
Berkali-kali terbangun dari tidur nyenyaknya Sahara berakhir dengan lingkar mata hitam dan kepala yang sedikit pusing di pagi harinya, pesan Kevin benar-benar membuatnya ketakutan hingga sulit untuk tidur. Sejak tadi Sahara sudah bangun, tapi dia belum beranjak dari tempat tidurnya dan masih berbaring kepalanya sakit jika harus dipakai berdiri.
Sahara sudah melewatkan sarapan dia tau ketika Fahisa datang sambil membawa nampan berisi sarapan untuknya lengkap bersama dengan obat, dia bosan minum obat. Saat melihat Sahara yang terlihat tidak baik Fahisa langsung menatapnya dengan cemas dan secara refleks meletakkan tangannya di dahi Sahara, tapi tidak demam.
"Ara tidak bisa tidur tadi malam." Kata Sahara mengaku sebelum Fahisa sempat bertanya
"Kenapa tidak bisa tidur sayang? Seharusnya kamu bahagia kan? Kenapa terlihat murung hmm?" Tanya Fahisa sambil mengusap lembut rambut hitam anaknya
Menggelengkan kepalanya pelan Sahara menolak untuk menjawab dan malah meminta Fahisa untuk menyuapinya, dia sangat manja ketika sedang sakit kalian tau itu.
"Mommy Ara mau makan, tapi suapin." Kata Sahara
Sambil tersenyum kecil Fahisa mulai menyuapi Sahara dengan perlahan dan memperhatikan anaknya yang sudah tumbuh dewasa itu, seorang anak yang telah memberikannya kehidupan yang bahagia.
"Besok kalau Ara susah tidur lagi panggil Mommy saja ya? Atau minta temani Devina kamu baru sembuh harus istirahat yang cukup." Kata Fahisa
Mengangguk faham tadinya Sahara juga ingin melakukan hal itu, tapi dia tidak tega membangunkan Fahisa atau Devina karena sudah terlalu larut malam.
"Mommy"
Menatap anaknya dengan penuh kelembutan Fahisa menunggu perkataan selanjutnya yang ingin Sahara sampaikan.
Dia tau anaknya itu ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tidak berani atau tidak tau harus mengatakannya dari mana.
"Tadi malam Ara sangat bahagia karena Kak Juna melamar Ara ini lihat bahkan sekarang Ara sudah pakai cincin,"
Menunjukkan cincin yang melingkar du jari manisnya Sahara membuat Fahisa tersenyum senang, artinya Arjuna sudah berhasil.
"Kami juga pergi ke pasar malam, tapi beberapa saat setelah sampai di rumah Kevin telpon Ara dan tidak Ara angkat sampai berkali-kali sampai akhirnya dia kirim pesan banyak,"
Mengambil ponselnya di bawah bantal Sahara menunjukkan rentetan pesan yang pria itu kirimkan ke Fahisa. Perlahan Fahisa membaca pesan-pesan itu dan dia terkejut mengetahui bahwa Kevin bukanlah pria baik.
Mendadak Fahisa ingat kejadian yang juga pernah menimpanya, pesan tentang ibu kandung Sahara yang membuatnya menangis hebat.
Dia tau apa yang Sahara rasakan, anak itu pasti kefikiran hingga tidak bisa tidur nyenyak.
"Dia jahat Mommy, dia pernah berbuat jahat sama Ara." Kata Sahara dengan mata yang mulai berkabut
Melihat hal itu Fahisa mendadak cemas lalu meletakkan nampan yang ada dipangkaunnya ke nakas dan memeluk Sahara erat, menenangkan putri kesayangannya.
"Dia pernah melakukan sesuatu sama Ara? Apa yang dia lakukan? Cerita sama Mommy." Kata Fahisa
Dengan isakan kecil Sahara mulai bercerita, dia sangat takut.
Mendengar setiap kalimat yang keluar Fahisa merasa begitu marah, bisa-bisanya pria itu menyakiti Sahara kalau Daffa tau dia pasti murka.
"Ara takut, nanti kalau dia menyakiti Ara atau Kak Juna bagaimana? Takut Mommy." Kata Sahara
Menangkup wajah anaknya Fahisa menghapus jejak air mata Sahara lalu tersenyum menenangkan, anaknya akan baik-baik saja pria itu tidak akan mampu menyentuh Sahara meski hanya seujung kuku.
Fahisa tidak akan membiarkannya.
"Jangan takut sayang tidak akan terjadi apa-apa hmm? Ada Daddy dan Arjuna mereka tidak akan membiarkan Ara terluka, sudah jangan menangis lagi nanti kalau Daddy lihat dia akan cemas." Kata Fahisa
Ikut mengusap kedua pipinya Sahara kembali memeluk Fahisa dan menyandarkan kepalanya di pundak wanita paruh baya itu, dia juga takut kalau nantinya Daffa akan marah.
