Sahara In Love

Sahara In Love
S2 (8)


__ADS_3

Bulan pertama kehamilan kedua Sahara berlangsung dengan baik, tidak ada keluhan berat yang dia rasakan dan selama itu pula Sahara malah memiliki nafsu makan yang baik meskipun sering kali merasa mual dan muntah. Semasa kehamilan istrinya Arjuna memutuskan untuk mengurangi jam kerjanya tanpa Sahara minta dan sesekali Sahara juga masih pergi ke butik untuk melakukan pekerjaannya.


Saat ini Sahara tidak mau terlalu banyak berdiam di rumah sehingga dia lebih sering melakukan banyak aktifitas di luar bersama suami serta anaknya. Ada banyak hal yang mereka lakukan seperti kemarin Sahara mengajak Arjuna untuk jalan-jalan pagi yang tentunya dengan mengajak si kecil Airlangga.


Hari ini Sahara akan pergi ke butik bersama anaknya sedangkan Arjuna harus ke kantor mertuanya untuk bekerja, tapi pria itu berjanji akan pulang sebelum malam. Setelah mengantar Sahara ke butik Arjuna langsung pergi ke kantor dan tidak lupa dia selalu mengingatkan istrinya untuk makan siang tepat waktu.


Sahara membiarkan si kecil Airlangga berjalan dengan tangan mungilnya yang ia genggam.


Senang rasanya ketika Airlangga tidak sering minta untuk digendong lagi bahkan sekarang anak itu malah menangis ketika Sahara atau Arjuna ingin menggendongnya.


"Heyy keponakan uncle yang tampan"


Sahara tersenyum ketika mendengar suara Gibran kala dia melewati tempat pemotretan, ada Gibran dan Diandra serta para model yang melakukan pemotretan.


"Pagi uncle Iban." Kata Sahara


Si kecil Airlangga langsung menolak dan merengek ketika Gibran ingin menggendongnya membuat Sahara tertawa ketika melihat wajah kesal milik Gibran.


"Kenapa tidak mau sama uncle? Nanti uncle akan belikan Angga mainan yang banyak." Kata Gibran


"Jangan Kak dia gak mau." Kata Sahara sambil tertawa kecil


Gibran mendengus kesal, keponakannya itu sangat sombong karena tidak mau dia gendong padahal Gibran kan ingin merasakan rasanya menggendong anak kecil.


"Ra bawakan laporannya ya? Tolong atur pertemuan dengan Wenda juga dan setelah makan siang nanti kita ke rumah produksi." Kata Sahara yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Diandra


"Siap Kak"


Tersenyum senang Sahara menggendong si kecil Airlangga dan membawanya ke dalam ruang kerjanya, sebelum itu dia melambaikan tangan mungil anaknya kepada Gibran dan meledeknya.


"Dadah uncle Iban aku mau nemenin Mami kerja dulu, Uncle kalau mau anak lucu kayak aku menikah dulu." Kata Sahara


Gibran berdecak kesal dengan wajah masamnya membuat Sahara dan Diandra tertawa melihatnya.


"Kamu tuh nyebelin tau gak sih Ra?" Kesal Gibran


"Tauuu"


Bersama anaknya Sahara masuk ke dalam ruang kerjanya dan menempatkan si kecil Airlangga di karpet lembut kecil yang ada dekat meja kerjanya, tidak lupa Sahara juga memberikan berbagai macam mainan kepada anaknya agar tidak menangis.


Seperti biasa Airlangga akan terlihat begitu bahagia ketika melihat bola-bola dengan berbagai warna, sebentar lagi ruang kerja Sahara akan seperti taman bermain.


Setelah memastikan anaknya tenang dengan mainannya Sahara menghidupkan laptopnya dan mengeluarkan beberapa berkas dari laci meja kerjanya.


Rasanya menyenangkan karena Sahara masih bisa bekerja tanpa melupakan kewajibannya sebagai seorang istri dan Ibu bahkan Sahara sudah terbiasa dengan hari-hari yang ia jalani.


