
Sahara adalah orang yang begitu berharga bagi keluarganya, terutama bagi Daffa yang sempat menjadi orang tua tunggal selama hampir lima tahun. Kebahagiaan Sahara merupakan hal yang paling diutamakan oleh Daffa dia selalu menuruti keinginan anaknya, tapi sebagai orang tua dia juga selalu marah ketika anaknya itu membuat kesalahan.
Sekalipun Daffa tidak pernah membentak Sahara dia hanya sering mengomel saja mungkin karena itulah Sahara sangat tidak bisa dibentak. Setiap hari Daffa selalu berharap agar anaknya mendapat seorang pasangan yang mencintainya dengan tulus, memperlakukannya dengan penuh kasih sayang, dan tidak akan menyakitinya.
Saat Arjuna datang dia dapat melihat betapa anaknya begitu bahagia dan setiap kali bercerita Sahara selalu mengatakan hal baik tentang Arjuna. Namun, Daffa juga sempat mencari tau tentang Arjuna dan dia lega ketika mengetahui bahwa Arjuna adalah pria yang begitu baik juga santun.
Dia tau kalau Arjuna sering kali mengingatkan waktu makan Sahara, memperingatinya agar tidur dengan cukup dan tidak bekerja terlalu keras.
Daffa sangat bahagia mengetahui fakta bahwa Arjuna memperlakukan anaknya dengan begitu baik.
Oleh karena itu ketika Arjuna datang dan mengatakan bahwa dia ingin melamar anaknya Daffa tidak lagi berfikir panjang, mata pria itu penuh ketegasan.
Dia sangat bahagia karena anaknya sudah menemukan pasangan hidupnya, tapi Daffa juga merasa begitu sedih.
Dia terbiasa dengan kehadiran Sahara di rumah dan Daffa tidak bisa membayangkan jika nanti anaknya menikah dan tidak lagi tinggal bersamanya.
Tapi, tetap saja hal itu harus dia lakukan sebagai orang tua.
Acara lamaran tadi telah usai dan Arjuna beserta kedua orang tuanya juga telah pulang. Saat ini Daffa berada di kamar anaknya sambil memandang wajah Sahara yang tertidur dengan begitu pulas.
Sebuah senyuman terbit dan dengan hati-hati Daffa mengusap sayang abut hitam anaknya.
Dia masih begitu ingat tangisan pertama Sahara, kata pertama yang anak itu bisa keluarkan, pertama kali Sahara bisa merangkak, pertama kali Sahara bisa berjalan, dan masih banyak hal lainnya.
Sahara telah melalui begitu banyak hal ; tidak merasakan kasih sayang seorang ibu ketika masih kecil dan kehilangan adiknya yang ada di dalam kandungan.
Dan Daffa hanya akan membiarkan Sahara merasakan kebahagiaan sekarang.
"Daddy sayang sekali sama Ara, bahagia selalu ya anak kesayangan Daddy"
Dikecupnya kening Sahara dengan lembut lalu Daffa menarik selimut Sahara sedikit dan mematikan lampu sebelum akhirnya berlalu pergi ke kamarnya.
Hal pertama yang dia lihat ketika masuk ke dalam kamar adalah Fahisa yang tersenyum manis dan membuat Daffa ikut tersenyum lalu memeluknya. Selain itu Daffa juga merasa begitu beruntung karena kehadiran Fahisa sudah membuat kebahagiaan Sahara bertambah.
"Kamu sedih gak sayang? Aku sedih meskipun ini baru lamaran, tapi aku sedih membayangkan Sahara akan menikah." Kata Daffa di dalam pelukan hangat istrinya
Menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami Fahisa juga turut merasakan hal yang sama, dia pasti akan sangat merindukan Sahara nanti.
"Hmm rasanya baru kemarin Sahara masih main sepeda dan nabrak tanaman Mami sampai nangis karena takut dimarah." Kata Fahisa membuat Daffa tertawa kecil mendengarnya
"Dia tumbuh dengan begitu cepat Hisa." Kata Daffa
Mengangguk setuju Fahisa juga merasakan hal yang sama, Sahara tumbuh dengan cepat.