"Kepala Ara jadi pusing Mommy." Kata Sahara lagi
"Yaudah minum obat dulu yuk? Habis ini tidur lagi." Kata Fahisa yang dijawab dengan anggukan oleh anaknya
Setelah memberikan segelas air putih dan obat yang harus diminum Fahisa meminta Sahara untuk kembali istirahat juga tidak cemas masalah ancaman Kevin. Mengusap lembut kepala anaknya sebelum pergi Fahisa menyelimuti Sahara lalu mencium keningnya.
__ADS_1
"Istirahat ya Ara kalau butuh apa-apa panggil Mommy atau Bi Santi saja." Kata Fahisa yang kembali dijawab dengan anggukan singkat
Tersenyum tipis Fahisa meninggalkan kamar Sahara, dia akan mengatakan semuanya kepada Daffa supaya suaminya itu melakukan sesuatu. Dia tidak mau jika Sahara sampai terluka hanya karena obsesi yang dimiliki seseorang.
Fahisa yang sudah meletakkan nampan tadi di dapur langsung menuju ruang kerja suaminya dan membuka pintu itu tanpa permisi membuat Daffa yang lagi sibuk dengan berkasnya langsung mendongak. Saat mata mereka bertemu Daffa tersenyum dan Fahisa langsung menghampiri pria itu untuk bicara, tapi Daffa malah menariknya hingga Fahida duduk dipangkuannya.
"Ada apa sayang?" Tanya Daffa sambil memeluk istrinya
"Tadi aku ke kamar Ara bawaiin dia sarapan dan obat." Kata Fahisa sambil mendongak untuk menatap mata suaminya
"Dia sudah lebih baik?" Tanya Daffa
Bukan menjawab Fahisa malah menghela nafasnya pelan membuat Daffa jadi berfikiran buruk.
"Kenapa? Apa Ara demam lagi? Terjadi sesuatu?" Tanya Daffa cemas
"Katanya tadi malam dia tidak bisa tidur dan waktu aku kamarnya Ara terlihat tidak bersemangat lalu dia bilang kalau kepalanya sakit." Kata Fahisa
"Pasti karena kurang tidur, apa kita perlu membawanya ke rumah sakit lagi Fahisa? Bukankah seharusnya dia senang karena Arjuna melamarnya." Kata Daffa
"Tadinya dia bahagia Mas, tapi..."
Menggigit bibir bawahnya pelan Fahisa sedikit ragu, dia takut kalau suaminya itu marah besar dan melakukan hal yang buruk karena emosinya.
"Tapi apa Fahisa? Katakan, apa Arjuna melakukan sesuatu yang menyakiti Sahara?" Tanya Daffa dengan cepat
Fahisa menggelengkan kepalanya pelan lalu mulai bercerita.
"Bukan Arjuna, tapi ada teman Ara ketika di sekolah dulu sepertinya dia terobsesi dengan Sahara." Kata Fahisa
"Ceritakan Fahisa aku ingin tau semuanya, Sahara pasti sudah cerita sama kamu." Kata Daffa tegas
"Siapa namanya?" Tanya Daffa
"Kevin, aku tidak tau nama lengkapnya Mas." Kata Fahisa
"Sudah itu saja cukup, sekarang Sahara sedang apa?" Tanya Daffa pada istrinya
"Tidur, dia sudah makan dan minum obat juga." Kata Fahisa
Mengangguk faham kini Daffa mengalihkan pandangannya kepada Fahisa memeluknya dan menyembunyikan wajahnya diceruk leher sang istri, hal yang paling dia suka sejak dulu.
"Aku akan menjaga Sahara nanti kalau dia sudah mulai ke butik aku akan cari penjaga untuk Ara." Kata Daffa membuat Fahisa tersenyum senang
"Dia takut sekali tadi Mas, kasihan biasanya Ara tidak pernah begitu." Kata Fahisa sedih
"Aku akan membuatnya menyesal seumur hidup kalau dia sampai berani melukai Sahara, sejak dulu Sahara selalu diperlakukan dengan baik bahkan dibentak pun tidak pernah wajar kalau dia sampai setakut itu." Kata Daffa
Kembali menatap wajah suaminya Fahisa mengusap pipi Daffa dengan begitu lembut, dia sangat tau seperti apa Daffa dan keluarganya memperlakukan Sahara.
"Kamu harus menjaga dia Mas jangan sampai dia terluka sedikit pun, Sahara harus selalu tersenyum." Kata Fahisa
Mengangguk singkat Daffa mencium sekilas bibir istrinya dan membuat wanita itu jadi merona seketika, Fahisa memang masih sama.
Dia sangat pemalu.
