Sahara In Love

Sahara In Love
S2 (15)


__ADS_3

Menyandar pada dinding rumah sakit Sahara terdiam dengan mata memerah karena tangis dan wajah pucat karena hingga sekarang dia masih belum memakan apapun. Kabar yang mengatakan bahwa suaminya terlibat kecelakaan hebat membuat Sahara menangis dan langsung pergi ke rumah sakit meninggalkan anaknya bersama dengan sang mertua.


Sampai saat ini Arjuna masih ditangani karena lukanya sangat parah dan Sahara benar-benar merasa hancur ketika mendengarnya. Kecelakaan beruntun ada sekitar lima mobil yang terlibat dimana salah satunya adalah truk yang memuat muatan cukup banyak dan dari sepuluh korban tiga diantaranya dinyatakan meninggal dunia dan sekarang Sahara benar-benar gemetar menanti dokter keluar dari ruang oprasi.


Kaki Sahara benar-benar lemas dia takut, sangat takut kalau suaminya benar-benar pergi meninggalkannya bahkan dia tidak bisa membayangkan jika hal itu sampai terjadi.


Lagi, Sahara kembali terisak sambil memegang dadanya yang terasa sesak.


Saat tangan lembut Sahara rasakan dia mendongak dan melihat mata Fahisa yang menatap sendu ke arahnya. Detik itu juga Sahara menangis hebat dipelukan Fahisa membuat wanita paruh baya itu juga ikut mengeluarkan air mata.


"Mommy... Ara takut..."


Sahara begitu sulit untuk bicara membuat Fahisa semakin mengeratkan pelukannya.


"Arjuna pasti akan baik-baik saja, menantu Mommy itu pria yang kuat." Kata Fahisa


Sayangnya kata-kata itu sama sekali tidak bisa membuat Sahara tenang dan terus menangis dengan isakan yang kuat hingga Daffa yang berdiri di dekat keduanya merasa begitu terluka melihatnya.


"Ara takut... Mommy... Ara.. Ara..."


"Sst Mommy dan Daddy disini sayang." Kata Fahisa


"Bagaimana kalau... kalau Mas Juna ninggalin Ara?" Tanya Sahara dengan susah payah


"Tidak akan sayang menantu Mommy akan baik-baik saja." Kata Fahisa lagi


Meskipun dia sendiri tidak yakin dengan ucapannya, tapi Fahisa harus membuat anaknya merasa sedikit tenang. Dia sempat melihat berita tadi dan kecelakaan yang terjadi benar-benar parah, dia pun takut dengan segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi.


Tapi, yang paling penting untuk saat ini adalah membuat anaknya tenang karena dia sedang hamil.


Beberapa saat kemudian Clara bersama Abian berlari menghampiri mereka. Sejak tadi Clara ingin datang, tapi tidak mungkin dia membawa Airlangga hingga akhirnya dia menghubungi Anjani dan meminta anaknya untuk menjaga Airlangga meskipun Anjani menolak karena ingin melihat Kakaknya hanya saja paksaan Clara membuatnya setuju.


"Ara"


Fahisa menoleh lalu memberikan sedikit jarak untuk Clara agar bisa menghampiri anaknya.


Mendongakkan kepalanya mata berair Sahara bertemu dengan milik mertuanya yang juga menyimpan tangis disana.


"Anak Mami pasti kuat sayang, berdoa saja untuknya dia pasti bisa melewati ini semua." Kata Clara berusaha yakin dengan ucapannya sendiri


Sahara tidak menanggapi dan hanya menangis sambil terisak dipelukan sang mertua.


Kata-kata menguatkan mereka tidak akan bisa membuat Sahara tenang sampai dia mendengar sendiri dari dokter yang menangani suaminya.


Saat mata Sahara menangkap pintu yang terbuka dan sosok berpakaian putih keluar dari sana dia segera berdiri dan berlari menghampiri dokter yang baru keluar dari ruang oprasi. Melihat wajah pasrah dokter itu membuat jantung Sahara berdetak semakin cepat dan dengan terbata-bata dia menanyakan keadaan suaminya.