"Waktu itu Ara bilang kalau dia kangen sama Mami, besok kita ajak dia ke makam Mami ya? Sudah lama kita tidak kesana." Kata Daffa yang dijawab dengan anggukan oleh istrinya
Melepaskan pelukannya Daffa mengajak sang istri untuk berbaring di ranjang dan menceritakan banyak hal tentang masa kecil Sahara sambil sesekali tertawa.
Ada banyak hal yang tidak bisa mereka lupakan, semua kenangan itu akan selalu ada untuk dikenang.
Kenangan tentang Sahara.
"Dia selalu ingin menjadi wanita dewasa dan sekarang Sahara sudah benar-benar dewasa, seseorang sudah melamarnya dan sebentar lagi mereka akan menikah." Kata Daffa sambil tersenyum
"Aku senang karena Arjuna adalah lelaki pilihan Sahara, dia sangat baik kan Mas? Aku bisa melihat bagaimana dia menjaga Sahara." Kata Fahisa yang langsung disetujui oleh suaminya
Lalu mereka kembali melanjutkan pembicaraan.
Ada banyak hal tentang Sahara hingga tanpa sadar mereka mengobrol sampai larut malam.
¤¤¤¤
Hari yang cerah telah datang dan dengan senyuman yang begitu lebar Sahara menyambutnya, sampai sekarang dia masih merasa begitu bahagia. Saat ini dia sudah siap dengan pakaiannya lalu bergegas turun untuk menyapa keluarganya, dia jadi sedih kalau membayangkan akan jauh dari mereka nantinya.
Keluar dari kamarnya Sahara yang sedang menuruni tangga dapat melihat bahwa hampir semua anggota sudah berkumpul hanya minus Fahisa yang mungkin masih memasak untum sarapan. Berlari kecil Sahara memanggil ketiganya hingga membuat mereka menoleh dan ketika dia mencium pipi serta memeluk mereka satu persatu ketiganya ikut tersenyum.
"Pagi Daddy"
Sapa Sahara sambil mencium kedua pipinya dengan penuh kebahagiaan.
"Pagi juga anak Daddy"
Setelah itu Sahara beralih kepada Devina dan melakukan hal yang sama, tapi terjadi perbedaan ketika dia ingin melakukannya pada Devano.
__ADS_1
Pria itu diam saat dia memeluknya, tapi berusaha menghindar ketika Sahara ingin mencium pipinya.
"Jangan ih Kak." Tolak Devano membuat Sahara mengerucutkan bibirnya kesal
"Ihh mau cium masa gak boleh?! Kan cuman di pipi." Kata Sahara
"Jangan." Kata Devano lagi
"Sekali aja Vano pelit banget ihh, boleh ya?" Kata Sahara dengan wajah menggemaskannya
Menghela nafasnya pelan akhirnya Devano membiarkan Kakaknya itu menciumnya, tapi berbeda dari yang lain Sahara yang berniat menjahili adiknya itu mencium pipinya hingga berkali-kali.
"Katanya cuman sekali." Kata Devano protes
Menatap wajah adiknya dengan sebuah seruan Sahara mengatakan sesuatu yang membuat adiknya berseru kesal.
"Gak papa, Devano nanti pipi nya elap dulu ada bekas lipstik Kakak." Kata Sahara jahil
"KAK ARA"
Tanpa perduli apapun Sahara mendudukkan dirinya disebelah Devina dan tak lama setelahnya Fahisa datang bersama dengan Santi yang membantunya menata makanan di meja.
"Ada apasih masih pagi sudah ribut?" Tanya Fahisa ketika ikut bergabung di meja makan
"Gak ada apa-apa Mommy cuman Vano aja yang lebay." Kata Sahara membua adiknya itu berdecak kesal
Menggelangkan kepalanya pelan Fahisa menyuruh mereka untuk berhenti dan mulai menyantap sarapan masing-masing. Sekitar setengah jam mereka baru menyelesaikan sarapan dan sebelum Sahara berangkat kerja Daffa mengatakan sesuatu yang membuat anak itu terdiam.
