
Mendengar kabar kehamilan kedua Sahara semua anggota keluarga merasa begitu bahagia bahkan Fahisa memaksa mereka untuk menginap satu hari dan tentu saja Sahara tidak bisa menolaknya. Selain itu Sahara sendiri masih merasa lemas karena tadi dia memuntahkan seluruh makanan yang sudah ia makan dan sampai sekarang Sahara masih malas untuk mengisi perutnya.
Semua anggota keluarga telah pulang dan kini mereka berkumpul di kamar Sahara, mengajaknya mengobrol juga mengucapkan selamat serta terima kasih. Melihat hal itu Arjuna tersenyum senang apalagi istrinya juga terlihat begitu bahagia meskipun wajahnya terlihat sedikit pucat.
"Kak Ara mau makan apa? Kakak harus makan yang banyak supaya keponakan Vina sehat"
Saat mendengar kedatangan sang kakak serta berita kehamilannya Devina bergegas pulang dan dengan penuh kebahagiaan memeluk kakaknya lalu mencium pipinya hingga berkali-kali.
"Ya ampun Daddy sudah mau punya dua cucu itu bagus sekali Ara"
Daffa pun sama mendengar kedatangan anaknya saja dia langsung bergegas pulang karena secara kebetulan dia tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan.
"Aku mau keponakan perempuan"
Sedangkan Devano baru datang ketika sore hari dan pria itu langsung menemui kakaknya untuk mengucapkan selamat lalu mengatakan permintaannya.
Rasanya menyenangkan saat kalian bisa menjadi alasan kebahagiaan bagi orang-orang yang kalian sayangi.
Menjelang malam hanya tersisa Arjuna serta si kecil Airlangga di kamar Sahara dan sampai sekarang Sahara sendiri masih enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya.
Dia duduk dan bersandar di kepala ranjang sambil memperhatikan anaknya yang sedang asik bermain.
"Tadinya aku mau berita ini Mas Juna duluan yang tau, tapi ternyata Mommy yang lebih dulu tau." Kata Sahara
"Bukan masalah sayang entah siapa yang mengetahuinya lebih dulu karena yang paling penting adalah aku senang dengan kabar baik ini." Kata Arjuna sambil mengusap sayang rambut hitam istrinya
Sahara tersenyum lalu membawa Airlangga ke pangkuannya membuat si kecil merengek karena diganggu ketika sedang bermain.
"Kenapa baby? Kamu tidak kangen sama Mami?" Tanya Sahara
Si kecil Airlangga malah menangis membuat Sahara terkekeh pelan lalu menggendongnya.
"Maaf sayang"
Masih terus menangis Sahara berdiri dan berjalan menuju jendela kamarnya diikuti dengan Arjuna yang berjalan dibelakangnya.
Perlahan tangis Airlangga mereda membuat Sahara mencium pipinya dan sesaat setelahnya dia merasakan rangkulan dibahunya, tidak perlu dipertanyakan siapa orangnya karena di kamar ini Sahara hanya bertiga dengan suami juga anaknya.
"Dulu Ara paling suka melihat matahari terbenam dari sini." Kata Sahara sambil menunjuk jendela kamarnya
"Aku kira dulu kamu sering memandangi seseorang dari jendela ini." Canda Arjuna yang malah mendapat jawaban tidak terduga dari istrinya
"Hmm memang pernah Mas dulu waktu masih sekolah." Kata Sahara jujur
Dia memang pernah memandangi seseorang dari jendela kamarnya, melihat salah satu temannya yang biasa lari sore.
"Pernah?" Tanya Arjuna yang dijawab dengan anggukan oleh Sahara
"Rumahnya disana," Kata Sahara sambil menunjuk rumah bercat hijau yang terlihat dari jendela kamarnya
Arjuna diam dan mendengarkan istrinya bercerita dengan raut wajah kesal.
"Dulu dia sering lari sore, sendirian dan sambil menunggu matahari terbenam Ara juga nungguin dia lewat dengan rambut berantakan karena keringat juga...."