Disisi kanan dan kirinya ada Fahisa juga Clara yang menggenggam erat kedua tangannya, memberikan kekuatan.


Saat kata demi kata keluar dari bibir dokter itu Sahara merasa dunianya hancur dan waktu berhenti begitu saja, dia kehilangan kekuatannya.


Sahara tidak mengingat apapun selain namanya yang dipanggil dengan keras lalu gelap yang menyelimutinya.


"Maaf untuk mengatakan ini, tapi suami anda dalam keadaan koma lukanya sangat parah dan kami tidak bisa mendeteksi kapan dia akan bangun atau apakah dia akan membukanya matanya lagi"


Tidak


Sahara tidak mungkin sanggup jika Arjuna tidak ada disisinya.


Jangan


Jangan biarkan Arjunanya pergi dari hidupnya.


Atau biarkan Sahara ikut pergi bersama suaminya kalau memang harus.


Dia tidak bisa, tidak mungkin bisa hidup tanpa Arjuna.


'Aku tidak akan pergi kecuali kamu yang meminta aku untuk pergi'


Arjuna sudah mengatakan hal itu lalu kenapa dia mengingkarinya?


Kenapa Arjuna berniat pergi tanpa izin darinya?

__ADS_1


"Sahara"


Gelap


Semuanya gelap, mendadak dunia Sahara dipenuhi kegelapan.


Tidak, Arjuna tidak boleh pergi kemanapun.


Sahara tidak mengizinkannya.


Arjunanya harus selalu ada disisinya.


¤¤¤


Langit-langit putih menyambut Sahara bersamaan dengan suara yang samar-samar terdengar. Kepalanya terasa begitu berat ketika cahaya memasuki penglihatannya dan perlahan mata Sahara menjelajah mencari seseorang yang dia harapkan ada agar semua itu hanya sekedar mimpi buruknya.


Semua ada disini, kecuali Arjuna.


Dengan segera Sahara bangun dari tidurnya dan hendak pergi, tapi Daffa langsung menahannya membuat Sahara berkata dengan suara yang begitu pelan.


"Ara mau ketemu Mas Juna"


Berkali-kali Sahara menggumamkan kalimat yang sama membuat mereka yang mendengar ikut merasakan sedih juga terluka.


"Daddy awas! Ara mau pergi! Ara mau ketemu Mas Juna." Kata Sahara sambil berusaha mendorong tubuh Daffa agar menjauh


Tapi, Daffa malah semakin memeluk anaknya.


Dia benar-benar terluka melihat Sahara yang begitu rapuh


"Daddy, kumohon biarkan Ara pergi." Kata Sahara yang sekarang mulai menangis dengan keras


"Tidak Ara tetap disini kamu harus istirahat." Kata Daffa


"Tidak! Ara mau pergi! Ara mau ketemu Mas Juna!" Kata Sahara sambil berusaha dengan keras melepaskan diri


"Ara"


"Dengar, sekarang kamu harus tetap disini Ara, ingat kamu memiliki Airlangga dan bayi yang sedang kamu kandung besok pergilah menemui Arjuna tidak ada yang akan melarang." Kata Daffa dengan lembut


Cengkraman kuat Sahara mengendur ketika mendengarnya, ada Airlangga dan janinnya yang harus dijaga, tapi Sahara ingin bertemu Arjuna.


Sahara mau berada disisinya.


"Papi akan menjaga Arjuna, kamu disini sama Mami dan pergi kesana besok hmm? Arjuna tidak akan suka kalau melihat kamu seperti ini." Kata Abian


Isakan Sahara kembali terdengar bersamaan dengan pelukan yang Daffa yang semakin erat, dia sungguh terluka melihat anaknya seperti ini.


"Ara mau ketemu Mas Juna." Lirihnya pelan


Daffa hanya diam sambil mengusap sayang rambut hitam Sahara dan setelah anaknya itu sedikit tenang Daffa melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata yang mengalir di pipi anaknya.


"Arjuna akan baik-baik saja, percaya sama Daddy kan?" Kata Daffa


"Janji?"


