
Sekali lagi Kevin menghabiskan malam panjangnya bersama seorang wanita di kamar hotel setelah berjam-jam menghabiskan waktunya disebuah club malam. Berbeda dengan sebelumnya kali ini Kevin melakukannya dengan sedar dan tidak dalam keadaan mabuk, dia meniduri seorang wanita untuk melampiaskan amarah serta nafsunya.
Kedua insan itu menghabiskan waktu semalaman untuk memadu kasih hingga akhirnya tertidur lelap karena kelelahan dan masih belum bangun meskipun jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Kemarin Kevin merasa begitu frustasi, dia menyesali perbuatan terburu-burunya yang membuat Sahara menangis dan malah semakin membencinya.
Akhirnya dengan ajakan Farrel mereka pergi ke club untuk bersenang-senang, menggoda beberapa wanita yang datang menghampiri keduanya. Terlalu sulit untuk Kevin berhenti karena dia sudah masuk begitu jauh dan karena fikirannya masih belum tenang, dia masih terus memikirkan Sahara.
Sebut saja rasa yang dimilikinya itu adalah sebuah obsesi karena sekarang Kevin benar-benar berniat merebut Sahara dengan cara apapun, dia akan membuat Sahara menjadi miliknya, hanya miliknya.
Perlahan mata Kevin terbuka dan hal pertama yang dia lihat adalah punggung polos wanita yang semalam tidur dengannya, kali ini berbeda dengan wanita yang sebelumnya. Hanya menggunakan boxer Kevin berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sekali lagi bayang-bayang Sahara selalu muncul di dalam benaknya hingga membuat Kevin tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
Kenapa baru sekarang?
Kenapa ketika Sahara mengejarnya dulu dia tidak merasakan hal ini?
Sekitar lima belas menit Kevin keluar dari kamar hotel dengan sudah memakai pakaian rapi dan meninggalkan sejumlah cek di kamar hotel yang semalam dia gunakan. Setelah kejadian dia yang mencium Sahara tanpa permisi Kevin merasa begitu bersalah apalagi melihat mata berkaca-kaca wanita itu, dia jadi tidak tega.
Saat memasuki mobilnya Kevin tidak langsung melajukan mobilnya, tapi lebih dulu mengambil ponselnya disaku dan melihat puluhan pesan yang dia kirim untum Sahara, tapi masih belum dibaca sampai sekarang. Menyandarkan tubuhnya di jok Kevin memijat pelan dahinya karena merasa pusing dengan semua kejadian dan perasaannya yang membingungkan.
"Ra kamu harus jadi milik aku!"
Menyalakan mesin mobilnya Kevin pergi meninggalkan area hotel dan menuju apartemennya untuk berganti pakaian lalu pergi ke kantor. Selama perjalanan Kevin berusaha menghubungi Farrel untuk membicarakan sesuatu, tapi teman baiknya itu masih belum mengangkat telponnya.
Setelah berkali-kali menelpon akhirnya Farrel mengangkat panggilannya dengan suara berat khas orang yang baru bangun tidur, bisa ditebak kalau pria itu juga berakhir di hotel dengan seorang wanita seperti Kevin.
'Apaan Vin?'
"Dimana?" Tanya Kevin
'Kamar hotel, mau ngapaih sih nelpon? Gue masih ngantuk Vin'
"Tentang Sahara lo udah janji mau ngasih tau sesuatu yang lain kan?" Kata Kevin yang membuat Farrel berdecak kesal
'Nanti lagi kan bisa Vin! Ganggu gue aja lo!'
Baru akan menjawab suara seorang wanita tiba-tiba terdengar di telinga Kevin, benar kan? Teman baiknya itu juga berakhir dengan seorang wanita di kamar hotel.
'Nanti babe aku lagi telpon'
Berdecih pelan Kevin benar-benar akan menobatkan Farrel sebagai pria brengsek yang masih bersikap manis pada wanita club yang ditidurinya.
"Rel i need your information!" Kata Kevin
'Nanti gue ke kantor lo agak siangan'
"Ini udah siang!" Kesal Kevin
'Ya sabar gue baru bangun lagian gue masih mau main dulu'
"Gila! Gue tunggu di kantor." Kata Kevin
'Lo yang lebih gila dari gue Kevin'
Belum sempat menjawab Farrel sudah lebih dulu mematikan telponnya dan Kevin juga tidak perduli, dia memang gila karena Sahara dan wanita itu harus bertanggung jawab.
