Sahara In Love

Sahara In Love
S2 (8)


__ADS_3

Pemeriksaan kandungan Sahara berjalan dengan lancar dan dokter mengatakan bahwa saat ini kandungannya telah berusia tiga minggu. Semuanya baik kesehatan Sahara dan janin yang dikandungnya sangat sehat membuat Arjuna merasa senang juga lega.


Si kecil Airlangga sedang bersama orang tua Sahara selagi mereka pergi ke dokter dan seusai pemeriksaan Sahara mengajak suaminya untuk berjalan-jalan ke taman. Rasanya sudah lama sekali Sahara tidak pergi keluar dari rumah selain ke butik atau rumah orang tuanya semenjak dia memiliki anak karena Sahara sendiri sangat malas untuk keluar rumah.


Rangkulan Arjuna dibahunya membuat Sahara merasa aman dan tidak perlu takut untuk hal apapun.


Masih sedikit tidak percaya jika sekarag dia sudah menjadi seorang Ibu dan memiliki keluarga kecil yang bahagia, rasanya baru kemarin Sahara kecil merengek manja pada orang tuanya. Ternyata waktu memang secepat itu berlalu yang tanpa dia duga belasan tahun telah terlewat dan meninggalkan jutaan kenangan untuknya.


Saat ini yang Sahara ingin lakukan hanya memberi kebahagiaan untuk orang-orang yang sangat dia sayangi, memberikan mereka kenangan indah yang tak terlupakan.


"Kamu tidak dingin?"


Suara Arjuna menyadarkan Sahara dari lamunannya dan dia langsung menjawab dengan gelengan singkat.


Cukup ramai orang berlalu lalang dan ada juga beberapa anak kecil yang bermain dengan riang membuat Sahafa kembali mengingat masa kecilnya.


Menghembuskan nafasnya panjang Sahara mengamit tangan sang suami dan menyandarkan kepalanya di tangan kekar milik Arjuna.


"Kamu bahagia tidak Mas menikah sama Ara?" Tanya Sahara secara tiba-tiba


Arjuna tidak langsung menjawab, tapi mengajak Sahara untuk duduk disalah satu bangku taman yang kosong.


"Masih perlu bertanya?" Kata Arjuna sambil tersenyum kecil


Sahara mengangguk singkat dan kembali berbicara tentang hal yang sempat memenuhi fikirannya.


"Waktu dulu Ara selalu penasaran tentang siapa yang akan menjadi pasangan Ara kelak dan Ara selalu bertanya-tanya, apa nanti dia mau menerima sifat kekanakan Ara?"


Mata Sahara menerawang ke memori yang mendadak terbesit diingatannya, beberapa kali dia mencintai dan sakit hati karena tidak ada yang benar-brnar bisa menerimanya dengan sepenuh hati.


Bahkan sampai sekarang Sahara masih sangat ingat perkataan-perkataan apa saja yang pernah dia dengar dan dapatkan.


'Kamu tuh egois tau gak Ra? Apa-apa maunya diturutin dan mudah banget marah aku capek tau gak?'


'Kamu mau tau apa salah kamu? Kamu itu keras kepala, manja, dan egois semua sikap kamu bikin aku muak'


'Kamu fikir untuk apa aku mendekati kamu kalau bukan karena dari keluarga kaya dan terpandang?'


Pria yang pernah mendekatinya dan mengaku mencintai Sahra ternyata hanya kepalsuan semata. Sejak awal mereka hanya melihat Sahara dari rupa dan hartanya, tapi mereka tidak pernah bisa menerima Sahara apa adanya.


"Berkali-kali Ara sakit hati sampai Ara pernah berfikir bahwa tidak akan pernah ada yang bisa mencintai Ara dengan tulus dan Ara pernah memukul rata asumsi bahwa semua lelaki itu sama saja,"


Arjuna mendengarkan istrinya bercerita dengan serius, tidak ada kesedihan di wajah Sahara yang ada hanya senyum tipis yang menghiasi wajah cantiknya.


Sahara seakan bersyukur dengan semuanya.


"Sampai akhirnya Ara ketemu Anjani dan kenal sama Mas Juna, lelaki yang berhasil bikin Ara kembali jatuh cinta,"


Keduanya saling melemparkan senyum sampai akhirnya Sahara kembali bicara dan mengungkapkan alasan penolakan yang selalu Sahara berikan dulu.


