Sahara In Love

Sahara In Love
28 : Sakit


__ADS_3

Selama tiga hari belakangan Sahara sangat disibukkan dengan pekerjaannya dia sering pulang lebih larut, meninggalkan makan siang juga makan malam, dan tidak tidur cukup waktu. Kedua orang tuanya sudah memperingatkan Sahara agar tidak terlalu sibuk mengingat wanita itu mudah sakit dan pernah terkena tifus ketika masih kecil.


Hanya saja Sahara yang sangat tidak ingin melalaikan pekerjaannya itu hanya mendengar nasihat dari kedua orang tuanya dan tetap melanjutkan kesibukannya. Saat ini Sahara sudah mulai melakukan pembangunan untuk cabang butiknya selain itu dia juga sedang menyelesaikan beberapa design gaun pernikahan dan menghadiri beberapa acara fashion ternama.


Semuanya dilakukan Sahara selama tiga hari belakangan yang akhirnya menyebabkan dia jadi kekurangan waktu untuk tidur. Mengingat seharian Sahara dan tidak sempat menggambar sketsa maka dia melakukannya ketika malam hari.


Dan sekarang Sahara mulai merasakan akibatnya, kepalanya mulai pusing.


"Kak gak mau istirahat dulu? Kakak kelihatan pucat." Kata Diandra membuat Sahara menatap ke arahnya


Mereka ingin pergi ke tempat produksi, tapi sejak tadi Diandra melihat atasannya itu memegang kepalanya dengan wajah yang terlihat pucat.


Diandra tau kalau atasannya itu sangat sibuk belakangan ini bahkan Arjuna sampai menelpon untuk memastikan kalau Sahara memakan makan siangnya tepat waktu. Meskipun sebenarnya tidak.


"Gak papa Ra lagian cuman sebentar doang nanti abis dari sana aku langsung pulang." Kata Sahara sambil tersenyum tipis


Mengangguk ragu Diandra hanya bisa menurut dengan perkataan Sahara dan keduanya mulai menuju tempat produksi. Selama perjalanan Sahara berkeringat dingin badannya semakin terasa tidak karuan hingga akhirnya dia memutuskan untuk menepikan mobilnya.


"Kenapa Kak? Sakit ya? Kan aku sudah bilang Kakak istirahat saja dulu tadi." Kata Diandra dengan penuh kecemasan


"Ra telponin siapa saja tolong aku gak bisa bawa mobil kayaknya kepala aku pusing banget." Kata Sahara


Dengan segera Diandra mengambil ponselnya lalu memilih untuk menelpon Arjuna karena pria itu memang selalu meminta dia untuk menghubunginya kalau terjadi sesuatu dengan atasannya. Di sisi lain Sahara menyandarkan tubuhnya di jok sambil memejamkan matanya, dia benar-benar merasa lemas sekarang.


Sekarang Sahara menyesal karena tidak menurut dan bisa dipastikan setelah ini dia akan dimarahi habis-habisan oleh orang tuanya dan juga Arjuna.


"Kak ini minum dulu, aku juga bawa obat sakit kepala." Kata Diandra ketika ingat bahwa dia selalu membawa kedua barang itu kemanapun


Membuka matanya Sahara mengambil botol minum Diandra dan meminumnya bersamaan dengan obat.


Sekitar sepuluh menit seseorang mengetuk kaca mobil Sahara dan dia adalah Arjuna yang datang dengan wajah paniknya. Melihat hal itu Sahara menggigit bibir bawahnya pelan, dia pasti akan dimarahi.


Arjuna masuk kedalam mobil milik Sahara dan duduk di jok belakang lalu meminta kekasihnya itu untuk menatap ke arahnya.


"Ara"


Menolehkan kepalanya Sahara tersenyum kaku ketika melihat mata indah Arjuna yang sedang menatapnya.


"Katanya Kak Ara pusing tadi aku sudah kasih obat sakit kepala juga." Kata Diandra


Menghela nafasnya pelan Arjuna sudah ingin mengomeli Sahara, tapi dia tidak enak dengan Diandra.


"Biar aku yang bawa mobilnya, aku akan antar kamu ke butik dulu lalu mengantar Sahara pulang." Kata Arjuna


"Tapi, Kak...."


"Berhenti bicara atau aku akan bawa kamu ke rumah sakit Ra!" Ancam Arjuna membuat kekasihnya itu langsung diam


Setelah itu Diandra dan Sahara pindah di jok belakang dan Arjuna yang duduk di kursi kemudi lalu mulai melajukan mobilnya ke butik Sahara, beruntung mereka belum terlalu jauh. Tadi Arjuna kesini bersama temannya karena dia memang sedang pergi menemui Bara saat Diandra menelpon.


"Dia makan siang?" Tanya Arjuna kepada Diandra


Semakin menunduk Sahara yakin dia akan semakin dimarahi karena Sahara sama sekali tidak memakan makan siangnya.


