
Pertengkaran merupakan hal yang biasa terjadi di rumah keluarga Wijaya, tentu saja pelakunya adalah si kembar yang hampir setiap hari berdebat hingga bertengkar bahkan sampai saling melempar bantal. Kedua orang tua mereka hanya akan memperhatikan mereka dengan senyuman, senang karena masih ada yang meramaikan rumah meskipun tidak dipungkiri keduanya juga sering kali dibuat pusing dengan pertengkaran anak mereka.
Tapi, Kakak beradik memang sering bertengkar kan?
Rasanya mendengar seruan Devina atau decakan kesal Devano adalah makanan sehari-hari bagi kedua orang tua mereka.
Bagaimana tidak?
Saat pagi hari Devano akan menggerutu kesal karena sulit membangunkan Devina dan dia akan mendiami saudara kembarnya kalau mereka sampai terlambat ke sekolah karena Devina yang terlalu lama bersiap. Sedangkan ketika pulang sekolah Devina yang akan menggerutu dan mengomel karena Devano yang sering meninggalkan dia atau tidak memberi kabar jika pria itu ingin latihan.
Tapi, sebagai saudara kembar keduanya memiliki ikatan yang sangat kuat.
Setiap kali salah satu diantara mereka tidak ada pasti akan merasa kehilangan bahkan pernah Devano menginap di rumah temannya dan Devina yang biasa mendengar suara gitar saudara kembarnya itu merasa kehilangan, dia bahkan merecoki Devano dengan tidak berhenti menelponnya.
Hanya saja ketika mereka sedang bersama pasti akan ada pertikaian.
"Vina apaan sih?!"
Satu hal yang paling membuat Devano kesal adalah ketika saudara kembarnya itu mengganggu dia bermain gitar, sangat menyebalkan.
"Ihh bosann"
Devina memang sangat mirip dengan Sahara kan?
Dia sangat manja dan terkadang sikap manjanya membuat Devano sebal. Perlu kalian tau jika Devina sering berpura-pura menangis jika dia tidak mau mengikuti permintaannya.
Tentu saja kalau Devina menangis yang akan dimarahi Devano.
"Lalu?" Tanya Devano malas
"Kamu gak bosan Van?" Tanya Devina yang dijawab dengan gelengan singkat olehnya
Kembali fokus dengan gitar dipangkuannya Devina menghela nafasnya pelan, dia menopang dagu dan memperhatikan saudara kembarnya yang tengah bermain gitar.
Kalau dilihat-lihat Devano sangat tampan dan begitu mirip dengan Daddy mereka, tapi dia penasaran kira-kira Devano sudah memiliki kekasih belum ya?
Kalau dia jawab belum sepertinya sulit untuk membuat Devina percaya, tapi sebenarnya bukan tidak mungkin juga Devano masih menjomblo karena Devano sangat pendiam dan dia hampir tidak pernah melihatnya dekat atau jalan bersama wanita.
"Vano"
Sambil memetik gitarnya Devano bergumam pelan menanggapi panggilan saudara kembarnya.
"Kamu sudah punya pacar belum?" Tanya Devina
Tangan Devano berhenti dan dia mendongak untuk menatap Devina dengan malas, kepo sekali.
"Menurut kamu?"
Devina berdecak kesal ketika mendengar saudara kembarnya itu malah balik bertanya.
Akhir pekan kali ini membosankan bagi Devina karena tidak ada temannya yang bisa diajak keluar untuk berjalan-jalan dan Devano sama sekali tidak mau diajak kerja sama.
"Lagu apa?" Tanya Devano tiba-tiba
Mengerti maksud dari Devano senyuman Devina mengembang dan dia langsung meminta Saudara kembarnya untuk menyanyikan sebuah lagu.
"Shawn Mendes yang judulnya Never be alone." Kata Devina
Dia buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk merekam suara Devano yang sedang bernyanyi.
Devano memang nyaris sempurna, dia pandai bermain gitar juga bela diri dan suaranya yang serak serta tubuh kekarnya membuat Devano terlihat begitu dewasa.
Pernah sekali Devano bernyanyi di acara pentas seni sekolah dan para siswi tak berhenti bersorak senang selama pertunjukan.
__ADS_1
Devano si most wanted sekolah.
Detik demi detik perekam suara itu berjalan bersamaan dengan lagu yang Devano nyanyikan.
When you miss me close your eyes
I may be far but never gone
When you fall asleep tonight
Just remember that we lay under the same stars
Sekarang Devina faham alasan ada banyak gadis yang menyukai dan mengagumi saudara kembarnya. Saat sedang bermain gitar juga bernyanyi seperti ini dia terlihat begitu menawan juga mempesona.
Senyum Devina mengembang dengan sempurna setelah saudara kembarnya itu selesai bernyanyi lalu bertepuk tangan membuat Devano menggelengkan kepalanya pelan.
Devano memperhatikan saudara kembarnya yang sedang mengetikkan sesuatu di ponselnya, dia tau apa yang dilakukan olehnya.
Disisi lain Devina tampak bersemangat membagikan rekaman suara Devano ke teman-temannya yang memang mengagumi pria itu.
"Ikut gak?" Tanya Devano membuat Devina mendongakkan kepalanya
Devano terlihat sedang mengetikkan sesuatu di ponselnya lalu berdiri dan kembali meletakkan gitarnya ditempat awal.