"Ara jatuh cinta dengan Mas Juna, tapi setiap kali Mas menyatakan cinta Ara selalu menolak, mau tau kenapa?" Tanya Sahara


Arjuna tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Ara takut sakit hati lagi kalau nanti Mas Juna tau sifat kekanakan Ara, tapi sekali lagi Mas Juna selalu berhasil meluluhkan hati Ara dan meruntuhkan benteng yang telah Ara buat." Kata Sahara


Kali ini Arjuna yang mulai berbicara.


"Mau tau kenapa aku tidak pernah menyerah untuk mendapatkan hati kamu?" Tanya Arjuna yang langsung dijawab dengan anggukan oleh istrinya


Dengan senyuman Arjuna kembali berbicara sambil menggenggam erat tangan istrinya


"Karena aku tau kamu tidak mau kalau aku menyerah, benar kan?" Kata Arjuna


Sahara diam dan enggan menjawab membuat Arjuna tertawa kecil lalu kembali melanjutkan perkataannya.


"Seandainya kamu memang mau aku menyerah pasti kamu akan memperlakukan aku dengan buruk, tapi yang aku tau kamu selalu menerima kehadiran aku dengan baik dan terkadang memberikan perhatian untukku." Kata Arjuna membuat Sahara tersenyum ketika mendengarnya


Jujur saja setiap kali dia meminta Arjuna untuk pergi Sahara akan merasa sangat takut dan menyesal dengan perkataannya.


Arjuna memang benar meskipun dia selalu memintanya untuk pergi, tapi hati Sahara tidak pernah mau jika Arjuna benar-benar meninggalkannya.


"Kamu memang sering kesal dengan kedatangan aku, tapi setiap kali aku tidak datang kamu pasti mencariku kan?" Kata Arjuna lagi


Sekali lagi suaminya benar.

__ADS_1


Jika satu hari saja Arjuna tidak datang atau menghubunginya Sahara akan mencari pria itu sambil terus berfikir, apa Arjuna sudah benar-benar menyerah?


Ternyata benar kata orang sering kali apa yang diucapkan dengan apa yang diinginkan itu tidak sejalan.


Sahara selalu meminta Arjuna untuk pergi, tapu hatinya selalu ingin Arjuna untuk disisinya.


"Aku hanya memberikan waktu dan membiarkan takdir membawa kita pada waktu yang tepat untuk bersama." Kata Arjuna


Keduanya saling melemparkan senyum lalu secara bersamaan mengalihkan pandangan kepada suara tangis seorang anak kecil.


Tidak jauh dari tempatnya berada seorang anak perempuan tengah menangis sambil menatap lututnya yang terluka, mengingatkan Sahara akan dirinya dulu.


Secara refleks Sahara berdiri dan menghampiri anak itu karena tak ada yang datang menghampirinya.


"Hikss sakit"


Saat melihat sepasang kaki anak itu mendongak dan menatap Sahara dengan mata penuh air mata juga isakan yang terdengar.


"Ssst jangan nangis sayang." Kata Sahara berusaha menenangkannya


Mendekatkan wajahnya Sahara meniup luka itu dengan pelan membuat anak dihadapannya menatap Sahara masih dengan isakannya.


"Kamu sama siapa kesini?" Tanya


Sahara


"Sama... hikss... Mama"


"Ayo duduk dulu disana jangan disini kotor." Kata Sahara


Sahara ingin menggendongnya, tapi Arjuna lebih dulu datang dan menggendong anak itu lalu mendudukkannya di tempat mereka tadi duduk.


"Mama kamu dimana sayang?" Tanya Sahara lagi


"Disana tadi aku mainnya jauh." Isak anak itu


Sekali lagi Sahara jadi mengingat dirinya ketika masih kecil, bermain sepeda dan menjauh dari pandangan orang tuanya lalu terjatuh.


Saat ingin kembali bicara seruan seorang wanita terdengar dan ketika Sahara menoleh wanita itu berlari ke arah mereka dengan wajah paniknya.


"Sara kamu kenapa? Mama cariin kamu dari tadi." Katanya cemas


"Mama aku jatuh"


Menghela nafasnya pelan wanita paruh baya itu menggendong anak bernama Sara tersebut dan berterima kasih kepada Sahara juga Arjuna.


Sahara memperhatikan mereka yang berjalan menjauh dengan senyuman, kasih sayang seorang Ibu.


Meskipun hanya sekedar goresan kecil mereka akan selalu cemas dan bertanya, kamu kenapa? Apa sakit? Kamu baik-baik saja kan?