Di sisi lain Sahara yang merasa malas juga sedikit lemas memutuskan untuk tidak berangkat ke butik dan memilih untuk berbaring di ranjang kamarnya, dia benar-benar tidak ingin beranjak dari sana. Tadi pagi Sahara sudah menelpon Diandra dan mengatakan bahwa dia tidak akan datang lalu menyuruh mereka untuk buka setengah hari saja.
Selain rasa malas Sahara juga merasa takut karena sejak malam dia mendapat puluhan pesan dari Kevin dan pesan yang terakhir ia baca itu tertulis bahwa Kevin ingin menemuinya di butik, lagi. Sampai sekarang Sahara masih merasa takut dia benar-benar tidak ingin menemui Kevin meskipun hanya untuk satu detik.
Ceklek
Suara pintu yang dibuka terdengar bersamaan dengan masuknya Fahisa ke dalam membuat senyum Sahara mengembang dengan lebar. Saat Fahisa mendudukkanya dirinya di sisi ranjang Sahara bergerak lalu meletakkan kepalanya di paha Fahisa.
__ADS_1
"Apa anak Mommy lagi sakit?" Tanya Fahisa sambil mengusap lembut rambut hitam Sahara
Menggelengkan kepalanya pelan Sahara mengatakan bahwa dia hanya merasa lelah dan ingin istirahat.
"Ada masalah? Ara tidak terlihat seperti biasanya." Kata Fahisa lagi
Mendongakkan kepalanya Sahara tersenyum kecil dan memberikan alasan yang lain.
"Ada banyak kerjaan Mommy makanya Ara jadi pusing." Kata Sahara dengan nada yang begitu manja
"Hanya itu? Tadi Juna telpon katanya kamu tidak mengangkat telpon dari dia." Kata Fahisa membuat Sahara membulatkan matanya
"Ponsel Sahara di cas dan tidak ada nadanya jadi tidak dengar." Kata Sahara
Mengangguk faham Fahisa mengatakan bahwa tadi dia beralasan jika Sahara masih tidur dan belum bangun.
"Mommy"
"Kenapa sayang?" Tanya Fahisa lembut
"Mommy nanti malam Kak Juna mengajak Ara ke rumah dia katanya Papi nya Kak Juna mau ketemu Ara." Kata Sahara membuat Fahisa tersenyum senang ketika mendengarnya
Arjuna sudah mengatakan rencananya yang ingin melamar Sahara kepada Fahisa dan tentu saja Fahisa sangat mendukungnya bahkan dia tidak sabar.
"Bagus dong." Kata Fahisa
"Ara takut nanti mereka tidak suka sama Ara, Mommy tadinya Kak Juna itu mau dijodohkan." Kata Sahara
Tersenyum kecil Fahisa berusaha meyakinkan Sahara bahwa semua akan baik-baik saja. Tidak mungkin Arjuna berencana melamar anaknya jika kedua orang tua pria itu tidak medukung keinginan Arjuna.
"Semua akan baik-baik saja yang penting Ara harus sopan dan bersikap baik." Kata Fahisa
Mendudukkan dirinya Sahara mengangguk dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya.
"Penasaran tentang apa hmm?" Tanya Fahisa
"Tentang Mommy dan Daddy dulu kan Ara masih kecil jadi tidak tau apa-apa, waktu itu Mommy sama Daddy pacaran tidak? Apa Daddy langsung mengajak Mommy menikah? Apa tadinya Mommy menolak Daddy?" Tanya Sahara tanpa ada jeda
Mendengar pertanyaan itu Fahisa jadi salah tingkah, masa dia harus menceritakannya kepada Sahara sih?
"Ara ngapain nanya kayak gitu." Kata Fahisa malu
Tertawa kecil Sahara jadi ingin menjahili Fahisa.
"Ara penasaran, ayo cerita sama Ara." Kata Sahara
Menggelengkan kepalanya pelan Fahisa membuat anak perempuannya itu tertawa lalu memeluknya.
"Pasti Daddy suka sama Mommy karena Mommy pemalu kan? Mommy lucu sekali deh." Kata Sahara
Membalas pelukan anaknya dengan penuh kasih sayang Fahisa merindukan momen seperti ini yang sudah sangat jarang dia rasakan.
"Sudah lapar belum?" Tanya Fahisa
"Belum, tapi mau bantuin Mommy masak." Kata Sahara sambil melepaskan pelukannya
"Kalau gitu ayo kita masak untuk makan siang." Kata Fahisa
Menganggukkan kepalanya Sahara mengikuti langkah kaki Fahisa yang sekarang berjalan menuju dapur, dia sangat ingin belajar memasak, tapi Sahra terlalu sibuk dan tidak pernah sempat.