"Kemanaa?" Tanya Devina antusias
"Basket"
Jawaban singkat itu membuat Devina semakin antusias, bagus sekali dia bisa cuci mata kalau ikut Devano latihan basket.
"Ikuttt"
"Ganti baju"
Menganggukkan kepalanya Devina berlari kecil ke kamarnya sambil berseru kepada Devano agar menunggunya.
Mengenakan pakaian casual yang biasa ia kenakan Devina bergegas mengambil tas lalu menatap pantulan dirinya di cermin.
Tidak ada yang salah dengan pakaiannya dan dengan senyum manisnya Devina berlari kecil keluar dari kamarnya dan menghampiri Devano yang sudah menunggu.
Tanpa mengatakan apapun Devano melangkahkan kakinya keluar rumah diikuti dengan Devina yang berjalan tepat disebelahnya.
Pasti alasan Devano mau mengajak Devina karena dia akan sendirian di rumah kalau Devano pergi mengingat kedua orang tua mereka sedang pergi dan Sahara, tentu saja dia sudah bersama suaminya.
Dahi Devina berkerut ketika Devano menuju salah satu mobil milik Daffa, dia akan menyetir sendiri?
"Kamu mau bawa mobil sendiri? Kenapa tidak minta antar saja?" Tanya Devina
"Hmm kenapa?" Tanya Devano
"Kan belum ada sim Vano nanti kita kena tilang polisi." Kata Devina takut
"Pak Hadi tidak ada." Kata Devano singkat
Dia memasuki mobil dan meninggalkan Devina yang masih berfikir, ikut atau tidak?
Tapi, Devina tidak mau di rumah sendirian.
Menghela nafasnya pelan Devina ikut memasuki mobil dan berdo'a semoga mereka tidak bertemu polisi ketika di jalan.
"Mau latihan ya?" Tanya Devina yang dijawab dengan gumaman oleh Devano
"Ada Alex kan?" Tanya Devina lagi
__ADS_1
Dia memang menyukai salah satu teman Devano yang bernama Alex, tapi sayangnya pria itu cukup playboy dan sering berganti-ganti pacar hingga Devano melarang saudaranya itu untuk lebih dekat.
Kalau sekedar berteman tidak masalah.
"Hmm"
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit mobil mereka terparkir di area sekolah dan Devano segera mengambil tasnya dibelakang lalu bergegas keluar.
Mengikuti langkah kaki saudara kembarnya Devina terlihat begitu bersemangat ketika mereka memasuki lapangan. Namun, Devina dibuat terkejut ketika Devano menghentikan langkahnya dan menatap dia dengan datar lalu berkata.
"Jangan dikuncit rambutnya"
Terdiam untuk sesaat Devina langsung melepaskan ikat rambutnya ketika menyadari maksud dari ucapan Devano, dia bingung kenapa Devano selalu melarang dia mengikat rambut kalau Devina ikut berkumpul bersama teman-temannya.
Disana juga ada para cheerleader yang sedang berlatih di dekat lapangan ternyata kalau akhir pekan sekolah cukup ramai dengan siswa siswi yang ekskul.
Mungkin hanya Devina saja yang pemalas dan jarang masuk untuk kegiatan ekskul.
"Ehh ada Vina"
Sapaan itu keluar dari bibir Erick salah satu teman Devano yang menyapanya ketika mata mereka bertemu.
Devina tersenyum dan melambaikan tangannya dengan ramah.
"Haii Rik"
Beberapa teman Devano juga menyapanya yang dijawab dengan ramah oleh Devina. Ada sekitar sepuluh orang yang rata-rata teman sekelas Devano karena mereka berdua memang tidak berada di satu kelas yang sama.
"Duduk sini kalau mau kemana-mana bilang." Kata Devano ketika saudara kembarnya itu duduk disebelah temannya
Beberapa teman Devano memperhatikan Devina, sebenarnya Devina bukan satu-satunya wanita disini karena beberapa dari mereka juga membawa wanita, mungkin kekasih atau adiknya Devina tidak tau.
"Matanya"
Devano menoyor kepala Alex yang sedari tadi memperhatikan Devina dengan tatapan yang dia sangat tau artinya.
Alex terkekeh pelan, dia suka sekali kalau Devano mengajak kembarannya untuk ikut.
"Galak amat bang." Canda Alex
Devina hanya diam dia sangat gugup karena duduk di dekat pria yang dia kagumi.
Sesaat setelahnya dia dibuat terkejut karena kembarannya itu menaruh tas yang dibawanya ke pangkuan Devina juga menitipkan ponselnya.
"Gak usah dibuka hpnya"
Devina menunjukkan cengirannya ketika kembarannya itu melarang dia melakukan sesuatu yang memang ingin dia lakukan.
Tapi, Devina tidak akan mempan di beri ancaman seperti itu.
Tersenyum kecil Devina memperhatikan kembarannya yang sedang berlari mengitari lapangan bersama yang lainnya juga.
Benar-benar pemandangan indah.
Sepertinya dia akan sering ikut kalau Devano pergi latihan.
Sayang sekali kalau dia tidak ikut.
¤¤¤
Ini sekedar spin off yaa😂
Maaf kemaren gak update soalnya mau ada ujian😶
__ADS_1
Yay or nay untum cerita si kembarr???
Tenang aja cerita ini bakal tetep berlanjut kok dan bakal update rutin soalnya besok ujian terakhir terus libur sampe oktober jadi ada waktu buat nulisss😂