"Teringat sesuatu hmm?" Tanya Arjuna ketika melihat istrinya yang memperhatikan kedua orang yang telah menghilang dari pandangannya


Terkekeh pelan Sahara menganggukkan kepalanya.


"Inget Ara waktu masih kecil"


Arjuna ikut tersenyum lalu merangkul Sahara dan mengajaknya untuk pulang.


"Pulang yuk?"


Mengangguk singkat Sahara menggenggam erat tangan suaminya dan setelahnya mereka berjalan beriringan.


"Angga rewel gak ya Mas?"


"Semoga saja tidak"


"Tapi, dia biasanya rewel kalau gak ada aku." Kata Sahara


"Tidak lagi, sekarang dia sudah besar dan akan menjadi seorang Kakak"


Perkataan suaminya itu membuat Sahara tersenyum.


Airlangga akan menjadi seorang Kakak.


Sahara akan menjadi Ibu dari dua orang anak.

__ADS_1


Keluarga kecil Arjuna akan semakin ramai.


¤¤¤


Beberapa jam sejak pulang dari rumah orang tuanya Sahara merasa sangat mual dan terus muntah hingga terlihat begitu pucat, Arjuna sangat cemas melihatnya. Beruntung Airlangga sedang tertidur lelap dan tidak menangis sehingga Arjuna bisa menjaga istrinya.


Selalu begini di awal bulan kehamilan Sahara akan sering merasa mual juga muntah hingga tubuhnya terasa begitu lemas. Saat ini Sahara sudah berbaring diranjang dengan mata terpejam karena berusaha meredam kepalanya yang terasa sedikit pusing.


Disampingnya Arjuna memijat pelan kepala istrinya berharap bisa meredakan sedikit sakit kepalanya.


"Mau minum?" Tanya Arjuna yang dijawab dengan anggukan oleh Sahara


Mengambil air di nakas Arjuna membantu Sahara untuk minum lalu membiarkan istrinya yang kini duduk sambil bersandar pada kepala ranjang.


"Masih pusing?" Tanya Arjuna lagi


"Emm sedikit"


"Mual?"


"Sudah tidak Mas"


"Perutnya masih sakit?"


"Tidak lagi"


"Kamu ngantuk?"


"Tidak"


"Ada yang kamu inginkan?"


Pertanyaan Arjuna yang tidak ada habisnya membuat Sahara tertawa kecil dengan wajah pucatnya.


"Ara akan bilang kalau butuh sesuatu." Kata Sahara


Arjuna mengangguk faham dan beberapa saat setelahnya suara tangis si kecil Airlangga terdengar.


"Angga nangis"


"Biar aku saja kamu istirahat." Kata Arjuna


Berlari kecil ke kamar Airlangga dia dapat melihat anaknya yang tengah menangis dengan kaki yang sibuk menendang ke atas.


Dengan segera Arjuna menggendong anaknya dan mengusap-ngusap pundaknya.


"Ada apa baby? Kamu lapar? Atau kamu ingin main bola sama Papi?" Tanya Arjuna


Tangis Airlangga belum reda membuat Arjuna membawanya keluar dari kamar.


Sahara tersenyum kecil lalu meminta sang suami untuk memberikan Airlangga padanya agar berhenti menangis.


"Tidak usah kamu istirahat saja." Kata Arjuna


"Ma Ma"


Tangis Airlangga semakin terdengar membuat Sahara menghela nafasnya pelan dan kembali meminta suaminya agar memberikan anak mereka padanya.


"Sama Papi aja hmm? Kasihan nanti Mami sakit." Kata Arjuna membuat Sahara tersenyum kecil saat mendengarnya


"Aku gak gendong kok Mas, sini Angga nya bawa sini." Kata Sahara sambil menepuk sisi ranjang disebelahnya


Menghela nafasnya pelan Arjuna menurut dan mendudukkan Airlangga disebelah Sahara.


Anehnya Airlangga diam lalu merangkak dan mendekati Sahara.


Tertawa kecil Sahara menggenggam tangan mungil anaknya membuat si kecil Airlangga berdiri dengan bantuan Sahara.


"Pintarnya anak Mami"


Si kecil Airlangga terlihat girang dia menggerakkan tangannya membuat Arjuna dan Sahara tersenyum senang ketika melihatnya.


Ah mereka jadi tidak sabar dengan kehadiran bayi mungil lainnya.


¤¤¤

__ADS_1


Cerita si kembar aku publish antara minggu ini atau minggu depan oceee😉


Anak perempuan atau laki-laki lagi nihh??


__ADS_2