"Janji"


Daffa mengatakannya dengan senyum tipis lalu pergi keluar kamar bersama dengan Abian untuk pergi ke rumah sakit lagi.


Setelah pingsan Sahara dibawa ke rumah mertuanya karena Airlangga ada disana dan Fahisa pun ada disini sekarang untuk menemani anaknya.


Dengan ragu Clara membawa makan untuk menantunya karena hari sudah sore dan Sahara telah melewatkan makan siangnya.


"Ara makan dulu ya?" Kata Clara lembut


Sahara mendongak lalu menggelengkan kepalanya dan menghapur air mata yang kembali mengalir di pipinya.


"Sayang makan dulu ya? Kasihan anak kamu." Kata Fahisa


"Ara tidak mau makan." Kata Sahara

__ADS_1


Dia menutup wajahnya ketika merasa ingin menangis, lagi.


Menghela nafasnya pelan Fahisa mendekat dan menarik tangan yang menutupi wajah anaknya.


"Sedikit saja hmm? Arjuna akan marah kalau tau kamu melewatkan makan siang dan anak kamu pasti merasa lapar sekarang." Kata Fahisa sambil menghapus air mata di pipi anaknya


"Mommy"


"Iya sayang?"


"Mas Juna akan baik-baik saja kan?" Tanya Sahara lirih


"Pasti"


"Benar kan?" Tanya Sahara lagi


"Bukankah Daddy sudah janji sama Ara?" Kata Fahisa yang dijawab dengan anggukan singkat oleh anaknya


Sesaat setelahnya Clara mulai menyuapi Sahara dengan telaten dan menantunya itu hanya mau makan beberapa suap, tapi itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.


Setelah makan Sahara kembali termenung hanya saja suara tangis anaknya membuat dia mengalihkan pandangannya dan mencari dimana Airlangga.


"Mommy Angga menangis." Kata Sahara


Baru akan berdiri Anjani membuka pintu dan masuk dengan Airlangga digendongannya.


Senyum tipis Sahara terbentuk dan dia meminta Anjani untuk membawa Airlangga padanya.


Saat anaknya sudah ada dipangkuannya Sahara meminta yang lain untuk meninggalkannya berdua dengan Airlangga dan meskipun awalanya menolak mereka tetap pergi karena tatapan memohon Sahara.


Tepat setelah pintu terbuka Sahara menatap wajah anaknya yang juga sedang melihat ke arahnya.


Sahara kembali menangis karena melihat wajah Airlangga yang begitu mirip dengan Arjuna.


"Baby"


"Ma ma"


Sahara mengangguk masih dengan wajah berurai air mata dan ketika suara si kecil kembali terdengar tangisannya semakin keras.


"Pa pa"


Dipeluknya tubuh Airlangga dan isakan Sahara kembali terdengar hanya saja anaknya yang sama sekali tidak mengerti hanya memainkan rambut Sahara dari belakang.


"Angga kamu rindu Papi ya?" Tanya Sahara pelan


"Pa pa"


"Iya kamu rindu Papi kan?" Kata Sahara lagi


Setelah melepaskan pelukannya Sahara membaringkan si kecil di sampingnya.


"Baby.. Mami rindu Papi..."


Sahara menghapus air matanya lalu mengusap kepala anaknya dengan sayang.


"Papi akan baik-baik saja kan sayang?" Tanya Sahara lirih


Si kecil Airlangga menatap Sahara dengan bingung dan Sahara kembali bicara masih dengan tangisnya.


"Kita harus apa kalau tidak ada Papi?"


Tangisan Sahara semakin keras, dia tidak kuat dan rasanya sangat-sangat menyakitkan.


Dia tidak berani membayangkan segala kemungkinan yang bisa terjadi.


"Papi pasti baik-baik saja kan?"


Sahara mencium kening anaknya lama dengan air mata yang mengalir.


'Mas Juna cepat bangun kalau tidak Ara akan menangis terus dan kabur sama Angga'

__ADS_1


Arjuananya akan baik-baik saja kan?


__ADS_2