
Hari pernikahan sudah semakin dekat dan semua persiapan telah selesai dilakukan kini Sahara serta Arjuna hanya tinggal menunggu sampai hari bahagia itu tiba, tapi sudah tiga hari ini mereka tidak diperbolehkan bertemu. Saat ini keduanya hanya berhubungan melalui telpon dan hampir seharian Sahara melakukan panggilan vidio bersama dengan Arjuna, dia mengeluh karena mereka tidak boleh bertemu.
Disamping kebahagiaan yang semakin dekat keduanya juga merasa sedih karena akan berpisah dengan keluarga masing-masing dan tinggal di rumah sendiri. Iya, Arjuna sudah menyiapkan sebuah rumah untuk mereka tinggali setelah menikah nanti.
Saat malam Sahara sering kali merenung, dia memikirkan tentang kehidupannya setelah menikah. Rasanya masih cukup berat untuk meninggalkan kedua orang tua dan adiknya.
"Kak Araaaa"
Seruan Devina membuat Sahara tersadar dari lamunannya dan langsung menatap adiknya yang kini berlari menghampirinya.
"Ada apa Vina?" Tanya Sahara ketika adik perempuannya itu bergabung di atas ranjang dan memeluknya dari samping
"Gak papa mau menghabiskan waktu sama Kakak sebelum Kakak dibawa pergi sama Kak Juna nanti." Kata Devina membuat Sahara tertawa kecil ketika mendengarnya
Dia pasti akan sangat merindukan adik perempuannya yang cerewet ini.
"Gak dibawa pergi Vina, nanti kan Kakak bakal sering main kesini lagian Kakak juga pasti bakal kangen sama kalian semua." Kata Sahara
"Hmm Vina tau cuman kan bedaaa nanti Kakak gak tinggal disini lagi, nanti kalau Vina mau cerita bagaimana Kak?" Tanya Devina sambil menatap kakak perempuannya yang sedang tersenyum
"Sama Vano aja." Kata Sahara yang langsung membuat Devina mengerucutkan bibirnya kesal
Dia cerita sama Devano tidak akan pernah di dengar dan sekalinya di dengar malah diabaikan.
Saudara kembarnya itu sangat menyebalkan.
"Malas! Nanti Vina telpon Kakak aja ya?" Kata Devina
"Kenapa harus izin? Kamu bisa telpon Kakak dan bertemu sama Kakak jangan khawatir Devina." Kata Sahara sambil tersenyum manis
Keduanya lalu terdiam dan menikmati waktu kebersamaan, Devina memang sangat manja ketika bersama Sahara karena Kakaknya yang memanjakan dia. Mereka sering menghabiskan waktu bersama dan Devina juga sering tidur di kamar Sahara lalu bercerita tentang banyak hal dengannya.
Dia tidak sedih hanya saja memikirkan tentang kedepannya ketika Sahara tidak lagi berada di rumah yang sama dengannya. Tentu saja Devina bahagia karena Sahara akan menikah dengan orang yang dia cintai.
"Kakak bahagia?" Tanya Devina
"Sangat"
"Apa keluarga Kak Juna juga baik sama Kakak?" Tanya Devina lagi
Dia sudah bertemu dengan keluarga Arjuna, mereka baik apalagi Clara yang sangat ramah hanya saja Devina sedikit takut dengan Abian karena wajahnya sangat datar.
"Baik kok kamu jangan khawatir Vina Kakak sering ketemu sama mereka dan pernah ikut malam bersama juga." Kata Sahara
"Hmm aku hanya takut Kak." Kata Devina
Tersenyum penuh arti Sahara melepaskan pelukan adiknya lalu menangkup wajahnya dan tersenyum manis.
"Vina gak mau kalau Kakak diperlakukan tidak baik, tapi Vina yakin kalau Kak Juna dan keluarganya tidak mungkin memperlakukan Kakak dengan buruk." Kata Devina
"Hmm jangan sedih gitu dong Vina kan Kakak gak jauh-jauh dari kamu." Kata Sahara
Mencubit pipi adiknya dengan gemas Sahara kembali memeluk Devina dengan erat. Saat keduanya sedang berpelukan tiba-tiba pintu terbuka dan Devano dengan wajah tanpa ekspresinya masuk.
Melihat kedua wanita itu sedang berpelukan Devano berniat untuk berbalik karena niatnya dia ingin meminjam laptop Sahara, tapi tidak jadi nanti saja.
Belum sempat pergi Sahara yang sudah melepaskan pelukannya melompat dari atas ranjang dan memeluk adik laki-lakinya itu dengan erat.
