalanya dengan cepat dan mendorong tubuh adiknya menuju dapur.
"Sanaa buatin mie sama Kak Juna"
Devano benar-benar harus bersabar hari ini.
Di dapur Devano bersama dengan Arjuna sedang membuat mie instan yang diminta oleh si ibu hamil.
"Belakangan ini Sahara memang memiliki permintaan yang aneh." Kata Arjuna sambil menghidupkan kompor
Devano hanya menanggapinya dengan gumaman sembari membuka bumbu-bumbu mie instan yang tersedia.
"Bagaimana kabar keponakanku didalam sana?" Tanya Devano
"Hmm baik kami juga rutin periksa ke dokter kandungan." Kata Arjuna yang ditanggapi dengan anggukan singkat oleh adik iparnya
Di sisi lain Sahara sedang duduk diruang tamu bersama dengan Daddy nya memeluk pria paruh baya itu dari samping sambil menunggu makanannya siap.
Daffa merasa sangat bahagia dengan kedatangan anaknya bahkan tidak lama setelah istrinya menelpon dia pulang ke rumah.
"Daddy mana Mommy?" Tanya Sahara
"Sedang mandi." Kata Daffa yang sekarang sibuk dengan ponselnya
Sahara mengangguk faham lalu melepaskan pelukannya dan berjalan ke dapur untuk melihat suami juga adiknya.
Dia sangat lapar, tapi mie instan nya masih belum matang.
¤¤¤
Sekitar pukul delapan malam keduanya sedang dalam perjalanan pulang meskipun tadinya Fahisa dan Daffa menyarankan untuk menginap saja, tapi Sahara menolak dan mengatakan bahwa dia ingin pulang ke rumah saja. Saat baru setengah perjalanan Sahara tertidur dengan lelap membuat Arjuna tersenyum ketika melihatnya, istrinya itu pasti sangat lelah dan mengantuk.
Tadi istrinya makan dengan begitu lahap bahkan setelahnya Sahara kembali memakan cemilan lalu menghabiskan waktunya dengan mengobrol bersama Devina.
Semua kesalnya hilang begitu saja ketika melihat senyum Sahara.
Sejak hamil Sahara memang menjadi lebih manja bahkan beberapa kali dia melarang Arjuna untuk pergi ke restoran dan menemaninya saja seharian di rumah. Selain itu Sahara juga sering lapar ketika tengah malam beberapa kali Arjuna dibangunkan untuk membuatkan makanan, tentu saja Arjuna dengan senang hati melakukannya karena itu semua permintaan dari anak mereka.
Mami nya dan mertuanya juga bilang kalau Arjuna harus menuruti keinginan Sahara selagi tidak membuat istri dan anaknya bahaya.
Beruntungnya Sahara tidak pernah minta sesuatu yang aneh bahkan bisa dibilang keinginan Sahara mudah dipenuhi.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit mereka sampai dan Arjuna yang tidak ingin membangunkan istrinya dengan hati-hati membawanya kedalam gendongan.
Sahara sendiri sama sekali tidak terusik dan masih terlihat begitu lelap bahkan ketika Arjuna membaringkannya diranjang seraya menarik selimut hingga batas dadanya.
Saat Arjuna ingin mengganti pakaiannya suara Sahara terdengar.
"Kak Junaa"
Matanya masih terpejam.
"Hmm"
Arjuna kembali mendudukkan dirinya disisi ranjang lalu mengusap lembut rambuh istrinya.
"Pelukkk"
Kali ini mata Sahara terbuka dan terlihat jelas jika dia masih sangat mengantuk.
"Iya, aku ganti baju dulu ya? Gak enak pakai kemeja dan celana panjang sayang." Kata Arjuna sambil tersenyum
"Jangan lama"
Arjuna mengangguk lalu pergi ke kamar mandi dan meninggalkan Sahara yang masih membuka matanya, enggan kembali tidur sebelum Arjuna datang.
Tak butuh waktu lama Arjuna keluar dengan kaos berlengan pendek dan celana pendeknya lalu bergabung bersama Sahara.
Senyum Sahara mengembang dan dia langsung memeluk suaminya erat, mencari tempat ternyamannya.
Disandarkan kepalanya didada bidang Arjuna kemudian kembali memejamkan matanya.
"Good night Ra"
Sebuah kecupan mendarat dipuncak kepalanya bersamaan dengan mengeratnya pelukan Sahara.
Keduanya sama-sama pergi ke alam mimpi.
¤¤¤
Akhirnya updatee lagii😂
Makasih yaa yang masih baca cerita ini meskipun udah tamat😄 Aku seneng banget dehh eheee😊
__ADS_1
Besok aku update lagii😉
Extra part nya 5 kedikitan gaa yaa😶