Selama memasak makan siang keduanya mengobrol sambil sesekali tertawa, menikmati waktu kebersamaan yang sudah jarang terjadi.
Sahara rindu bercanda bersama kedua orang tuanya.
__ADS_1
¤¤¤¤
Setelah hampir seharian tidak bertemu dengan Sahara akhirnya Arjuna bisa bertemu dengan kekasihnya ketika dia menjemput wanita itu untuk pergi makan malam di rumahnya. Sebelumnya mereka sudah saling bicara ditelpon dan Sahara mengatakan kalau dia hanya malas untuk pergi bekerja, Arjuna faham dan menurutnya itu bagus karena belakangan ini Sahara menang terlalu sibuk.
Selesai meminta izin kini Sahara sudah berada di dalam mobil dengan Arjuna dan dia terlihat sangat gugup, Sahara takut untuk bertemu keluarga Arjuna. Meskipun dia sudah mengenal Anjani dan Clara dengan baik, tapi tetap saja dia sangat takut untuk bertemu dengan Abian.
"Kak Juna nanti kalau Om Abian tidak suka sama Ara bagaimana?" Tanya Sahara tiba-tiba
"Tidak mungkin sayang." Kata Arjuna dengan lembut dan malah membuat Sahara jadi semakin gugup
"Sudah tenang saja ada aku kan?" Kata Arjuna sambil meraih tangan kekasihnya dan menggenggamnya dengan penuh kelembutan
"Kamu tadi di rumah ngapain aja Ra?" Tanya Arjuna penasaran
"Tiduran terus ngobrol sama Mommy, senang deh Kak udah lama Ara gak ngobrol sama Mommy." Kata Sahara jujur
Ikut tersenyum Arjuna mengusap tangan Sahara dengan ibu jarinya lalu menciumnya singkat membuat kekasihnya itu tersentak.
"Kak Juna nih bikin kaget aja." Kata Sahara membuat Arjuna tertawa kecil ketika mendengarnya
Setelah itu perjalanan mereka hanya diisi dengan alunan musik dan beberapa menit kemudian mereka sudah memasuki area rumah milik keluarga Dirgantara. Kegugupan Sahara kembali hadis ketika Arjuna mengajaknya masuk sambil menggenggam erat tangan mungilnya.
Memasuki rumah bernuansa hijau itu Sahara semakin merasa gugup kala matanya bertemu dengan mata tajam milik Abian, tapi ketika Clara datang dan memeluknya dengan bahagia Sahara merasa sedikit tenang.
"Sini Ara kita malan dulu." Ajak Clara
Setelah itu mereka menyantap makan malam dalam diam karena Abian sangat tidak suka obrolan ketika sedang makan. Seusai menyantap malan malam kini mereka berada di ruang tamu dengan Clara yang duduk di samping Sahara.
Sejak tadi Abian menatapnya dan Sahara benar-benar merasa canggung sehingga dia hanya bisa tersenyum kecil.
"Kamu teman Anjani juga?" Tanya Abian
"Iya Om kami satu sekolah waktu sma." Kata Sahara sopan
"Kamu bekerja?" Tanya Abian lagi
"Iya, Ara punya butik dan seorang designer juga." Kata Sahara
Mengangguk faham Abian meminum kopi yang sudah disiapkan istrinya lalu menatap Arjuna sekilas, anaknya terlihat bahagia.
"Sudah lama pacaran sama Arjuna?" Tanya Abian lagi
Dia tidak salah kan? Abian ingin tau banyak hal tentang hubungan anaknya dan Sahara.
"Belum lama ini Om, tapi kita memang sudah dekat." Kata Sahara dengan jantung yang berdetak begitu cepat
"Kalian sudah ada niat untuk menikah? Atau paling tidak tunangan." Kata Abian membuat Sahara diam karena bingung harus menjawab apa
Tapi, belum sempat bersuara Arjuna sudah menjawab pertanyaiin itu dengan penuh keyakinan.
"Sudah ada Pi"
Sahara langsung lemas mendengarnya.
Dia jadi penasaran, apa Arjuna benar-benar ingin mengajaknya menikah?
Kalau iya Sahara akan sangat bahagia.
¤¤¤¤
Beneran Kok Ra itu si Arjuna😄
Aduhh nikahin gak yaaa itu si Arjuna sama Saharaa😂
__ADS_1