"Vanoo mau kemana?" Tanya Sahara
"Mau pinjem laptop, tapi Kakak lagi sama Vina nanti saja." Kata Devano
"Sini dulu ke kamarnya nanti saja." Kata Sahara sambil menarik paksa Devano agar ikut bergabung bersama mereka
Devano yang awalnya menolak hanya bisa pasrah dan membiarkan sang Kakak membawanya untuk duduk di tengah-tengah mereka.
"Mau ngapain sih Kak?" Tanya Devano
"Gak ngapa-ngapain." Kata Sahara membuat Devano menghela nafasnya pelan
Melihat reaksi adik laki-lakinya Sahara tertawa kecil lalu memeluk Devano dari samping, dia juga pasti akan sangat merindukan Devano.
"Kakak mau habisin waktu sama kalian, memang kamu gak bakal kangen sama Kakak?" Tanya Sahara
"Kangen"
__ADS_1
Devano hanya menjawab dengan satu kata, tapi Sahara begitu bahagia ketika mendengarnya.
"Kak"
"Emm kenapa?"
"Sering-sering main ke rumah ya kalau nanti sudah menikah." Kata Devano yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Sahara
"Tanpa kamu minta Kakak bakal sering datang kesini Vano." Kata Sahara
"Sama satu lagi,"
"Apa?" Tanya Sahara sambil melepaskan pelukannya dan menatap mata adiknya
"Jangan sembunyikan hal apapun lagi, jangan takut untuk bicara lagi." Kata Devano membuat senyum Sahara perlahan mengembang
Dia jadi ingat ketika Devano menyelematkan dia di malam yang begitu buruk.
Sahara tidak pernah menyangka bahwa Devano yang akan datang.
Dia janji akan selalu mengatakan semuanya kepada mereka, tidak akan ada lagi hal yang dia sembunyikan.
"Iya adikku yang paling ganteng." Kata Sahara sambil mencubit gemas pipi Devano
Kali ini Devano hanya diam sampai akhirnya Sahara memeluknya disusul dengan Devina yang melakukan hal yang sama.
Malam ini ketiganya berpelukan dan menikmati kebersamaan mereka yang mungkin akan sulit lagi untuk dilakukan.
¤¤¤¤
Pukul tiga pagi Sahara terbangun dari tidurnya entah karena apa dan ketika mencoba untuk kembali memejamkan mata dia tidak lagi bisa kembali ke alam mimpi. Beberapa hari belakangan Sahara memang terbangun lebih awal dan seperti yang dia lakukan sebelumnya Sahara meraih ponselnya di nakas lalu menelpon Arjuna, calon suaminya.
Pria itu juga sudah tau kalau Sahara sering terbangun lebih awal bahkan tadinya dia menyarankan agar Sahara memeriksakan keadaannya, tapi Sahara rasa itu tidak perlu karena dia baik-baik saja dan tidurnya pun sudah cukup.
Tak perlu menunggu lama panggilan itu telah di angkat dan Sahara langsung disambut dengan sapaan Arjuna yang kelihatannya baru saja bangun dari tidur karena suaranya terdengar serak.
'Kebangun lagi hmm?'
"Iya Kak kebangun lagi kalai Kakak kebangun karena Ara telpon ya?" Tanya Sahara
'Iya soalnya hanya kamu yang telpon di jam segini'
'Sabar ya Ra? Sebentar lagi kok nanti kamu bakal lihat wajah aku terus'
"Iya sih Kak cuman kan tetap saja Ara kangen sama Kak Juna mau ketemu mau pelukk." Rengek Sahara membuat kekehan terdengar di telinganya
'Nanti kalau sudah menikah bisa lebih dari peluk kok Ra'
Kali ini Sahara mengerucutkan bibirnya kesal dengan pipi yang memanas, beruntung mereka hanya berbicara melalui telpon jadi Sahara tidak perlu bingung menutupi rona merah di pipinya.
"Kak Juna mah jangan bicara gitu Ara jadi malu." Keluh Saharaa
'Kenapa malu? Kan aku benar Ra nanti bisa peluk sambil tidur terus cium juga boleh'
"KAK JUNA IH!" Kesal Sahara membuat tawa Arjuna terdengar jelas di telinganya
'Iya iya maaf kita bahas yang lain saja gimana?'
"Yaudah, bahas apa?" Tanya Sahara yang kembali semangat karena akan berganti topik
Tapi, perkataan Arjuna setelahnya membuat Sahara benar-benar ingin memukul pria itu sekarang juga.
'Bahas bulan madu bagaimana? Kamu maunya kemana Ra? Atau kamu mau di rumah saja? Aku gak papa dimana juga bisa'
"MALAS IH SAMA KAK JUNA!" Seru Sahara
Dengan penuh kekesalan Sahara mematikan ponselnya secara sepihak dan sekarang dia merasa wajahnya begitu panas.
Arjuna kurang ajar.