Ceklek


Diandra memasuki ruangan Sahara dan menghampirinya dengan beberapa berkas yang ia bawa.


"Kak ini laporan keuangan di cabang butik Kakak dan tidak ada masalah sama sekali, sepertinya tempat itu memang cukup strategis seperti dugaan Kakak." Kata Diandra membuat Sahara tersenyum senang ketika mendengarnya


"Sudah telpon Wenda?" Tanya Sahara sambil mengambil berkas yang ada pada asistennya


"Sudah Kak dia minta untuk bertemu besok." Kata Diandra


Mengangguk faham Sahara meminta Diandra untuk mengatakan pada Gibran agar setelah makan siang menemani mereka ke tempat produksi mengingat Sahara tidak membawa mobil.


"Baik Kak"


Diandra baru ingin keluar, tapi dia menyempatkan diri untuk menghampiri si kecil Airlangga yang tengah asik bermain.


"Bukankah ruanganku sudah seperti taman bermain? Ada kasur bayi, karpet, dan banyak mainan disini." Kata Sahara ketika melihat Diandra menghampiri anaknya


Diandra tertawa ketika mendengarnya, ruangan Sahara memang terlihat cukup penuh mungkin karena itu dia tidak pernah bertemu client disini lagi. Ada kasur bayi yang memang Sahara siapkan kalau anaknya tidur lalu karpet lembut dan banyak mainan agar anaknya tidak menangis selagi dia bekerja.


"Bagus dong Kak." Kata Diandra


Sahara hanya bisa tersenyum menanggapinya, memang benar kehadiran Airlangga bukan menghambat pekerjaannya, tapi malah membuat Sahara merasa lebih nyaman dalam melakukan pekerjaannya.


Meskipun kadang kali menangis, tapi kalau Sahara merasa lelah lalu dia menatap wajah si kecil Airlangga rasanya semua bebannya hilang dan senyum manisnya kembali terbit.


Airlangga tidak melakukan apapun, tapi kehadirannya mampu membuat orang tua mereka merasa bahagia.


Setelah menyampaikan apa yang ingin dia laporkan Diandra keluar dari ruangan Sahara dan kembali ke tempat pemotretan untuk membantu para model bersiap.


Saat kembali ke tempat pemotretan Diandra tersenyum singkat pada Gibran ketika mata mereka bertemu lalu masuk ke wardrobe untuk menemui para model.


"Ehh Diandra cepetan dong bantuin gue siap-siap"


Seruan itu membuat Diandra menahan nafasnya pelan, selalu ada model yang semena-mena dengannya.


Diandra tau posisinya tidak tinggi karena dia hanya seorang asisten, tapi setidaknya mereka bisa kan memakai sopan santun untuk meminta bantuan?

__ADS_1


Dengan meredam semua kekesalannya Diandra tersenyum tipis lalu menghampiri Alicia, salah satu model yang menurutnya sangat cantik.


Cantik wajahnya, tapi untuk sikapnya mungkin masih perlu dipertanyakan.


"Gue harus tampil maksimal dan jangan sampai make up plus baju gue gak sesuai ya? Gue harus bisa bikin Gibran terpesona ya meskipun itu gak perlu sih." Katanya sombong


Diandra hanya tersenyum tipis lalu membantu wanita itu untuk bersiap, ada dua orang yang bertugas di wardrobe dan membantu para model untuk bersiap melakukan pemotretan.


Biasanya pemotretan hanya dilakukan setiap satu atau dua minggu.


Sekitar setengah jam membantu mereka bersiap Diandra langsung mendudukkan dirinya di sofa dan menyandarkan kepalanya lalu memejamkan mata.


Mungkin jika bukan karena Sahara dia akan mengundurkan diri saja.


"Kenapa Ra?" Tanya Jena sambil mendudukkan diri tepat disebelah temannya


"Hmm gak papa Jen cuman pegel aja." Kata Diandra yang tidak sepenuhnya berbohong


Entah berapa lama Diandra dan Jena berbincang sebelum akhirnya mereka keluar untuk melihat sesi pemotretan.