"Ara mau mengunjungi makam Oma?" Tanya Daffa
Ada perubahan ekspresi menjadi begitu sendu, tapi beberapa saat setelahnya dia tersenyum kecil lalu menganggukkan kepalanya.
"Kamu pergi sama Mommy duluan ya? Biar Daddy antar kedua adik kamu ke sekolah dulu." Kata Daffa
Setelah Daffa dan kedua adiknya pergi helaan nafas terdengar, Sahara merasa berat untuk melangkahkan kakinya.
Dia kembali merindukan sosok Tania yang sudah menemaninya ketika dia masih kecil dan begitu menyayanginya.
Menutup matanya sebentar Sahara lalu mengajak Fahisa untuk pergi, mari kita mengunjungi Tania.
Selama perjalanan Sahara diam, selain karena fokus pada jalanan dia juga merasa bingung harus bicara apa sampai akhirnya Fahisa mulai membuka suara, memecahkan keheningan di antara mereka.
"Nanti Ara pulangnya jam berapa? Jangan malam-malam ya sayang." Kata Fahisa berusaha membuka percakapan
"Hmm tidak Mommy Ara pulangnya sore." Kata Sahara
"Untuk sekarang jangan pulang malam dulu ya Ra dan jangan hadiri acara apapun dulu, tidak papa kan?" Kata Fahisa lagi
"Iya Mommy sayangg Ara tidak akan kemana-mana dulu hanya ke butik saja paling ke tempat lainnya sama Kak Juna atau sama Diandra." Kata Sahara membuat Fahisa tersenyum ketika mendengarnya
"Ara kita mampir ke toko bunga dulu ya? Kita belikan bunga untuk Oma." Kata Fahisa
Tersenyum kecil Sahara mengangguk setuju dan sekitar sepuluh menit mobil yang dia kendarai berhenti di toko bunga.
Keduanya turun lalu memilih beberapa bunga yang mereka ingin bawa dan setelah selesai Sahara langsung membayar lalu keduanya kembali masuk ke dalam mobil.
Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di area pemakaman dan bersama dengan Fahisa keduanya memasuki area pemakaman.
Saat sampai di nisan tempat Tania disemayamkan keduanya duduk dan Sahara langsung menaruh bunga yang tadi dia beli disana lalu mengusap lembut nisan itu.
"Oma Ara datang sama Mommy"
Sahara merasa sulit untuk bernafas, dia sangat merindukan Tania.
"Mami mau dengar kabar baik? Tadi malam cucu Mami sudah dilamar oleh seorang pria dia akan menikah sebentar lagi." Kata Fahisa sambil merangkul sayang pundak Sahara
"Oma senang kan? Oma Ara sangat rindu sama Oma, semoga disana Oma bahagia ya?" Kata Sahara dengan senyuman
Tidak lama setelahnya Daffa juga memasuki area pemakaman dan mendudukkan dirinya disebelah Sahara membuat anak itu berada di tengah-tengah orang tuanya.
"Mami ini Daffa hari ini kami datang katanya Ara merindukan Mami." Kata Daffa
Sahara hanya diam dia mengingat hari itu ketika dia masih kelas tiga sma dan Daffa menghubungi bahwa Tania masuk rumah sakit, kala itu Sahara begitu takut dia menangis dan enggan beranjak dari ruang rawat Tania.
__ADS_1
Sebelum benar-benar pergi Tania mengatakan hal yang membuat Sahara menangis hebat.
'Ara jangan menangis Oma baik-baik saja sebentar lagi rasa sakitnya akan hilang'
Dan benar sekarang Tania tidak akan merasakan sakit lagi.