¤¤¤¤
Rahang Arjuna kembali mengeras dan tangannya juga mengepal dengan erat baru saja Daffa menelpon lalu mengatakan bahwa anaknya mendapat ancaman dari pria bernama Kevin. Saat ditelpon Daffa meminta Kevin untuk menjelaskan semua hal yang dia tau tentang Kevin dan Arjuna menjelaskannya dengan begitu lengkap, termasuk semua keburukan pria itu yang suka pergi ke club malam.
Saat ini Arjuna sedang dalam perjalanan menuju kantor Daffa karena pria itu memintanya untuk bertemu disana, mungkin membahas tentang Kevin. Setelah sampai Arjuna langsung menuju lantai teratas dan mengetuk pintu sebelum benar-benar masuk ke dalam ruang kerja Daffa.
__ADS_1
"Sudah sampai? Duduklah Om mau bicara." Kata Daffa
Mengangguk singkat Arjuna mendudukkan dirinya dihadapan Daffa dengan jantung yang berdetak sangat capat, tidak dapat dipungkiri Arjuna merasa sedikit takut setiap kali bicara dengan Daffa.
"Kamu kenal Kevin dari lama? Kamu tau dia sempat dekat dengan Sahara dulu?" Tanya Daffa tanpa ada basa-basi sedikitpun
"Kenal Om saya juga satu sekolah sama Sahara dan saya tau kalau mereka sempat dekat, bahkan ada yang mengatakan bahwa mereka berdua sempat pacaran, tapi Sahara bilang tidak." Kata Arjuna menjawab dengan sejujur-jujurnya
"Kamu juga tau pria itu sempat datang ke butik Sahara dan melakukan sesuatu yang buruk kepada anak saya?" Tanya Daffa
Kali ini nada bicaranya terdengar lebih tegas matanya juga sangat tajam dan dengan keberanian Arjuna mengangguk lalu menceritakan semuanya.
"Setiap makan siang biasanya Juna selalu ke butik, tapi waktu itu tidak dan kebetulan juga semua karyawan di butik pergi makan di luar karena Sahara memang selalu menutup sementara butik kalau waktu makan siang,"
Daffa hanya mendengarkan dengan seksama tanpa memotong ucapan Arjuna.
"Saya telpon Sahara berkali-kali, tapi tidak diangkat lalu ketika saya telpon asistennya dia bilang Sahara dikantor dan setelah itu Juna pergi ke kantor dan melihat Sahara yang menangis hebat disana,"
Tangan Daffa terkepal erat ketika mendengar bahwa Sahara menangis, dia benar-benar benci mendengarnya.
"Saya panik dan menenangkan Sahara lalu setelah tenang dia bilang kalau Kevin datang dan membentaknya juga sempat.... menciumnya,"
Arjuna cukup terkejut kala Daffa mendongak dan menatapnya dengan tajam, mungkin itu bukti amarahnya yang mendengar anaknya diperlakukan seperti itu.
"Setelah tenang dan Sahara pulang Juna pergi ke kantor Kevin untuk memperingati dia Juna juga memukulnya, tapi pria itu tidak takut dan malah mengancam balik mengatakan bahwa dia akan merebut Sahara kembali." Kata Arjuna
Mengusap wajahnya Daffa benar-benar tidak bisa membiarkan hal ini terjadi dia harus melakukan sesuatu untuk melindungi anaknya.
"Apa yang kamu tau tentang pria brengsek itu?" Tanya Daffa
"Dia dari keluarga terpandang setelah lulus dia kuliah di Belanda lalu melanjutkan perusahaan orag tuanya dan memiliki bisnis lain juga, tapi pria itu sering ke club malam mabuk dan meniduri wanita." Kata Arjuna
Berdecih pelan Daffa tidak habis fikir, berani sekali pria seperti itu ingin menjadi pasangan anaknya?
"Dengar Arjuna kamu sudah melamar anak saya dan dia juga sudah menerima kamu, jadi kita harus sama-sama melindungi Sahara jangan sampai dia terluka." Kata Daffa yang langsung dijawab Arjuna dengan anggukan pasti
"Saya tidak akan membiarkan Sahara terluka Om." Kata Arjuna
"Besok temui saya lagi ada yang harus kita bicarakan dan jangan beri tau Sahara, dia baru sembuh jangan sampai banyak fikiran." Kata Daffa
Arjuna kembali mengangguk faham.
"Arjuna"
"Iya Om?"
"Bagaimana kalau kita melakukan pertunangan dulu untuk kamu dan Sahara?" Saran Daffa
Mendengar hal itu Arjuna tersenyum, tentu saja itu adalah ide yang bagus.
"Saya akan bicara sama keluarga saya dan menyampaikannnya kepada Sahara." Kata Arjuna dengan penuh semangat
Mengangguk singkat Daffa dapat melihat kebahagiaan di mata Arjuna, pria itu sangat mencintai putrinya.
"Saya tunggu kabarnya"
Mereka akan melindungi Sahara bersama-sama.
¤¤¤¤
****** kamu Kevin Daddy Daffa sudah tauu😈
__ADS_1