Kenapa dia jadi mesum sekarang?
Tidak lama setelah itu ponselnya bergetar hingga berkali-kali dan ketika Sahara membukanya pesan dari Arjuna terus masuk ke dalam ponselnya.
Arjuna memang hebat, dia membuatnya marah dan kesal, tapi dalam waktu singkat dia bisa membuatnya tersenyum lebar.
__ADS_1
Maaf :(
Jangan maaf dong calon istriku yang cantik :*
Nanti aku kirim hadiah biar kamu gak marah♡
Jangan manyun-manyun gitu muka kamu lucu
Aku juga kangen kamu Ra
Kangen bangetttt
Sampai ketemu di hari pernikahan♡
Astaga sekarang Sahara semakin merindukan Arjuna dia ingin menemui pria itu dan memeluknya sekarang juga.
¤¤¤¤¤
Membantu Fahisa di dapur adalah kegiatan yang Sahara lakukan selama dia di rumah selain membantu Sahara juga belajar memasak, tentu saja dia malu kalau tidak memasak. Setidaknya saat sudah menikah nanti Sahara bisa memasak walaupun tidak mahir dan hanya tau beberapa resep masakan, tapi itu lebih baik dari pada dia tidak tau sama sekali.
Tadi seusai menerima pesan dari Arjuna mereka melakukan panggilan vidio hingga pagi barulah setelah itu Sahara keluar dari kamarnya dan menghampiri Fahisa yang sudah sibuk di dapur.
Sejak kemarin Fahisa terus memberi tau banyak hal yang harus dia lakukan juga hindarkan ketika sudah menikah nanti. Selain itu Fahisa juga mengatakan bahwa ketika sudah menikah nanti Sahara tidak boleh sering merajuk dan harus saling pengertian dengan Arjuna.
"Sebentar lagi anak Mommy akan menikah rasanya baru kemarin Ara menangis karena jatuh dari sepeda." Kata Fahisa
Nada bicaranya terdengar sedih Sahara tau dan dengan senyum manisnya Sahara mengatakan sesuatu yang membuat Fahisa menatapnya penuh arti.
"Nanti Ara akan sering main kesini seperti kita dulu sering main ke rumah Oma." Kata Sahara
"Ternyata anak Mommy benar-benar sudah besar." Kata Fahisa membuat Sahara tersenyum senang
Sambil memasak keduanya berbincang tentang banyak hal dan sesekali tertawa hingga tanpa terasa semua sudah selesai. Setelah itu keduanya menata makanan di meja yang mana Daffa dan si kembar sudah duduk manis menanti sarapan mereka.
Seperti biasa sebelum duduk di tempatnya Sahara akan memeluk dan mencium satu persatu dari mereka, kebiasaan yang tidak akan bisa dia lakukan ketika sudah menikah nantinya.
"Ara mau ke butik hari ini?" Tanya Daffa sebelum memulai sarapannya
"Tidak Daddy hari ini Ara mau di rumah saja." Kata Sahara
Mengangguk faham Daffa terdiam sambil memandang wajah anak pertamanya.
Sahara anak pertama Daffa yang sangat dia sayangi.
Rasanya belum rela jika dia harus melepas Sahara karena sebentar lagi anaknya itu akan menikah.
Menghela nafasnya pelan Daffa mulai menyantap sarapannya dan mencoba menghilangkan segala fikiran buruk itu dari otaknya.
Seusai menyantap sarapan Sahara langsung membantu Fahisa untuk membersihkan piring kotor dan ketika selesai Bi Santi datang menghampiri mereka sambil membawa sebuket bunga yabg begitu indah.
"Ini untuk Non Ara tadi ada yang mengantar." Kata Santi
Sahara mengerutkan dahinya bingung lalu mengeringkan tangannya dan mengambil alih buket bunga itu. Saat memegangnya dia teringat sesuatu, pesan Arjuna ternyata pria itu benar-benar mengirim hadiah.
Semoga kamu suka Ra♡
Senyum Sahara langsung mengembang dan kedua orang disebelahnya langsung menggoda Sahara membuat pipinya jadi merona seketika.
"Ara mau ke kamar dulu." Kata Sahara malu
Berlari kecil ke kamarnya Sahara langsung meletakkan buket bunga itu di ranjangnya dan mengambil ponselnya di bawah bantal.
Benar saja sudah ada pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
Arjuna benar-benar bisa membuatnya bahagia.
Suka tidak Ra hadiahnya?
Semoga suka ya♡
Sampai jumpa di hari pernikahan:*
Dia jadi sangat merindukan Arjuna sekarang.
¤¤¤¤
__ADS_1
Hmm bentar lagi acara nikahann😚😚
Tunggu yaa part selanjutnyaaa❤