Perkataan Sahara terhenti ketika Arjuna mencubit pipinya cukup kuat dan membuat Sahara menatapnya dengan bibir mengerucut, tapi dia kembali dibuat terkejut dengan kecupan singkat dibibirnya.
"Kamu berani lanjutkan aku akan mencium kamu sampai pingsan." Kata Arjuna dengan wajah kesalnya
Sahara tertawa kecil karena wajah suaminya terlihat sangat lucu.
"Baby kamu lihat Papi kan? Dia sangat nakal kamu jangan seperti itu ya?" Kata Sahara pada anaknya yang hanya menatapnya dengan wajah yang begitu polos
"Ma.. Ma"
Sahara tersenyum ketika mendengar suara Airlangga dan dia tetap diam ketika si kecil memainkan wajahnya sambil tertawa riang.
Ikut tersenyum Arjuna jadi membayangkan kehadiran bayi mungil lainnya di keluarga mereka nanti, pasti akan sangat menyenangkan.
"Baby kamu akan punya adik sebentar lagi, apa kamu senang hmm?" Tanya Sahara sambil menciumi pipi anaknya dengan gemas
__ADS_1
"Tentu saja dia sangat senang Ra." Kata Arjuna
Saat tengah menatap ke luar jendela Sahara tersenyum kala melihat seseorang yang sedang membuka gerbang, orang yang tadi dia bicarakan.
"Lihat Mas, dia yang dulu sering Ara lihat dari jendela kamar ini." Kata Sahara
Arjuna mengalihkan pandangannya ke arah yang istrinya tunjuk dan disana ada seorang pria dengan pakaian santainya sedang berjalan seorang diri.
Melihat sang istri yang tersenyum sambil menatapnya membuat Arjuna kembali merasa kesal dan langsung menutup mata Sahara dengan telapak tangannya.
"Jangan dilihat"
Sahara tertawa karena tingkah suaminya dan ketika Arjuna memutar tubuhnya lalu membuat Sahara menatapnya raut wajah kesal terlihat jelas disana.
"Lihat aku saja"
Berbalik arah Sahara membawa si kecil Airlangga kembali ke ranjang dan meninggalkan suaminya yang masih terlihat kesal.
Astaga dia tersenyum karena mengingat tingkahnya dulu, memandangi orang lain dari jendela kamar sambil mengagumi sosoknya diam-diam.
Sahara dan pria itu juga hanya teman biasa mereka tidak terlalu dekat.
"Ara jangan lihat pria lain lagi! Lihat suami kamu saja." Kata Arjuna lagi
Sahara hanya bergumam pelan sebagai tanggapan lalu kembali mengajak anaknya bermain.
"Araa"
Terkadang Arjuna memiliki sifat yang tidak pernah orang lain sangka.
Dasar suami yang mudah cemburu.
¤¤¤
Kalian pasti sudah tau kalau Anjani dan Sahara itu sangat mirip kan?
Setiap hari selalu ada tingkah Devina yang membuat kembarannya kesal bukan main, tapi dia tidak pernah bisa protes atau marah karena Devina akan selalu menang. Seperti sekarang ketika Devano sedang memainkan gitarnya sambil menunggu makan malam tanpa rasa berdosa Devina datang dan mengganggunya sambil membawa beberapa buku.
Biar Devano luruskan, bukan mengajari, tapi mengerjakan tugas milik Devina.
Sebenarnya Devina hanya akan meminta tolong seperti sekarang untuk tugas Matematika saja sedangkan yang lainnya dia biasa mengerjakan sendirian.
"Nanti"
Hanya satu kata itu yang Devano ucapknya sebelum akhirnya dia kembali fokus pada gitar dipangkuannya, mencoba mencari kunci untuk lagu yang ingin dia nyanyikan.
Devina mengangguk singkat lalu mendudukkan dirinya disebelah kembarannya.
"Vano ajarin aku main gitar." Pinta Devina membuat Devano menghela nafasnya pelan
Dia bukan tidak mau mengajari kembarannya, tapi kalian harus tau kalau Devina pernah merusak gitarnya dan jari kembarannya itu pernah tergores karena bermain gitar.