"Dia sudah dewasa Mi sekarang Daffa akan mengakui hal itu." Kata Daffa membuat Sahara menatapnya sedikit kesal
"Iya Oma sampai sekarang Daddy masih suka panggil Ara anak kecil bahkan kalau sama Devano dia bilang kalau Ara itu adiknya Vano, jahat ya Oma? Harusnya Oma marahi Daddy!" Keluh Sahara
Nada bicaranya penuh kekesalan, tapi matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam.
Helaan nafas kembali terdengar lalu Sahara menoleh dan mengatakan bahwa dia ingin pergi.
Ketiganya melangkah pergi meninggalkan area pemakaman dan berpisah ketika memasuki mobil. Sahara pergi sendiri karena dia harus ke butik, sedangkan Daffa bersama Fahisa akan pulang ke rumah.
Iya, Daffa memang tidak akan pergi bekerja hari ini.
¤¤¤¤
Ada banyak kegiatan yang Sahara lakukan ketika sampai di butik seperti memantau pemotretan, menggambar sketsa, dan menelpon beberapa rekan kerjanya. Setelah dari area pemakaman ada rasa lega yang dia rasakan dan sekarang Sahara merasa begitu tenang dia melanjutkan pekerjaannya dan bersenda gurau bersama rekan-rekan kerjanya.
Semua memang berjalan seperti biasanya Sahara hanya akan merindu ketika dia sudah tidak lama berkunjung atau ketika dia mengalami hari yang begitu buruk atau mengerikan.
"Heyy sepupuku ini bentar lagi mau nikah yaa?" Seruan Gibran yang masuk ke dalam ruang kerja Sahara dengan kamera yang tergantung dilehernya itu membuat Sahara berdecak kesal
"Iya dong, Kak Gibran kapan masa aku duluan sih?" Ledek Sahara membuat wajah pria itu langsung masam
"Sombong amat kamu." Ketus Gibran
Tertawa kecil Sahara menghampiri Gibran yang duduk di sofa lalu memeluknya, dia sudah menganggap pria itu seperti Kakaknya sendiri.
"Ya ampun adik aku sudah besar ya?" Kata Gibran sambil menepuk-nepuk puncak kepala Sahara pelan
"Baru tau huh?" Kesal Sahara
Melepaskan pelukannya Sahara tersenyum menatap pria di hadapannya, waktu kecil mereka sering main bersama.
"Kak Gibran tidak kerasa ya? Kita sudah sebesar ini dulu kita masih main tembak-tembakkan." Kata Sahara membuat pria itu tertawa kecil mendengarnya
"Iya dan dulu kamu selalu menangis kalau kalah, jadi aku selalu mengalah dan membiarkan kamu menang." Kata Gibran
Berdecak kesal Sahara memukul lengan pria itu karena tidak terima dengan perkataannya.
"Fitnah! Kakak bohong aku gak pernah curang ya!" Kata Sahara
"Gak mau ngaku lagi dasar." Kata Gibran sambil mengacak rambut Sahara dengan gemas
"IHH JANGAN"
Dengan tawa kecil Gibran membantu Sahara merapikan rambutnya, dia sangat menyayangi Sahara mereka menghabiskan masa kecil bersama-sama.
"Aku senang karena kamu akan menikah dengan Arjuna, dia pria baik aku tau." Kata Gibran
Dia benar Gibran dapat melihat cinta di mata Arjuna setiap kali menatap Sahara dan cara pria itu memperlakukan Sahara juga begitu lembut.
"Bahagia selalu ya Ra?"
Tidak ada alasan bagi Sahara untuk tidak merasa bahagia.
Dia punya kekasih yang baik dan menyayanginya.
Dia memiliki keluarga yang menyayanginya.
Dia memiliki teman yang selalu nerada disampingnya.
Sahara memiliki banyak hal yang selalu orang lain harapkan.
¤¤¤¤
Maaf yaa dua hari kemarin ga update😢
Hari ini ga ada moment Sahara dan Arjuna yaa😂
__ADS_1
Tungguin terus kelanjutannya ceritanya yaa💕
Sayang kalian banyak-banyak❤