Hal pertama yang bisa Diandra lihat adalah Alicia yang merapat pada Gibran sambil melihat ke kamera, mungkin melihat hasil foto.


Ailicia memang cukup berani diantara yang lainnya.


Diandra menahan nafasnya sebentar saat kedua orang itu saling melemparkan senyum.


Memang salahnya kan?


Seharusnya dia tau dimana tempatnya.


Diandra hanya seorang yatim piatu yang harus berusaha sendiri untuk mencukupkan kehidupannya.


Berbeda dengan mereka yang memiliki kehidupan sempurna.


"Diandra"


Sedikit tersentak Diandra menolah dan menatap Jena sambil tersenyum tipis.


"Kamu gak papa?" Tanya Jena


Diandra terkekeh pelan dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja.


Setelah menghela nafasnya pelan Diandra menampilkan senyum manisnya lalu melangkahkan kaki untuk lebih dekat ke tempat pemotretan.


¤¤¤


Sudah hal biasa jika Arjuna harus menggantikan Abian di berbagai pertemuan penting bahkan sebulan belakangan Arjuna baru pergi ke restoran sekitar satu atau dua kali dan selebihnya dia selalu pergi ke kantor. Saat ini dia baru saja selesai meeting dan sedang dalam perjalanan kembali ke kantor bersama dengan Ghea, sekretaris Abian mereka sedikit mengobrol diperjalanan untuk menghilangkan jenuh.


Sejak tadi Arjuna mendengarkan Ghea yang berbicara tentang tunangannya yang sebentar lagi akan melamarnya, dia bercerita bahwa dia sedikit ragu untuk melakukan pernikahan. Bisa dibilang Ghea sangat mudah untuk akrab dengan orang lain dan wanita itu juga sangat profesional jika menyangkut pekerjaannya.


"Gimana ya Pak? Sebenarnya dia ini baik dan perhatian juga, tapi kadang dia sering nyembunyiin sesuatu gitu dan buat saya jadi overthinking padahal kalau dia bilang jujur kan lebih baik." Kata Ghea dengan wajah kesalnya


"Mungkin dia ingin menjaga perasaan kamu, saya juga tidak tau." Kata Arjuna seadanya


Ghea bergumam pelan lalu mengalihkan pembicaraannya dan berhenti membahas tentang tunangannya.


"Kalau Bapak sendiri pernah gak nyembunyiin sesuatu dari istri Bapa?" Tanya Ghea


Arjuna terdiam dan sedikit berfikir, sepertinya tidak pernah.


"Saya rasa tidak pernah, kami berdua saling terbuka satu sama lain tentang apapun." Kata Arjuna


Mengangguk faham Ghea berhenti bicara karena mereka telah sampai di kantor dan Arjuna bergegas keluar lalu berjalan lebih dulu, dia ingin menelpon istrinya.


Saat memasuki ruang kerja milik Papi nya Arjuna mendudukkan dirinya di sofa lalu mengeluarkan ponsel dan menelpon Sahara, dia merindukan istrinya yang sedang hamil dan anaknya.


Arjuna melakukan panggilan vidio dan tak butuh waktu lama Sahara mengangkatnya dan wajah sang istri yang sedang tersenyum menyambutnya.


'Mas Junaaa'


"Hai sayang, sudah makan siang?" Tanya Arjuna yang dijawab dengan anggukan oleh Sahara


Ah lucu sekali Arjuna jadi ingin mencubitnya.


'Mas Juna dimana?'


"Di kantor baru selesai meeting, kamu lagi dimana?" Tanya Arjuna


'Lagi di jalan mau ke tempat produksi'


"Sama siapa Ra?" Tanya Arjuna cepat


Tertawa kecil Sahara mengataka bahwa dia pergi bersama Gibran dan hal itu membuat Arjuna merasa lega.

__ADS_1


"Mana baby Angga?" Tanya Arjuna lagi


Sahara tersenyum lalu sedikit menurunkan ponselnya dan menunjukkan si kecil Airlangga yang ada dipangkuannya sambil memegang dot bayi.