"Tidak Kak"


Menghela nafasnya pelan Arjuna benar-benar merasa kesal dengan kekasihnya sekarang, kenapa dia susah sekali untuk menurut? Padahal Arjuna melakukan itu demi kebaikan Sahara sendiri.


Setelah sampai di butiknya Diandra yang akan turun ditahan oleh Sahara, dia ingin meminta sesuatu.


"Ra ambilkan buku aku sama flashdisk nya juga." Kata Sahara


Belum sempat menjawab Arjuna sudah lebih dulu bicara.


"Tidak perlu Ra aku akan langsung membawa Sahara pulang." Kata Arjuna

__ADS_1


"Tapi, Kak aku harus...."


"Jangan membantah Ra, kamu benar-benar ingin masuk rumah sakit ya?" Tanya Arjuna kesal yang membuat Sahara kembali diam


Merasa bingung pada akhirnya Diandra menuruti keinginan Arjuna karena pria itu menatapnya dengan sangat tajam. Setelah Diandra pergi Arjuna meminta Sahara untuk pindah ke depan dan dengan bantuannya sekarang Sahara sudah duduk di depan.


"Masih pusing?" Tanya Arjuna yang dijawab dengan anggukan oleh kekasihnya


"Di rumah kamu ada siapa?" Tanya Arjuna


"Cuman ada Mommy." Jawab Sahara pelan


"Kita ke rumah sakit dulu aja ya Ra?" Kata Arjuna yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Sahara


"Gak mau, pulang saja." Kata Sahara


"Aku kan sudah bilang Ra bagi waktu kamu, kenapa tidak menurut? Lihat wajah kamu pucat sekali pasti nanti orang tua kamu akan khawatir." Kata Arjuna membuat Sahara hanya diam


Dia juga tau kalau nanti orang tuanya akan khawatir.


"Aku tau kamu sering ninggalin makan siang dan suka tidur larut malam, iya kan?" Kata Arjuna


Mengangguk singkat Sahara kembali mendengar helaan nafas Arjuna, dia jadi merasa bersalah. Selama perjalanan keduanya kembali diam dengan Sahara yang menyandarkan tubuhnya di jok mobil, tubuhnya benar-benar terasa lemas.


Setelah sampai Sahara yang baru saja berdiri langsung merasa begitu pusing hingga tubuhnya oleng, tapi beruntungnya dia langsung berpegangan pada badan mobil.


"Aku kan bilang tunggu dulu Ra." Kata Arjuna


Saat Arjuna bersiap untuk menggendong Sahara kekasihnya itu menolak karena dia merasa malu selain itu Sahara juga merasa masih bisa untuk berjalan.


Tapi, sayangnya Arjuna tidak perduli dan tetap memilih untuk menggendong kekasihnya dan membuat Sahara hanya diam menerima sambil menyembunyikan wajah pucatnya.


Saat pintu utama dibuka Fahisa yang memang baru saja dari dapur terkejut ketika melihat anaknya berada di dalam gendongan Arjuna. Menghampiri keduanya Fahisa semakin cemas ketika melihat wajah anaknya yang begitu pucat.


"Tidak mau, Ara mau ke kamar saja." Kata Sahara pelan


"Yaudah kita ke kamar Arjuna tolong bawa Ara ke kamarnya ya?" Kata Fahisa


Setelah membawa Sahara ke kamarnya dan membaringkan wanita itu di ranjang Fahisa langsung duduk di dekat anaknya lalu menyentuh dahi Sahara yang terasa begitu panas. Menghela nafasnya pelan Fahisa langsung pergi keluar kamar, dia akan menelpon suaminya dan meminta pria itu untuk menghubungi dokter.


Di dalam kamar Sahara yang semakin merasa pusing hanya diam dengan Arjuna yang masih memperhatikan kekasihnya, dia ingin marah hanya saja keadaan sekarang tidak memungkinkan. Sahara bisa bertambah sakit kalau dia marahi.


"Kak Juna"


"Iya? Kamu butuh sesuatu?" Tanya Arjuna yang dijawab dengan gelengan kepala oleh kekasihnya


"Maaf"


Terdiam sesaat Arjuna tersenyum kecil lalu mengusap puncak kepala Sahara dengan lembut, dia dapat merasakan hawa panas ditangannya.


"Sekarang istirahat saja jangan fikirkan yang lain, aku marah-marahnya kalau kamu sudah sembuh nanti." Kata Arjuna membuat Sahara mengerucutkan bibirnya karena kesal


"Jangan marah"


Suara manja kekasihnya itu membuat Arjuma tersenyum, tapi tidak mengatakan apapun.


Tidak lama setelahnya Fahisa masuk kedalam membawa air minum serta kompress hangat untuk Sahara.


"Mommy sudah telpon Daddy nanti dia datang kesini sama dokter." Kata Fahisa membuat Sahara diam


Dengan telaten Fahisa mengompress dahi Sahara berharap demamnya bisa sedikit turun dan setelah selesai dia menatap Arjuna sambil tersenyum.