Lalu kalian tau apa?
Saat tangan Devina terluka dia akan merengek dan mengeluh sakit, padahal lukanya kecil.
Devano jadi tidak mau menuruti keinginannya lagi.
"Vanoo ajarinn"
Devina menggoyang-goyangkan lengan Devano karena pria itu tidak kunjung menanggapi ucapannya.
Lihat kan?
"Vina lebih baik kamu ke kamar kamu saja dan menonton film jangan ganggu aku." Kata Devano dengan wajah datarnya
Bibir Devina mengerucut kesal karena ucapan kembarannya.
"Gak mauu"
__ADS_1
Menghela nafasnya pelan Devano meletakkan gitarnya disamping lalu menatap kembarannya.
"Jangan Vin nanti tangan kamu luka lagi, memang mau?" Tanya Devano yang dijawab dengan gelengan kepala oleh kembarannya
Setelahnya Devano mengambil buku yang tadi dibawa Devina dan menanyakan mana yang harus dikerjakan.
"Ini nih Van susah tau aku gak ngerti-ngerti." Kata Devina
"Bukan kalo pelajaran ini kamu gak pernah ngerti?" Tanya Devano
Pertanyaannya mengesalkan, tapi wajah Devano ketika bertanya tidak bereskpresi apapun membuat Devina malah semakin kesal.
"Kamu gak pernah mau ajarin aku!" Bela Devina
"Kamu gak pernah dengerin kalau aku jelasin." Kata Devano lagi
Devina mengerucutkan bibirnya kesal dan memilih untuk diam, dia memang sebodoh itu untuk pelajaran hitung menghitung.
"Jangan ngambek"
Devano mengacak rambut kembarannya ketika melihat wajah kesal Devina karena perkataannya.
"Sini sekarang dengerin aku jelasin." Kata Devano
Mengangguk singkat Devina mendengarkan penjelasan yang Devano berikan meskipun tidak yakin dia akan faham dan mengingatnya untuk latihan-latihan selanjutnya, tapi tidak papa Devina akan mendengarkan.
Saat keduanya tengah fokus pada buku pelajarannya Sahara masuk ke dalam dan melihat kedua adiknya yang terlihat akur.
Dia tersenyum lalu menyapa keduanya membuat mereka mendongak dan ikut tersenyum saat melihat Sahara datang.
Mendudukkan dirinya ditengah-tengah kedua adiknya Sahara melihat buku yang ada di meja dengan dahi berkerut.
"Ini tugas kalian?" Tanya Sahara
"Bukan tugas aku, tapi minta ajarin Vano soalnya aku gak ngerti." Kata Devina sambil menunjukkan cengirannya
"Kerjaiin bukan ajarin." Kata Devano membuat Devina berdecak kesal dan memukul lengannya
"Gak papa Vina aku juga dulu gak pinter Matematika kok biasanya kalau disekolah lihat sama Anjani soalnya dia yang ngerjaiin Mas Juna." Kata Sahara sambil tertawa kecil
Devina tersenyum senang.
"Aku ada Devano kok Kak dia yang biasanya ngerjaiin." Kata Devina membuat kembarannya mendengus kesal
"Itu bagus"
Kalau sudah berkumpul seperti ini pasti Devano yang akan menjadi bahan omongan.
Sudah dia bilang kan kalau Devina dan Sahara itu sangat mirip?
"Kak mau tau gak?" Kata Devina dengan antusias
"Apa? Apa?" Tanya Sahara penasaran
"Vano lagi pdkt sama cewek." Seru Devina membuat Devano melotot ketika mendengarnya
"Siapaa? Kamu kenal? Punya fotonya gak?" Tanya Sahara penasaran
"Ada nih Kakak harus lihat"
Hanya satu hal yang membuat Devano kesal kalau sudah kumpul bertiga, dia akan menjadi tumbal sebagai bahan perbincangan.
Menyebalkan sekali kan?
¤¤¤
Siapa yang mau baca cerita si kembarrr???
Terima kasih banyak untuk kalian semua yang selalu nunggu cerita ini update❤
__ADS_1
Luvvv😚