'Baby lihat ada Papi'


Arjuna merasa gemas ketika melihat anaknya yabg sedang menyusu, pipinya sangat tembam.


Beberapa saat setelahnya Arjuna dibuat tertawa karena anaknya menarik ponsel milik Sahara.


'Baby jangan kan kita lagi telpon Papi'


Suara Sahara terdengar dan membuat Arjuna tersenyum senang.


Saat Arjuna kembali melihat wajah istrinya yang cemberut dia terkekeh pelan.


Tak lama setelahnya terdengar suara benda dilempar bersamaan dengan suara istrinya.


'Baby kenapa dilempar?'


Lalu suara tangisan terdengar.


'Mas aku matiin dulu Angganya nangis'


Tanpa menunggu jawaban Arjuna panggilan itu dimatikan membuat Arjuna tersenyum penuh arti.


Dia tidak sabar ingin bertemu Sahara dan si kecil Airlangga.


¤¤¤


Pukul Lima sore Arjuna dalam perjalanan untuk menjemput Sahara ke butik dan dia terlihat sangat semangat untuk bertemu keluarga kecilnya. Saat sampai Arjuna juga segera turun dan menghampiri sang istri di ruang kerjanya, dia dapat melihat Sahara yang sedang merapihkan meja kerjanya dan Airlangga yang tengah tertidur lelap di karpet bersama dengan mainan yang berceceran.


Arjuna tersenyum penuh arti lalu mengetuk pelan pintu membuat istrinya mendongak dan menatapnya dengan senyum manis.


"Mas Juna kapan sampainya?" Tanya Sahara


Memasuki ruang kerja istrinya Arjuna memeluk Sahara dari belakang dan membiarkan istrinya itu tetap pada kegiatannya merapihkan meja.


"Baru saja, apa Angga baru tidur?" Tanya Arjuna


"Emm baru saja tadi waktu aku matikan telpon Mas Juna karena Airlangga sedikit rewel, dia melempar dotnya dan menangis." Kata Sahara sambil tertawa kecil


"Kamu lelah?" Tanya Arjuna yang dijawab dengan gelengan kepala oleh istrinya


"Tidak sama sekali, aku malah sangat bersemangat." Kata Sahara membuat Arjuna terkekeh pelan mendengarnya


"Mau apa hmm?" Tanya Arjuna yang sangat tau jika sudah seperti ini pasti Sahara ingin sesuatu


"Mau makan ice cream yaa?" Kata Sahara


Dia memutar tubuhnya menghadap Arjuna dan menatapnya dengan lucu membuat Arjuna mengecup bibir mungilnya berkali-kali.


"Jangan banyak-banyak oke?" Kata Arjuna


Sahara mengangguk dengan semangat dan kembali memutar tubuhnya lalu memasukkan ponsel serta dompetnya ke dalam tas.


"Yuk"


"Mau makan di mana?" Tanya Arjuna


"Di rumah aja soalnya Angga masih tidur." Kata Sahara


Arjuna mengangguk faham lalu mengambil tas milik Sahara dan memakainya.


Dengan hati-hati Sahara mengangkat tubuh anaknya yang membuat si kecil menggeliat dan sedikit merengek, tapi kembali tenang setelah Sahara mengusap punggungnya dengan lembut.


"Nanti malam mau makan apa? Biar aku yang masak." Kata Arjuna


"Emm apa yaa? Nanti saja belum kepikiran." Kata Sahara


Arjuna mengangguk singkat lalu merangkul bahu istrinya.


Senang sekali rasanya karena sekarang dia memiliki Sahara dan anak-anaknya.


Satu hal yang Arjuna harapkan, kebahagiaan ini tidak akan berakhir.


Semoga senyuman mereka akan terus terukir.


¤¤¤


Maaf kemarin gak update😶


Cerita si kembar publish besok atau minggu depan yaaa😋

__ADS_1


__ADS_2