"Terima kasih Juna sudah membantu Sahara untuk pulang." Kata Fahisa


"Sama-sama Mi sekarang Juna pamit dulu ya? Juna harus kembali ke restoran." Kata Arjuna yang sudah merasa tenang karena kekasihnya sudah ada di rumah

__ADS_1


"Naik apa? Biar Mami minta Pak Hadi untuk antar kamu saja." Kata Fahisa membuat Arjuna langsung menolaknya dan mengatakan bahwa dia bisa naik taxi


"Kak Juna di antar saja." Kata Sahara pelan


Menghela nafasnya pelan Arjuna akhirnya mengangguk setuju membuat Fahisa segera turun ke bawah untuk menemui Pak Hadi. Sebelum mengikuti Fahisa lebih dulu Arjuna mengusap rambut hitam kekasihnya dan mencium singkat kening Sahara.


"Cepat sembuh Ra jangan sakit lagi ya? Aku pulang, kamu istirahat jangan lakukan kerjaan apapun dulu." Kata Arjuna lembut


Mengangguk singkat Sahara tersenyum sambil melambaikan tangannya hingga pria itu pergi keluar dari kamarnya.


Beberapa menit kemudian Fahisa masuk dan duduk di sisi ranjang yang lain tanpa bicara apapun, Sahara tau Fahisa pasti sangat marah dengannya.


"Mommy, maafin Ara"


Sekali lagi Fahisa hanya diam dan tidak lama setelahnya pintu kamar Sahara kembali di buka menujukkan Daffa bersama seorang pria berjas putih. Wajah pria paruh baya itu terlihat cemas ketika melihat wajah pucat anaknya, tapi di dalam hatinya dia juga merutuk kesal.


Sudah berkali-kali Daffa mengingatkan Sahara agar tidak terlalu sibuk, tapi lihat kelakuan anaknya itu malah memilih untuk membangkang dan berakhir dengan sakit seperti sekarang.


"Daddy akan benar-benar menutup butik kamu nanti." Kata Daffa membuat Sahara langsung menatapnya dan menggelengkan kepala dengan wajah sedihnya


"Daniel periksa Sahara kalau dia perlu di rawat kami akan bawa dia ke rumah sakit." Kata Daffa


Mendengar hal itu Sahara kembali menggelengkan kepalanya, dia tidak mau dirawat.


Daffa dan Fahisa keluar dari kamar Sahara lalu menunggu sampai anaknya selesai di periksa. Di luar kamar Fahisa kembali mengingatkan Daffa untuk tidak mengatakan hal seperti itu di depan Sahara.


"Mas jangan bilang gitu ke Ara." Kata Fahisa


"Biarkan saja anak itu memang suka nyari penyakit, lihat saja kalau dia sampai kenapa-kenapa aku akan langsung menutup butiknya." Kata Daffa kesal


"Tapi, jangan kasar gitu ngomongnya Ara kan lagi sakit nanti dia jadi tambah sakit kalau...."


Belum sempat menyelesaikan ucapannya Daffa sudah kembali memotong perkataannya.


"Iya sakit karena ulah sendiri." Kata Daffa membuat Fahisa jadi gemas sendiri


"Dia pasti nurun kamu makanya gitu dulu kamu juga iya kan? Suka nyari penyakit sendiri makanan yang tidak boleh dimakan malah dimakan." Kata Fahisa


"Beda Fahisa." Kata Daffa membela dirinya sendiri


"Beda dari mananya coba?" Tanya Fahisa dengan wajah yang mengesalkan


"Diam atau aku cium!" Ancam Daffa membuat Fahisa langsung diam dan memasang wajah kesalnya


Daffa memang selalu sama, suka mengancamnya dengan hal seperti itu.


Tidak lama setelah obrolan itu Daniel keluar dari kamar Sahara membuat suami istri yang sedang berdebat itu langsung menanyakan keadaan Sahara.


"Tifus, aku sudah siapkan beberapa obat, tapi aku sarankan untuk membawanya ke rumah sakit jika demamnya masih belum turun dan minta Sahara untuk istirahat total sampai dia benar-benar pulih." Kata Daniel


Mengangguk faham Daffa mengikuti langkah Daniel dan meninggalkan Fahisa yang kini kembali memasuki kamar anak perempuannya. Saat Fahisa duduk di sisi ranjang yang lain dengan bibir mengerucut Sahara memeluk Fahisa.


"Mommy bilangin Daddy kalau Ara janji gak akan ulangi lagi, tapi jangan tutup butik Ara." Kata Sahara


"Sudah jangan difikirkan Daddy tidak akan melakukan itu, sekarang Ara istirahat habis ini Mommy akan bawakan makan dan obat." Kata Fahisa dengan penuh kelembutan


Belum sempat menanggapi Daffa sudah masuk ke dalam kamar Sahara yang membuat anaknya itu menundukkan kepalanya.


"Kamu bikin Daddy khawatir Ara"


Sahara hanya diam, untung saja dia tidak sampai masuk rumah sakit karena Daddy nya bisa marah besar kalau sampai terjadi.


¤¤¤¤


Bandel banget sih kamu Ara jadi orang😑

__ADS_1


__ADS_2